Acara inti baru saja dilaksanakan, semua berjalan lancar. Rere tidak kuat menahan haru saat satu persatu Abangnya mulai mendapat pendamping hidup. Ada rasa tak rela tapi memang sudah seharusnya seperti itu. Meskipun sudah memiliki pasangan masing-masing ketujuh dari Abangnya masih bersikap sama memanjakannya.
Acara diadakan di taman samping kediaman calon wanita Sultan. Rumah yang luas meski tak seluas rumah keluarganya.
Rere sengaja mencari tempat yang sedikit sepi. Hatinya sedang melow mencoba ikhlas melepaskan satu lagi Abangnya.
"Kaki lo masih sakit" Rere berjengit kaget saat tiba-tiba seseorang berdiri di hadapannya. Refleks semangkuk kue kecil yang ada di genggamannya jatuh.
"Setan! Nganggetin aja" Rere berdiri memukul Abian dengan handbag yang dibawanya tapi Abian bisa menghindar. Rere hampir saja kembali jatuh tersungkur beruntung untuk kali ini Abian menahan tangan Rere menahan agar tidak terjatuh.
"Ngapain lo ada disini? nguntit!"
Rere heran kenapa ada Abian disini. Mungkinkah Abian masih ada hubungan keluarga dengan calon Iparnya?
Abian yang ditanya hanya diam melipat tangannya di d**a. Tatapan Abian turun ke bawah melihat lutut Rere yang tertutup kain batik panjang.
"m***m" Rere berteriak sambil sedikit mundur menjauhi Abian. Namun lagi-lagi Rere hampir terjatuh, rok kain yang Rere pakai terlalu panjang hingga terinjak. Rere yang akan terjengkang langsung Abian tahan.
"Ceroboh banget lo itu" Rere kembali menepis tangan Abian yang memegangi tubuhnya.
"Deket lo gue sial mulu" gumam Rere kesal menatap Abian sengit.
"Cepet balikin kek hp gue"
"Gue lupa simpen dimana" balas Abian cuek.
"Lagian isinya juga enggak penting" lanjut Abian yang membuat Rere tambah geram. Berani sekali Abian buka-buka ponselnya.
Dengan kesal Rere menendang lutut Abian sekuat tenaga hingga Abian meringis kesakitan. Kesempatan bagi Rere yang sudah sedari tadi mengincar ponsel yang dikantongi lelaki itu.
"Hp lo sama gue sampe hp gue ketemu, bye" Rere berlalu dari sana dengan sedikit berlari.
"Sialan" Abian meringis. Lututnya sedikit ngilu terkena tendangan dari sepatu Rere yang lumayan runcing.
****
Rere baru selesai membersihkan diri ketika tiba-tiba terdengar nyaring suara yang berasal dari dalam tas. Ponsel pria itu.
Baru Rere pegang ponsel itu berhenti berbunyi. Ada beberapa misscall dan pesan. Ponsel pria itu tidak memakai password. Sama seperti dirinya yang malas memakai password.
"Mami Kia, Mama Rani" beberapa pesan dan misscall dari kontak itu.
Ragu-ragu Rere menatap ponsel itu. Buka tidak ya pesannya? Mengesampingkan etika privasi Rere buka salah satu pesan yang masuk. Pria itu saja sudah dengan lancang membuka-buka ponselnya kenapa Rere tidak.
Mama Rani
Kak dimana?
Kak kok belum pulang?
Pulang ya nak maafin Papa,
tadi Papa cuma emosi
Kak Bian, Mama dan Mami Kia tunggu dirumah ya nak
Dan pesan dari kontak Mami Kia yang kurang lebih isinya sama menyuruh Abian pulang kerumah.
"Dia punya 2 ibu?" Gumam Rere
****
Rere berjalan santai menuju kelas, hari masih terlalu pagi. Tapi pagi ini ada yang aneh di lorong kelas yang belum begitu ramai orang-orang yang dilewati Rere seperti menatap Rere lalu berbisik seperti sedang membicarakannya. Rere yang tak mau ambil pusing menghiraukan itu semua.
"Rere" saat sampai kelas ketiga temannya langsung berseru lalu menarik Rere duduk. Rere dikelilingi seperti akan di introgasi.
"Lo ada masalah apa sama Kak Abian?" Tanya Selin langsung tanpa basa basi.
"Ini liat" Taya memperlihatkan ponselnya pada Rere. Disana terputar video beberapa detik saat Abian menarik tangan Rere kemarin.
Rere menatap ketiga temannya. Seolah bertanya apa ada yang salah dari video itu?
"Gue denger-denger lo datangin kelas kak Abian terus lo bangunin dia yang lagi mojok sampe dia ngamuk gitu" jelas Taya melihat sendiri di video itu Abian kelihatan marah.
"Serem banget Kak Abian kalo lagi marah gitu" ucap Syifa merasa ngeri.
Sialan gara-gara tidak pegang ponsel Rere jadi tidak tau apa-apa. Dan siapa pula orang iseng yang merekamnya kemarin.
"Hp gue ada sama dia ya jelas gue samperin orangnya buat ambil hp gue. Enak aja tuh orang mentang-mentang kuat badan gede ambil hak orang seenaknya" jelas Rere kesal.
"Kok bisa?"
"Panjanglah ceritanya" Rere sedang malas membahas pria itu.
"Hati-hati loh Re berurusan sama dia. Orangtuanya berpengaruh di sekolah ini"
Rere hanya mencebikkan bibirnya kesal. Apa salah dia? Dia hanya ingin mengambil kembali haknya.
****
Jam istirahat kantin penuh tapi untungnya Rere dan 3 temannya masih kebagian kursi untuk duduk.
Saat sedang asyik makan kantin yang tadinya ramai oleh suara tawa dan obrolan tiba-tiba hening. Rere belum menyadari itu karena sedang serius menikmati semangkuk baksonya.
Saat merasa ada seseorang yang duduk dihadapannya Rere mendongkak. Betapa terkejutnya Rere saat mengetahui yang duduk dihadapannya adalah Abian. Dan beberapa orang lainnya juga mungkin teman Abian. Hampir saja Rere jatuh terjengkang. Mau apa pria itu?
Tanpa diduga Abian mengambil garpu menancapkannya pada bakso di mangkuk Rere yang masih utuh. Rere yang tak terima makanannya di ambil memukul tangan pria itu. Enak saja Ia sengaja menyisakan bakso isi telur ukuran besar itu untuk dimakan di akhir malah seenaknya Abian ambil.
"Kurang ajar lo nyolong bakso gue" Rere memang berhasil memukul tangan Abian. Tapi, Abian bisa menjauhkan bakso yang akan kembali Rere rebut.
Dengan tidak tahu malunya Abian memakan bakso itu. Bahkan saat sudah beberapa kali gigitan Abian geser mendekatkan mangkuk bakso Rere pada dirinya. Menyeruput beberapa sendok kuah.
Rere yang melihat itu jelas naik pitam. Bahkan dengan santainya Abian menyedot es teh Rere yang belum Rere minum.
Rere hanya menghela napas pasrah. Percuma juga mendebat orang seperti Abian. Rere melihat ketiga temannya masih anteng makan tapi dari tatapan mereka seolah sama-sama saling berbicara. Apa? Kenapa bisa?
"Eh, ada Tayo" Taya yang dipanggil seperti itu mendengus kesal. Bertambah kesal lagi saat Jalu kakak sepupunya itu merengsek duduk di antara dia dan Ajeng. Kursi panjang ini jadi tambah sempit setelah tadi ikut diduduki Abian.
Satu teman Abian yang lain ikut duduk di samping Selin sedangkan yang satunya menggeret kursi kosong. Bukan kosong sebenarnya kursi yang ia palak dari meja sebelah.
Desak-desakan begini seperti sedang naik angkot.
"Jangan liatin gue terus nanti lo jatuh cinta" mendengar ucapan Abian, Rere mendesis sebal.
"Pengen gue ludahin yang ada muka lo" balas Rere sengit. Abian hanya terkekeh geli.
Sakit kali nih orang. Mungkin begitu arti tatapan Rere yang melihat Abian malah terkekeh tidak jelas.
Abian berhasil menangkap tangan Rere saat gadis itu akan berlalu dari sana.
"Santai dong! buru-buru amat" Rere menyentak kasar tangan Abian.
"Hallo Rere inget gue enggak? kenalin Jalu" Rere melirik uluran tangan Jalu. Dibiarkan tangan itu tanpa ia sambut hingga terdengar tawa puas 3 lelaki yg ada di sana.
"Gue enggak akan laporin kalian kok, jadi kalian tenang aja. Tinggal lo balikin HP gue dan urusan kita selesai" jelas Rere malas.
"Cuma mau kenalan masa enggak boleh. Kenalin nih gue kevin. Yang cantik-cantik disini siapa aja namanya" kini giliran Kevin yang tadi duduk di sebelah Selin memperkenalkan diri.
Sedangkan satu pria yang lain, Romi namanya duduk santai bermain game di ponsel pintarnya.
Sebenarnya Selin risih duduk di samping pria itu. Sedari tadi matanya jelalatan menatap tubuhnya dengan berani. Pria m***m! Selin mencoba menghiraukan dengan fokus bermain ponsel.
"Ada gue yang ganteng gini kok main hp terus sih neng" Kevin merebut Ponsel yang ada di genggaman Selin. Selin akan mencoba merebut kembali tapi sudah lebih dulu Kevin oper pada Jalu. Syifa yang coba membantu merebut sudah kembali Jalu oper pada Romi. Rere akan merebut kembali Romi oper pada yang lain. Sampai kejadian itu disaksikan oleh seluruh penghuni kantin. Banyak yang tertawa melihat kejadian itu.
Saat ponsel ada di genggaman Kevin, Selin dorong pria itu hingga menabrak meja. Beberapa minuman yang ada di atas meja itu tumpah.
Ponsel Selin terlempar cukup jauh jatuh mendarat di lantai. Selin tentu histeris. Seperti tebakannya saat di ambil layar ponsel itu retak.
Selin berlalu dari sana sambil memberikan tatapan tajamnya pada Kevin.
"Rusuh banget ya kalian semua" Syifa berlari mengejar Selin diikuti oleh Rere dan Taya.
****