“Yas, kamu mau kuah apa kering mienya?” tanya Cici yang tengah berdiri di samping gerobak warna biru.
Yasmin menunggu di kursi kayu yang panjang. Lalu lalang kendaraan menjadi pemandangan alakadarnya di tempat makan kaki lima pinggir jalan.
“Mie kering aja, jangan pakai daun bawang ya,” cetus Yasmin.
“Hoke!”
Segelas es jeruk menemaninya sambil menunggu mie ayam datang. Matanya tiba-tiba tertuju pada lelaki paruh baya yang jaraknya sekitar sepuluh meter darinya, dan ....
Ckiiit!
Brukk!
Yasmin terperanjat. Bak semut menemukan gula, enam orang termasuk dirinya langsung bergegas mendekati mobil sedan putih yang tiba-tiba berhenti.
“Yas! Yasmin!” pekik Cici memanggil. Ia berlari dan menggamit tangan Yasmin.
“Kamu ngapain sih. Ayo kembali!”
“Bentar Ci. Ada yang tabrakan.”
“Tapi Yas, aku suka ngeri lihat yang kayak gitu.”
“Aku tau, makanya kamu di sini aja ya. Gak lama kok.” Yasmin terus berjalan mendekati kerumunan.
“Huft!” Cici memasang wajah kesal. Ia bukannya tak peduli, tapi trauma kecelakaan membuat dia lebih memilih untuk tidak ikut campur.
Lelaki paruh baya tampak meringis, terduduk sambil memegangi kaki kirinya.
“Aduh! Sakit. Kalau nyetir yang bener dong Bu!” ujarnya.
Seorang ibu yang menyetir mobil sedan itu tampak pucat, saat keluar dari mobil. “Maaf ya Pak. Tapi tadi, bapak yang mendekat ke mobil saya. Lagi pula, saya lagi gak ngebut jalannya.”
“Jangan banyak alasan Bu. Mentang-mentang kaya, meremehkan orang miskin sepertiku,” ucap lelaki tua itu tampak geram.
“Bukan gitu Pak. Tapi tadi memang Bapak tiba-tiba lari ke arah mobil saya.”
“Jelas-jelas Anda yang tengah menabrakku. Tuhanlah sebagai saksinya, lihat kakiku jadi pincang begini,” imbuhnya.
Yasmin melirik ke arah kakinya yang tampak tidak ada luka atau darah. 'Mungkin terkilir, pikirnya.’
“Iya Bu. Kasihan bapak ini. Sebaiknya Ibu bayar ganti rugi saja, biar kelar masalah,” ucap Yasmin.
Ia terpaksa membuka suara karena yakin masalah ini akan semakin rumit. Terlebih orang-orang semakin berkerumun, yang hanya membuat macet jalan raya.
Bapak tua itu mengangguk-anggukkan kepala, sambil menggerutu, “Tuh, anak muda aja paham. Masa ibu yang sudah tua ini malah keras kepala.”
“Atau kalau Ibu gak mau ganti rugi, gimana kalau kita viralkan?” tanya Yasmin tiba-tiba.
“Setuju Neng,” ucap bapak tua.
Sontak ibu berjilbab lebar itu terkejut dan menggelengkan kepalanya.
“Ta-tapi__”
“Oke. Pak, pinjam ponselnya, biar saya yang rekam,” ucap Yasmin memotong ucapan. Ia tidak memberi kesempatan pada ibu itu untuk berbicara.
Lelaki paruh baya itu menyodorkan benda pipih. Sedetik kemudian Yasmin berlari membawa ponsel itu.
“Hei, kembalikan ponselku!” pekik bapak tua itu, ia berlari dengan kencang mengejar Yasmin.
Yasmin berhenti lalu menoleh ke arahnya. Sejurus kemudian, ia memasang senyum sinis sambil memberikan ponsel bapak tua itu. “Rupanya, kaki Bapak baik-baik aja ya. Kalau nggak, gak mungkin bisa lari kencang mengejarku.”
Bapak tua seketika mematung, baru tersadar apa yang sudah dilakukan. Ia pun merapatkan rahangnya menahan amarah. “Sialan kamu!”
“Huuu! Tua-tua penipu!” sorak orang-orang. Samar terdengar makian dari mereka yang kesal atas penipuan yang dilakukan bapak tua itu.
