GAMANG

1233 Kata
Netra hazel Yasmin menatap dengan tatapan kosong, tangan kanannya menopang dagu, tangan kirinya mengaduk teh hangat miliknya dengan sendok. Hal itu membuat Cici gemas dibuatnya. “Yas! Kalau kamu gak minum juga, nanti kita telat masuk kerja, buruan!” bentaknya. Untung saja, suasana kedai nasi uduk itu tengah sepi pelanggan. Membuatnya leluasa berkata nyaring. “Oh, i-iya.” Perempuan itu langsung meminum minuman itu dengan cepat hingga tandas. “Ck! Gak gitu juga kali, Bep,” ucap Cici makin gemas. “Jangan suka marah-marah. Nanti kamu cepat tua, sementara aku masih kelihatan muda, kan rugi,” cetus Yasmin berseloroh. Cici hanya mencebik. “Lagian kamu kenapa sih, bengong?” Yasmin menghela napas panjang. “Entahlah, aku pun bingung.” Semenjak Dameer mulai berubah baik dan perhatian, sisi hatinya yang lain terasa hampa entah kenapa. Terlebih, perannya sebagai perempuan yang memiliki suami, berkewajiban untuk menjaga dirinya untuk tidak sembarangan bergaul dengan lawan jenis. Cici memperbaiki jilbab miringnya. “Banyakin zikir biar tenang. Dan kunci utamaya, tugas kita itu cuma ibadah, sementara yang lainnya urusan Allah. Jadi, serahin aja segala sesuatunya.” Kembali Yasmin menarik napas berat. “Andai semudah itu.” “Kamu gak percaya kekuasaan Allah?” “Percaya.” “Ya udah.” Yasmin tersenyum, sahabatnya yang satu itu selalu mampu membuatnya jauh lebih tenang. “By the way. Pas hari pertama kerja, kamu ngajak aku keliling-keliling gak jelas mau ngapain?” tanya Cici. Mendengar itu, Yasmin kembali tersenyum simpul. Saat harapan mulai tipis untuk bisa mempertahankan rumah tangga, ia memutuskan untuk mencari tempat tinggal. Namun, sikap Dameer yang mulai berubah, ia urungkan. “Sekedar jalan-jalan aja Ci. Saat itu aku lagi kalut.” “Oh. Soal rumah tanggamu dengan Dameer kan?” “Iya.” Mereka beranjak dari tempat duduk dan mendekati motor matic milik Yasmin. “Kamu ... mau tetap bertahan tapi tersiksa lahir batin, atau bakalan melepasnya?” Lagi, Cici bertanya. “Masih gamang. Beberapa terakhir ini, Dameer mulai bersikap baik dan lembut padaku. Hampir mirip seperti awal kenal.” Cici hanya memiringkan bibirnya, entah kenapa ia ragu atas perubahan lelaki itu “Baiknya kamu istikahrah Yas.” “Istikharah?” “Salat Istikharah adalah salat sunnah yang dikerjakan untuk meminta petunjuk Allah oleh mereka yang berada di antara beberapa pilihan dan merasa ragu-ragu untuk memilih atau saat akan memutuskan sesuatu hal. Minta sama Allah, biar diberikan yang terbaik, kamu masih lanjut atau nggak.” “Oh alhamdulillah. Oke, siap nanti aku coba ya Ci.” “Sip. Ya udah yuk, keburu telat.” **** Yasmin kembali sibuk menata kue-kue dan roti di etalase, sambil menunggu pelanggan datang. Sejak hari itu, ia memutuskan untuk menjaga jarak bahkan tidak lagi berani walau sekedar menyapa Dava. Salah satu pegawai senior menghampirinya. “Kak Yasmin, aku lagi sibuk di belakang nih, kamu mau bantu sebentar gak?” “Boleh Kak, bantu apa?” “Di ruangan pak Dameer lagi ada tamu. Tolong bikinin teh manis dua ya. Sekalian anterin ke ruangannya,” cetus pegawai bernama Via. “Oke!” ujar Yasmin sambil menyatukan telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O. Yasmin pun bergegas menuju dapur dan membuatkan dua minuman hangat. Cici datang mendekat. “kamu lagi ngapain Yas?” “Lagi bikinin teh untuk tamunya pak Dava,” jawab Yasmin yang tatapannya tertuju pada teh pekat di cangkir keramik. “Oh, kayaknya tamu itu, seorang ibu yang tadi lewat di depanku deh. Mukanya familiar, kayak pernah ketemu tapi di mana gitu,” ucap Cici sambil mengetuk-ngetuk dagunya. Yasmin mengangguk-anggukkan kepala. “Em, gitu ya? Jadi penasaran, siapa tamunya.” Ia lalu membawa nampan berisi dua gelas minuman, dan melewati jalur lift. Setelah mengetuk pintu, seseorang mempersilahkannya masuk. Netranya sekilas menatap Dava, ia memang tidak berani menatap lama-lama mata lelaki itu. Setelah beruluk salam, ia meletakkan minuman di meja kemudian kembali menegakkan tubuhnya. “Lho, kamu kan yang waktu itu nolongin saya, ingat gak?” tanya ibu paruh baya yang duduk di sofa, tak jauh dari Dava. Mata Yasmin membulat karena baru menyadari, kalau ibu yang ada di hadapannya adalah wanita yang saat itu hampir tertipu. “Oh, iya. Benar Bu, kita bertemu lagi, apa kabar?” tanya Yasmin tersenyum. “Baik alhamdulillah. Sini duduk neng Yasmin.” “Nggak usah Bu, gak apa-apa. Saya harus kembali bekerja.” “Eh, teu kunanaon. Nanti aja lanjut kerjana, sini atuh duduk,” ucap ibu berjilbab lebar itu. Dava mengangguk, mengisyaratkan pada Yasmin untuk mematuhi keinginan ibu itu. Walau ragu, gadis itu pun duduk. “Dava, ini lho cewek yang waktu itu ummi ceritain. Pas ada bapak-bapak yang pura-pura ditabrak sama ummi. Uh, untung aja ada neng Yasmin,” ujar ibu itu. “Oh, alhamdulillah makasih Yasmin,” ucap lelaki bersuara husky. Yasmin mengangguk. “Saya ummi Kulsum, ibunya Dava. Panggil aja ummi, biar akrab ya.” Yasmin cukup terkejut, ia tak menyangka jika wanita yang ditolongnya adalah ibunya Dava. “Ah, iya. Bu.” Jujur saja, Yasmin merasa kikuk, terlebih Dava lebih banyak diam dan hanya menjadi penonton di antara mereka. 'Dava menyebalkan juga,' batinnya. “Neng Yasmin, Dava ini anak tunggalnya ummi, dia itu sebulan sekali pasti pulang ke Bandung. Tapi entah kenapa sudah lebih dari sebulan dia nggak pulang, katanya sih sibuk. Makanya ummi mengalah untuk datang ke sini,” Kulsum mendelik ke arah anaknya yang tampak tersenyum. Sementara Yasmin kembali menganggukan kepala tidak tahu harus berkata apa. Entah kenapa, ia tiba-tiba merasa tidak percaya diri berbicara dengan wanita berjilbab itu. “Ibu orang Bandung?” Yasmin memberanikan diri berbicara. “Iya. Ummi dan abahnya Dava sibuk mengelola pesantren. Kalau Neng ada waktu, main-mainlah ke sana ya, barengan Dava nanti,” cetus Kulsum. Kemudian wanita paruh baya itu menyeruput tehnya. Mendengar kata pesantren, membuat hati Yasmin terasa nyaman. Ada kerinduan yang sulit diartikan, ia bisa membayangkan kehidupan para santri di lingkungan pesantren yang menentramkan. Namun, seketika matanya meredup, mengingatkan kehidupannya yang banyak ia sia-siakan untuk kehidupan duniawi. 'Astagfirullah.’ Obrolan hangat terus berlanjut, walau didominasi oleh Yasmin dan Kulsum. Namun Yasmin cukup tahu diri untuk tidak terus-menerus berada di situ, akhirnya dengan kalimat yang sopan ia meminta izin untuk kembali bekerja. Tanpa sepengetahuan Yasmin, ibu paruh baya itu menaruh rasa kagum padanya. “Feeling ummi, neng Yasmin tipe wanita yang mudah diarahkan.” “Maksud Ummi?” tanya Dava. “Entahlah. Walau penampilannya belum islami, tapi dia tulus dan patuh. Pasti mudah untuk dididik dan diajarkan ilmu agama islam.” Penuturan ibunya membuat d**a Dava berdesir. Seketika ia menggelengkan kepala. 'Ah, Yasmin. Kamu merepotkan perasaan orang aja,' batinnya. “Kalau ada waktu, ajaklah gadis itu ke Bandung dan bawa dia jalan-jalan ke pesantren,” ucap Kulsum tiba-tiba. Sontak mata cokelat terang itu melotot. “Jangan ngawur Ummi! Apa kata warga pesantren, kalau aku bawa perempuan yang bukan mahrom, gak berjilbab pula.” Wajah Dava merah padam menahan malu. Ia selalu bingung dengan sikap Kulsum yang kadang di luar dugaannya. Kulsum terkekeh melihat raut wajah anaknya yang langsung berubah. Namun tanpa diketahui siapa pun, Dava membayangkan, bagaimana jika Yasmin menutup auratnya. Kembali ia menggelengkan kepala. “Maksud Ummi, nanti pas main ke pesantren kalian kan bakalan ummi temenin. Lagian gak mungkin dong Yasmin ke sana gak pake jilbab,” cetus Kulsum sambil kembali menyeruput tehnya. Dava tertegun cukup lama. Bagaimana pun, rasanya itu tidak mungkin, karena Yasmin telah menikah. Dan lelaki itu pun tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Kulsum jika mengetahui status gadis itu. Terlebih jika ibunya itu tahu, siapa suami Yasmin sebenarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN