Rencana Pernikahan
Kesunyian di Kastil Arshington dipecahkan oleh sebuah insiden. Sepele, namun fatal. Bahkan bila tidak beruntung, bisa langsung dipecat.
"Maafkan saya, Tuan," ujar maid bernama Gracia. Dia sangat ketakutan. Bisa dilihat dari baki yang bergetar ketika digenggam.
Gadis cantik itu tidak sengaja menabrak Edward Arshington yang tengah melintas. Bukannya tidak fokus, Gracia memang tidak melihat keberadaan Edward, sebab terhalang oleh dinding.
Edward menatap pakaian mahalnya yang basah oleh air teh. Air itu tumpah sampai sepatu. Padahal, dia berniat mengunjungi ayah bundanya untuk meminta restu.
Mata lelaki itu melotot. Menatap penuh kemarahan pada Gracia yang bergetar ketakutan.
"Jalan itu pakai mata! Jangan cuma mengandalkan mata kaki!" maki Edward sambil menuding ke arah Gracia.
Pelayan itu pun duduk berlutut dengan kepala menunduk. Dia tidak berani mendongakkan kepala. Terlalu takut untuk menghadapi murka Edward.
Sebutir air mata mulai meluncur. Membasahi bibir ranumnya yang memaksakan diri untuk berucap meski sulit.
"Maafkan saya, Tuan," mohon Gracia dengan tangan yang sangat dingin.
Edward kembali mengumpat, "Pelayan sialan! Siapa yang mengajarimu untuk meminta pengampunan, hah?! Kau lebih pantas digantung di alun-alun daripada memohon padaku!"
Isak Gracia makin menjadi. Dia sungguh takut kalau dihukum gantung atau dipenggal. Gadis itu tidak mau mati muda.
Takut adiknya bertindak melampaui batas, William langsung meraih lengan kemeja Edward yang tidak terkena tumpahan air teh. Membuat kepala adiknya menoleh. Menatap William penuh tanya.
"Ini juga salahmu. Berjalan tergesa-gesa. Andai kau memelankan lajumu, tentu dirimu tidak bertabrakan dengannya," ujar William, mencoba menenangkan amarah Edward.
Adiknya tidak terima. Lelaki itu menunjuk pada kemeja putih yang basah sempurna. Bahkan, nyaris transparan karena bahannya tipis. Sedikit memperlihatkan perut kotak-kotak kegemaran kaum hawa.
Berkata kencang, "Lihat hasil perbuatan pelayan sialan itu! Kakak pikir, aku terima kalau dibeginikan?"
"Sudahlah, Edward!" tegur William. Sorot matanya tak lagi bersahabat. Menyiratkan kalau dia tidak ingin Edward memperpanjang masalah ini.
Edward memutar bola mata ke atas. Lantas, berbalik menuju kediaman. Hendak berganti pakaian sebelum bertemu dengan Ratu dan Raja.
Pada saat bersamaan, pandangan William terfokus pada Gracia. Dia merasa kasihan terhadap maid itu. Sebab, harus menghadapi murka Edward di pagi buta.
"Bereskan semua kekacauan ini, Gracia. Perkataan adikku tadi, jangan diambil hati," ujarnya memberi komando.
Gracia menyeka air mata yang jatuh sedari tadi. "Terima kasih, Tuan."
William tidak menyahut. Lelaki itu meneruskan perjalanan menuju ruang singgasana. Ingin segera bertemu dengan ayah bundanya.
Sesaat kemudian, pupil Gracia membesar. Menatap penuh tanya pada Pangeran William yang berjalan santai di lorong kastil.
"Tuan William tahu nama saya?" batinnya heran.
***
Edward membanting pintu kediaman. Lacey yang tengah bersolek di depan cermin itu pun terkejut. Bahkan, lipsticknya sampai menggores pipi.
Perempuan cantik itu menoleh. Mendapati kekasihnya yang terlihat uring-uringan. Serta merta, dia berlari mendekat. Menggenggam tangan Edward sembari bertanya, "Kenapa, Honey? Raja dan Ratu tidak memberikan restu?"
Merotasikan bola mata. Lantas menjawab dengan sedikit kesal, "Aku belum bilang. Ini gara-gara pelayan sialan itu! Dia menumpahkan air teh ke bajuku."
Pandangan Lacey pun turun ke bagian pinggang Edward. Melihat kemeja yang terkena air. Baunya juga mirip dengan teh. Tidak diragukan lagi, Edward tidak berbohong sedikit pun.
"Pelayan mana yang berani merusak pakaianmu?" tanyanya berang.
Menjawab malas, "Gracia, pelayan kesayangannya Bunda dan Ayahanda."
Lacey menggeretukkan gigi. Kedua tangannya juga terkepal sempurna. Dia tidak terima kalau Edward mengalami insiden kurang menyenangkan ini.
Edward kembali berkata, "Keluarlah, Honey. Aku mau mengganti pakaian."
"Biar kubantu," ucapnya menawarkan.
Pangeran itu menggelengkan kepala, menyatakan ketidaksetujuannya terhadap usulan Lacey. Tak lupa menjelaskan bahwa dirinya juga perlu mengganti celana. Tidak hanya kemeja.
Dengan wajah yang lumayan kusut, Lacey keluar dari ruangan. Membiarkan Edward melakukan apa yang dia inginkan. Itu lebih baik daripada kena marah.
***
Di sisi lain, William sudah sampai di ruang singgasana. Pengawal membiarkannya masuk. Sebab, tahu kalau pangeran tertua Kerajaan Islovaxia telah memiliki janji temu dengan Ratu dan Raja.
Setelah membuka pintu, tampaklah Raja Frederick yang tengah duduk penuh wibawa bersama Ratu Lusiana. Keduanya sama-sama mengernyit heran. Mempertanyakan kehadiran William yang tidak ditemani seorang pun.
Bertanya pelan, "Mana adikmu? Katamu, ada hal penting yang mau dia bicarakan."
Untuk menjawab pertanyaan dari Raja Frederick, Pangeran William hanya bisa menyahut, "Ada insiden kecil, Ayahanda. Gracia tidak sengaja menabraknya di tikungan. Jadi sekarang, Edward tengah mengganti pakaiannya."
"Apa Gracia terluka?" tanya Ratu Lusiana. Khawatir dengan keadaan perempuan itu.
William menggelengkan kepala. Membuat Ibundanya lebih tenang. Tak lagi gusar seperti beberapa detik yang lalu.
***
Usai mengganti pakaian, Edward keluar dari ruangan. Namun, Lacey tak nampak batang hidungnya. Lelaki itu tidak mengambil pusing dan segera pergi ke ruang singgasana. Dia tahu kalau Ratu dan Raja sudah menanti kehadirannya.
Beruntung, Edward tidak terlambat. Dia masih bisa menjumpai dua orang penting di Islovaxia. Sebab hari ini, jadwal keduanya begitu padat. Itu yang dia dengar dari asisten kepercayaan Frederick, namanya Stefan.
Tanpa basa-basi lagi, Raja Frederick bertanya, "Apa yang mau kau bicarakan, Ed?"
Pangeran muda tersebut langsung menyahut, "Maafkan keterlambatan Ananda, Ayahanda, Ibunda. Kedatangan Ananda kemari untuk meminta doa restu untuk pernikahan Ananda dengan Lacey Fallingdown."
Lusiana dan Frederick terlihat bertukar pandang. Keduanya tahu kalau Lacey menjalin hubungan dengan Edward. Tapi mereka tidak menyangka kalau Edward ingin menikah secepat ini, mendahului kakak-kakaknya.
Dengan berat hati, Lusiana mengatakan, "Pangeran muda yang ingin menikah sebelum kakaknya, diwajibkan mengambil seorang istri dari kalangan pelayan istana. Kau masih mengambil risiko untuk maju, Anakku?"
Edward tercengang. Dia pun menoleh pada William. Mencoba menanyakan keaslian dari ucapan Lusiana.
Kakaknya mengedikkan bahu pertanda tidak tahu. Sebab, dirinya juga baru mengetahui peraturan ini. Entah kapan dibuatnya.
"Tapi, Ibunda. Ananda mana bisa membagi cinta untuk dua perempuan," tolak Edward.
Lusiana tetap teguh pada pendiriannya. "Kalau tidak mau, tangguhkan saja pernikahanmu hingga William dan Linden meminta restu pada kami," balas beliau.
Edward resah. Sebab, sudah berjanji pada Lacey untuk segera menikah dengannya. Tak mau menunda lebih lama.
Menghela napas berat. "Baiklah, Ibunda. Dengan siapa Ananda harus menikah?"
Frederick dan Lusiana kembali bertukar pandang. Membagi pemikiran yang sama. Lantas, menjawab bersamaan, "Gracia."
Pupil mata Edward membulat sempurna. "Ayahanda dan Ibunda mau menikahkan Ananda dengan perempuan menyebalkan macam dia?"
"Kalau tidak mau, silakan undur pernikahan kalian," sahut Ratu Lusiana.
Secara tiba-tiba, pintu dibuka. Membuat atensi semua orang teralihkan pada Pangeran Keith Arshington yang baru saja datang. Dia tidak sendirian, tetapi membawa seorang gadis yang basah kuyup.
"Saya tidak bisa menerima pernikahan ini! Calon istri Edward mengguyurkan air pada Gracia. Jika Gracia menjadi istri kedua, bagaimana hubungan mereka nantinya?" ujar Keith sembari menggenggam erat tangan Gracia.
Edward membalas, "Kau pikir, aku menyukai dirinya?"
"Baguslah kalau begitu. Gracia untukku saja!" ucap Keith sambil menarik gadis itu dalam dekapannya.