1.Mengintip
Rere berjalan cepat menuju belakang sekolah. Dia ingat di tembok belakang sekolah ada banyak jenis tanaman paku kebetulan sekali dia butuh untuk praktek di kelasnya.
Berjalan cepat hampir berlari tak ingin membuat kakak lelaki yang telah menjemputnya menunggu lama. Pasti nanti akan marah-marah dan Rere tidak mau itu terjadi. Kakaknya itu walau lelaki cerewetnya minta ampun.
Saat berbelok melewati gudang ia mendengar suara gaduh. Seperti suara orang bertengkar. Sedikit rasa penasarannya membuat ia coba dekati suara itu. Semakin dekat semakin jelas. Dan di sana, dibalik pohon mangga besar itu ia melihat seorang lelaki dikeroyok oleh 4 orang lelaki lainnya. Rere hampir saja menjerit untung dia segera menutup mulutnya.
Bingung. Itu yang Rere rasakan. Sekolah sudah sepi, ingin menolong langsung rasanya tidak mungkin. Badan mereka berempat besar berbanding terbalik dengannya. Rere coba keluarkan handphone miliknya. Mencoba menelpon kakaknya didepan sekolah sana tapi sialnya tidak diangkat. Terpikir olehnya untuk merekam kejadian itu, barangkali ini bisa sebagai bukti untuk lelaki malang yang dikeroyok itu melaporkan kejahatan mereka berempat.
Rere maju sedikit agar rekaman video terlihat jelas. Namun, baru selangkah ia berjalan tak sengaja kakinya menginjak kumpulan daun pohon kering hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring. Mereka berhenti menatap Rere tajam. Kini fokus mereka alihkan pada Rere yang sekarang gemetar di tempat dengan handphone yang masih merekam.
Salah satu dari mereka bergerak cepat menghampiri Rere. Merebut cepat ponsel yang berada di genggaman Rere.
"Hp gue!" Rere berteriak nyaring saat ponselnya sudah berpindah tangan ke lelaki dihadapannya. Saat akan merebutnya lelaki itu mengangkat ponselnya tinggi-tinggi hingga Rere kepayahan menggapai dengan tubun minimalisnya.
"Sialan balikin hp gue" Rere masih berusaha meraih ponselnya hingga sebuah bentakan berhasil menyentaknya mundur.
"Pergi dari sini"
Rere akan kembali maju tapi ada tangan yang mencekal tangannya menyentaknya mepet ke tembok pagar sekolah.
"Gue enggak akan segan-segan buat lo seperti si b*****t satu itu walau gue tau lo cewek" Rere mulai kembali bergetar di tempatnya. Siapapun tolong dirinya.
"Jadi lebih baik lo secepatnya pergi dari sini sebelum kesabaran gue habis dan kalo sampe ada orang lain yang tau ini hidup lo enggak akan tenang" lelaki itu berbicara sambil menatapnya tajam.
"Ngerti Resyana" lelaki itu melirik name tag di baju Rere. Resyana Adelia. Dia jadi tahu namanya.
Tapi, saat lelaki itu sedikit lengah Rere gigit tangannya hingga otomatis cengkraman lelaki itu terlepas. Lelaki itu meringis kecil. Rere dengan cepat berlari menjauh.
"Pengecut!" Teriak Rere menatap mereka yang semakin geram terhadap Rere. Salah satu dari mereka yang berkulit paling putih ingin menghampiri Rere tapi ditahan oleh yang lainnya.
"Gue gak tau apa alasan kalian ngelakuin semua ini. Tapi yang gue tau kalian pengecut. Jangan mentang-mentang kalian kuat bisa seenaknya menindak yang lemah, mainnya keroyokan lagi. Cemen banget sumpah"
"Gue akan laporin kalian semua"
Setelah mengatakan itu Rere berlalu dari sana. Dia sangat emosi. Sangat tidak suka dengan yang namanya kekerasan.
***
Rere menghampiri Dimas sang kakak menerima uluran helm dan langsung memakainya.
"Sorry Abang jemput kamu telat. Tadi waktu kamu telpon Abang masih di jalan" Jelas Dimas melihat wajah masam sang adik. Dimas mengira Rere kesal karena ia telat menjemputnya.
"Iya gak pa-pa"
***
Rere merebahkan tubuhnya di kasur. Lelah. Di rumahnya ramai orang yang sedang mempersiapkan lamaran Kakak ke-3 Rere besok malam. Untuk informasi Kakak Rere ada 7. Banyak dan semua lelaki. Baru dua yang sudah menikah. Sedang yang lainnya ada yang bekerja dan kuliah.
Rere juga ikut membantu untuk persiapan lamaran besok. Baru saja akan memejamkan mata tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Hp gue masih sama cowok itu. Sialan!"
Saking sibuknya Rere melupakan kekesalannya tadi siang dan juga melupakan ponselnya yang masih ada di tangan lelaki itu. Rere segera beranjak bangun untuk menghampiri siapa saja yang bisa dipinjami ponsel.
