5.Rumah Abian

1082 Kata
Rere, Selin, Taya dan Syifa sedang berada di area belakang sekolah. Mencari tanaman paku yang kemarin belum Rere dapatkan untuk praktek pelajaran Biologi. "Lo yang manjat Sel" ucap Rere karena tahu Selin yang paling ahli memanjat tubuh Selin pun lebih tinggi dari yang lain. "Ngeri Re. Tinggi banget ini" Tembok belakang sekolah memang sangat tinggi sedangkan jenis tanaman paku yang mereka cari itu banyak tumbuh di bagian tembok paling atas. "Itu ada gudang biar gue cari sesuatu yang bisa dipake naik" Taya yang tadi sedang bersama Syifa mencabuti tanaman paku lain yang tersebar di atas tanah, berlalu dari sana berjalan menuju gudang sekolah. Mungkin di sana ada tangga atau kursi yang tidak dipakai. Baru saja membuka pintu Taya dikejutkan dengan 4 orang pria yang salah satunya ia kenal sebagai sepupunya. Jalu. Dan, pria itu sedang...merokok. "Jalu gue aduin lo ke Abah sama Amih" Taya berkacak pinggang di hadapan Jalu. Tak Taya pedulikan 3 orang lainnya yang berada di sana. "Silakan" balas Jalu santai malah menghembuskan asap rokoknya di hadapan wajah Taya hingga Taya terbatuk-batuk kecil. "Ck, nantangin lo. Belum kapok bulan kemarin motor lo disita karena ikut balapan liar" "Jadi lo yang aduin ke bokap gue!" Jalu berdecak kesal. Pasalnya tidak ada yang tahu masalah ini selain kedua orangtua dan kakaknya. Jalu sekarang mengerti kenapa hal yang sudah ia tutupi rapat-rapat bisa sampai terdengar telinga orangtuanya. Selama sebulan itu pula Jalu nebeng motor Romi yang kebetulan adalah tetangganya. "Iya. Emang kenapa?" tantang Taya. Walaupun sepupu mereka memang banyak ribut daripada akurnya sedari dulu. "Sialan! untung lo cewek kalo kagak" Jalu menggeram kesal. Mengumpati sepupunya itu. "Apa? Kenapa emang kalo gue cewek" tantang Taya merengsek maju. Jalu pun membuang rokok yang tadi ia hisap bersiap menghajar sepupunya itu tapi 3 temannya menahan. "Be gantle, bro" Kevin yang lebih dulu memegangi tangan Jalu. Sedangkan Romi menghalangi Taya dengan tubuhnya. "Taya" terdengar suara teriakan dari pintu. "Kalian dasar cemen pengecut. Sama cewek juga mainnya keroyokan" Rere tadi menyusul bersama Selin dan Syifa karena Taya lama. Namun, dikejutkan dengan kejadian Jalu yang akan menyerang Taya. Rere berjalan mendekat memukuli Romi dan Abian, dua orang yang berdiri terdekat. Romi berhasil menghindar menjauh sedangkan Abian mencoba memegangi tangan Rere. Celakanya jari Abian yang masih mengapit sebatang rokok menyala tak sengaja mengenai leher belakang Rere hingga membuat Rere menjerit kesakitan tersundut rokok itu. "Akhhh" Rere memegangi lehernya. Perih. "Rere" Selin, Syifa dan Taya segera membantu Rere yang kesakitan. Terlihat jelas kulit leher bagian belakangnya melepuh. "Ayo ke UKS, kulit kamu melepuh, Re" "Awas aja kalian. Terutama lo" Taya menatap mereka terutama Jalu dengan sinis. Setelah itu berlalu menyusul ketiga temannya. ***** Di UKS Rere sedang diobati. Luka bakarnya diolesi salep yang diberi oleh penjaga UKS. "Sakit?" Tanya Syifa membantu mengipasi luka itu. "Perih sedikit" "Dendam banget gue sama mereka" Raut kesal masih kentara di wajah Taya. Muka sampai telinganya bahkan sampai memerah. "Besok lo jadi ketemu Kak Abian, Re?" Tanya Selin yang baru selesai mengolesi salep pada luka Rere. "Iya. Hp gue masih sama dia" "Kita temenin deh besok" ucap Taya "Enggak usah. Gue paling cuma sebentar" Rere tentu nanti tidak ada lama hanya ingin cepat-cepat ponselnya kembali. "Yahh padahal gue mau sekalian mampir ke rumah lo, Re. Bang Jefri ada di rumahkan weekend?" ucapan Taya mengundang decakan sebal dari teman-temannya. "Modus" Rere, Selin dan Syifa kompak berucap yang dibalas Taya dengan kekehan. ***** Sudah hampir satu jam Rere menunggu kedatangan Abian. Pria itu yang buat janji pria itu juga yang tidak datang. Kesal sekali rasanya. Rere sudah berjanji pada orangtuanya hanya pergi sebentar sebelum makan siang ia sudah pulang. Ditambah tadi Rere pun harus berbohong mengenai kepergiannya. Rere bilang akan pergi ke rumah Selin sebentar untuk mengambil barang. "Ck, dasar!" Rere mengutak-ngatik ponsel Abian yang ada padanya. Mencoba menghubungkan pada ponselnya yang ada pada Abian. Satu kali panggilan tidak di angkat. Hingga baru pada panggilan kelima berhasil terhubung. "Hmmm" terdengar gumaman serak diseberang sana. Seperti orang baru bangun tidur. "Gue udah nunggu lo hampir 1 jam sialan" ucap Rere kesal. Hening. Tidak ada jawaban dari seberang sana. "Hallo. Lo denger, gue tunggu lo disini 15 menit lagi" "Mager" Kepala Rere serasa akan meledak mendengar ucapan Abian. Emosinya sudah diubun-ubun. "Sialan lo. Lo yang suruh gue datang. Gue juga bilang apa lo tinggal balikin disekolah udah beres. Gue gak mau tau pok-" Ucapan Rere dipotong Abian. "Gue shareloc lo datang ke tempat gue kalo mau hp lo balik" Tut tut tut Sambungan telpon diputus Abian secara sepihak. Lagi-lagi Rere hanya bisa menggeram kesal. **** Dengan ojek online Rere berhasil berdiri di depan rumah dengan pagar menjulang tinggi. "Pak, ini bener rumahnya Abian" Tanya Rere pada satpam yang berjaga. "Iya neng. Neng temennya mas Abian?" tanya satpam itu ramah. "Iya, pak. Kami udah ada janji" "Oalah. Silakan masuk neng jarang-jarang Mas Abian bawa temen wanita. Pacarnya ya neng?" Pak Adi -nama satpam yang Rere baca di nametag kembali bertanya. Rere hanya tertawa canggung mendengar pertanyaan pak Adi. "Makasih, pak" Rere berjalan pelan memasuki halaman rumah besar itu. Didepan pintu yang bercat putih Rere menekan bel. Rumah tampak Sepi. Pintu dibuka dari dalam oleh seorang wanita yang Rere perkiraan berusia diatas 40 tahun itu. "Siang mba. Kak Abiannya ada mbak" tanya Rere ramah sembari memasang senyum manis. "Mas Abi tadi titip pesan kalo ada temannya suruh langsung naik aja ke atas" jelas wanita itu yang Rere yakini ART dirumah ini. "Mari saya antar" Rere hanya mengikuti wanita itu dari belakang. "Pacarnya mas Abi ya neng? Belum pernah mas Abi bolehin temen perempuannya main kerumah" pertanyaan itu sama seperti yang tadi pak Adi tanyakan padanya. "Bukan mbak. Cuma adik kelasnya" "Itu neng kamarnya paling ujung. Mbak kebelakang dulu ya bikin minuman" Rere mengangguk lalu mengucapkan terimakasih. Rere berdiri di depan pintu kamar Abian. Menarik dan menghembuskan napasnya perlahan mencoba mengontrol emosi sebelum bertemu Abian. Tok Tok Tok Tak ada jawaban. Berapa kali mengetuk pintu masih tak ada jawaban. Dengan sedikit nekat Rere mencoba memutar gagang pintu dan ternyata tidak terkunci. Masuk. Enggak. Masuk. Enggak. "Sebodolah! udah terlanjur" gumam Rere mencob mendorong daun pintu. Lampu kamar masih mati hanya ada cahaya matahari dari sela- sela gorden dan lampu tidur dan masih menyala. Rere urungkan niatnya untuk membangunkan Abian saat melihat ponsel miliknya berada di samping bantal yang pria itu tiduri. "Akhhhh" Rere berteriak nyaring saat tangannya tiba-tiba dicekal ketika akan mengambil ponselnya. Karena tidak siap tubuh Rere oleng menimpa tubuh Abian yang masih berada di atas kasur. "Maling" desis Abian tajam mengeratkan cekalan tangannya pada tangan Rere ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN