Dia Miliki

2035 Kata
Baru beberapa menit Nara masuk ke kamar sekarang dia sudah turun lagi ke bawah dengan penampilan sudah rapi, dia memakai celana jins abu dan blouse, juga di lengkapi dengan tas selempang kecil, rambutnya di ikat kuda, benar-benar cantik dan natural. Nara mencari-cari keberadaan Rain, walau bagaimana pun juga sebagai istri yang baik dia harus izin dulu kan pada suaminya. Setelah mencari ke berbagai sudut rumah, akhirnya Nara menemukan Rain di belakang rumah tepatnya dia tengah berenang di kolam yang airnya dari mata air langsung membuat air di kolam itu tampak jernih sekali. Rain keluar dari kolam saat melihat Nara berdiri di ambang pintu kaca itu tengah menatap dirinya. Mata Nara melongo dengan mulut sedikit terbuka melihat pria di depannya saat ini begitu tampan, rahang tegas, alis tebalnya, rambut kecoklatan, kulit yang tidak terlalu putih, badannya yang tinggi, dan bulu mata yang sedikit lentik, benar-benar pahatan yang indah. Jangan lupakan butir-butir air yang menetes dari rambutnya yang basah, sungguh menambah kesan indahnya. Astaga Nara benar-benar tak bisa berkedip. "Nara" Panggilnya dengan suara berat dan seksi itu. Hah apa dia barusan memanggilnya Nara. Nara segera tersadar dan mengerjapkan matanya. Astaga dia baru saja hampir menumpahkan air liurnya dan membuat imagenya jatuh ke ke tanah. Nara menggelengkan kepalanya beberapa kali "Sadar Nara sadar, ingat, Revan juga sangat tampan, jangan sampai kamu terpesona pada Rain si wajah datar" Batinnya bermonolog sembari menggelengkan kepalanya semakin cepat. "Hey, hey" Rain menangkup kedua pipi Nara agar dia berhenti menggeleng hingga kini membuat mata mereka saling bertemu dan tatapan keduanya saling terkunci. Astaga jantung Nara sudah sangat siap melompat dari tempatnya saat ini. Sekarang Nara dapat melihat wajah Rain dari dekat, ironisnya dia semakin terlihat tampan jika dilihat dari dekat seperti ini. "Kenapa kau menggelengkan kepalamu dengan cepat, kamu bisa pusing Nara" Nara segera melepas kedua tangan Rain dari pipinya dan membalik badannya beranjak dari sana "Aku pasti sudah gila" Gumamnya. Rain hanya mengernyitkan dahi heran dengan sikap Nara tapi dia kembali acuh, berjalan ke bangku di samping kolam untuk mengambil handuk kecilnya. Tapi beberapa saat kemudian gadis itu kembali lagi, Rain menolehkan lagi pandangannya pada Nara. "Ekhem, aku lupa mau bilang, aku mau pergi bersama teman-temanku" Ucapnya dengan sedikit gugup. Rain menganggukkan kepala. "Aku mungkin akan lama, kau tidak usah menungguku" Ucapnya lagi, "Oh iya, adikmu Sarah juga ikut bersama kami, jika kau khawatir" Setelah itu dia melenggang pergi. "Jangan pulang terlalu malam" Sahut Rain seraya kembali mengelap wajahnya. Nara menghentikan langkahnya sebentar lalu kembali melanjutkan langkahnya lagi. Rain hanya memperhatikan punggung Nara hingga gadis itu menghilang di telan pintu, hingga sesaat kemudian pandangan Rain teralihkan pada dering ponselnya. "Iya yah" "Bisakah kau hari ini datang ke kantor, sepertinya Ardan akan menandatangani kontrak kerjasamanya hari ini" "Kenapa ayah tidak mengatakan ini sebelumnya" "Tadinya ayah pikir cukup ayah saja yang hadir dalam pertemuan ini, tapi sepertinya Ardan ingin menantunya juga datang" "Baiklah, satu jam-an aku sampai" °°° "Maaf, sepertinya aku telat" Ucap Rain yang baru saja datang. Di sana sudah ada Dion dan Ardan bersama sekertaris mereka masing-masing. "Tak apa, ayo duduklah