Setelah menarik napas panjang. Ia pun mengetuk pintu tiga kali.
“Masuk!” Terdengar suara lelaki dari dalam.
Yasmin masuk sambil mengangguk hormat. Tampak lelaki itu tengah memunggunginya.
“Buka aja pintunya. Kita cuma berdua, dan bukan mahrom.”
“I-iya, Pak.” Yasmin membuka lebar-lebar pintunya, diiringi rasa heran dengan kalimat yang diucapkan lelaki itu.
'Bukan mahrom? Apa maksudnya?'
Mata Yasmin membulat saat lelaki itu membalikkan tubuhnya.
“Hei! Kamu bukannya cowok tadi yang jahilin aku kan?!” tanya Yasmin dengan rasa geram.
Lelaki itu terkekeh.
“Oh, Mbak yang tadi ya. Maaf, aku cuma bercanda kok.”
“Bercanda katamu? Gak lucu!” Yasmin menyilangkan tangan di dadanya. Namun tiba-tiba ia tersadar tengah di mana dan dengan siapa ia bicara.
Seketika ia menepuk dahinya.
“Kenapa Mbak?” tanya lelaki itu.
“Ka-kamu ... pak Dava kan??”
Dava mengangguk sambil tersenyum lembut.
“Astagfirullah ....” lirih Yasmin. Ia teramat malu, dan tak tahu harus disembunyikan di mana wajahnya.
“Silakan duduk.” Dava duduk dengan santai sambil merapatkan kedua jemarinya di meja kaca. Lalu, ia kembali menatap intens wajah Yasmin.
“Saya minta maaf, udah lancang Pak. Saya pikir Anda konsumen yang mau beli roti.”
“Kamu, em ....”
“Yasmin. Nama saya Yasmin,” ucap gadis itu.
“Oh, iya. Gak apa-apa kok Yasmin, saya juga minta maaf udah isengin kamu.”
Deg!
'Suara husky itu ....'
Mungkin karena terlalu banyak beban, Yasmin terlambat menyadari jika suara Dava sangat mirip dengan lelaki misterius berhodie hitam.
Yasmin memberanikan diri menatap wajah tampan Dava. Lelaki berhodie itu, memang kerap memakai masker, namun ia sangat hafal bentuk matanya. Dan ....
'Ya ampun! Mata elangnya sangat mirip dengan cowok berhodie itu. Apa mungkin ....”
“Yasmin? Halo?” Dava mengibas-ngibaskan tangan ke wajah Yasmin. Perempuan itu seketika tersadar dari lamunannya.
“Jangan suka melamun, nanti disambar cowok ganteng,” seloroh Dava santai.
Yasmin hanya berdehem sambil merapikan tempat duduknya, mencoba meredam rasa gugup.
“Em, Pak. Saya diminta chef Brury untuk memberikan tester ini, silakan dicicipi. Lalu nanti saya minta laporan reviewnya, roti ini enak atau tidak,” terang Yasmin sambil menyodorkan piring itu ke meja.
Dava yang tengah asyik menopang dagu menatap wajah Yasmin, sedikit terusik.
“Hm ... Baiklah. Bismillah.” Dava pun memasukkan satu sendok makanan itu ke mulut.
Yasmin cukup tertegun dengan prilaku Dava. Ia bahkan tidak pernah mengucap basmalah saat makan atau minum.
Beberapa detik kemudian, Dava telah selesai mencicipinya.
“Kamu gak perlu capek-capek menuliskan detailnya. Cukup bilang pada pak Brury, kalau roti cinta buatannya sangat enak, dan beliau gak pernah mengecewakanku,” jelas Dava lalu mengusap bibirnya dengan serbet.
“Itu saja?”
“Iya.”
“Oh, nama roti ini, roti cinta ya?” Yasmin tiba-tiba bertanya.
“Iya. Lihat saja bentuknya, seperti bentuk hati kan?”
Yasmin terkekeh. “Iya. Baru ngeh.”
Dava tersenyum lembut. “Sesekali ... kamu butuh piknik, biar fokus. Kurasa, kamu kurang konsentrasi Yasmin.”
Yasmin tertunduk malu. “Begitukah? Maaf ya Pak, nanti saya coba perbaiki.”
“Santai aja. Aku bukan tipe penuntut kok, pegawai-pegawaiku semuanya pada santai dan gak kubebani macam-macam. Karena, aku memperlakukan mereka secara manusiawi. Alhamdulillah, dengan cara itu pegawaiku betah bekerja di sini,” cetus Dava.
Yasmin menganggukkan kepala.
“Kuharap, kamu juga demikian ya.”
“Iya, Pak. Saya akan berusaha,” ucap Yasmin kemudian.
Ia mulai beranjak dari tempat duduknya.
“Saya harus kembali bekerja. Terima kasih, atas waktunya,” imbuh Yasmin.
“Oke. Sama-sama. Happy working ya,” ucap Dava sambil kembali tersenyum manis.
'Ya Allah, selamatkan jantungku!' batin Yasmin.
****
Dengan tangan gemetar Yasmin memencet tombol di samping pintu lift menuju lantai satu. Pikirannya menerawang pada pesona wajah Dava.
“Ya Allah, ya Allah. Kayaknya aku memang harus makan biar fokus!” ujarnya bersenandika di dalam lift.
Ting!
Dengan langkah cepat, Yasmin menghampiri Cici yang tengah membereskan barang-barang.
“Ci. Udah jam makan siang kan?” tanya Yasmin.
Cici melirik jam tangannya.
“Iya lho, aku hampir lupa,” ucap Cici.
“Aku lapar. Ayo!” Yasmin menggamit pergelangan tangan perempuan berjilbab itu, untuk keluar dari toko.
Wajahnya tampak tidak santai.
“Yas, kamu kenapa? Gak kesambet kan?”
Yasmin berhenti melangkah lalu mengatur napasnya perlahan.
“Bep. Aku udah ketemu sama Pak Dava!” pekiknya.
“Serius?”
“Ho’oh, tadi chef Brury nyuruh aku kasih tester ke dia.”
“Trus?” Cici makin penasaran.
“Dia ... ya Allah, kamu mesti lihat Ci!”
“Kenapa? Apa wajahnya beneran mirip si Luis yang gak mandi seminggu?” tanya Cici.
Yasmin memajukan bibirnya. “Ih, kamu mah. Ya nggak lah.”
“Terus kayak gimana mukanya?”
“Yang pasti ganteng, bersih kaya Kim Taehyung.”
“Whoaaaaa!!” ujar Cici histeris. Dia melompat-lompat tanpa peduli banyak yang melihat.
Yasmin terdiam. Dia kembali menepuk dahinya.
“Lo kenapa sih, Yas?! Sebentar happy sebentar sedih?” tanya Cici kemudian.
“Aku ... terlalu larut dalam halu kenyataannya hidupku penuh luka dan drama. Astagfirullah ....”
“Ya Allah, sayang.” Cici memeluk Yasmin erat-erat.
Mereka melepas pelukan, lalu cici mencolek hidung mancungnya.
“Allah itu maha adil, gak mungkin hidupmu gini-gini terus. Asal kamu berusaha, suatu saat pasti hidupmu bahagia. Harus bisa, yakin bisa. Oke!”
Yasmin mengangguk sambil tersenyum hingga barisan gigi rapinya terlihat.
“Makasih, Ci.”
“Ya udah. Ayo, keburu waktu istirahat habis. Aku mau makan mie ayam seberang sana. Kata pegawai toko, mie nya enak.”
Mereka berjalan beriringan. Sementara Yasmin terus memikirkan nasib rumah tangganya.