Nara berjalan membuntuti Rain, saat ini mereka tengah menuruni tangga untuk menuju meja makan. Tampak di sana Dion dan Amira sudah terduduk manis dengan berbagai menu makanan tertata rapi di meja.
Nara duduk di samping Rain, tentu saja. Dan jangan berharap Nara akan melakukan hal yang biasa dilakukan seorang istri pada suaminya saat di meja makan. Seperti, mengambilkannya nasi, menawarkannya 'mau pake lauk apa?' atau sekedar menuangkan air minum. Karena itu sama sekali tidak dilakukan Nara bahkan saat sedang di hadapan mertuanya.
"Kalian benar akan tinggal di resort itu?" Tanya Dion.
"Iya" Jawab Rain.
"Kalian yakin? Bukannya di sana itu-"
Rain sedikit terkejut dan segera memotong ucapan ayahnya "Bukankah di sana sssangat indah" Ucap Rain menekan kata-katanya dan menatap tajam pada Dion. Jangan sampai ayahnya itu keceplosan dan semakin membuat Nara enggan pergi ke sana.
Dion yang paham apa yang di maksud putranya segera mengiyakan "I-iya di sana memang sangat indah, udaranya juga benar-benar segar, beda dengan di sini yang penuh dengan polusi ini" Ucap Dion sedikit gagap, karena saat ini Nara sedang menatap mereka bergantian dengan tatapan bertanya-tanya. Dan Nara sendiri hanya bingung apa yang dimaksud pembicaraan mereka itu.
°°°
Mereka berdua membereskan barang-barang mereka masing-masing. Setelah kejadian kemarin Nara tidak lagi membiarkan Rain membantunya membereskan bajunya lagi.
Rain beralih meraih Hoodie hitamnya dan mengenakannya setelah selesai membereskan baju-bajunya di koper.
Tok tok tok
"Masuk pak" Ucap Rain. Itu pak Budi supir pribadi Rain. Tadi sebelumnya Rain meminta pak Budi untuk mengambil kopernya. Kemudian untuk dua koper yang yang lain Rain sendiri yang membawanya.
"Aku tunggu di bawah" Ucapnya menoleh pada Nara yang masih siap-siap. Nara hanya mengangguk sedikit.
Setelah selesai dengan siap-siapnya Nara menyusul Rain yang sudah menunggunya di bawah, tepatnya di teras rumah membantu pak Budi mengangkat koper ke bagasi mobil, pak Budi berangkat lebih dulu.
Nara menghampirinya dengan dress code celana jins dan blouse tipis tanpa lengan
"Aku sudah siap" Ucapnya dengan malas.
Rain menoleh kemudian memperhatikan Nara dari bawah hingga atas, memang cantik tapi....
"Kamu yakin mau pakai pakaian itu?" Tanya Rain.
"Maksudmu apa? Kau tidak suka? Terserah, aku tidak mempedulikan penilaianmu!" Cerocos Nara melipat tangannya di depan d*da.
"Bukan begitu, tapi apakah kamu gak bakal masuk angin dengan pakaian seperti itu?" Rain menaikkan sebelah alisnya.
"Kalo ngomong jangan bikin pusing orang, langsung saja ke intinya" Decak Nara kesal.
"Kita ke sana naik motor" Ucap Rain.
"Apa?!" Nala sedikit tersentak. "Tidak, aku tidak mau naik motor bisa-bisa debu-debu jalanan menyentuh kulitku" Deliknya. "Aku ke sana sama pak Budi aja" Ucapnya.
"Pak Budi sudah berangkat"
"Apa?!"Pekiknya lagi. "Apa mobilmu hanya satu? Apa kau sudah jatuh miskin?"
"Kalau begitu kamu bisa berangkat bersama Farhan" Ucap Rain, Farhan adalah orang kepercayaan Rain sekaligus sahabatnya.
Nara menekuk wajahnya, dia tidak kenal dengan orang yang bernama Farhan itu, dan Nara tidak mau pergi bersama orang asing. Meskipun tukang taksi online juga pada dasarnya adalah orang asing, tapi ini beda.
"Baiklah, aku pergi denganmu" Decaknya dengan penuh keterpaksaan.
Rain sedikit tersenyum melihat raut wajah Nara yang sangat memaksakan diri. "Tapi ganti dulu pakaianmu"
"Tapi semua pakaianku sudah dimasukkan ke koper" Ucapnya mengerucutkan bibir.
"Yasudah, tunggu sebentar" Rain berlalu kembali lagi ke dalam.
"Lho mau kemana lagi, Rain" Tanya Amira yang baru tiba di teras rumah bersama Dion.
"Ngambil sesuatu dulu tan" Jawab Rain.
Tidak lama Rain kembali lagi dengan satu hoodie lainnya di tangannya untuk Nara. Kemudian dia memakaikan Hoodie itu pada Nara dengan warna yang sama dengannya, baju-baju Rain memang kebanyakan berwarna hitam meski sebenarnya dia penggemar warna abu.
"Sosweetnya" Sahut Amira melihat yang dilakukan Rain pada Nara.
"Ck aku bisa melakukan lebih dari itu" Decih Dion.
Rain berjalan menuju motornya diikuti Nara dari belakang. Keduanya menaiki motor itu.
"Kalo gini rambutku bakal rusak" Gerutu Nara sembari mengenakan helmnya.
l
Rain hanya tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian dia melajukan motornya membelah jalanan kota Bandung menuju rumah baru mereka. Saat memasuki daerah 'Ciwedey Valey' dari sana udara sudah mulai lebih sejuk dengan suasananya yang sangat indah dan memanjakan mata dengan berbagai bunga di halaman masing-masing rumah warga juga pohon rindang di pinggiran jalan sehingga menambah kesan sejuknya.
"Kenapa sih bawa motornya pelan?" Ucap Nara sedikit teriak.
"Tujuanku naik motor memang untuk menikmati pemandangannya" Jawab Rain dengan teriak juga. Akhirnya Nara memanfaatkan waktu untuk menikmati keindahan alam yang tersaji.
Dua puluh menit kemudian mereka tiba di Resort yang disebutkan Rain setelah sebelumnya mereka melewati jalan menanjak. Setelah melepas helm masing-masing Nara kembali menggerutu karena benar saja rambutnya jadi acak-acakan.
Nara berjalan menjauh dari motor dan Rain. Dia melihat-lihat pemandangan di sekitarnya. Tampak jauh di sebelah bawah sana terlihat rumah-rumah warga yang hanya terlihat atapnya saja. Kemudian Nara mengedarkan kembali pandangnya, resort itu hampir dikelilingi oleh pegunungan. Sepertinya Resort ini terletak di dataran tinggi. Udara di sini juga sangat sejuk. Tanpa di sadari Nara menyunggingkan senyumnya.
"Woah" Ucapnya dengan senyum semakin melebar.
Rain yang melihat itu memasukkan kedua tangannya pada kedua saku celananya dan tersenyum kecil "Suka?" Tanyanya.
Nara menoleh "Iya, this is really beautiful"
Rain terkekeh kecil "Kamu akan lebih terpukau saat aku tunjukkan tempat yang lebih indah lagi disini" Ucapnya.
Nara hanya tersenyum, entah kenapa saat itu Nara tidak seperti biasanya, hari ini dia begitu mudah memberikan senyum pada laki-laki ini, mungkin karena saat ini perasaan Nara sedang baik karena pemandangan indah sepanjang jalan kesini, ditambah lagi pemandangan-pemandangan di resort ini benar-benar memanjakan mata.
Rain ikut tersenyum melihat wanita di sebelahnya tersenyum lebar seperti itu. Namun kemudian suasananya terganggu oleh dering telepon dari balik saku celananya. Setelah melihat nama yang tertera di layar handphonenya Rain sedikit menjauh dari Nara untuk mengangkat telepon itu.
"Iya, hallo"
"Kamu lagi di mana?"
"Ciwidey"
"Ngapain? Apa kamu tinggal di sana sekarang? Bersamanya?"
"Hmm"
"Gak adil, aku yang memimpikan tinggal di sana bersamamu tapi kau malah membawanya, hiks"
"Aku akan menemuimu, akan aku jelaskan semuanya, love you"
Rain kemudian menutup sambungan teleponnya. Nara menoleh saat tadi samar-samar mendengar Rain bilang love you pada seseorang di sebrang telepon itu, tapi pada siapa? Atau mungkin Nara salah dengar?. Tapi ia juga tidak peduli apa yang dilakukan pria itu. Bukan urusannya juga.
See you ?