Akad dilangsungkan dengan dihadiri oleh keluarga dan juga para saksi tentunya. Selama akad berlangsung Nara hanya menampilkan wajah di tekuk, dan Rain tentu saja tetap dengan sikap tenang dan raut datarnya.
Setelahnya dilangsungkan resepsi di gedung mewah dan merupakan gedung termegah di Indonesia. Resepsi itu berlangsung meriah, namun lagi-lagi Nara hanya menampilkan wajah ditekuknya. Bahkan dia hanya menyunggingkan senyum tipis saat menyalami tamu.
"Bukankah sedikit senyum ramah tidak akan membuatmu rugi" Gumam Rain pelan pada gadis di sampingnya.
Nara tidak menoleh, ia hanya melirik' kan matanya "Seperti ini, hum?" Jawab Nara dengan menampilkan cengiran deretan giginya secara paksa lalu diakhir dengusan tak suka.
Rain tidak menjawab lagi dan kembali mengalihkan perhatiannya pada para tamu yang semakin banyak berdatangan. Hingga sampai pada tamu seorang wanita bertubuh molek bergaun'kan navi dengan aksen berukat tersenyum smirk menyalami pengantin. Dimulai dari menyalami Nara terlebih dahulu namun tatapannya tidak lepas dari mempelai pria. Ia terus menatap Rain sejak awal masuk aula pernikahan.
Rain tiba-tiba merasa udara di sekitarnya menjadi terasa lebih sesak sejak netranya mendapati wanita itu. Dia menyalami Rain kemudian mendekatkan wajahnya pada telinga Rain. "Happy wedding, 'babe' " Ucapnya tepat di depan telinga Rain seraya tersenyum miring setelahnya.
Sebisa mungkin Rain berusaha menampilkan raut biasa saja. Ia sungguh-sungguh tidak menyangka wanitanya akan datang. Ia memang memberitahu soal pernikahannya tapi tidak mengundangnya dan sekarang tiba-tiba dia ada disini untuk memberi ucapan selamat.
Sementara itu, Nara hanya memperhatikan ekspresi aneh yang ditampilkan laki-laki yang sudah jadi suaminya itu semenjak kehadiran wanita yang Nara tidak tahu siapa itu. Yang jelas yang ia lihat wanita itu cantik dan berbadan semok. Beda sekali dengan dirinya yang mendekati tepos itu. Tapi kembali lagi, Nara tidak peduli yang berhubungan dengan si hujan Rain
Kue pengantin menjulang indah di salah satu sisi ruangan dengan hiasan-hiasan di sekelilingnya membuat kue itu semakin cantik. Namun tetap kalah cantik dengan Nara malam itu, dengan balutan gaun pengantin berwarna nila, Rain sengaja memesan gaun warna itu karena Ardan memberitahu bahwa Nara begitu menggilai warna ungu dan menikah dengan gaun pengantin warna ungu adalah impiannya.
Sedangkan Rain tampak gagah dan tampan dengan balutan baju dengan warna senada membuat para gadis jomblo yang menghadiri resepsi itu termasuk sahabat-sahabat Nara merasa iri pada Nara. Tapi yang Nara lihat dari Rain tidak lebih hanya seorang om-om, padahal usia Rain baru 24 tahun bahkan belum pantas di sebut om, kecuali oleh keponakannya.
Saat mata Nara menangkap Via, Sarah, dan Maudi dia langsung berlari menghampiri sahabat-sahabatnya dengan menenteng gaun yang membuatnya kesusahan berjalan.
"Girls" Nara menghambur ke dalam pelukan sahabat-sahabatnya dengan menangis sesenggukan merasa menemukan pelukan yang nyaman untuk menyalurkan perasaannya saat ini.
"Hey sayang kenapa kau menangis?" Ucap Via.
"Iya, air matamu membuat riasan wajahmu berantakan tahu" Imbuh Maudi.
"Aku tidak mau menikah" Isaknya.
"Hey, tidak usah di tangisi, lagian suamimu itu tampan sekali" Ucap Via lagi.
"Itu benar, lagian apa kau tidak mau jadi kakak iparku?" Kali ini Sarah yang bicara.
"Tapi aku benar-benar tidak mau menikah dengannya, a-aku bahkan tidak mengenalnya" Isak Nara lagi.
"Percayalah, meski kak Ilham itu terkesan dingin, tapi sebenarnya dia itu baik dan tipe yang care sama orang lain apa lagi istrinya" Sahut Sarah lagi. Iya, Rain itu adalah Ilham kakaknya Sarah, tapi dia biasa di sapa Rain oleh ayahnya dan sekarang hampir semua orang memanggil Rain kecuali orang-orang terdekatnya seperti adik-adiknya atau Fahmi dan Syakia juga kakek neneknya.
Teman-teman Nara mengangguk menyetujui ucapan Sarah yang pastinya lebih tahu bagaimana Rain karena dia adik kandungnya.
Rain sempat menoleh pada Nara yang tengah menangis pada teman-temannya. Tapi Rain hanya memperoleh sekilas, kemudian dia beralih melenggangkan kakinya pada tiga orang yang merupakan salah satu orang penting di hidup Rain.
"Malam umi, Abi, Shafa" Sapanya.
"Kak Ilham, woah tampan sekali" Ucap Shafa.
"Bisa saja" Rain tersenyum gemas lalu mengacak kepala Shafa.
"Ih kak Ilham, lihat kerudungku jadi kusut, merusak saja" Ucap Shafa cemberut tingkahnya membuat Rain dan orangtuanya tertawa.
"Tapi Shafa benar, kau terlihat tampan nak" Ucap laki-laki paruh baya itu yang tak hilang ketampanannya yang tidak lain adalah Fahmi.
"Menantu kita juga sangat cantik ternyata" Bisik Syakia pada suaminya.
"Kau benar, putra kita pandai memilih pasangan" Imbuh Fahmi yang membuat Rain/Ilham terkekeh.
"Tentu saja karena aku ingin istriku secantik umma Syakia agar putriku nanti secantik Shafa" Ucapnya kembali mengacak kepala Shafa.
Yang langsung mendapat delikkan tajam dari Shafa karena dia baru saja membenarkan kerudungnya tapi Rain merusaknya lagi.
"Tapi jangan lupakan bahwa Shafa itu lebih mirip denganku dia hanya mewarisi mata dari ibunya" Delik Fahmi tak terima. Membuat Rain terkekeh lagi.
Dari sudut lain, Sarah melihat itu semua, melihat kakaknya yang notabenenya adalah kakak kandungnya terlihat akrab dengan mereka dan terlihat lebih dekat dengan Shafa yang hanya adik tirinya. Dengan semua itu membuat semua orang tahu bahwa Shafa yang merupakan adik kandungnya dan dirinya yang adik tiri. Sarah iri, tentu saja.
"Oh ya girls aku juga lagi nyari Bi Yanti tapi dari tadi aku gak melihatnya" Ucap Nara.
"Kita juga" Sahut Via.
"Yasudah aku tinggal sebentar ya, aku mau cari dia dulu, saat ini aku sedang butuh pelukannya" Ucap Nara lagi yang di angguki teman-temannya.
Nara mengedarkan pandangannya ke sepenjuru ruangan gedung ini tapi dia tidak mendapatkannya. Nara beralih mengedarkan langkahnya ke sisi ruangan lain untuk mencari Yanti, tapi napas gaunnya yang lebar itu tersangkut pada kaki meja kue, hingga....
Dugh
Tumpukan kue paling atas terjatuh ke lantai dan sebagian mengenai gaun Nara, membuat semua mata tertuju padanya termasuk Rain dan ayahnya yang tengah mengobrol bersama besannya-Dion.
"Nara" Ucap meren ketika melihat kue pengantin jatuh dan sebagian mengenai Nara dan membuat penampilannya berantakan.
Ardan bergegas menghampiri Nara begitupun Rain kakinya seolah refleks menghampiri perempuan yang sudah menjadi istrinya itu. Selain itu, Syakia, Fahmi, Dion, dan sahabat-sahabatnya yang tadi sempat membuktikan mulut karena terkejut juga ikut menghampiri Nara.
"Nara! Apa yang kau lakukan? Kau menghancurkan kue pengantinmu sendiri?" Geram Ardan pelan.
"Aku tidak sengaja Yah, gaunku tersangkut"
"Itu karena kau ceroboh!" Geram Ardan lagi.
"Ini hanya kue yah, kenapa ayah mempermasalahkannya?" Nara mulai berkaca-kaca.
"Bukan soal kuenya, tapi lihat sekelilingmu, para tamu tengah memusatkan perhatiannya padamu" Ucap Ardan lagi.
Mendengar ucapan ayahnya, Nara kemudian mengedarkan pandangannya pada sekelilingnya dan ternyata benar saja semua tamu tengah memandangnya dengan berbagai macam tatapan bahkan tak sedikit yang menertawakannya. Nara sudah tidak tahan lagi, dia sudah kesal tambah kesal sekarang.
Nara menangis kini, pipinya memerah karena malu, dia kemudian berlari meninggalkan ruangan acara resepsi itu. Syakia, Shafa, dan sahabat-sahabat Nara hanya menatap nanar padanya.
Ardan baru akan beranjak mengejar Nara tapi Rain mencegahnya "Biar saya aja om" Ucapnya. Ardan menatap Rain namun setelah mendapat anggukan dari Dion, Ardan membiarkan Rain yang menyusul Nara.
Nara memasuki kamar pengantin yang memang di sediakan untuk pengantin, keluarga, dan para tamu yang ingin menginap.
Nara berdiri di dekat pembatas balkon kamar menatap ke luar pada hamparan rumah-rumah warga ibu kota yang lampunya tampak berkelip warna-warni.
Nara tidak bisa menahan tangisnya lagi, dimulai dari tentang dia harus menikah disaat dia baru lulus SMA, kemudian menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak dikenalnya, lalu kue itu, dan tatapan menyedihkan juga tawa mereka membuat Nara malu, kesal, marah, geram, semuanya campur aduk.
Dulu dia pernah mengatakan pada ayah dan sahabat-sahabatnya bahwa dia ingin saat menikah nanti dia mengenakan gaun ungu muda, dekornya di d******i dengan warna ungu, ketiga sahabatnya harus hadir, semua itu memang terwujud, mimpinya juga terwujud, juga jangan lupakan resepsi yang mewah ini, tapi semua itu tak berlaku jika Nara tidak menginginkan pernikahan ini, yang ada Nara ingin menghancurkan segala benda yang ada di ruangan itu. Tapi, jatuhnya kue itu sama sekali bukan rencananya.
Rain memasuki kamar mereka, dia melihat ke sekeliling kamar tapi tak menemukan Nara, dia beralih ke kamar mandi tapi juga tak ada Nara di sana, kemudian matanya menangkap pintu ke balkon terbuka. Rain berjalan ke arah balkon itu dan di sana, perempuan yang sudah jadi istrinya itu tengah berdiri di dekat pembatas balkon.
Rain merogoh sapu tangan di sakunya kemudian meraih tangan Nara yang membuat Nara tersentak kaget, Rain menyapukan sapu tangannya pada lengan Nara yang sedikit terkena kue itu bahkan crem kue memenuhi gaunnya.
"Sedang apa kau, lepaskan tanganku" Ucap Nara menarik tangannya. Tapi Rain menahannya.
"Memberesihkan tanganmu" Jawab Rain. "Kau jadi berantakan" Ucapnya sedikit tersenyum.
"Tidak usah, dan apa tadi? Aku berantakan? Iya aku berantakan, dan lihat aku akan buat lebih berantakan lagi" Sentak Nara, kemudian dia menggosok tangannya pada wajahnya, meski maskara dan eyeliner yang dia gunakan adalah waterproof tapi tetap saja dengan bercampur air matanya membuat sekitar matanya juga wajahnya yang lain jadi hitam oleh maskara dan eyeliner itu, di tambah lagi Nara mengusap bibirnya kasar membuat lipstiknya belepotan ke mana-mana.
"Kau lihat, sekarang bukan gaun aku saja yang berantakan, riasan wajahku juga berantakan, oh ya dan satu lagi, HIDUPKU MEMANG BERANTAKAN SEKARANG" Ucap Nara sinis. "Oh iya, barusan kau tersenyumkan, sekarang ganti jadi tertawa, tertawalah seperti mereka tadi, aku memang pantas di tertawakan, HIDUPKU MEMANG MENYEDIHKAN" Teriakkannya di akhir kalimatnya.
Rain hanya menatap Nara datar tanpa ekspresi "Sudah? Sekarang ganti baju dan istirahatlah"
Nara mendelik "Kenapa? Kenapa kau menyuruhku mengganti baju...oh hohoh aku tahu kau berfikir karena ini malam pertama kita, kau ingin melakukan itu?!" Delik Nara.
"Kau menginginkannya?" Balas Rain menantang.
"Kau gila?!" Pekik Nara tak percaya
"Aku hanya bertanya, dan tadi aku hanya menyuruhmu istirahat, kau sendiri yang menyimpulkannya seperti itu" Decak Rain.
"Terserah saja aku muak berdebat denganmu?" Ucap Nara seraya berlalu memasuki kamar lagi.
"Ya ya laki-laki memang sudah bersahabat dengan kata 'terserah' " Ucap Rain seperti berbicara pada diri sendiri.
"Hari pertama menikah saja sudah ngajak berdebat!" Masih terdengar oleh Rain dumelan dari perempuan itu.
"Ck" Nara berdecih, apa lagi ini yang dilakukan tukang dekor? Kasur putih dengan taburan kelopak bunga di atasnya? Di tambah bentuk dua angsa membentuk gambar hati? Sungguh membuat Nara semakin merasa muak.
Nara menarik selimut kasur itu, melemparnya ke lantai hingga kelopak bunga itu berterbangan dan berhamburan di lantai.
Rain hanya diam menatap itu tenang dan datar, membiarkannya gadis itu melakukan apa pun yang ia inginkan.
Nara kemudian mendudukkan dirinya di tepian ranjang dengan napas yang masih menggebu-gebu karena segala hal yang dia rasakan saat ini.
Rain menghampirinya kemudian hendak mengelus kepala Nara "Ist-" Tapi Nara segera menepisnya.
"Hey, apa yang kau lakukan! Jangan menyentuhku!"
Rain menghela napas "Istirahatlah, aku ingin kebawah dulu menemui keluarga kita dan memberitahu mereka kau baik-baik saja, mereka pasti sedang mengkhawatirkan mu" U
cap Rain seraya berlalu.
"Ck, terserah saja dia mau melakukan apa pun, aku tidak peduli" Decihnya ketika Rain sudah menghilang dari kamar itu.