DUA LELAKI

1108 Kata
Ruangan dengan aroma lavender menguar, membuat mata hazel dengan bulu mata lentik itu perlahan terbuka. 'Ini di mana?' “Syukurlah, Nona Yasmin sudah bangun,” ucap salah seorang perempuan berseragam biru. Lalu seorang lainnya tampak keluar. Rasa herannya, bertambah dengan tangannya yang terpasang infus. Lalu, seorang perempuan berjas putih masuk dan memeriksanya dengan stetoskop dan tensi darah. Yasmin masih terdiam, mencoba menebak-nebak di benaknya, di mana ia berada. “Nona, usianya berapa?” tanya dokter, ia seorang wanita paruh baya. “Dua puluh delapan tahun, Bu,” jawab Yasmin pelan. Lalu ia menatap setiap sudut kamar bernuansa putih dan biru. Sama persis dengan warna cat toko milik Dava. “Selain maag, Anda punya riwayat anemia ya. Kebetulan pas maag nya sedang kumat, anemia nya pun ikut kumat, jadinya pingsan,” terang dokter sambil mencatat sesuatu di secarik kertas. “Iya Bu. Benar.” “Sering seperti ini?” “Emm ... akhir-akhir ini sering, Bu.” Dokter itu mengecek matanya serta lidah. Lalu menatap wajah Yasmin dengan intens. “Tolong panggilkan mas Dava,” ucap dokter itu pada asisten yang berdiri tak jauh darinya. “Baik, dok.” Yasmin menghela napas panjang. Gadis itu pun akhirnya mengetahui, di mana ia sekarang. Memorinya kembali teringat, saat ia tengah mengobrol dengan Dava di mini bar. Lalu entah kenapa perutnya tiba-tiba sakit, dan setelahnya Yasmin tidak ingat apa pun lagi. Dava masuk ke kamar itu, dengan mengenakan hodie hitam. Mata Yasmin seketika membulat. ‘Dia ... aku makin yakin, lelaki berhodie hitam yang sering bertemu denganku waktu itu adalah Dava,' batinnya. “Iya dok?” tanya Dava. Dokter itu berdiri dan menyodorkan kertas. “Tolong beli resep ini ya. Dan saya sangat berharap, Anda bisa menjaga baik-baik kekasihnya ya.” Glek! Baik Dava maupun Yasmin mematung saat dokter itu menyebut mereka adalah kekasih. “Nona Yasmin anemia dan maag nya udah akut, ditambah berat badannya terhitung kurang. Menurut analisa saya, kekasih Anda kurang asupan nutrisi.” Dava menatap Yasmin lekat-lekat, yang ditatap menunduk sedalam-dalamnya. “Kuat dugaan saya, kekasih Anda sedang banyak pikiran. Sering-seringlah luangkan waktu untuknya sekedar curhat atau jalan-jalan,” imbuh dokter itu kemudian. Dava menganggukkan kepala. “Baik, dok. Insyaa Allah, akan saya lakukan saran dokter.” “Syukurlah. Hitung-hitung belajar jadi suami yang baik, kan mesti telaten menjaga dan menyayangi istrinya,” ucap dokter di sela senyum. Dava dan Yasmin memasang senyum kotak yang dipaksakan. Entah apa yang ada di pikiran mereka masing-masing. Selang beberapa menit, dokter itu pun pamit pulang. Kini, di kamar itu ada Dava, Yasmin dan dua asistennya. Tampak Yasmin mencucu. “Apa pak Dava yang bilang ke dokter kalau kita ini pasangan kekasih?” Dava menggeleng kuat. “Nggak. Aku gak bilang begitu, dokternya aja yang tiba-tiba menganggapnya demikian, mungkin di mata dokter itu kita pasangan yang serasi,” seloroh Dava. Seketika Yasmin memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan rasa malunya. Sementara dua asisten tampak senyum-senyum dan saling sikut mendengar obrolan mereka. “Ya udah. Lupakan hal tadi, aku mau beli resep ke apotek sekarang. Setelah itu, kuantar kamu pulang,” ucap Dava lalu meminta kedua asistennya untuk menjaga Yasmin. Yasmin menatap punggung Dava, entah kenapa ia tak suka saat diajak pulang. Di tempat itu, Yasmin merasa nyaman dan tentram. Tapi sedetik kemudian, perempuan itu sadar, siapa dirinya dan di posisi apa ia sekarang. “Nona, mau saya buatkan teh hangat sebelum pulang?” Yasmin menggeleng lemah. “Gak usah Mbak, makasih. Tolong lepaskan infusannya aja, bisa kan?” Mereka mengangguk. “Bisa.” **** Yasmin selesai menunaikan salat dengan posisi duduk, ia berusaha bangkit dan menatap malam tanpa bintang bercahaya satu pun. Seolah sama dengan hatinya yang terasa gelap. “Mau kukemanakan nasib hidupku? Jika di dunia aku menderita, seenggaknya di akhirat aku bahagia. Ya Allah, berikan aku kemudahan,” ucapnya bersenandika dengan bibir gemetar menahan tangis. Setengah jam berlalu, namun Dava tak kunjung datang dari apotek. 'Sejauh apa apotek di daerah sini?' batinnya. Sambil menunggu, Yasmin memutuskan untuk membersihkan kamar itu semampunya. Namun sampai ia selesai, tak ada tanda-tanda Dava kembali. Dengan tertatih, Yasmin keluar kamar dan masuk ke lift untuk turun ke lantai satu. Matanya terbelalak, menatap dua lelaki yang dikenalnya tengah mengobrol berhadapan. Jantungnya berdegup kencang, ia merasa bahwa mereka membicarakan hal serius, bisa dilihat dari raut wajah keduanya. “Dameer ....” ucap Yasmin dengan suara serak. Yang dipanggil langsung membalikkan badannya dan menatap tajam. “Jam berapa ini?!” ujarnya mengetuk arloji dengan setengah membentak. “Maaf Dam. Aku ....” “Apa Anda gak paham? Sudah kubilang Yasmin sakit sampai pingsan,” cetus Dava memotong ucapan Yasmin. “Maaf Pak Dava, jangan ikut campur. Saya sedang bicara dengan istri saya!” desis Dameer. Dava terdiam sambil menghembuskan napas dengan kasar. Yasmin semakin dekat ke arah mereka lalu mengulas senyum pada Dameer, untuk mencoba mencairkan suasana. “Kita bicarakan ini sambil pulang. Gak enak sama pak Dava, pasti dia mau istirahat.” Perempuan itu memegang lembut lengan kekar Dameer, namun Dameer dengan kasar menepisnya. “Ini kali terakhir kamu pulang malam begini, kalau sekali lagi melakukannya lagi, apalagi masih berada di toko ini. Aku gak akan memaafkanmu, dan jangan harap lagi kuizinkan kamu kerja di manapun!” ujar Dameer. Seulas senyum miring Yasmin lontarkan. Baru kemarin, ia mendapati Dameer tengah asyik berduaan dengan Gladys di kamar, tapi tetap dia yang disalahkan. Tanpa keduanya sadari, Dava tengah sibuk menata hatinya yang menahan emosi. Dia tidak suka cara Dameer berbicara pada Yasmin, yang tampak merendahkan perempuan itu. “Ayo pulang!” ujar Dameer kemudian. Mereka mulai melangkah. “Pak Dameer. Perlakukan istrimu dengan baik dan tulus, karena bisa aja ada seseorang yang siap menggantikanmu yang tulus mencintainya,” ujar Dava dengan suara cukup keras. Dameer hanya mendengkus kesal tanpa mempedulikan ucapannya, lalu ia bergegas masuk ke mobil tanpa membukakan pintu untuk Yasmin. Sesaat, Yasmin melihat Dava yang masih berdiri menatapnya. 'Semoga Allah melindungimu, Yasmin,' batin Dava khawatir. Deru mobil Dameer mulai melaju meninggalkan toko. Dava pun membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam lift. Ia mengangkat sebelah sudut bibirnya ke atas. ‘Rupanya, kamu benar-benar tidak mengingatku Tuan Abelard. Oke, mari kita nikmati permainan ini.’ Kaki panjangnya, melangkah menuju kamar di mana Yasmin sempat berbaring. Kondisi kamar sudah terlihat rapi dan bersih. “Maaf Den Dava, kami mau bersihkan dulu kamarnya,” ucap salah satu asistennya. Dava menautkan alis. “Tapi udah bersih kok.” “Masa?” Kedua mata asistennya membola. “Aduh, maaf Den. Kayaknya, Nona Yasmin yang bersihkan.” Dava tersenyum. “Gak apa-apa. Kalian istirahatlah.” “Baik. Terima kasih Den, selamat beristirahat.” Dava mengangguk lalu berjalan untuk duduk di tepi ranjang, sejurus kemudian ia mengusap wajahnya dengan kasar. 'Rupanya, ini baru permulaan. Oke, let's begin!'            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN