Cling
Revan❤️
Aku di depan rumah baru kamu
Nara membelalakkan mata saat melihat satu notifikasi di layar handphonenya. Nara segera menyikap gorden rumahnya, dan benar saja di ujung jalan sana terlihat Revan tengah bersandar pada mobilnya. Nara semakin terkejut dia kemudian keluar dari rumah tampak Revan melambai-lambaikan tangannya dengan senyum mengembang, kebetulan saat ini Rain juga sedang tidak ada di rumah entah kemana, dia tidak bilang. Nara berlari menghampiri Revan.
"Revan...." Teriaknya dengan tersenyum juga, lalu menghambur ke dalam pelukan kekasihnya itu. "I Miss you so much" Ucap Nara mendonggakkan kepalanya memandang Revan.
"Aku juga, aku juga merindukanmu, sangat" Ucap Revan tersenyum hangat. Dia memeluk pinggang Nara dan semakin mendekatkan wajahnya pada Nara, kemudian mencium bibir Nara.
Tanpa sepengetahuan mereka, seseorang dari kejauhan, di balik kaca mobil dia melihat hal itu, hal yang dilakukan Nara bersama Revan di sana. Rain mengeratkan genggaman pada stir mobilnya dengan rahang, wajahnya juga memerah. Amarahnya meletup-letup melihat istrinya di cium dan di peluk laki-laki yang bahkan dia saja tidak pernah melakukan hal itu pada istrinya. Dan parahnya lagi istrinya itu membalasnya.
Tidak tahan lagi, Rain keluar dari mobilnya dengan membanting pintu mobilnya dan segera berjalan cepat menuju mereka, sampai di situ Rain menarik kerah kemeja Revan dan langsung melayangkan tinjuan ke wajah Revan hingga sudut bibirnya berdarah, dia tersungkur ke bawah. "Brengsekkk anj*ing" Rain meraih kemeja Revan lagi dan kembali meninju Revan, Nara sudah histeris melihat Rain memukul Revan membabi buta. "Berani-beraninya Lo nyentuh istri gue b*****t!"
"RAIN LEPASIN REVAN!" Teriak Nara.
"NARA MASUK!" Balas Rain menatap Nara nyalang.
"b******k! Takan ku biarkan kau menyakiti kekasihku!" Pekik Nara.
Mendengar Nara membela laki-laki itu membuat Rain semakin geram, dengan sekali hentakan dia menarik tangan Nara dan menyeretnya ke dalam rumah, mengabaikan Revan yang tengah merasa perih di bagian sudut bibir dan hidungnya.
Dugh
Rain menyentakkan punggung Nara pada pintu, menciumnya dengan rakus dengan memeluknya erat meski Nara memberontak tapi Rain tidak menghiraukannya, ia juga tidak peduli jika saat ini Nara mulai kehabisan nafas ia terus melumat ganas bibir itu. Dengan sekuat tenaga Nara mendorong d**a Rain hingga ciumannya terlepas. Sejenak Nara mengatur nafasnya.
"Aku yang seharusnya memelukmu seperti itu, menciumu seperti itu BUKAN LAKI-LAKI b******n ITU!" Geram Rain.
Kemudian Nara menampar pipi kiri Rain dengan keras. Rain memegang pipinya dan terkekeh "Kau menamparku?" Tanya Rain tak percaya.
"Berani-beraninya kau menciumku, b******k!"
Rain tertawa hambar "Kau marah saat suamimu menciumu? Tapi tidak marah saat laki-laki lain melakukan hal itu?" Kemudian Rain mengusap bibirnya dengan ibu jarinya "Saat aku menciumu barusan bahkan aku tidak tahu ini rasa bibirmu atau rasa laki-laki b******n itu!" Rain kembali tersenyum miring.
Nara kembali menampar Rain, kali ini lebih keras, matanya berkaca-kaca, entah kenapa hatinya merasa sakit ketika Rain mengatakan itu. Nara berlari menaiki tangga menuju kamarnya dan mengunci dirinya di kamar dan menangis kencang dengan perasaan yang juga tak dia mengerti.
Rain sendiri dia meninjukan tangannya sendiri pada pintu dan mengeram. Entah kenapa dia begitu marah melihat Nara bersama laki-laki itu, padahal saat awal pernikahannya dengan Nara, Rain sudah menyetujui Nara untuk tetap berpacaran dengan laki-laki lain. Tapi, sekarang dia seolah tidak terima melihat Nara bersama laki-laki itu.
°°°
Jam sudah menunjukkan pukul 09:13 Nara keluar dari kamarnya, bukan karena dia baru bangun di jam segitu, tapi Nara hanya ingin berdiam di kamar, masih mencoba menenangkan pikirannya atas kejadian kemarin. Dan Nara keluar karena dia benar-benar merasa lapar.
Nara menuruni satu-persatu anak tangga, memasuki dapur, mata Nara langsung terjatuh pada Rain yang masih duduk di salah satu kursi di meja makan itu. Dengan gugup Nara mendekati meja makan itu dan duduk di kursi sebrang Rain. Ada beberapa makanan yang mungkin hanya cukup untuk dua orang.
Terlihat makanan-makanan ini sepertinya belum tersentuh, piring Rain juga masih kosong, mungkin dia juga belum makan, apa dia menunggu Nara? Padahal ini sudah siang untuk jam sarapan. Tapi ini bukan salah Nara, karena Nara tidak menyuruhnya menunggu. Jadi jangan salahkan Nara kalau dia kelaparan.
Mata Nara kemudian beralih pada Rain yang tampak datar dan begitu dingin. Biasanya juga memang seperti itu tapi biasanya dia akan menyapa Nara meskipun tak banyak bicara dan sikapnya juga tak dingin seperti sekarang. Apa dia masih marah karena kejadian kemarin.
Rain mulai mengambil makanannya dan mulai makan dengan diam. Sementara Nara hanya memperhatikan laki-laki itu yang tengah menyantap makanannya dengan tenang. Jujur saja, Nara merasa tidak enak dengan apa yang terjadi kemarin. Tapi dia juga marah, ia tidak terima dengan kata-kata Rain padanya kemarin.
"Ekhem, Rain?" Ucap Nara sembari terus menatap Rain "Untuk kejadian kemarin....aku minta maaf" Ucapnya pelan masih menatap Rain yang masih sibuk menyantap makanannya. "Aku mungkin sudah keterlaluan karena menamparmu sekeras itu" Ucap Nara pelan.
"Tapi aku juga tidak sepenuhnya salah, kau juga menyakiti perasaanku" Lanjutnya sedikit memelankan di akhir kalimatnya.
Tapi Rain tak menggubrisnya, dia justru membereskan alat makannya dan berjalan ke wastafel untuk mencuci piring bekas makannya. Nara mengikuti Rain karena merasa tak dihiraukan olehnya.
"Rain, kamu dengar aku ngomong gak sih" Tapi Rain masih tak menggubris. "Aku minta maaf, kau tuli?!" Nara menarik tangan Rain dengan kencang hingga piring yang tengah penuh dengan busah sabun terjatuh dari tangan Rain. Rain menatap Nara tajam, sungguh Nara juga terkejut saat piring itu jatuh, Nara menutup mulutnya dengan kedua tangan karena kaget.
"Bukan seperti itu caranya minta maaf, Nara!" Bentak Rain.
Nara refleks berjongkok untuk membereskan pecahan piring-piring itu "M-maafkan aku, aku tidak sengaja, akan aku bereskan" Ucapnya.
Rain tak peduli, dia mengalihkan pandangannya pada arah lain. Hingga terdengar suara ringisan dari perempuan yang tengah berjongkok itu. Rain langsung menoleh ke bawah melihat jari manis Nara tergores pecahan piring itu. Rain beralih mencuci sisa sabun di tangannya. Kemudian ikut berjongkok dan meraih tangan Nara.
"Kau tidak papa?" Tanyanya meraih tangan Nara dan menatap Nara. Tapi Nara segera menarik tangannya dari Rain.
"Aku tidak papa" Jawabnya sembari beranjak berdiri.
Rain meraih tangan Nara kembali dan mencoba menarik tangan Nara agar beranjak dari sana, tapi Nara bergeming membuat Rain menoleh padanya. Perlahan Nara melepas tangannya dari cekalan Rain.
"Tidak usah berlebihan, aku bisa sendiri, jangan bersikap seolah aku gadis kecil" Ucapnya seraya berlalu menuju nakas di ruang tamu untuk mengambil kotak P3K di salah satu laci nakas itu. Rain mengikutinya. Kemudian gadis itu mengambil plester dan membalutnya lukanya.
"Aku pikir kau akan menangis" Ucap Rain tersenyum miring.
Nara terkekeh, "Anak TK akan menertawaiku jika aku menangis hanya karena luka kecil seperti ini"
"Ya, baguslah" Ucap Rain lalu berbalik untuk beranjak.
"Tunggu" Cegah Nara. Rain berbalik lagi.
"Untuk yang kemarin, aku benar-benar minta maaf" Ucap Nara pelan.
"Lupakan saja, itu salahku, aku terlalu terbawa suasana kemarin" Ucap Rain tertawa hambar.
"Jadi kau beneran marah karena itu?"
"Tidak ada suami yang tidak marah melihat laki-laki lain menciumnya" Jawab Rain seadanya.
"Tapi itu hanya berlaku untuk orang yang menyukai pasangannya, apa kau...." Nara menjeda kalimatnya.
"Sebagian laki-laki tidak akan tidak menyukai perempuan secantik kamu" Jawab Rain jujur.
Nara tertegun, apa yang dikatakan laki-laki ini benar? Sepertinya tidak. Nara melangkah mendekat pada Rain. Kemudian dia berjinjit merengkuh kedua pipi Rain dan menciumnya dengan mata terpejam membuat Rain terkejut dengan apa yang dilakukan Nara.
Setelah beberapa saat Nara melepaskan bibirnya "Kemarin kau bilang mungkin itu rasa Revan saat kau menciumku setelah aku berciuman dengan Revan, tapi hari ini aku tidak mencium siapapun, aku juga sudah menggosok gigi dan cuci muka" Ucapnya, kemudian m berlari menaiki tangga berlalu kembali ke kamarnya. Meninggalkan Rain yang masih tidak percaya dengan yang baru dilakukan Nara padanya.
Rain terkekeh mengusap bibirnya dengan ibu jari dan tersenyum kecil "Manis" Gumamnya.
See you ♡