indera pendengarannya menangkap suara langkah sepatu mendekatinya.
“Butuh tumpangan?”
Yasmin menoleh dan seketika mengerjap karena jantungnya nyaris melompat dari tempatnya. Bukan karena melihat sosok yang ditakuti, melainkan sebaliknya, sesosok lelaki berparas paripurna.
“Oh, eh. P-Pak Dava.”
“Di luar toko, panggil aku Dava aja ya, berasa tua. Umurku masih dua puluh delapan tahun.”
Glek!
“Gak enak kalau manggil atasan cuma nama doang, Pak.”
“Nanti juga biasa. Mau kuantar pulang?” Lelaki itu menunjuk mobil Lexus berwarna biru.
“Gak usah Pak. Saya mau pesan ojek online.”
“Hujan-hujan begini?”
Yasmin menggigit bibirnya, ia baru sadar kalau cuaca masih gerimis tipis.
“Aku khawatir nanti malah jadi lebat, baju dan tasmu akan basah semua. Repot bukan?” imbuh Dava.
Lelaki berpostur tinggi tegap itu merogoh kunci dan mendekat ke mobil mewahnya.
“Ayo, masuklah. Aku gak gigit kok,” ajak Dava kemudian.
Mau tak mau, perempuan itu mulai melangkah masuk ke mobilnya. Tak lupa memasang safety belt sambil menata hatinya yang tak karuan. Aroma parfum Dava yang segar lebih dominan tercium dari pengharum mobil miliknya, membuat jantung Yasmin berdetak sangat kencang. Kalaulah bersuara, pasti sangat berisik.
Perempuan itu pun menghela napas dengan berat.
'Jantung. Moga kamu baik-baik aja ya,' batinnya.
“Suka dengar lagu?” tanya lelaki itu, memecah keheningan.
“Jarang.”
“Oke. Aku putar aja dengan volume kecil ya, biar gak sepi.”
Mobil mulai melaju, tapi dijalankan dengan santai. Terlebih kendaraan mulai merapat karena waktunya jam pulang kerja.
'Kruuukk!'
Suara itu membuat Dava menoleh ke arahnya. “Bunyi perutmu?”
Yasmin hanya menjawab dengan seringaian. Ia malu luar biasa dan juga kesal karena perutnya sangat tidak bisa kompromi.
Dava tersenyum maklum.
Tiba-tiba, mobil berbelok entah menuju ke mana. Lima menit kemudian, mobil Dava masuk ke area parkir di sebuah restoran beef steak, dengan bangunan yang elegan dan mewah.
“Kita makan dulu. Baru pulang,” ucap Dava.
“Hah? Gak usah Pak, merepotkan!” Yasmin membulatkan matanya.
“Nggak apa-apa. Aku juga lapar kok.”
Benar saja, hujan mulai deras. Dava membuka payung saat keluar dari mobil. Ia mengitari kendaraan itu, membuka pintu mobil untuk Yasmin.
Mereka berlari kecil ke depan resto. Namun, Dava memindai tubuh Yasmin, membuat gadis itu merasa kikuk.
“A-ada apa?”
“Seingatku, resto ini punya peraturan. Baju dan sepatumu ....”
Yasmin menunduk memandangi baju tunik, jeans dan sepatu sneakers-nya. Walau tidak mahal, tapi semua yang dipakainya masih baru.
Sesaat, gadis itu menatap Dava. Ia merasa, kecil di hadapan lelaki itu. Pikirannya, menerawang saat awal mula bertemu dengan Dameer, di mana ia terlalu percaya diri hingga terasa melayang saking bahagianya, namun lelaki itu lambat laun menghempaskannya, hanya karena dia gadis yang miskin.
“Maaf ... sebaiknya, Anda saja yang masuk untuk makan, Pak. Saya mau pulang, udah sangat sore,” ucap Yasmin pelan.
Tanpa menunggu kalimat dari Dava, Yasmin mulai melangkah. Namun, lelaki itu sigap menahan dengan tubuh tingginya.
“Eits, aku belum selesai bicara. Tadi kubilang, baju dan sepatumu gak sesuai sama peraturan resto. Tapi bukan berarti gak boleh masuk, ayo!” ujar Dava.
“Tapi__”
“Aku kenal dengan manajer bahkan pemilik resto ini. Pasti kita diizinkan masuk.” Dava memotong ucapan Yasmin, kemudian kembali mengajaknya masuk.
Ajaib!
Tanpa meminta izin terlebih dahulu, dikarenakan baju Yasmin melanggar aturan. Pihak resto malah menyambut hangat keduanya, bahkan Dava diizinkan memesan ruang VIP untuk mereka.
“Sudah dua minggu Anda tidak berkunjung, Mas,” ucap salah satu pelayan restoran.
“Iya. Belakangan saya sibuk,” cetus Dava mengulas senyum.
Obrolan hangat pun mengalir, membuat Yasmin larut akan keakraban obrolan mereka. Padahal Dava pemilik toko roti terkenal, sementara lawan bicaranya hanya seorang pelayan restoran. Tanpa sadar, gadis itu terus menatap wajah bersih milik Dava. Ia salah menilai, bahwa ternyata Dava sangat berbeda dengan Dameer.
“Oh, ya Mas ini menu nya,” ucap pelayan itu kemudian.
“Baik. Terima kasih.” Dava mulai membaca rangkaian menu yang tertera di buku.
“Yasmin. Kamu, mau pesan apa?” tanya Dava kemudian.
“Apa aja terserah Bapak, asalkan jangan udang.”
“Alergi?”
“Iya.”
Dava mengangguk sambil tersenyum. “Jadi ingat ummiku, beliau juga alergi udang.”
Yasmin tidak lagi mengatakan hal apa pun, dia harus bersikap wajar dan tak berlebihan. Karena ia masih memiliki suami yang harus dihargai.
Lelaki itu kemudian menyebutkan beberapa pesanan. Sejurus kemudian, ia menatap Yasmin yang sibuk menyapu ruangan dengan netra hazelnya.
“Kamu suka suasana resto nya?” tanya Dava.
“Anda langganan resto ini ya?”
“Iya. Yang punya, sahabatku sendiri.”
Yasmin menganggukkan kepala. “Suka. Saya terhitung jarang makan di tempat mewah kayak gini. Tapi, kenapa Anda malah memesan ruang VIP. Ini kan sangat mahal,” cetus gadis itu.
Dava tersenyum. “Biar kamu bebas berekspresi. Sejak awal masuk, aku tau kamu merasa gak nyaman karena salah kostum.”
Pipi gadis itu mendadak bersemu.
'Andai yang mengatakan itu adalah Dameer ....'
Suasana kembali hening, hanya terdengar suara musik jazz mengalun hingga makanan mereka datang.
Kini, meja mereka terdapat dua porsi baked salmon, risotto, oreo truffles, dan dua gelas es jeruk.
“Yakin, kamu jarang ke resto?” Dava kembali bertanya. Entah tak ada kata lain atau punya alasan kenapa menanyakan hal itu.
“Iya, untuk apa juga. Kan saya seringnya masak, lebih hemat juga.”
“Pemikiranmu bagus. Pasti suamimu juga lebih suka masakanmu dibanding makanan resto, iya kan?”
Deg!
Yasmin merasa heran, kenapa lelaki itu tahu kalau ia sudah menikah.
“I-iya.”
Tiba-tiba, Yasmin teringat sesuatu. “Oh, ya. Kenapa Anda menyuruh pegawaimu untuk memintaku kerja di tokomu? Kan kita gak saling kenal,” ucap Yasmin.
Dava menghentikan suapannya, lalu menatap intens wajah Yasmin.
“Gak kenal, bukan berati gak tau kamu kan?”
Yasmin mengerutkan dahi.
“Saya gak paham.”
Dava terkekeh pelan. “Gak penting juga sih, yang penting kamu sudah kerja di tempatku. Dan mulai besok ....”
“Mulai besok apa?” tanya Yasmin penasaran, karena Dava tiba-tiba menghentikan ucapannya.
“Kunaikan jabatanmu. Bukan lagi sebagai waiters yang melayani pembeli, tapi jadi asisten pribadiku.”
“Hah?!” Netra Yasmin membulat untuk kesekian kalinya.
“Tau Shena kan? Gadis yang dulu menyambut kamu dan Cici pertama kali, saat kamu ditawari kerja,” tanya Dava.
Yasmin mengangguk.
“Nah, dia akan segera menikah. Surat resign-nya sudah kuterima hari ini. Jadi, kamu lah yang akan menggantikannya menjadi asistenku. Paham?” terang Dava.
Yasmin terdiam, entah harus menjawab apa.
“Tenang aja, gajimu pasti kunaikkan,” imbuh Dava lalu kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Bukan soal itu, Pak. Tapi, apakah gak akan menimbulkan rasa iri, mengingat saya adalah pegawai baru, dan tiba-tiba naik jabatan.”
Dava tersenyum. Ia pikir, Yasmin tipe wanita yang tidak enakan, mudah khawatir dan lebih mementingkan kepentingan orang lain.
“Jangan khawatir. Aku akan adakan rapat mengenai hal ini. Lagi pula, aku punya alasan kenapa kamu dinaikkan jabatan. Tapi yang pasti, jabatan yang diberikan untuk karyawanku, udah sesuai dengan kemampuanya,” jelas Dava.
Yasmin pun mengangguk paham. Ia merasa lega atas ucapan lelaki itu.