nak" Sambut Ardan dengan senyum hangat. "Baik, karena menantuku sudah datang, jadi mari kita mulai kontraknya" Pertemuan itu berakhir dengan tandatangan kontrak kerjasama antara BJ Group dan NACA Group. Dengan begitu, BJ Group selamat dari ancaman gulung tikar dengan kata lain Resort milik Rain yang merupakan kenangan Rain bersama Anisa-ibunya juga selamat. Mereka saling menjabat tangan dengan senyum lega. "Besok datanglah ke kantor papah" Ucap Ardan menepuk bahu Rain. "Ada apa papah meminta Rain ke kantor papah?" Tanya Rain bingung. "Papah ingin memperkenalkan kamu pada karyawan-karyawan papah bahwa kamu sekarang adalah menantu papah" Tuturnya. "Baiklah saya akan datang" Jawab Rain dengan senyum. °°° Di sisi lain, hari ini Nara bersama Sarah juga teman-temannya yang lain sangat bersenang-senang hari ini. Mereka menghabiskan waktu bersama, shopping, main game, makan, bercerita tentang hal konyol, sampai mereka tak sadar bahwa hari hampir malam. Sekitar jam 8 mereka hendak pulang. "Karena di antara kita cuma bawa mobil satu, jadi kita anterin dulu si nona yang rumahnya paling jauh" Sindir Maudi pada Nara dan yang di sindir hanya nyengir. "Salahin aja tuh kakaknya Sarah, kenapa dia bawa aku tinggal di rumah yang jauh dari peradaban seperti itu" Dengus Nara kemudian, membuat teman-temannya terbahak, tidak terkecuali Sarah. "Yaudah, berarti kita anterin Nara dulu habis itu Via, dan terakhir aku rumah kita kan searah Di" Ucap Sarah memberi solusi. "Ya ya karena aku adalah supir kalian" Maudi memutar bola matanya membuat ketiga sahabatnya tertawa. Saat ini mereka berjalan ke parkiran, namun mata Nara menangkap seseorang yang cukup dia rindukan dan khawatir juga sejak terakhir mereka bertemu, itu pun dalam situasi tidak menyenangkan karena saat itu dia habis dipukuli oleh Rain. Iya, orang yang Nara lihat saat ini adalah Revan-kekasihnya, dia dengan teman-temannya baru saja turun dari mobil sepertinya mereka baru tiba di Restoran ini. "Revan" Panggil Nara melambaikan tangan. Teman-temannya ikut menoleh. Terlihat Revan pamit pada teman-temannya saat melihat Nara. Revan menghampiri Nara "Hi" Ucapnya. "Kamu baru sampai di sini?" Tanya Nara. "Hm, kamu juga?" "Ah baru saja kami akan pergi" Jawab Nara. "Aku antar kamu pulang ya" Ucap Revan. "Tidak usah, Nara pulang bersama kami kok, kami akan mengantarnya" Jawab Sarah cepat. "Tidak papa Sarah, aku akan pulang dengan Revan, lagi pun kasian Maudi rumahku paling jauh dia akan tiba larut di rumahnya" Imbuh Nara. "Gak papa kok Ra, aku gak keberatan, kita kesini bareng pulangnya bareng juga" Ucap Maudi. "Tak apa, aku akan mengantarnya" Ucap Revan, Nara mengangguk. "Baiklah, jangan macam-macam pada Nara" Tambah Via. Revan hanya terkekeh. Setelah itu baik teman-teman Nara atau Revan dan Nara mereka sama-sama pergi dari tempat itu ke arah berlawanan. Di mobil pikiran Sarah tak tenang, jujur saja dia tidak senang Nara masih berhubungan dengan Revan di saat dirinya telah menikah dengan kakaknya. Selain itu Sarah juga khawatir dengan Nara, mengingat Revan bisa melakukan apa saja pada Nara apalagi saat laki-laki itu patah hati karena Nara menikah dengan Rain. Sarah meraih ponselnya dan segera menghubungi kakaknya. Setidaknya hanya untuk berjaga-jaga. "Hallo kak, kakak tahu kan kafe Sari Bunda?" "...." "Kakak bisa 'kan datang kesini, aku punya firasat gak enak pada Nara, dia pulang di antar Revan" "...." "Aku tidak tahu pasti dimana mereka sekarang, tapi sepertinya masih belum jauh" "Kamu ngasih tahu Rain, Sar?" Tanya Maudi setelah Sarah menutup teleponnya. "Iya, aku khawatir dengan Nara" Jawab Sarah dengan raut cemasnya. "Kamu melakukan hal yang tepat Sar" Imbuh Via. °°° Sebenarnya perasaan Nara juga sedikit tidak enak, tapi Nara menepis pikiran buruknya, tidak mungkin kan Revan macam-macam dengan membawanya ke tempat lain, karena mobil ini juga mengarah ke jalan rumahnya, perasaan Nara lega ketika sudah yakin bahwa benar jalan ini menuju ke rumahnya. Lagian dia dan Revan sudah hampir 2 tahun pacaran dan Revan tidak pernah macam-macam. Sepertinya itu hanya perasaan Nara saja. Tapi ketika sudah memasuki daerah Ciwidey, di tengah jalanan sepi yang penuh dengan pohon-pohon rindang di sampingnya, Revan menepikan mobilnya. "Kenapa kita berhenti disini?" Tanya Nara dengan tatapan bingung juga takut. Revan menoleh "Aku hanya ingin bersamamu sedikit lebih lama lagi" Mereka lama saling terdiam menyelami perasaan masing-masing. Revan sangat mencintai Nara, ia tidak rela jika Nara menikah dengan orang lain. Dia tidak pernah mencintai perempuan sampai sedalam ini. Meskipun pernikahan itu berdasarkan perjodohan. Tapi tetap saja, pada akhirnya Nara bersanding dengan laki-laki lain, dan Revan tidak rela akan itu. Tidak ada laki-laki lain yang boleh memilikinya, hanya dirinya. "Aku minta maaf Revan, untuk kejadian waktu itu, dan untuk tentang aku yang menikah dengan Rain, aku belum sempat bicara denganmu, sungguh pernikahan itu mendadak" Ucap Nara pelan mulai membuka suara. "Tidak usah minta maaf Nara, seharusnya aku yang minta maaf karena tidak bisa berhenti mencintai kamu meskipun kamu sudah jadi istri orang lain" Ucapnya parau. "Revan...." Lirih Nara merasa bersalah. "Bolehkah aku terus mencintaimu, Nara, karena aku tidak sanggup berhenti" Mata Revan memerah menahan air matanya. "Jika harus jujur, aku sangat tidak rela kamu bersamanya" Lanjutnya tegas. Mata Nara juga berkaca-kaca menatap Revan "Aku juga mencintaimu" Ucapnya. Revan menarik Nara ke dalam pelukannya. Menyalurkan perasaan yang membuncah juga rasa sakit dengan perasaan masingmasing. Kemudian Revan sedikit mengurai pelukannya lalu merengkuh kedua pipi Nara dan mulau saling mendekatkan wajah hingga bibir keduanya bertemu. °°° Dilain tempat, Rain berkali-kali mengumpat ketika mendapat telepon dari Sarah tentang yang Nara bersama laki-laki b******k itu. Rain memacu mobilnya dengan cepat menembus jalanan malam. Dia melintasi jalanan yang kira-kira baru 1 Km dari rumahnya, tepat di jalanan yang jauh dari permukiman dia melihat satu mobil terparkir di pinggir jalan dengan lampu yang dimatikan, tapi Rain tidak memperdulikan mobil itu dan melewatinya begitu saja. Sementara di dalam mobil itu, mata Revan semakin menggelap, dia mulai meraba tubuh Nara membuat Nara menegang takut. Saat menyadari tindakan Revan sudah terlalu jauh, bahkan ia sudah mulai membuka kancing atas baju Nara. "Rev, jangan seperti ini, ini salah" Nara berusaha melepas tangan Revan, tapi Revan tak menggubrisnya dan semakin melakukan lebih. "Ini salah Revan, aku mohon stop!" Pinta Nara mulai menangis. "Enggak Ra, dengan begini kamu akan menjadi milikku, bahkan ayahmu, atau laki-laki itu pun tidak akan bisa berbuat apa-apa" Tegas Revan. "Enggak Rev, aku mohon" Nara menangis memberontak " Revan!" Bentaknya. 200 meter dari tempat mobil tadi terparkir, Rain memutar mobilnya kembali menuju mobil itu. Entah kenapa perasaannya begitu kuat untuk kembali ke sana. Rain berhenti di samping mobil itu, dan sayup terdengar teriakan dari dalamnya. Pikirannya yang sudah dimasuki berbagai pikiran negatif membuatnya tanpa pikir panjang segera turun menghampiri mobil tersebut, mengambil handphone di saku celananya dan menyalakan senternya. Dengan begitu dia dapat melihat siapa yang berada di dalam mobil itu. Rahang Rain mengeras melihat gadis yang ada di dalam mobil itu tengah memberontak di sentuh b******n itu. "Buka pintunya b******n!" Geram Rain menggedor kaca mobil Revan. Sontak Revan dan Nara menoleh pada arah suara yang menggedor mobilnya. Nara mengenal suara itu, dia mengenal siapa pemilik suara itu. "Rain" Teriak Nara. "Rain tolong aku" Rain yang mendengar teriakkan Nara, dia semakin marah. "F*ck, keluar B*NGSAT" Umpatnya. Revan yang sedikit terkejut dengan kedatangan Rain yang tanpa dia duga. Dia tidak membukakan pintu mobilnya ataupun keluar dari sana. "An*jing" Brakkk Kaca mobil itu pecah. Rain memecahkannya dengan batu, hingga kepingan kaca itu mengenai Revan dan juga mengenai tangan Nara yang tadi melindungi wajahnya dengan kedua tangannya. "f**k" Umpat Revan memegang lengannya yang terkena pecahan kaca. Revan tak bisa menahan lagi, dia keluar dari mobil dan langsung menghantam Rain, mereka saling memukul dan melayangkan tinjuan. Rain tersungkur karena Revan yang menendang perutnya. Dengan cepat Rain berdiri lagi dan membalas tendangan ke perut Revan. Keduanya saling pukul. Hingga mereka sama-sama terluka. Rain melayangkan lagi satu pukulan telak "Jangan pernah kau ganggu Nara lagi, b*****t!" Ucap Rain mencengkeram kerah baju Revan. "Kenapa? Dia gadisku, kau yang merebutnya sialan!" Balas Revan tak kalah tajam, melepaskan cengkraman Rain dengan kasar. Rahang Rain semakin mengeras, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Kemudian dia melayangkan tinjuan keras pada pipi kiri Revan hingga Revan tersungkur ke bawah dengan memegang pipinya. "Dia milikku sekarang, kau atau siapapun tidak akan da yang berani menyentuhnya seujung rambut pun!" Ucap Rain dengan tatapan tajam dan napas menggebu-gebu. Kemudian dia berbalik menuju mobil Revan, menghampiri Nara yang masih di sana. Ia membuka pintu mobil dan mengulurkan tangan pada Nara yang terlihat ketakutan di dalam mobil itu. Nara sempat menatap Rain, tapi kemudian dia meraih tangan Rain dan keluar dari sana. Mereka saling berhadapan ketika Nara sudah keluar dari mobil itu. Penampilan Nara begitu kacau. Melihat riasan wajah Nara saat ini mengingatkan Rain pada malam pernikahannya dengan Nara saat itu. Saat itu riasan wajah Nara juga berantakan karena menangis, sekarang pun begitu. Bahkan sekarang bajunya juga tampak kacau. Hati Rain benar-benar teriris melihat keadaan Nara, baru saja satu minggu dia jadi istrinya, tapi Rain tidak bisa menjaga Nara seperti yang ia janjikan pada ayahnya. Rain merengkuh pipi Nara dengan kedua tangannya. "Aku sudah bilang kan? Aku tidak suka sesuatu yang berantakan" Ucapnya. Nara kembali menangis, bahunya bergetar. "It's oke, sekarang ayo kita pulang" Rain merangkul Nara menuju mobilnya. Nara sempat melirik Revan yang masih terduduk di sana dengan meringis "Jangan lihat dia, jangan pernah" Tegas Rain, dan membawa Nara memasuki mobilnya. Rain mengitari mobil menuju kursi kemudinya, dan melajukan mobil menuju rumahnya. See you
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN