Bocor-bocor

1364 Kata
"Ke rumah dulu yuk, Teh!" "Yaudah sana. Papa, Mama, sama Abang duluan ya?" ujar Haji Abrar berpamitan yang ditanggapi dengan anggukan saja oleh gadis bungsunya, Rilly. "Jadi, 'A Ali belum pulang, Ra?" tanya Rilly dengan wajah menelan kekecewaan. Untuk pertama kalinya, selama melewati Salat Tarawih dua puluh tiga hari, baru kali ini dia tak melihat calon suaminya itu berdiri di saff paling depan. Ya maksudnya gini lho, bagi Rilly punya calon suami gantengnya bangetz pake 'z' itu lebih bahaya untuk dibebaskan daripada punya uang sepuluh karung. Demi kolor Spongebob bolong-bolong Rilly khawatir. Khawatir Ali nyantol ke cewek lain. Begitu maksudnya. "Teh Rilly nggak usah khawatir. Palingan kayak tahun kemarin ada event buka bersama para kolega di hotel. Makanya, Aa sebagai Kepala Chef hotel lagi sibuk-sibuknya sekarang. Kalau masalah nyempetin Salat Tarawih, Zahra jamin Aa nggak ngelewatin yang satu itu." Penjelasan Zahra masih belum bisa membuat hati Rilly tenang. Aaaaa jika begini caranya, pengin rasanya dia mengikat Ali dengan tali simpul tandu, dipaku di tembok biar nggak kabur. Kalau perlu dilaminating. "Maksudnya nyesek gitu lho, masa udah tiga hari nggak ada kabar. Dua hari kemarin ketemu pas di Masjid doang dan setelah itu Aa kamu malah keluyuran ke hotel lagi." "Jangan heran sih, Teh. Menjelang lebaran rame terus. Bagian Resto hotel kan banyak yang reservasi buat buka bersama." "Iya sih." "Udah dong, Teteh jangan galau. Mendingan ke kamar Aa yuk! Abrik-abrik kamarnya, kali aja nemu foto cewek lain hahaha." "Aaaaa Zahra, jangan dong!" . . . Yang... Kamu tega ihhh:( nggak ada kabar. Ceklis mulu dari kemarin. Bahkan no hp kamu aja kagak aktif mulu? Lagi numpukin cewek ya? Kang Aliiiiiii:((( kangen Hiks hiks? teganya teganya Bang Toyib nggak pulang-pulang? Sayangku, cintaku, gantengnya aku bales dong, adinda kangen sama kakanda:((((( marah nih-_- Awas ya! Nanti malam pertama tidur di sofa. Sana nininina sama bantal sofa aja jangan sama Rilly! Rilly nggak mau kasih request an Aa yang pengin banyak anak nih! Awas ya? pokoknya malam pertama jangan deket-deket. Don't touch me, you know! Awassss aja kalau ketemuuuu Rilly perkosaaa kamu, A! Nggak pake ampun! Rilly iket-iket! Aa:( Neng lagi di kamar Aa nih, nggak mau nyusul apa? IHH SUMPAH KANGEN BANGET AING SAMA KAMU! Akang:(( Sayang.... Tau ah capek! Rasa lelah Ali hilang hanya karena membaca chat yang isinya bacotan unfaedah Rilly. Perlahan kedua kakinya itu melangkah bergantian hendak memasuki rumahnya. Riuh santri yang masih bersholawat di Masjid sedikit menjadi penenang hatinya. Jam 11 malam, Ali baru pulang. Wajah lelahnya tak bisa ia sembunyikan lagi. "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikum salam, lembur banget, 'A?" Umi Zainab menyapa Ali yang baru mendudukkan diri di sofa. "Biasalah Umi, hotel lagi ulang tahun ramenya minta ampun. Tahun sekarang mendingan Ali sempet pulang, tahun kemarin Ali baru bisa pulang jam 4 shubuh. Lebih parah. Eh Umi kok belom tidur?" "Sekarang kan malam ke 23, Umi sama Abi mau I'tikaf di Masjid." "Astaghfirullah Aa sampai lupa. Yaudah Umi nanti Aa nyusul, mana malam ke 21 Aa bolos lagi, masa sekarang mau bolos lagi. Terus aja dunia yang dikejar, akhiratnya dilupain! Aliii Aliii." "Nggak papa, Sayang. Kamu udah pucet banget. Allah nggak pernah memaksakan hambanya yang nggak mampu. Lebih baik sekarang kamu mandi gih, eh udah makan belum?" tanya Umi Zainab sambil mengusap rambut Ali dengan sayang. "Udah kok Umi." "Kamu panas gini, Sayang. Kamu demam deh. Gih, nggak usah mandi. Dilap aja terus langsung tidur, minum vitaminnya jangan lupa." "Iya, Umi. Salam buat Abi ya Umi." "Iya nanti Umi salamin. Oiya, ada Rilly di atas. Nggak tahu di kamar Zahra atau di mana?" Mendengar nama Rilly, Ali mengurva mulutnya membentuk senyuman. Dengan langkah cepat dia menaiki tangga dan mencoba membuka pintu kamar Zahra. "Assalam___mu'alaikum. Lho? Kok kosong?" Ali mengerutkan keningnya bingung. Dia mengangkat kedua bahunya tak acuh dan berjalan menuju kamar pribadinya. Dengan wajah mengantuk, Ali memasuki kamarnya. Namun, "Astaghfirullah! Ini kenapa para gadis cantik Aa ada di sini semua?" Ali menghela napasnya lega ketika melihat wajah Rilly yang damai dalam lelapnya. Dengan perlahan dan seperti biasa --menjaga jarak-- Ali menatap lekat wajah Rilly yang mujarab menjadi obat lelahnya. "Maafin aku ya, Sayang. Bukannya nggak peduli, tapi aku bener-bener sibuk. Ya Allah hilangkan semua pikiran buruknya terhadap hamba." Ali memutuskan untuk bebersih badan dan tidur di kamar Zahra. "Hadeh, kenapa gue jadi tidur di kamar penuh hello kitty begini?" . . . "Bangun bangun! Sahur sahur! Rill, Zahraaa! Bangun dong, sahur yuk!" Ali mencoba membangunkan dua wanita yang sekarang sedang tidur dengan posisi aneh. Kepala Zahra di kaki Rilly, begitupun sebaliknya. Dan terbukti memang Zahra yang menyalahi aturan. "Adek gue tidurnya muter kali ya? Untung bukan calon Istri gue yang kayak gitu. Berabe, ada bahan gue ditendang-tendang kalau tidur." "Bangun, Zahra!" Ali hanya berani mengguncangkan tubuh Zahra. Setelah Zahra terbangun, barulah Zahra mengambil alih membangunkan Rilly. "Euummm ngantuk, Bang. Diem! Rilly masih ngantuk." "Rillyku, bangun yuk! Sahur, Sayang!" kata Ali membujuk. "Eummm kok aku denger suara 'A Ali ya?" "Iya ini aku!" Mendengar tiga kata itu, mata Rilly seketika membulat. "Akaaaaaang hueee kangeeeen!" Rilly membuka selimut yang sebelum membungkusnya dan__. Ya Allah, cobaan nikmat buat Ali, Guys! "Hahahaha nggak tanggungjawab, nggak tanggungjawab!" Zahra pergi meninggalkan Ali yang menelungkupkan wajahnya ke tembok. Sedangkan Rilly yang hanya memakai tank top dan hotpans terdiam sambil cengengesan tak jelas. "Aa lagi main petak umpet ya?" "Suruh siapa pake baju kurang bahan gitu?" "Rilly gerah semalem, 'A. Makanya pake baju daleman aja." "Pake baju yang layak! Sekarang.juga!" kata Ali penuh penekanan. "Nggak mau ngintip-ngintip dulu, 'A? Boleh kok Aa lirik Rilly lama, tapi jangan kedip aja hahaha," ujar Rilly diiringi tawa seraya memasuki toilet dengan baju panjang tersampir di lengannya. "Huuf Ya Allah, cobaannya jangan yang nikmat-nikmat. Takut nggak kuat," pekik Ali tertahan. Tak lama, Rilly keluar dengan pakaian sopan juga jilbab sederhananya. "'A." "Heum?" "Nggak kangen?" "Kangen lah. Tapi emang harus gimana?" "Kemana aja tiga hari nggak bales pesan? Nggak angkat telpon? Lagi selingkuh?" "Kamu mau Aa selingkuh?" "Jangan dong." "Hotel tempat Aa kerja lagi ulang tahun. Jadi ada event besar-besaran yang menuntut Aa sebagai Kepala Chef harus selalu stay menyajikan jamuan buat tamu. Nggak mungkin Aa hanya mengerahkan Chef junior aja kan? Walaupun Aa yakin mereka semua mumpuni dalam memasak, tapi tanggungjawab Aa sebagai Kepala Chef tuh di mana?" "Iya tapi, ngasih kabar aja susah." Rilly melenggang pergi meninggalkan Ali yang mengusap dadanya sabar. . . . "Rilly tumben diem?" tanya Umi Zainab penasaran. "Lagi ngambek ceritanya, Umi." Ali yang menyahut. "Ngambek kenapa?" "Nggak ngambek kok, Umi. Cuma sedikit kesel aja karena 'A Ali nggak ngabarin barang sekatapun selama tiga hari ini. Tapi Rilly tarik rasa keselnya, harusnya Rilly ngerti sama kesibukan 'A Ali. Maafin Rilly ya, 'A?" Ali meletakkan wajahnya di kedua tangannya yang ditekuk. Menatap Rilly lembut dengan senyuman yang kata Rilly bikin s**********n cenat-cenut. "Aa juga minta maaf ya. Harusnya Aa nyempetin ngasih kabar sama kamu barang 'hai' doang. Tapi Aa malah sengaja matiin hape biar fokus." "Ademnyaaa.... Aaaaa mereka lama-lama jadi couple favorit Zahra setelah Abi Umi nih." "Abi sama Umi mau ke toko ya. Jaga rumah." "Iya, Umi." "Zahra ke atas ya, 'A. Mau bantuin Syifa ngerjain PR." "Iya." Tersisa Ali dan Rilly berdua saja di ruangan ini. Ali melihat Rilly yang banyak menunduk. Tak biasanya Rilly seperti itu. "Kenapa?" "Nggak papa." "Jangan remehin lho, aku peka lho." "Halah! Tetep aja kamu sama pintu mall lebih pekaan pintu mall. Pintu mall lebih ngertiin aku." Analogi macam apa itu? "Masih marah?" "Nggak. Nggak marah kok," sahut Rilly sewot. "Aku pulang ya. Udah siang. Udah macam anak panti aja numpang di rumah orang." "Rumah orang kamu bilang? Selama kamu pakai cincin itu, rumah ini rumah kamu juga. Kenapa sih, Sayang?" "Siniin hape kamu!" Ali dengan cepat memberikan hapenya. "Ngapain?" "Diem!" Rilly melihat-lihat segala aplikasi chat dan syukurnya tak ada yang mencurigakan. Galeri pun hanya ada foto makanan, keluarga dan foto Rilly juga Ali sendiri. Rilly yang masih memendam kesal karena seenaknya Ali menjawab 'sengaja mematikan hape' membuka ikon kontak dan mengklik kontaknya yang Ali namai Rillyku, lalu menghapusnya dengan tega. "Nih!" "Ngapain?" "Nggak papa. Aku pulang. Assalamu'alaikum." "Wa'alaikum salam sayang kamu kenapa sih? Hei hei! Dateng bulan ya?" "Apa sih?" "KAMU DATENG BULAN!" "Nggak!" "Hei tunggu!" "Apa sih?!" Ali mengapit Rilly di tembok dan berbisik, "Kamu datang bulan, Sayang. Kamu bocor tuh!" "WHAT?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN