Yasmin mulai melangkah ke arah suara yang berada di kamar Dameer. Tawa itu kian terdengar dengan jelas, dan Yasmin meyakini itu suara Dameer dan Gladys.
'Sedang apa mereka di kamar berdua?' Jantungnya mulai berdegup sangat kencang.
Yasmin berusaha membuka pintu, namun rupanya terkunci dari luar. Ia pun menggedor pintu berkali-kali dengan sangat kencang.
“Dameer! Gladys! Sedang apa kalian? Buka pintunya!” bentak Yasmin.
Seketika di dalam kamar itu menjadi hening, lalu setelah menunggu cukup lama, mereka berdua keluar dari kamar.
“Eh, Yasmin. Kamu udah pulang?” tanya Dameer dengan wajah pucat mengeruh.
“Yasmin, tadi sebenernya aku udah mau nunggu di luar, tapi ....” Gladys tak melanjutkan ucapannya.
Yasmin memindai tubuh mereka satu persatu, baik Dameer maupun Gladys masih mengenakan pakaian dengan lengkap. Lalu Yasmin mendorong mereka berdua agar ia bisa masuk ke kamar Dameer, netranya menyapu tiap sudut kamar yang sedikit berantakan.
“Katakan! Sedang apa kalian berdua di kamar ini?!” ujar Yasmin lantang.
Dameer merengkuh halus kedua lengannya.
“Tenang dulu, sayang. Yuk kita duduk di sofa.”
Yasmin berusaha berpikir jernih, walau matanya mulai memanas menahan tangis. Ia pun duduk diiringi Dameer dan Gladys.
“Kamu tau kan, kalau Gladys itu lama kuliah di London. Dia udah terbiasa bergaul bebas, dalam artian udah gak sungkan bermain di kamar temennya,” jelas Dameer berhati-hati. Tampak Gladys menganggukkan kepala.
Yasmin mendelik. “Bermain apa di kamar?”
Dameer dan Gladys saling bertatapan sekilas.
“Hanya tebak-tebakan kok, iseng. Tapi Dameer selalu kalah makanya aku ketawa-tawa tadi,” ujar Gladys.
Yasmin tertawa hambar.
“Sangat nggak masuk akal, kalian di kamar berdua cuma sekedar bermain tebak-tebakan seperti anak TK. Kalau bener, gak bisa ya mainnya di ruang tamu aja?” tukas Yasmin. Darahnya mendidih menahan emosi. Tak terbayangkan olehnya, jika seandainya mereka ternyata melakukan hal yang bermaksiat.
“Udah kubilang. Kebiasaan Gladys semasa tinggal di luar negeri memang begini. Tolong kamu mengerti ya, lagian kan kalian sahabatan, pasti udah saling memahami kan,” ucap Dameer, ia duduk di tengah kedua perempuan itu.
Yasmin tersenyum sinis.
“Dan kamu ikut-ikutan hal konyol ini Dam? Kayak orang gila aja!” desis Yasmin menatap tajam ke arah Gladys.
Sontak gadis itu tersinggung dan beranjak dari tempat duduknya. “Apa? Kamu ngatain aku gila?”
Yasmin ikut berdiri.
“Lalu apa namanya? Mau kubilang kalau kamu murahan aja gitu? Oke!”
“Dameer! Lihat kelakuan istrimu!” Tiba-tiba gadis itu seolah meminta pembelaan.
“Jaga mulutmu Yasmin!” ujar Dameer.
Yasmin menggelengkan kepala, ia tak menyangka jika gadis itu lebih dibela dibanding dirinya.
“Dasar miskin, mulut pun yang keluar cuma sampah, bisanya menghina orang!” ujar Gladys dengan suara lantang.
Plakk!!
Yasmin menampar pipi mulus gadis itu, napasnya memburu dengan tatapan tajam.
“Kamu yang harus jaga mulutmu, Gladys!”
“Dameer ... istrimu menakutkan,” ucap Gladys lirih sambil mengeluarkan air mata.
“Kenapa jadi play victim? Akulah yang harusnya marah sama kalian, kenapa berduaan di kamar. Jangan-jangan, kalian lagi berbuat mesum.”
“Yasmin jaga mulutmu! Bisa bahaya kalau asal tuduh!” ujar lelaki itu.
Yasmin masih ingin berusaha berbicara, namun Dameer langsung membawa Gladys mendekati pintu. Sebelum keluar, ia berkata,” Awas kalau sampai kejadian ini, terdengar ke luar. Karir suamimu bisa hancur! Dan aku gak akan memaafkanmu,” ancam lelaki itu.
Mereka pun keluar dari apartemen, dan Yasmin pun leluasa menumpahkan emosinya dengan menangis.
****
Hujan mengguyur kota Jakarta, di pagi hari.
Membuat Yasmin dan Cici sedikit kebasahan walau sudah memakai hujan.
“Yas, kamu gemeteran, udah sarapan kan?” tanya Cici khawatir.
“Aku cuma kedinginan kok.”
“Tapi udah sarapan?”
“Belum sih, hehe.”
“Ya Allah, emang Dameer gak marah kamu gak buat sarapan?”
Yasmin terdiam, sejak kejadian kemarin. Dameer tidak lagi pulang ke apartemen.
“Hm, tau gitu tadi kita mampir dulu beli nasi uduk yang biasa,” ucap Cici lalu mengajaknya masuk ke toko.
“Nggak apa-apa kok Bep.”
“Ya udah, minta roti aja di dapur. Kamu kan punya riwayat maag,” ucap Cici.
Yasmin tersenyum getir. Bukan tidak lapar, tapi nafsu makannya hilang sejak kejadian ia memergoki Dameer dengan Gladys.
“Oke, ya udah yuk kita kerja,” ucap Yasmin lalu menghembuskan napas panjang.
Setelah memakai seragam, ia duduk di mini bar. Area khusus pegawai saat rehat dan lebih sepi dibanding yang lain. Hatinya benar-benar kalut, meratapi nasib cintanya yang begitu rumit.
Tapi jika menyerah, ia tak punya bukti apa pun untuk menggugat Dameer.
'Apa akunya yang terlalu baper ya?' batinnya.
Sisa hawa dingin masih menyusup, ia menggamit cangkir dan mulai menyeduh kopi.
“Aku matcha latte-nya satu ya, Mbak!” ujar lelaki bersuara husky.
Suara itu ....
Yasmin seketika mendongakkan kepala.
“Hah? Pak Dava?”
“Ya aku, trus siapa dong?” ucap Dava balik bertanya.
Ia sangat yakin, jika tadi mendengar suara husky milik lelaki yang kerap memakai hodie hitam dan masker.
'Gak mungkin dia orang yang sama,' batinnya terus bersenandika.
“Kok, malah ngelamun sih? Gak asik, ah. Mau bercandain jadi garing,” ucap Dava mengerucutkan bibirnya.
Yasmin terkekeh. “Maaf Pak. Saya lagi banyak pikiran. Jadi bikin matcha latte-nya?”
“Jadi,” ucap Dava sambil mengangguk. Ia merogoh kacang dari toples kaca, dan melemparnya ke atas lalu ditangkap dengan mulutnya.
“Mikirin apa aja sih, sampai banyak?” tanya Dava.
“Ada lah Pak, masalah pribadi.”
“Katanya mau curhat. Kan aku udah bilang, hobiku dengerin orang curhat.”
Yasmin langsung menatapnya. “Pak Dava aneh, biasanya orang tuh gak mau direpotin. Bapak malah sebaliknya.”
“Bagus dong, jarang-jarang cowok kayak gini. Udah ganteng, pinter, baik hati. Benar-bener edisi limit,” ucapnya santai.
Yasmin mendengkus kesal. Kalau saja lelaki itu bukan atasannya, cangkir marmer itu sudah pasti melayang ke kepalanya.
“Aaakkhh ....” rintih Yasmin. Ia membungkuk sambil memegang perutnya.
Sontak hal itu membuat Dava terkejut. “Kamu kenapa?”
Pandangan beberapa karyawan pun tertuju pada gadis itu, termasuk Cici. Bahkan Cici setengah berlari mendekatinya.
“Kayaknya maag nya kumat Pak,” ucap Cici sambil merangkul Yasmin.
Dava sontak menoleh ke cangkir milik Yasmin berisi kopi yang belum sempat diminum.
“Yasmin belum minum kopinya padahal.”
“Tadi dia bilang, belum sarapan Pak,” jawab Cici.
Dava menepuk dahi mendengarnya. “Pantesan.”
Kini, wajah Yasmin tampak pucat, peluh membanjiri. Dava yakin, perempuan itu sudah dari tadi menahan sakit di perutnya.
“Kalian berdua, tolong bawa Yasmin ke ruang istirahatku ya. Aku mau coba hubungi dokter,” ucap Dava pada pegawai Cici dan satu perempuan lainnya.
Mereka mengangguk lalu memapah Yasmin menuju lift. Di lantai tiga, terdapat kamar khusus milik Dameer, yang sengaja dibuat jika lelaki itu ingin menginap.
****
Langit mulai mengoles mega berwarna jingga, tanda matahari hendak kembali ke peraduan.
“Yakin, Pak. Yasmin gak apa-apa di sini sampai tersadar?” tanya Cici.
“Nggak apa-apa. Aku akan menemaninya di ruangan sebelah, lagi pula ada dua asisten perempuan dan satu security yang berjaga di toko ini khusus malam hari. Kasihan kalau harus dipaksakan sadar,” ucap Dava.
Di ruangan serba nuansa putih dan biru itu, Yasmin terbaring di ranjang king size dengan infus dan nasal cannula yang melingkar. Sejak siang tadi, Yasmin tak sadarkan diri bahkan setelah dokter datang memeriksa.
Cici tidak paham, kenapa Dava tidak membawa sahabatnya itu ke rumah sakit. Sehingga biarlah Dameer yang mengurusnya, tapi ia malah seolah tidak masalah direpotkan.
'Emang ada ya, orang sebaik pak Dava? Atau jangan-jangan, pak Dava ....'
“Nanti, kalau udah sadar. Aku akan menelepon suaminya, untuk menjemputnya ke sini,” imbuh Dava.
“Oh, baik Pak kalau begitu.”
Mereka duduk di kursi yang berlawanan, tak jauh dari ranjang.
“Dia sering kumat maag-nya?” tanya Dava kemudian.
“Lumayan Pak. Dia sering lupa jadwal makan, kalau udah kumat kayak tadi, bisa pingsan seharian penuh.”
Mata Dava membola. “Selama itu?”
“Iya. Kata bu Lilis rahimahulah, Yasmin kayak gitu sejak SMA.”
“Bu Lilis itu siapa?”
“Mamanya Yasmin. Tapi sudah meninggal.”
“Innalillahi wa innaa ilaiho rooji'uun ....” lirih Dava, ia terdiam beberapa saat. Wajahnya tampak sendu, padahal mungkin saja Dava tidak mengenal wanita paruh baya itu.
“Berarti, Yasmin udah gak punya siapa-siapa ya. Kedua orang tuanya meninggal,” imbuhnya.
Cici tercenung. “Bapak tau dari siapa kalau papanya juga sudah meninggal?”
Seketika Dava mengerjap, dan sibuk memperbaiki tempat duduknya.
“Oh, i-itu ... kayaknya dulu dia pernah cerita deh.”
Walau ragu, Cici mengangguk-anggukkan kepala, lalu menatap Dava yang larut menatap wajah putih milik Yasmin.
“Pak.”
“Oh ....” Dava seketika menundukkan kepala, lalu beristigfar degan lirih.
Melihat tatapan yang tak biasa dari lelaki itu, Cici seolah merasa ada sesuatu sejak pertama mengenal lelaki itu.
“Maaf Pak, kalau lancang bertanya. Pak Dava sudah kenal sebelumnya sama Yasmin?” tanya Cici.
Dava menghela napas, kaki panjangnya melangkah ke jendela yang memperlihatkan pemandangan kota yang gemerlap.
“Mungkin iya.”
“Mungkin?”
Dava mengangguk. “Yasmin sepertinya temanku satu-satunya waktu kecil. Tapi, entah dia masih ingat aku atau nggak.”
Cici cukup tertegun dengan ucapan Dava, mungkin itu salah satu alasan lelaki itu menawarkan pekerjaan tanpa syarat pada Yasmin.
“Ooh ... jika benar, Yasmin udah tau soal ini?”
“Belum. Kalau pun tau, belum tentu dia ingat, atau terasa berkesan di hatinya. Pertemanan kami terjalin sejak masih TK sampai kelas satu SD. Dan saat kelas tiga, Yasmin diboyong orang tuanya ke Jakarta, asal mulanya dia tinggal di sebuah kampung di Bandung.”
Cici mengangguk, sedikit paham dengan apa yang diutarakan lelaki tinggi tegap itu, karena seingatnya Yasmin memang berasal dari daerah Bandung.
“Oh ya, tadi Pak Dava bilang kalau Yasmin temanmu satu-satunya. Maksudnya apa?”
“Iya, dia satu-satunya yang mau temenan sama aku. Sementara teman-teman lain pada menjauh karena kekurangan fisikku.”
Lagi-lagi, ucapan Dava menimbulkan pertanyaan di benak Cici. ‘Fisik yang tampak sempurna paripurna milik Dava, punya kekurangan yang bikin orang-orang menjauh?'
Perempuan berjilbab itu terdiam, tidak ingin bertanya lebih jauh tentang sesuatu yang mungkin tidak ingin Dava ingat. Terlebih kekurangan fisiknya.
****
Cici yang tengah duduk di kursi dekat ranjang, mulai berdiri sambil melirik jam tangannya.
“Makasih ya Pak atas segala sesuatunya. Oya, sudah mau magrib, saya izin pulang takutnya anak saya nanyain kenapa jam segini baru pulang.”
“Makasih juga udah dengerin ceritaku,” ucap Dava ikut beranjak.
Cici mengangguk sambil mengulas senyum.
“Kalau ada apa-apa, jangan sungkan menghubungi saya,” ucap Cici kemudian.
“Oke.”
Lelaki itu, mengantarnya sampai ke depan pintu toko.
“Mbak,” panggil Dava sesaat setelah Cici membuka pintu kaca.
“Ya, Pak?”
“Tolong ... soal yang tadi, jangan diceritakan pada Yasmin ya. Anggap aja gak pernah tau, biarkan hal ini dia mengetahui dengan sendirinya. May be, suatu saat aku akan mengatakannya.”
Semilir angin menerpa wajah perempuan berjibab itu, entah kenapa ia sangat yakin kehadiran Dava mampu mengubah kehidupan Yasmin.
“Iya, Pak. Saya janji, dan kuharap pak Dava menjadi wasilah kebahagiaan Yasmin. Dia sudah banyak menderita selama ini ....” Mata Cici meredup.
Sedetik, ada yang terasa sakit di ulu hati Dava. Tanpa sadar, rahangnya mengeras sambil mengepalkan jemarinya kuat-kuat.
Setelah dipastikan Cici menaiki taksi, Dava kembali masuk ke toko sambil merapatkan hodie hitamnya. Bukan satu-satunya baju hangat yang ia miliki, tapi satu-satunya yang ia sukai.
Ia pun memanggil dua asisten perempuan.
“Kalian berdua, tolong jaga Yasmin. Kalau udah sadar segera kabari, aku ada di ruanganku ya,” cetus Dava.
“Baik, Pak,” jawab mereka.
Dava mulai melangkah sambil memasukkan kedua tangan ke saku hodie-nya.
Sepanjang menaiki anak tangga, mulutnya terus berzikir menyebut Asma'-Nya dengan lirih, hingga rasa damai menyelimuti.
*
“(Yaitu) Orang-orang yang beriman akan memiliki hati yang tenang dan tenteram jika selalu ingat dengan Allah, maka ingatlah karena hanya dengan mengingat-Nya, hatimu menjadi tenteram.” (Surat Ar-Ra'd _ Ayat 28)