Yasmin telah berandai-andai. Jika naik jabatan, ia ingin membelikan sesuatu untuk mertuanya dari hasil jeri payahnya sendiri. Harapannya, agar orang tua Dameer itu tak akan lagi memandangnya sebelah mata. Sudah cukup rasanya, ia selalu dituduh parasit dan memeras harta Dameer.
Matanya membulat, saat jam tangannya menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit.
“Ya Allah. Saya harus segera pulang Pak. Takutnya, suamiku duluan lebih dulu sampai di apartemen,” ucap Yasmin langsung beranjak berdiri sambil menggamit tas cangklongnya.
“Lho, kenapa? Memangnya, dia gak tau kamu kerja?” tanya Dava.
Yasmin menunduk lalu menggeleng.
Melihat itu, Dava menghela napas. Yasmin merasa tidak enak hati dengan raut wajah kecewa lelaki itu.
“Kamu pasti tau. Dalam islam, seorang istri itu harus izin terlebih dahulu jika melakukan sesuatu. Kalau sampai suamimu tau, terus dia gak rido. Kamu udah berdosa. Bagaimana pun, suami itu tetap harus ditaati selama apa yang dia minta gak melanggar syari'at,” jelas Dava.
Yasmin merasa tertampar dengan ucapan itu.
“Iya, Pak. Saya janji, gak akan mengulanginya. Sepulang dari sini, saya akan bicara sama dia soal pekerjaan ini dan menerima konsekuensinya.”
Mendengar itu, Dava justru mematung. Entah apa yang ada di pikirannya.
****
Hujan telah reda, hanya sisa-sia air yang masih basah di pelataran resto.
Sejak obrolan tadi, mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Yasmin pun jadi merasa sungkan untuk tetap ikut ke mobilnya Dava.
“Ayo kita masuk ke mobil. Kuantar kamu pulang,” ucap Dava mulai melangkah. Namun Yasmin tetap terdiam sambil memandangi punggung lelaki itu.
“Maaf, Pak. Saya udah pesan ojek online tadi, hujan pun sudah reda.”
Seketika Dava menoleh. Ia baru sadar, jika tadi Yasmin sibuk menggulirkan layar ponselnya. Lelaki itu kembali mendekat.
“Maaf ya, sepertinya ucapanku tadi menyinggung perasaanmu. Baru kenal, udah sok menasehati.”
Yasmin mengulas senyum.
“Nggak kok Pak. Ucapanmu membuat saya sadar, qodratku sebagai istri gak boleh dilanggar. Dan, saya sudah banyak melanggar aturan Allah.”
Motor ojek pesanannya telah datang, ia menatap sekilas wajah Dava.
“Terima kasih ya, Pak. Saya udah ditraktir, permisi dulu. Assalamu'alaikum.”
“Waalaikum salam,” jawab Dava yang masih berdiri menatap gadis itu.
Setelah motor melaju, Yasmin sudah tak dapat lagi menahan tangisnya.
Selama ini, ia sibuk mengagungkan cinta semu di dalam pernikahannya. Bahkan perihal peranannya sebagai seorang istri pun ia abaikan.
Dulu, perempuan bermata sayu itu sangat patuh pada Dameer bukan ikhlas karena Allah, melainkan rasa cinta pada lelaki itu. Sehingga, saat cinta itu telah hilang, ketaatan pada suami pun ikut lenyap.
'Astagfirullah. Ini bukan soal prilaku buruk Dameer padaku, tapi bagaimana seharusnya aku berperan sebagai istri yang baik,' batinnya.
Yasmin menarik napas panjang dan bertekad akan tetap melayani Dameer setulus hati karena Allah. Setidaknya ia akan mendapat pahala jika suaminya itu tak kunjung berubah.
*
“Maka istri-istri yang saleh itu ialah yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada. Oleh karenanya Allah telah memelihara (menjaga) mereka,” - (QS. An Nisa: 34)
****
Yasmin sudah berdiri di depan pintu apartemen dan memencet pasword, tangan kirinya memegang tengkuknya yang terasa pegal, ia memang masih beradaptasi dalam bekerja di toko itu. Tapi, jika Yasmin tidak diizinkan bekerja lagi, maka hari pertamanya bekerja akan jadi hari terakhir.
Pintu terbuka. Matanya menyapu ruang tamu, mencari sosok yang mungkin tengah menunggunya. Yasmin pun mencoba mendekati kamar Dameer yang sedikit terbuka pintunya.
“Tolong jangan menekanku!” bentak Dameer. Rupanya lelaki itu tengah menelepon seseorang.