Yasmin berjalan mendekati ibu tadi.
“Ibu tenang aja. Bapak itu, hanya mau menipu Anda,” ucap Yasmin.
Ibu tersebut mengurut d**a karena lega.
“Alhamdulillah. Makasih banyak Nak, saya sempat kaget pas mau diviralkan, takutnya beritanya makin melebar dan jadi tersangka. Padahal, yakin banget tadi bapak tua itulah yang tiba-tiba maju ke arah mobil saya.”
Yasmin mengangguk paham.
Tampak orang-orang berkerumun untuk membekuk lelaki tua itu, lalu ibu berjilbab lebar warna ungu itu pun menelepon polisi.
“Sepertinya, masalah sudah kelar. Saya permisi Bu,” ucap Yasmin kemudian.
“Oh, ya. Boleh tau namamu?” tanya ibu itu.
“Yasmin, Bu.”
“Terima kasih banyak, ya Yasmin.”
“Sama-sama. Mari, assalamu'alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Yasmin memutar badan dan kembali ke tempat mie ayam. Ibu tersebut masih terus menatap punggung Yasmin.
'Wajahmu akan selalu ibu ingat, Nak Yasmin.’
****
“Yas.”
“Sory Ci, lama. Kamu udah habis makan mie nya ya?”
“Udah, tapi gak fokus karena lihat kamu, bikin aku dugun-dugun campur takjub.”
Yasmin terkekeh. “Biasa aja. Dari awal udah curiga sama bapak tua itu, makanya pas ada insiden tadi aku bergegas menghampiri.”
“Ck! Ada-ada aja ya, cari uang segitunya sampai pakai jalan pintas,” cetus Cici.
“Iya.”
Yasmin melirik jam tangannya.
“Eh, lima menit lagi waktunya masuk jam kerja. Mie punyaku biar dibungkus aja.”
“Yah, kasian dong, kamu jadi gak sempet makan.” Mata Cici meredup.
“Gak masalah. Aku bisa makan di dapur toko nanti.”
Cici mengangguk.
****
Sampai menjelang sore, Yasmin tak kunjung sempat makan siang, Karena konsumen membludak. Jangankan untuk makan, sekedar ke kamar kecil pun nyaris susah. Salah satu pegawai mengatakan padanya, jika DV Bakery selalu penuh pembeli.
Keringat dingin membanjiri, namun Yasmin berusaha terus melayani konsumen. Sampai waktunya jam pulang tiba.
“Yas! Aku duluan pulang ya,” ucap Cici tanpa menoleh ke arahnya, perempuan itu sibuk merapikan isi tasnya.
“Gak barengan? Bentar lagi aku beres.”
“Si Naufal demam tinggi, aku worry step kayak waktu dia bayi. Jadi aku mesti buru-buru balik, gak apa-apa ya?”
“Oh, gitu. Nih, pakai motorku aja biar cepet.” Yasmin merogoh kunci motornya.
“Gak usah Bep.”
Yasmin menyelipkan kunci itu ke tangannya. “Aku gak suka penolakan. Pakai aja. Moga anakmu lekas sehat.”
Mata mereka beradu sesaat.
“Aamiin. Makasih Yas.”
Yasmin mengangguk. Tak lama Cici beruluk salam dan berlalu meninggalkannya.
Perempuan berambut panjang itu mengedarkan pandangan pada ruang toko bernuansa electic. Gabungan antara gaya industrial dan skandinavia yang terkesan unik.
Di ruangan itu, hanya ia dan dua orang pegawai yang masih sibuk berkemas. Ia tersenyum lega, jadi bisa leluasa makan tanpa dilihat banyak orang. Namun matanya tertuju pada sosok yang tengah menuruni anak tangga. Seorang lelaki tampak berkarisma dengan setelan kemeja garis-garis hitam dan cokelat muda.
'Huft!' Kembali ia urungkan untuk makan dan memasukkannya kembali ke dalam tas.
Tak mau sok dekat dengan berbasa basi, Yasmin pamit ke pegawai yang masih ada dan bergegas keluar.
Cukup lama menunggu taksi lewat, membuatnya tak tenang karena sore itu rintik hujan mulai turun. Lalu indera pendengarannya menangkap suara langkah sepatu mendekatinya.
“Butuh tumpangan?”