Kebetulan saat keluar kamar Rere bertemu Kakak pertamanya yang sedang menggendong sang anak yang tertidur.
"Bang, boleh pinjem hp nya sebentar?" Reno menatap adik bungsunya itu heran. Bukannya Rere juga punya ponsel. Malah yang paling bagus dari semua kakaknya bahkan orangtuanya.
"Buat apa?"
"Aku lupa nyimpen. Mau di misscall" Rere tidak mau bicara jujur. Bisa heboh sekeluarga jika ia bicara sebenarnya. Orangtua dan semua kakaknya sangat posesif terhadapnya. Karena ia bungsu dan anak perempuan satu-satunya. Akan pajang masalah ini. Rere tidak mau itu terjadi, ini hanya masalah kecil. Ia bisa menyelesaikannya sendiri.
"Hp abang dipake El main game" Elrama atau El adalah anak pertama Reno. Rere mencebikkan bibirnya. Kebiasaan jika keinginannya tidak dituruti.
"Ya udah aku pinjem hp Mama aja" sebelum berlalu Rere mencium cukup kencang pipi Fiona yang sedang terlelap di gendongan sang Ayah. Hingga bayi 10 bulan itu terbangun dan menangis. Reno menggeram jengkel menatap Rere yang malah cekikikan sambil berlalu. Susah payah Reno tidurkan bayinya ini.
***
"Mama" Rere segera menyusup di antara orang tuanya duduk diapit Mama dan Papanya bergelung manja di samping kiri sang Mama yang sedang duduk santai di kursi. Menarik tangan Papa agar mengelus rambutnya lalu menelusup ke dalam pelukan Mama. Dean yang berada di samping kanan memeluk sang Mama menatap protes sang adik. Padahal dia juga ingin dimanja. Tadi Mama sedang memijat kepalanya tapi ketika Rere datang berhenti malah ganti mengelus punggung Rere.
"Kenapa sayang? Katanya tadi capek mau tidur" Mama kembali memijat kepala Dean saat melihat tatapan protes dari sang anak. Punya banyak anak sebisa mungkin Mama harus adil.
"Mau pinjem hp"
"Hp adek kemana, rusak? Enggak usah pinjem punya Mama kita beli aja ayo sekarang" Itu Papa Haris--Papa Rere yang berbicara. Papa memang sangat memanjakan Rere dan juga anak-anaknya yang lain. Apapun yang Rere ingin selalu Ia turuti.
"Enggak Pah bukan. Rere lupa simpen mau coba di telpon"
"Halah paling mau dipinjem buat download drakor" nyinyir Dean. Rere menatap sengit sang Kakak.
"Dih, sok tau"
"Emang apaan lagi kerjaan lo kalo bukan nontonin drakor, bucinin opah opah" Rere yang tidak terima dikatain mencubit keras tangan Dean hingga membuat pria itu meringis nyeri.
"Sakit"
"Sttt udah jangan mulai. Pake aja hp Mama ambil ada di kamar"
"Ini pake punya Abang aja" Johan kakak ke-4 Rere yang sedari tadi hanya diam menyaksikan akhirnya angkat bicara. Mau meminjamkan ponselnya untuk sang adik.
"Abang baik banget jadi makin ganteng adek makin sayang, deh" Rere melompat turun duduk di samping Johan memeluk lengan Kakaknya itu.
"Ada maunya aja muji-muji kamu dek" Jefri kembaran Johan menyauti, ia sedang serius dengan game di ponselnya.
"Yang enggak ganteng jangan iri" Rere mencebikan bibirnya ke arah Jefri. Semakin erat memeluk Johan.
"Ngapa iri, orang wajah kami sama"
Rere melupakan niat awalnya meminjam ponsel saat Sultan dan Satria kakak kembarnya yang lain datang bersama membawa banyak makanan request dari istri Satria yang sedang ngidam.
Menjelang pukul 11 malam barulah Rere masuk ke kamar dengan membawa ponsel milik Johan. Untungnya ponsel itu memang khusus untuk bermain game jadi Rere bisa mengembalikannya besok pagi.
Mencari kontak dengan nama 'Dek Rere' setelah ketemu Rere mendeal nomor tersebut hingga terdengar nada sambung. Hingga dering ke tiga diangkat.
"Hallo"
"Balikin hp gue" To the point. Rere langsung mengatakan maksudnya menelpon.
Hening beberapa saat.
"Hallo, lo dengerin gue ngomong"
"Hari Sabtu, cafe depan sekolah jam 2 siang"
"Kenapa harus minggu, besok jam istirahat gue ambil ke kelas. Lo tinggal
Sebutin kelas berapa, selesai" Rere tentu tidak terima. Sabtu itu masih lama. Besok baru rabu. Apalagi besok adalah hari pertunangan Sultan, Rere tidak mau ketinggalan momen membagikannya di sosial media.
"Sabtu atau enggak samasekali"
Rere menggeram kesal saat sambungan terputus secara sepihak.
"Sialan!"