Ingatan malam itu kembali melesat, mata dengan kilatan yang berbeda warna menatapnya sangat tajam. Walaupun tubuh tinggi itu mengangkatnya dengan perlahan, tapi ia bisa merasakan ada amarah yang lama terpendam. Seolah lelaki itu tengah berkata, “Hai, aku datang kembali brother.” “Hhhhhh!!” Napas Dameer tersengal-sengal. Ia bangkit seketika dengan peluh membanjiri. Laili terbangun dengan guncangan dan suara Dameer. “Kenapa Dam, kamu mimpi?” tanya Laili. “Dia ... dia datang lagi!” pekik Dameer. “Tenanglah, siapa yang datang?” “Mata biru mirip kakek. Mata itu ....” Laili menautkan alisnya. Ia berusaha mencerna ucapan anaknya. Cangkir di nakas diraih dan didekatkan di bibir gemetar itu. “Minumlah dulu, tenangkan dirimu.” Dameer meneguk air dengan cepat. “Mana Yasmin?” Matanya menya

