Yasmin duduk mematung menatap lembaran kertas dengan tangan gemetar, sampai tak menyadari Cici datang ke ruangannya. “Yas, kamu baik-baik aja?” tanya Cici. Ia yakin, sahabatnya tengah memikirkan sesuatu. “Eh, Ci. Aku baik.” “Itu kertas apa?” Yasmin menelan saliva dan menaruh kertas itu di meja, sesekali ia memijat pangkal hidung sambil merebahkan punggungnya di kursi. “Surat gugatan ceraiku untuk Dameer,” ucapnya. Mata Cici membulat. “Good job! Ayo cepet, kirimkan ke pengadilan,” ujar Cici. Yasmin menggeleng lemah. “Aku bingung.” Cici duduk dan menatapnya dengan heran. “Lha, kok bingung? Jangan mulai deh ....” “Aku nemu obat yang banyak di laci nakas beberapa waktu lalu.” “Ah lagu lama! Kamu kan pernah bilang, kalau dia ketergantungan obat-obat tidur. Sama kamu dibuang puluhan k

