Salat subuh telah ditunaikan. Dava beranjak keluar dari mesjid area perumahan. Ia melangkah diiringi Iwan. “Wan. Kemungkinan Yasmin gak masuk kerja hari ini, tolong lo handle sepenuhnya ya. Gue mau ke perusahaan Abelard Corp hari ini,” cetus Dava sambil memakai sandal gunung hitam miliknya. “Yasmin kenapa gak masuk?” “Jagain suaminya yang lagi di rumah sakit.” “Emang kapan Yasmin telepon?” Lagi, Iwan bertanya. Dava menggelengkan kepala. “Nggak nelepon. Tapi firasat gue mengatakan itu.” Iwan menggaruk rambut keritingnya, ia tak paham namun urung untuk bertanya. Dava seketika menghentikan langkahnya. “Lo duluan. Bilang ke bi Sumi, bikinin omelet buat sarapan, nih bawain sarung gue.” Dava melempar Sarung serta peci ke wajah Iwan. “Njiir! Jelek-jelek gini, muka tau. Bukan gantungan baj

