Dua hari berlalu. Yasmin tengah merapikan barang, karena pagi itu Dameer sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Terdengar langkah sepatu mendekatinya. “Yasmin.” Perempuan berjilbab itu menoleh lalu menegakkan tubuhnya. “Gladys. Kamu di sini?” Walau heran, ada urusan apa gadis itu ke rumah sakit. Namun Yasmin berusaha acuh tak acuh, ia tak ingin mood-nya menjadi rusak karena hal-hal yang tidak penting. “Iya. Kudengar Dameer mengalami musibah.” “Hanya musibah kecil. Hari ini udah bisa pulang,” cetus Yasmin datar tanpa menoleh ke arah Gladys, ia lebih fokus merapikan barang-barang milik suaminya. “Oh, syukurlah. Lega dengernya, trus Dameernya mana?” Gladys menatap ranjang putih yang tampak kosong. “Ke taman rumah sakit. Dari sini juga kelihatan kok, tinggal lurus dikit.” Gladys memb

