Aku Ingin Seperti Mereka

1088 Kata
Gadis itu menuruni tangga dengan cepat dan kaki di hentak keras, menghampiri Rain yang tengah menyesap kopinya sembari mengamati dokumen-dokumen pekerjaannya. Nara menghampirinya dengan wajah tak bersahabat. "Kau!" Ucapnya menjeda kalimatnya. Rain menoleh setelah menyesap lagi satu tegukan kopinya. "KENAPA KAU TAK BILANG KALAU DISINI SUSAH SINYAL!" Teriak Nara kesal. "Kau tidak bertanya" Jawab Rain dengan santainya dengan kembali membuka dokumennya lagi. "Kau yang membawaku kesini seharusnya kau bilang!" Nara kembali menyentak tapi lawan bicaranya malah tidak menghiraukannya. Nara mendengus kesal kemudian beranjak keluar rumah sembari mengacungkan handphonenya berharap satu sinyal saja menghinggapi hpnya tapi hasilnya ya gitu, nihil. Kemudian mata Nara menangkap sebuah pohon yang cukup banyak dahan pohonnya, Nara berjalan ke pohon itu mengamati pohon itu dari bawah sembari menimang-nimang. "Kayaknya gak sulit deh" Pikirnya sembari mencoba menaiki pohon itu. "Kenapa ini susah sekali" Gerutunya sembari terus mencoba naik dan "Yes, Alhamdulillah berhasil" Ucapnya padahal itu baru di dahan paling bawah. Nara kembali mencoba naik tapi saat menaikkan kaki kirinya kakinya malah terpleset pada lumut di dahan pohon itu hingga "Akhh" Teriak Nara saat bokongnya mencium tanah. Teriakan Nara terdengar hingga ke dalam rumah, Rain segera keluar saat mendengar Nara teriak. "Astaga" Sampai di teras rumah Rain menyugar rambutnya saat melihat Nara meringis di bawah pohon, Rain dapat menebak hal apa yang baru saja dilakukan gadis itu hingga dia duduk meringis seperti itu. Rain berlari menghampiri Nara dan membantu Nara berdiri "Kau tidak papa?" Nara mendongak menatap Rain dengan mata berkaca-kaca "Bokongku" Adunya. Rain mati-matian menahan bibirnya agar tidak tertawa "Lagian apa yang kau lakukan hingga jatuh seperti itu?" "Nyari sinyal" Beonya dengan polos, astaga Nara. Rain tidak tahan bibirnya sedikit berkedut menahan tawa "Ayo kembali ke dalam" Ajaknya. "Kau tertawa?!" Ucap Nara memicingkan matanya karena tadi sempat melihat Rain seperti menahan tawa. "Maaf" Ucap Rain kali ini dia benar-benar tertawa kecil. "Sheriously? Jadi kau benar-benar menertawaiku? Oh god, b******k" Ucapnya mengumpat. Berjalan meninggalkan Rain dengan langkah tertatih dan memegangi bokongnya. Rain tersenyum geli melihat Nara seperti itu, tapi kocak juga. Kemudian beranjak menyusulnya ke dalam. Terlihat Nara tengah duduk di sofa tempat Rain duduk tadi saat mengerjakan pekerjaannya. Rain mendudukkan dirinya di samping Nara. "Sepertinya aku harus ke rumah sakit" Rengeknya. Rain menoleh dan tersenyum miring. "Sekalian saja pakai asuransi juga" "Hey ini sakit sekali tahu tidak, rasakan sendiri coba dan kau akan tahu sakitnya gimana" Sentak Nara mendelik kesal "Jadi beneran mau ke rumah sakit?" "Enggak! Ya kali" Decaknya. Rain kembali tersenyum "Pinjam handphone kamu" Ucapnya mengasongkan tangan. "Buat apa?" Ucap Nara nyalang. "Hanya mengetik kata sandi Wi-Fi" Nara menegakkan badannya "Jadi disini ada Wi-Fi?" Ucap Nara, Rain mengangguk "Kenapa kau tidak bilang! Kan kalau tahu ada Wi-Fi aku tidak perlu manjat pohon dan jatuh seperti tadi!" "Kau tidak bertanya" "Hish" Nara berdecih sembari memberikan ponselnya. °°° Tok tok tok Suara ketukan pintu menyentuh gendang telinga Nara. Dia berjalan gontai menuju pintu itu dan membukanya dan tampaklah Rain di sana, Nara sedikit membelalakkan matanya dan meraba wajahnya takut kalau ada iler yang sudah mengering di wajahnya membuat Rain tersenyum kecil melihat tingkah Nara. "Ada apa?" Ketusnya. "Ayo turun, kita sarapan" Ucap Rain seraya beranjak "Aku tunggu di bawah" Nara kembali ke dalam kamarnya dan mencuci muka. Kemudian segera turun ke bawah dan menghampiri Rain yang sudah duduk di meja makan. Mata Nara berbinar melihat menu makanan di meja makan, di sana ada tempe orak-arik dan tumis tauge. "Woah" Ucapnya seraya duduk dengan sendok sudah di tangannya "Kenapa kau tahu makanan kesukaanku?" "Om Ardan bilang" "Hah papah memang pengertian sekali" "Tapi aku yang memasaknya" Ucap Rain menuntut pujian seperti yang dilayangkan gadis itu pada ayahnya. "Tapi kau tidak akan tahu kalau tidak diberi tahu papah" Rain menghela napas, mengalah. Mereka kembali melanjutkan makan dan diam beberapa saat hingga Rain mulai bicara lagi "Pak kades mengundangku ke acara ulang tahun anaknya nanti malam, kau mau ikut?" Masih dengan fokus pada makannya Nara menjawab "Dia kan hanya mengundangmu" Rain terkekeh kecil "Kau kan istriku, jadi pak kades juga mengundangmu juga" "Yah baiklah, aku juga bosan di rumah" Ucapnya seraya menaruh sendok dan garpu di piring dan beranjak. "Nara" Tegur Rain, Nara menoleh "Cuci piring bekas makan kamu" Titahnya. "Apa? Enggak, aku gak pernah nyuci piring, aku tidak bisa melakukannya" Ucapnya kembali akan beranjak. "Nara!" Panggil Rain lagi. "Aku bilang tidak mau, kau saja, biasanya juga kau kan yang melakukannya" "Cobalah belajar mandiri Nara, kamu bukan anak kecil lagi kau juga seorang istri sekarang" Ucap Rain lembut tapi tegas. Nara menatap Rain tajam "Aku memang bukan anak kecil, tapi aku belum cukup dewasa untuk menikah dan menjalani rumah tangga seperti sekarang! Dan tadi apa kau bilang, aku sekarang seorang istri ya? Ingat, jangan berharap aku akan bersikap layaknya seorang istri" Bentaknya seraya pergi dari sana dengan langkah cepat. Rain memejamkan matanya dan membuang napas lalu membereskan bekas makan dirinya dan Nara, setelah selesai dia baru mencari Nara yang pastinya sekarang tengah marah. Sepertinya Rain memang harus berhati-hati lagi dengan kata-katanya. "Nara" Panggil Rain, lalu beranjak ke kamar Nara, tapi dia tidak ada di sana. Setelah mencari ke semua sudut ruangan tiba-tiba Rain mendengar suara bising di lantai bawah, ternyata suara itu berasal dari ruang tv. Rain mendatangi tempat itu dan mendapati Nara tengah duduk di sana dengan volume tv yang begitu besar hingga gendang telinga Rain terasa sakit. Rain mengambil remot di meja dan mengecilkan volumenya. Nara masih diam melipat tangannya dengan raut marah. Rain menghampirinya, duduk di sebelah Nara. "Aku minta maaf" Ucap Rain, tapi Nara tak menggubrisnya. "Aku tidak marah padamu" Jawab Nara tanpa menoleh pada Rain. "Terus pada siapa?" "Diriku sendiri, aku marah karena aku iri dengan mereka, aku iri dengan teman-temanku, aku marah karena aku tidak bisa melakukan apa pun yang dilakukan gadis-gadis seusiaku dan hanya terkurung di tempat ini!" Sentak Nara. Rain diam, dia tak bisa menjawab, ia mengerti apa yang di rasakan Nara saat ini, tapi Rain juga tak bisa berbuat apa-apa, pernikahan ini sudah terlanjur terjadi, Rain juga sama dengan Nara dia juga tidak menginginkan pernikahan ini bedanya Nara yang lebih tersakiti dari ikatan tapa cinta ini. Rain menatap lekat Nara, meraih tangannya "Aku berjanji akan mewujudkan hal-hal yang ingin dilakukan oleh gadis seusiamu" Ucapnya sungguh-sungguh. Nara balas menatap Rain "Kau sungguh?" Rain mengangguk "Hm" "Aku akan benar-benar marah jika kau tidak menepati janjimu" "Iya, aku janji" Itu sungguh, Rain akan membuat Nara tidak kehilangan masa-masa remaja seusianya, Nara tidak akan kehilangan kebahagiaan karena pernikahan ini. Ya, setidaknya Nara tidak terlalu terluka nantinya saat dia tahu semuanya. Karena cepat atau lambat ia pasti akan tahu. See you?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN