Menikah Paksa

1502 Kata
"1, 2, 3, ayo teriak untuk kelulusan kitaaaa" Teriak Via mengomando. "Jermannn tunggu kamiiiiii" Teriak mereka berbarangan, setelahnya mereka tertawa merasa lega karena akhirnya masa putih abu itu telah usai, sekarang tidak ada lagi seragam atau peraturan sepatu hitam WAJIB!. Itulah sepenggal moment Nara bersama teman-temannya satu minggu lalu, ketika mereka merayakan kelulusan mereka dilengkapi dengan buket di pelukan mereka. Nara yang tengah terduduk di atas kasur tersenyum melihat Vidio di ponselnya yang sempat mereka rekam waktu itu. Karena itu tentu adalah moment yang sangat berkesan bagi setiap siswa yang telah lulus dari masa sekolahnya. Kemudian mata Nara beralih pada sebuah buket bunga indah dengan warna ungu kesukaannya itu, buket yang di berikan Revan-kekasihnya satu minggu lalu di hari kelulusannya kini masih bertengger di atas nakas samping tempat tidurnya. Perlahan kedua sudut bibir Nara terangkat melihat bunga itu dan mengingat moment Revan ketika memberikan bunga itu. Nara sangat mencintaimu laki-laki itu, merek berpacaran sejak kelas sepuluh semester dua dan masih sampai sekarang. Namun lamunannya terbuyarkan oleh sebuah ketukan pintu dari luar kamarnya. Nara mengalihkan pandangan ke pintu itu. "Masuk saja, tidak aku kunci" Ucapnya sedikit keras agar terdengar ke luar. Di pintu sana ternyata menampilkan Bi Yanti salah satu pelayan di rumahnya yang merupakan pelayan paling lama di rumah ini. Bahkan Nara sudah menganggap Bi Yanti ibu keduanya karena dia yang merawatnya setelah ibunya meninggal. "Ada apa bi?" Tanya Nara disertai senyum tipis. Yanti mendekat menghampiri Nara "Non di panggil tuan dan di tunggu di taman belakang" Katanya. "Ayah? Mau apa ya" Beonya seperti bertanya pada diri sendiri. "Sebaiknya nona temui cepat sebelum tuan merajuk lagi" Iya ayahnya itu memang hampir sama sifatnya dengan dirinya yang jika ada sesuatu harus segera dituruti. Eh kebalik gak sih, seharusnya sifat dirinya yang seperti ayahnya maksudnya. "Baiklah" Nara beranjak keluar, menuruni tangga dan menemui ayahnya di taman belakang rumah. Hamparan tanah luas seperti lapar hijau yang ditumbuhi beberapa pohon dan tanaman hias yang ditanam ibunya dulu. Ya ibunya itu memang sangat menyukai segala macam tanaman. "Ayah" Sapanya ketika sudah berada di samping Ardan. "Kemari sayang" Ucap Ardan dengan suara beratnya dengan syal bertengger di lehernya, juga jangan lupakan baju hangat berbahan rajut yang juga membalut tubuhnya. "Ada apa yah?" "Ada yang ingin ayah bicarakan, sini" Ucapnya seraya menepuk bangku kayu sampingnya. Setelah mendapat anggukan dari Nara dan putrinya itu sudah ikut mendudukkan diri, kemudian Ardan melanjutkan ucapannya "Ayah, ingin memberitahu bahwa kamu harus segera menikah" Tungkasnya dengan pandangan lurus ke depan. "Apa? Nikah? Kenapa? Kenapa tiba-tiba? Aku gak hamil yah!" Kaget Nara sekaligus heran. Ia berpikir begitu karena biasanya kebanyakan perempuan yang disuruh cepet-cepet nikah atau di paksa nikah karena hamil, tapi kan dirinya tidak dan jangan sampai malah. Ardan menoleh "Ya memang siapa yang bilang kamu hamil?" Kata Ardan ikut heran menoleh pada Nara. "Ya abisnya ayah tiba-tiba bahas nikah, biasanya kan kalo gitu karena hamil, maybe" Gumamnya. "Oh iya lah terus kenapa ayah nyuruh aku nikah?!" Lanjutnya. Ardan kemudian mengalihkan lagi pandangannya ke depan "Kamu tahu sendiri kan, keadaan ayah sekarang sudah tak sesehat dulu lagi, setelah ibumu tidak ada ayah tidak percaya siapapun untuk menjaga kamu, ayah sangat menyayangimu Naradira. Ayah selalu khawatir bagaimana keadaan kamu kalo ayah sudah tiada. Siapa yang menjaga kamu, siapa yang melindungi kamu. Dan....dan ayah pikir Rain adalah orang yang tepat untuk menggantikan ayah untuk kamu" Tuturnya dengan mata sedikit berkaca-kaca di balik kacamata umurnya. "Ada bi Yanti yah, aku aman dan nyaman kok bersama dia, bi Yanti sudah seperti ibu aku sendiri dia bekerja di rumah kita bahkan sebelum mamah melahirkan aku" Ucap Nara dengan menunjuk Yanti. "Dan lagi, siapa Rain itu? Ck aku gak yakin dia laki-laki baik seperti dugaan ayah" Decih Nara sembari melipat kedua tangannya menunjukkan sikap merajuk sekaligus kesal. "Ayah yakin dia laki-laki yang baik, dia berasal dari keluarga baik-baik juga, dia adalah anak yang sangat menyayangi ibunya bahkan pada ibu tirinya, ketahuilah nak sebagian besar laki-laki yang menyayangi ibunya dia juga akan menyayangi istrinya" "Sebagian kan yah? Terus gimana kalau ternyata dia bukan salah satu dari sebagian laki-laki itu? Gimana kalau dia salah satu dari laki-laki b******k?" Ucap Nara menaik turunkan alisnya. Dia memang sangat dekat dengan ayahnya hingga kalau sedang mengobrol sangat santai tapi tidak menghilangkan rasa hormatnya "Lalu mau menikah dengan siapa? Anak ingusan itu? Yang bahkan sering di panggil ke ruang BK" Ardan menatap Nara. "Nara! Kamu mengatakan itu karena kamu belum mengenal Rain" Ucap Ardan sedikit menyindir kekasih putrinya. Ia sedikit banyak tahu tentang Revan yang memacari Nara. "Bukan gitu yah, aku baru lulus minggu lalu lho yah, aku juga mau kuliah, bahkan aku udah rencanain kuliah di Jerman dengan teman-teman aku" Mata Nara mulai berkaca-kaca. "Bukan hanya dengan laki-laki itu pilihan ayah saja, tapi aku juga belum siap menikah dengan siapa pun termasuk dengan Revan pacar aku" "Kamu akan tetap kuliah Nara, Rain sudah setuju untuk membiarkan kamu tetap melanjutkan pendidikan, dia juga tidak keberatan jika kalian menunda keturunan sampai kamu wisuda" Kekeh ayahnya. Nara menghela napas "Lalu, bagaimana kalau aku menolak?" Ucapnya pelan. "Tidak ada penolakan Nara, kecuali jika kamu mau menikah tanpa wali ayah, karena ayah hanya akan mewalikan kamu menikah dengan Rain, tidak dengan yang lain" Tungkasnya seraya berdiri dan pergi meninggalkan Nara yang sekarang sudah mengeluarkan air matanya. Ayahnya itu selalu seperti itu, jujur ia benci dengan sikap ayahnya yang seperti ini yang selalu memaksakan kehendak pada orang lain sesuai keinginannya. Tapi Nara juga rasanya akan sulit menghentikannya kemauan ayahnya itu. °°° Di tempat lain di ruang meeting hari itu begitu tegang tidak kondusif seperti biasanya. Entah sudah berapa lama Rain memijat pelipisnya saat sekertaris Bil tengah persentasi di depan bersama powerpoint dengan slide-slide yang membuat Rain semakin pusing. "Berdasarkan hasil observasi, kami menyarankan agar Resort yang ada di Ciwidey harus di jual untuk menutupi dan mengantisipasi masalah perusahaan saat ini" Ucap Alvin salah satu anggota yang berperan penting di perusahaan BJ Group. Rain mengangkat kepalanya menoleh cepat pada Alvin "Tidak, resort itu tidak akan pernah di jual!" Bantah Rain tegas. "Tapi pak, sejak beberapa bulan yang lalu kita tidak mendapatkan solusi atau cara lain untuk mengatasi masalah ini" Ucap Alvin lagi. "Benar pak, jika seperti ini terus BJ Grup terancam gulung tikar" Timbal Rio direksi yang lainnya. Sungguh sungguh saat ini kepala Rain rasanya sudah seperti ingin pecah. Orang-orang disini mengatakan untuk menjual resort itu dengan gampangnya di saat bagi Rain resort itu begitu berharga. "Resort itu tidak akan di jual, saya akan menemukan cara lain, saya pastikan itu!" Pungkasnya. "Itu memang cara satu-satunya Rain,buntuk menyelematkan perusahaan ini" Dion sebagai pemimpin meeting ikut menyetujui yang di usulkan Alvin barusan. "Selama aku tidak menyetujuinya, resort itu TIDAK AKAN PERNAH DIJUAL" Ucap Rain dengan menekan kata-katanya. Kemudian dia keluar dari ruangan dan meninggalkan meeting begitu saja. Brrakk Sampai di ruangannya dia menggebrak meja dengan keras, menumpukan kedua tangannya pada tepian mejanya dengan hembusan nafas kasar. Seseorang ikut memasuki ruangannya tanpa permisi kemudian duduk di sofa dengan menyilangkan kaki. "Kita harus menyelamatkan perusahaan ini, Rain" Rain berbalik cepat "Lalu dengan menjual resort itu?!" "Tidak ada jalan lain" "Ada, pasti ada!" Sanggah Rain dengan rahangnya mulai mengeras. "Rain, tidak ada salahnya jika kita menjual resort itu" Tekan Dion "Aku bilang tidak, apa kalian tidak dengar tadi? Bagi ayah mungkin resort itu tidak berharga karena ayah tidak pernah mencintai ibu, tapi bagi aku, resort itu adalah kenangan satu-satunya keluarga kita sebelum keluarga kita berantakan tentunya" Rahang Rain semakin mengeras dan dia terkekeh di ujung kalimatnya. Mereka sama-sama diam beberapa saat sebelum Dion mulai bicara lagi "Lalu, jika ayah mengusulkan sesuatu, apa kamu akan setuju?" "Asal jangan tentang resort itu, aku akan pertimbangkan" Ucapnya datar. "Kau tahu perusahaan NACA Group?" Rain mengangguk "Ya, perusahaan terbesar no 2 di Indonesia" Dion tersenyum "Lalu, apakah kau juga tahu pemilik perusahaan itu adalah teman ayah?" "Iya, tapi jika hanya sebagai teman, aku tidak yakin dia akan bersedia membantu perusahaan kita dengan keseluruhan" Jawab Rain. Masih dengan senyumnya "Dan apa kau tahu dia mempunyai putri yang sangat cantik" Rain menoleh pada ayahnya dengan kening mengerut heran "Apa maksudmu...?" "Ya, kau benar jika hanya dengan pertemanan saja NACA Grup tidak mungkin membantu perusahaan kita secara besar-besaran, tapi bagaimana jika itu berdasarkan kekeluargaan?" Dion menaikkan alisnya. "Apa ayah bermaksud menikahkanku dengan putrinya?" Tanya Rain mulai peka dengan maksud ayahnya itu. "Ayah rasa itu bukan hal sulit, di tambah lagi putrinya itu sangat cantik, itu menjadi poin plus untuk kamu" Seringai Dion. Rain kembali membalikkan badannya dan menumpukan tangannya lagi di meja "Aku takut menyakitinya nantinya yah" Ucap Rain pelan. "Kenapa kau harus menyakitinya?" "Bagaimana pun kami tidak saling mengenal, aku tidak mau menyakitinya jika suatu saat nanti dia mengetahui semuanya, karena bagaimanapun juga kita sama saja memanfaatkan gadis itu" "Tidak akan tahu selama salah satu dari kita tidak membuka mulut, lagi pun bukankah cara ini lebih baik daripada menjual resort itu, ayah rasa mencintainya bukan hal yang susah. Ayolah, kau tahu kan pepatah sembari menyelam sembari minum air" Dion kembali menyeringai dengan ide brilan menurutnya. Rain diam untuk beberapa saat "Akan ku pikirkan" Ucapnya kemudian. Semoga suka? See you ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN