Rain kembali ke lantai acara resepsi, sebagian tamu masih ada di sana, dan sebagian yang lain mungkin sudah pulang, karena ini juga sudah cukup malam.
Rain menghampiri ayahnya juga pria paruh baya yang sudah jadi mertuanya sekarang.
"Bagaimana Nara?" Tanya Dion. Ia sedikit khawatir mengingat kejadian beberapa menit lalu tentang menantunya itu.
Rain mengangguk bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan "Tadi dia sempat menangis, tapi barusan aku menyuruhnya istirahat"
"Hm, iya sebaiknya Nara istirahat dia pasti lelah setelah melakukan acara ini" Lanjut Dion lagi, Rain mengangguk.
"Rain, aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi malam ini" Ucap Ardan kali ini penuh sesal, tapi sesungguhnya dia juga tidak bisa menyalahkan putrinya terlebih kejadian tadi juga merupakan kecelakaan.
"Tidak perlu minta maaf om, dia istriku sekarang, lagipula itu hanya kue" Jawab Rain dengan senyum.
"Tidak salah memang aku menikahkan kau dengan putriku" Kata Ardan lagi menepuk pelan bahu Rain.
"Dan putraku beruntung mendapatkan istri secantik Nara" Imbuh Dion.
"Yasudah sebentar ya, aku mau menemui Fahmi dan Syakia dulu" Ucap Dion pada Rain dan Ardan yang di balas anggukan oleh mereka.
°°°
"Assalamualaikum, hey apa kabar" Dion menyodorkan tangan pada Fahmi.
Fahmi menjabat uluran tangan Dion meski dengan raut datar, percayalah Fahmi belum bisa sepenuhnya melupakan perbuatan laki-laki itu begitu saja "Waalaikumsalam" Hubungan mereka memang sudah lama membaik, tapi ya gitu tetap saja masih ada kecanggungan.
Setelah menjabat tangan Fahmi, Dion beralih menatap Syakia kemudian tersenyum yang di balas senyum juga oleh Syakia, membuat Fahmi mendelik. Dion yang sadar Fahmi mendelik dia buru-buru menjawab.
"Tenang saja, aku sudah menikah sekarang" Ucapnya sembari menunjuk Amira yang tengah mengobrol asyik bersama ibu-ibu arisannya.
19 tahun yang lalu Dion menikah lagi, ketika usia Rain baru 6 tahun. Butuh dua tahun untuk Dion move on dari Syakia, meskinya dia tidak bisa sepenuhnya menghilangkan perasaannya, tapi sekarang dia sudah punya Amira. Amira yang kepribadiannya berbanding terbalik dengan Syakia.
"Oh ya, terimakasih karena sudah datang ke sini" Ucap Dion ramah.
"Hey, ini resepsi pernikahan anakku tidak mungkin aku tidak datang" Sahut Syakia.
"Anakku juga" Imbuh Fahmi. Dion terkekeh. Ia tahu, baik Syakia atau pun Fahmi memang sangat menyayangi Rain, terlebih mereka tidak memiliki anak laki-laki.
"Oh ya, bagaimana keadaan menantuku setelah kejadian tadi?" Tanya Syakia khawatir.
"Tidak papa, Rain sudah mencoba menenangkannya" Jawab Dion.
"Syukurlah, aku sangat khawatir" Sambung Syakia.
Dion terseyum "Lalu, apa kalian akan menginap?" Lanjutnya.
"Tidak Dion, kami akan pulang sebentar lagi, kau lihat gadis yang duduk di sana dia sudah terlihat mengantuk" Tunjuk Syakia pada Shafa yang tengah menopang kepalanya dengan tangan yang bertumpu pada meja dia terlihat nundutan.
Dion kembali terkekeh kecil "Putrimu masih terlihat cantik bahkan ketika dia tengah mengantuk berat seperti itu"
Syakia tersenyum ikut memandangi putrinya yang memang sangat cantik.
"Tapi lihat putrimu yang lain, dia masih terlihat asik mengobrol dengan teman-temannya" Tunjuk Dion lagi pada Sarah.
"Iya, putriku yang satu itu memang pandai berkomunikasi, hingga dia punya banyak teman" Jawab Syakia.
Lagi-lagi Fahmi sedikit mendelik melihat istrinya akrab dengan mantan penculiknya.
"Yasudah, aku kembali dulu ke sana, sepertinya suamimu juga mulai merasa tidak nyaman dengan keberadaanku" Ucap Dion sembari terkekeh menatap Fahmi yang masih setia dengan raut datarnya terkesan tidak bersahabat.
°°°
Setelah acara selesai Rain kembali ke kamar dan mendapati gadis yang kini berstatus istrinya itu belum tidur. Dia masih duduk di tempat semula, keadaannya juga masih berantakan seperti tadi.
"Kamu belum tidur?" Tanya Rain basa basa-basi sembari meletakan jasnya di sofa. Tapi Nara masih bergeming tak menjawab hanya menoleh sedikit.
"Lebih baik kamu segera tidur kamu pasti capek kan? Terus ganti baju dulu dan mandi nanti aku mandi setelah kamu" Ucap Rain dengan sedikit senyum.
"Gak usah nyuruh-nyuruh aku, kalau mau mandi, mandi aja, dan satu lagi aku gak akan ganti baju!" Decak Nara seraya merebahkan tubuhnya di ranjang, anggap saja ini salah satu protesnya karena harus menjalani pernikahan yang tidak pernah diinginkannya itu hari ini. Rain hanya menghela napas panjang kemudian berlalu ke kamar mandi.
Rain keluar kamar mandi dengan pakaian yang sudah di ganti juga wajah yang terlihat lebih segar, dia menoleh pada seseorang di ranjang yang tengah tidur membelakanginya, entah dia benar-benar tidur atau tidak.
Melihat jam tangannya, ternyata sudah hampir dini hari, Rain merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya dengan tangan kiri di dahinya.
Setelah beberapa jam berlalu, Nara tidak bisa memejamkan matanya, tentu saja, bagaimana mungkin dia bisa tidur di tengah suasana hatinya tangah hancur. Nara kemudian mendudukkan dirinya dan menoleh ke arah sofa di sana Rain sudah tertidur pulas.
Nara juga merasa tubuhnya lengket di tambah lagi bekas kue tadi yang menambah ketidaknyamanannya. Nara beranjak untuk mandi. Tapi...apa ini, dia susah menggapai resleting di punggungnya. Nara berusaha meraihnya tapi tidak bisa. Nara menoleh pada Rain."Tidak, tidak, mana mungkin aku minta tolong padanya" Batinnya sembari menggeleng. "Tapi ini susah" Batinnya lagi.
Nara menghilangkan rasa malunya, lantas ia menghampiri Rain dan membangunkannya.
"Hey, bangunlah" Ucapnya, tapi Rain tak bergeming.
"Ck, pulas sekali tidurnya, dia tidur atau koma?" Gumam Nara. Kemudian dia mengguncangkan tubuh Rain lagi "Hey, bisa bangun dulu tidak!" Kali ini Rain terusik, dia menurunkan tangan dari dahinya dan mulai mengerjapkan matanya.
Rain menoleh pada pelaku yang barusan mengusik tidurnya itu "Apa?" Ucapnya serak khas bangun tidur. Sial, kenapa laki-laki ini jadi terlihat tampan ketika bangun tidur seperti itu. Polos polos manis, ck. Pikir Nara.
Nara masih menampilkan raut judesnya mempertahankan gengsinya.
"Ada apa? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Rain lagi.
"Bisakah kamu membantuku membukanya, aku aku susah meraih resleting gaunku" Ucapnya pelan. Sungguh Nara benar-benar malu mengatakan itu.
Rain mengangkat sebelah alisnya seraya tersenyum simpul "Apakah ritualnya malam pertamanya mau sekarang? Udah siap di unboxing ternyata" Ucapnya mendapat pelototan Nara.
"Hei! Singkirkan otak m***m mu itu! Aku hanya ingin mandi, b******k" Decak Nara dengan memelankan kata terakhirnya.
Rain tersenyum miring, membuat Nara semakin malu. "Kenapa kau tertawa, kalau tidak mau yasudah, aku masih bisa bertahan dengan badan lengket hingga pagi" Decak Nara seraya beranjak, tapi Rain mencekal lengannya kemudian membalikkan badan Nara menjadi membelakanginya.
"Lain kali jangan menyimpulkan sesuatu terlalu cepat, bisa saja yang kamu pikirkan itu tidak sesuai dengan kenyataannya" Ucap Rain sembari menurunkan resleting gaun Nara.
Srek
Untuk sesaat mata Rain mengerjap melihat punggung mulus nan putih wanita di hadapannya. Jangan salahkan Rain, itu nalurinya sebagai laki-laki. Nara segera memegang gaun bagian depannya agar tidak terjatuh lalu beranjak ke kamar mandi tanpa embel-embel terimakasih pada Rain bahkan menoleh pun tidak.
Sama seperti Rain, keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian lengkapnya dengan handuk kecil di kepalanya lalu kembali menaiki ranjang duduk bersandar pada kepala ranjang seraya memainkan ponselnya. Rain hanya memperhatikan gadis itu dari sofa tempatnya duduk. Setelah terganggu Rain akan susah untuk tidur lagi.
Nara kemudian meletakkan kembali handphonenya di nakas dan mulai merebahkan tubuhnya setelah sebelumnya sempat mendelik pada Rain. "Tadi kamu dapat salam dari Umma Syakia" Ucap Rain.
Nara menoleh "W-waalalikumsalam" Ucapnya tergagap lalu kembali merebahkan tubuhnya di kasur.
°°°
Pagi itu baik Nara ataupun Rain sudah siap untuk segera pergi dari gedung itu dengan beberapa barang-barang mereka yang sudah rapi juga.
"Kita pulang ke rumah ayahku, dan menginap dulu semalam di sana sebelum kita ke Ciwidey" Ucap Rain sembari mengenakan jasnya.
"Ciwidey?" Nara mengernyitkan keningnya.
Rain menoleh dan menatap Nara sekilas "Iya, lusa kita ke sana"
"Ngapain? Bulan madu? Cih gak modal sekali bulan madu cuma ke Ciwidey" Decihnya.
Rain terkekeh "Aku pikir kamu gak mau bulan madu, ternyata mau ya yasudah nanti kita rencanakan mau bulan madu ke man-?"
Nara mendelik memotong ucapan Rain "Hei, siapa yang mengatakan mau hah?!"
"Aku hanya menyimpulkan" Ucap Rain mengangkat bahu acuh.
"Bukannya kau sendiri yang bilang jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu!" Decak Nara, Rain hanya mengangguk menyetujui. "Haish sudahlah, intinya aku hanya ingin tahu untuk apa kita ke Ciwidey?"
"Tinggal di sana" Jawabnya dengan enteng.
Nara menganga "Apa?"
"Kamu tidak tuli" Ucap Rain sembari membenarkan kerah kemejanya tanpa menoleh pada Nara.
"T-tapi kenapa harus di Ciwidey?" Tanya Nara sedikit heran.
"Sudahlah aku yakin kau akan sua. Ayo, tadi papah sudah telepon, dia sudah menunggu kita" Ucapnya sembari berlalu. Meninggalkan Nara yang masih berdecak.
°°°
"Ini kamarmu?" Ucap Nara sembari mengedarkan pandangannya pada seluruh penjuru ruangan. Saat ini mereka sudah ada di kamar Rain setelah sebelumnya mereka makan siang bersama Dion bersama Amira.
Rain mengangguk "Iya, kenapa?"
"Tidak, hanya saja aku gak nyangka kamar kamu se-rapi ini" Gumam Nara menatap sekeliling ruangan.
Rain tersenyum kecil "Aku hanya tidak suka dengan sesuatu hal yang berantakan saja. Yaaa sedikit tidak aesthetic saja"
Nara memicingkan matanya "Termasuk keadaanku kemarin malam? Kau ingat? Kemarin malam penampilan dan keadaanku begitu berantakan, kau juga tidak suka?" Tanya Nara dengan sedikit menantangnya. Entah kenapa tapi Nara begitu menunggu jawaban dari laki-laki itu.
"Itu pengecualian" Jawab Rain tepat di samping telinga Nara dengan tersenyum miring, lalu berlalu ke arah lemari untuk menata bajunya Nara.
Sekali lagi Nara mendelik tapi kali ini disertai dengan debaran di jantungnya. Kemudian Nara menoleh saat Rain akan menyentuh barang pribadi Nara, spontan Nara menghentikannya segera.
"Hey! Tunggu!" Pekiknya sedikit panik.
Terlambat, Rain sudah mengambilnya. Nara melotot "Letakan!" Sentaknya.
"Kenapa memang?" Rain mengerutkan kening.
"Letakkan ku bilang!" Pekik Nara lagi.
"Memang ini apa?" Tanya Rain sembari lebih memperhatikan kain di tangannya yang merupakan pakaian dalam Nara "Wow" Gumamnya dengan mata melebar. Tadi Rain memang tidak memperhatikan barang yang di ambilnya, dia hanya asal mengambil saja.
Nara memejamkan matanya kuat-kuat dan mengeratkan giginya karena kesal, kemudian berjalan cepat ke arah Rain lalu dengan gerakan cepat mengambil pakaiannya dari tangan laki-laki itu.
"Lagian kenapa sih harus di keluarin dari koper, bukannya kau bilang besok kita akan pindah!"
"Kamu tidak lihat? Koper kamu yang satu ini sangat berantakan, dan bercampur dengan pakaian kotor kamu, aku hanya memisahkan yang bersih dan yang kotor agar nanti lebih mudah membereskannya" Ucap Rain berusaha sabar.
"Aku bisa sendiri, kau tidak perlu sok perhatian" Decaknya sembari membereskan sisanya. "Oh iya" Nara berbalik menghadap Rain kembali. "Apa tidak ada kamar lain?"
"Tentu saja ada, memangnya kenapa?"
"Baguslah, aku akan tidur di sana" Ucap Nara datar.
"Kenapa? Kenapa harus?" Rain sedikit bingung.
"Aku hanya merasa, ini adalah kamarmu, aku masih belum bisa tidur satu kasur denganmu, tidak mungkin aku menyuruh pemilik kamar tidur di sofa" Ucapnya jujur.
Rain kembali terkekeh "Mulai kemarin kau sah jadi istriku, jadi semua yang aku punya milikmu juga" Ucap Rain.
Nara sedikit tersentak dengan jawaban Rain, namun tiba-tiba muncul ide untuk sedikit mengerjai Rain. Nara maju mendekat pada Rain kemudian berhenti tepat di hadapan Rain, dengan jarak yang cukup dekat, Nara mengangkat tangannya mengelus pipi Rain dengan jari telunjuknya.
"Yakin semuanya?" Tanyanya sembari sesekali menatap mata Rain dengan tatapan s*****l. Perlahan jarinya turun ke rahang, jakun dan d**a Rain dan berhenti di sana "Apakah hatimu juga?" Lanjut Nara dengan senyum miringnya.
Rain sejak tadi hanya diam dan tidak mengalihkan pandangannya dari Nara. "Iya, jika kau berhasil mengambilnya" Jawab Rain membalas tersenyum miring
juga.
Nara masih menatap mata Rain namun dia mundur satu langkah "Tapi aku tak berniat untuk mengambil hatimu" Pungkasnya seraya melanjutkan kegiatan membereskan bajunya.
To be continued