Yasmin sangat penasaran, dengan siapa dan apa yang sedang dibicarakan.
“Kalau ini yang bisa bikin kalian puas. Ya sudah!”
Craakk!!!
Seketika Dameer membanting ponselnya ke lantai, lalu terduduk sambil meremat rambutnya kuat-kuat.
“Aaaarrgh!! b******k!”
Seketika jantung Yasmin berdetak sangat kencang. Menyapa Dameer dalam keadaan emosi seolah tengah membangunkan singa yang tertidur. Ia pun memilih masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
Yasmin memang sempat merasa aneh dengan sikap Dameer. Seolah lelaki itu banyak menyimpan rahasia, yang membuat emosinya sangat tidak stabil.
'Ya Allah. Bisakah aku berubah lebih baik tanpa bimbingan seorang suami?'
Tanpa permisi, wajah Dava tiba-tiba hadir di pelupuk matanya. Kebaikan Dava membuatnya cukup kagum.
Sejurus kemudian, ia menyunggingkan senyuman hambar. 'Ah, bukankah dulu pun aku melihat Dameer adalah sosok yang baik? Dava bersikap begitu, tapi belum tentu aslinya demikian, bisa aja sama,’ batinnya.
Hatinya menjadi pesimis, bisa mengenal sesosok lelaki yang baik dan taat beribadah.
Hujan kembali mengguyur hari yang mulai gelap. Terdengar samar suara azan magrib berkumandang, lalu Yasmin pun bangkit menuju kamar mandi untuk berwudu.
****
Seseorang mengguncang tubuh Yasmin perlahan. Perempuan itu tertidur dengan masih mengenakan mukena dalam posisi seperti sujud.
Ia menggeliat dan bangun perlahan.
“Dameer ....”
“Kamu ketiduran di sini. Kan dingin,” Dameer bersuara rendah dan lembut.
Yasmin hanya mengangguk sambil mengusap wajahnya. Ia tengah berusaha menghilangkan rasa kantuknya.
“Buka mukenamu, dan bisa lanjutkan tidur di ranjang,” imbuh Dameer.
Yasmin mendongakkan kepala, menatap jam dinding. “Nanti aja, sebentar lagi isya.”
Lelaki itu duduk bersila di hadapannya, lalu mengusap kepalanya dengan lembut.
“Aku baru melihatmu salat. Atau, aku yang kurang memperhatikan?”
“Iya, aku melakukan kewajiban ini baru-baru ini,” ucap Yasmin.
Dameer menganggukkan kepala, tangannya masih mengusap kepala belakang istrinya.
“Maafkan aku selama ini ya. Sering kasar sama kamu.”
Kening Yasmin berkerut, merasa aneh dengan sikap Dameer sejak kemarin. Ia pikir, apa yang telah membuatnya berubah?
“Aku pasti maafin, asal kamu gak berbuat buruk lagi sama aku, Dam.”
Lelaki itu langsung berhambur memeluknya erat-erat. “Aku janji. Tolong jangan pernah meninggalkanku ....”
Yasmin mengangguk, dan berharap jika Dameer benar-benar berubah.
Mereka melepas pelukan.
“Hari ini, aku sengaja pulang cepat. Tapi kamu gak ada di rumah, lagi ke mana?” tanya Dameer.
“Aku gak tau kamu ngizinin apa nggak. Sebenarnya, tadi adalah hari pertamaku kerja.”
Dameer menautkan kedua alisnya. “Kerja?”
“Iya. Rasanya bosan seharian berada di rumah.”
Mereka terdiam sesaat. Yasmin sudah pasrah jika lelaki itu tidak memberikannya izin, tokh baginya keutuhan rumah tangga lebih utama.
“Jarang banget ya, kita jalan-jalan atau sekedar ngobrol, jadi wajar kalau kamu suntuk. Mulai sekarang, aku akan berusaha meluangkan waktu buatmu. Tapi pas aku kerja, kamu juga boleh kerja kok.”
Mata sayu itu tampak berbinar. “Makasih, Dam.”
Azan isya berkumandang. Yasmin melepas mukenanya untuk berwudu.
“Ayo, Dam kita salat,” ucapnya kemudian.
Damer menghela napas panjang dan bangkit dari tempat duduknya.
“Kamu aja dulu, aku lelah mau istirahat.”
Yasmin terpaku di tempat. Dameer adalah dia yang dulu, saat selalu mencari alasan untuk tidak menjalankan kewajiban yang lima waktu.