Sepanjang perjalanan, baik Yasmin atau pun Dameer tidak bersuara. Tapi hal itu justru membuat Yasmin lebih khawatir, karena biasanya Dameer akan lebih murka padanya. Apalagi mobil yang dikemudikan Dameer melaju dengan kencang. Teringat pesan Cici, ia pun lebih memilih berzikir untuk menenangkan hati dan pikirannya. **** Brukk! “Aaakhh!” Pekik Yasmin. Tanpa diduga, Dameer mendorongnya kuat-kuat sesaat setelah mereka masuk ke apartemen. “Muka lugu, taunya blagu!” bentaknya tanpa tedeng aling-aling. Dadanya terasa sakit karena terkantuk lantai marmer. Perempuan itu berusaha bangun, namun Dameer menarik tubuhnya dan meremat kedua lengannya kuat-kuat. “Sakit Dam ....” lirihnya. Terakhir lelaki itu melakukannya, berakhir biru-biru di kedua lengannya. “Ngapain kamu berduaan dengan lelak

