Yasmin menggamit cardigan mustard dan segera memakainya. Ia tak ingin membuang waktu berharganya, karena sepulang Dameer berolah raga gym, mereka akan berjalan-jalan ke Kota Tua. Setelah sekian lama tak pernah mereka lakukan.
Saat keluar dari apartemen, terdengar langkah sepatu jenis stiletto mendekatinya. Yasmin menatap sepatu berwarna merah itu, hingga ke atas. Rupanya, seorang gadis yang sangat dia kenal.
“Gladys,” sapanya dengan wajah datar.
“Hai, Yas.”
Kembali Yasmin menatap takjub gadis cantik paripurna di hadapannya. Gadis itu memakai rok mini tartan kotak-kotak merah, dengan blouse warna cokelat muda.
“Kamu tau dari siapa apartemenku?” tanya Yasmin.
Gladys terkekeh sambil melipat kedua tangannya di depan. “Kok aneh sih pertanyaanmu. Dameer kan teman dekatku juga, pasti aku tanya dia dong.”
Yasmin menggelengkan kepala atas kelancangan gadis itu.
“Tapi aku mau ke super market. Banyak yang harus kubeli,” ucap Yasmin.
Mungkin itu sebuah usiran halus untuk Gladys, karena entah kenapa sejak gadis itu dekat dengan suaminya, membuat ia kurang suka pada sahabatnya itu.
“It’s oke. Kamu belanja aja yang santai, aku bisa nunggu kamu di dalam apartemenmu. Tokh, aku udah izin pada Dameer.”
“Izin?” Yasmin mengernyitkan kening, bahkan ia sama sekali tidak diberitahu oleh lelaki itu soal kedatangan Gladys.
“Iya. Kalau gak percaya, telepon aja hp nya.”
Yasmin pun merogoh ponsel dari saku cardigannya, sambil menatap tak percaya pada gadis berambut bergelombang itu. Selang beberapa menit setelah menelepon, Yasmin menghela napas dengan kasar. Ia harus kembali menelan kekecewaannya karena sikap Dameer yang lagi-lagi tak menghargainya.
“Masuklah. Tapi kumohon, jika Dameer lebih dulu pulang dari aku, kamu harus menungguku di luar sampai aku selesai belanja,” cetus Yasmin.
“Oke. Gak masalah.”
Yasmin pun tidak ingin berbasa basi lagi, ia bergegas pergi setelah beruluk salam.
****
Konsenterasinya cukup buyar, karena pikirannya terus tertuju pada Gladys yang tengah berada di apartemennya.
'Huft! Jangan-jangan, rencana jalan-jalanku bisa batal karena ada dia!'
Susah payah Yasmin menumbuhkan kembali rasa cinta untuk sang suami, ia sangat berharap Dameer menghargainya dan tidak lagi mengecewakannya.
Brukk!
Sontak Yasmin menoleh ke arah suara. Tampak mulut lelaki yang dikenalnya membentuk huruf O, karena ia terkejut barang-barangnya terjatuh.
“O-oww ....”
Mie instan, kopi, makanan penunda lapar dan beberapa cemilan berjatuhan. Yasmin sigap membantunya memasukkan kembali makanan itu ke keranjang yang dipegang lelaki tampan itu.
“Pak Dava ada di sini?”
Lelaki itu menggaruk tengkuknya. “Iya. Kamu juga lagi belanja ya rupanya.”
“Kenapa bisa jatuh semua sih, Pak?” tanya Yasmin yang tak menghiraukan kalimat Dava.
“Kakiku tersandung,” ucap Dava asal bicara.
Yasmin melirik ke sekitar lantai berkeramik, tidak ada sesuatu menghalangi, yang dapat membuat seseorang tersandung. Ia pun hanya menggaruk hidungnya karena bingung. Tanpa setahu Yasmin, Dava sengaja melakukan itu, agar Yasmin menyadari kehadirannya secara alami.
“Makasih ya, udah bantu aku ngambilin barang.”
“Sama-sama Pak. Lain kali hati-hati,” ucap Yasmin kemudian. Ia melirik belanjaan atasannya itu.
“Kenapa?” tanya Dava.
Yasmin tersenyum. “Belanjaanmu khas ala bujang. Mie instan, kopi ....”
“Lha, aku kan emang masih bujang.”
“Iya, Pak,” ucap Yasmin terkekeh.
“Seingatku, kamu jarang ketawa aku senang mendengarnya.”
“Makasih, Pak.”
Yasmin kembali kikuk. Sejak ia diajak makan hari itu, ia seperti menjaga jarak dan bersikap wajar ketika di tempat kerja.
“Lho, kok masih manggil aku Pak. Kan kalau di luar panggil nama aja.”
“I-iya, saya usahakan,” ucap Yasmin gugup.
Dava terkekeh melihat wajah polos perempuan itu. Mereka mulai melangkah sambil menyisir barang-barang yang masih dibeli, tampak Yasmin lebih fokus berbelanja dibanding Dava yang selalu mencuri pandangan.
“Belanja sebanyak itu, kamu bawa sendiri?” tanya Dava. Lelaki itu menatap trolli yang hampir penuh dengan isi belanjaan.
“Iya Pak, eh Dava.”
Mata elang itu membulat. Tak habis pikir dengan suaminya Yasmin, yang tega membiarkan istrinya membawa barang sebanyak itu.
“Apa gak bisa sedikit-sedikit belanjanya? Misalnya lanjut besok?” tanya Dava kemudian.
“Gak ada waktu selain hari libur. Lagi pula, suamiku tipe yang harus sedia makanan apa pun jenisnya. Dia selalu mendadak meminta dimasakin, jadi bahan-bahan harus selalu tersedia. Sementara mini market dekat apartemenku kurang lengkap dan mesti menyeberang jalan. Pernah, pas hujan lebat suamiku minta dimasakin Tteokbokki, satu pun bahan gak tersedia. Akhirnya, saya harus hujan-hujanan beli bahan-bahan di sini,” terang Yasmin panjang lebar. Sejurus kemudian dia menghentikan langkahnya.
“Ups! Maaf, kok saya malah jadi curhat.”
Dava mencoba tersenyum, padahal dadanya terasa sesak mendengarnya.
“Itu hobiku kok, gak apa-apa,” ucap Dava mencoba santai.
Yasmin mengerutkan dahi. “Hobi?”
“Iya, hobi menjadi tempat curhat. Jadi, kamu jangan sungkan kalau mau cerita apa aja ya, aku siap dengerin.”
Nyes!
Ada sesuatu yang terasa dingin di d**a Yasmin.
“Makasih, Dav.”
Dava sudah dari tadi selesai belanja, namun ia pura-pura mencari barang, hanya biar dia bisa menunggu Yasmin selesai berbelanja.
Setelah selesai, mereka antri di depan kasir. Lagi, Dava diam-diam menatap wajah Yasmin.
****
Di parkiran, Yasmin sibuk menata kardus berisi belanjaan. Dua kardus besar ditumpuk di belakang jok, lalu diikat kuat dengan tali, ia sangat lihai mengikatnya. Sementara plastik besar berisi jenis sayuran ia simpan di depan.
Dava menelan saliva dengan susah payah, ingin rasanya ia menawarkan diri membantu. Tapi, ia pun harus menghargai perempuan itu yang telah bersuami.
“Yasmin. Aku pulang dulu ya, sampai jumpa besok di toko. Kamu hati-hati bawa barangnya,” ujar dava.
Yasmin mengangguk. “Iya, Dav. Kamu juga hati-hati.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam,” jawab Yasmin lalu tak lama ia pun melajukan motornya.
Kehadiran Dava membuatnya lupa tentang kegalauan hatinya, atas keberadaan Gladys di rumahnya.
Sepuluh menit kemudian, Yasmin telah sampai di apartemen dan meminta bantuan security untuk membawa barangnya, tak lupa memberikan tip pada security tersebut.
Barang-barang telah sampai di depan pintu. Yasmin celingak celinguk mencari Gladys, gadis itu berjanji akan menunggunya di depan apartemen jika Dameer sudah pulang, namun sosok itu tidak ada.
'Apa Dameer belum pulang nge-gym ya?' batinnya bertanya-tanya.
Ia pun memencet pasword, lalu pintu pun terbuka.
Yasmin melap keringat kecil di area kening, sambil membawa barang-barang ke mini bar. Telinganya, menangkap samar suara seseorang tengah tertawa.
Perempuan itu mulai melangkah ke arah suara yang rupanya berada di kamar Dameer. Tawa itu kian terdengar dengan jelas, dan Yasmin meyakini itu suara Dameer dan Gladys.
'Sedang apa mereka di kamar berdua?' Jantungnya mulai berdegup sangat kencang.