Menunggu 12 Muharram

1362 Kata
Cermin besar menjulang itu menampakkan gadis cantik berpakaian sopan nan anggun. Bergolek ke kanan dan kiri berkali-kali memastikan jika penampilannya sudah perfect. Rilly mengedipkan sebelah matanya ke arah bayangannya di cermin dan bergumam, "Cantik banget sih! Aaaa 'A Ali nggak salah pilih kok, Rilly emang cantik hahaha!" "Pede gila lo! Cantikan gue lah." seru Alwa tak terima. "Yeee diam aja lo kutang basah! Syirik aja lo. Minta dikawinin Bang Fahri noh!" gertak Rilly balik menyerang. "Berantem mulu nih kecoa janda sama cicak duda. Gue kawinin lo bedua!" rutuk Tania jengah. "Aaaa Rill, gue iri deh sama lo. 'A Alinya kenapa nggak suka sama gue aja sih!" protes Moura tak berguna. Rilly hanya terkikik merasa menang. "Bahagia sama yang ini ya, sahabatku sayang. Buang choki-chokian dari otak dan hati lo. Oke?" Melati berkata begitu sambil memeluk Rilly dengan erat. Diikuti dengan sahabat Rilly yang lainnya yang alhasil mereka percis seperti tingkiwingki dipsi lala pooh. Berpelukaaan! "Sayang, ayok ke bawah, pihak keluarga Ustadz Subhan sudah di depan. Yok kita sambut." Rilly mengangguk patuh ketika Mamanya menyerukan kalimatnya barusan di daun pintu sana. Rilly benar-benar dibuat tak menyangka, semuanya berjalan secepat ini. Tadi sore-- sepulang dari curug-- diapun merasa heran ketika Mamanya memasak banyak sekali makanan dan ketika Rilly tanya, Mamanya menjawab, "Lah, kan nanti sehabis Isya bakal kedatangan calon besan." Nah! Darimana Mamanya tahu coba? Tanpa Rilly ketahui, sebelum Ali memutuskan memberitahu Rilly perihal niatnya yang ingin mengkhitbah gadis itu, ternyata lelaki itu sudah melamarnya duluan --meminta restu-- pada orangtuanya. Memang pria penuh tekad dan kejutan. Berikan emoticon tepuk tangan untuk Ali! Dengan anggun Rilly melangkah diapit Mamanya yang tak kalah cantik darinya, diikuti para sahabatnya di belakang. Fahri di bawah tersenyum gembira melihat Adik kesayangannya yang sedang dibaluti gaun sopan yang cantik dengan hijab yang dibentuk sedemikian rupa. Tak perlu menor untuk terlihat cantik, dengan hanya polesan makeup tipis saja Rilly sudah terlihat nyaris sempurna. Karena sejatinya kesempurnaan hanya milikNya. "Assalamu'alaikum," seruan salam yang dilakukan bersamaan terdengar. Fahri dengan semangat menyambut tamu spesial di malam ini. Sedangkan Rilly, Mama dan Papanya, serta sahabat-sahabatnya menunggu di sofa ruang tamu. "Wa'alaikum salam. Silakan masuk, Pak Ustadz, Buk Ustadzah dan yang lainnya." "Terimakasih, Nak Fahri." Ali, beserta orangtua dan keempat saudara kandungnya ditambah istri dari Bilal memasuki rumah megah milik Haji Abrar ini. Haji Abrar dan Istrinya berdiri menyambut dengan ramah kedatangan Ali sekeluarga. Saling bersalaman dan saling berpelukan bagi yang sejenis. "Rilly, sini, Nak!" panggil Farisa pada Rilly yang tertunduk gugup di sofa sana. "Subhanallah!" Ali bergumam pelan dengan mata yang terbuka mantap, terpaku pada Rilly yang cantiknya luar biasa ini. "Jangan lupa astaghfirullah!" Ustadz Subhan mengusap wajah Ali dengan serta merta tawa dari orang-orang yang ada di sekitarnya. "Subhanallah ciptaan Allah ya, 'A. Tapi tetap jaga matanya, jangan dipandang begitu dong kalau belum sah." Umi Zainab mengingatkan. "Tahu tuh Umi, 'A Ali sering mandang Rilly begitu," ceplos Rilly membuat Ali ternganga. "Hah? Jangan ngadu dong, Rill." Jawaban Ali di luar dugaan ternyata. Lagi-lagi mengundang tawa dari semuanya. "Ayok silakan duduk, Han! Waaah jadi besanan nih kita!" seru Haji Abrar seraya merangkul Ustadz Subhan dengan akrab. Ya jelas, mereka itu bersahabat baik semasa sekolah. "Tanpa harus ngejodoh-jodohin eh udah dijodohin sama Allah." "Jodoh emang nggak kemana, ternyata anak kita ditakdirkan bersama." "Silakan, 'A. Abi mau kamu bicara sendiri. Tunjukkan kegentle-anmu!" "Assalamu'alaikum warrohmatullahi wabarokatu," kata Ali membuka pembicaraan dan dijawab serempak oleh semuanya. "Robbisyrohlii shadrii wayassirlii amrii wahlul uqdatan millisaanii yafqohuu qouli. Pertama-tama alangkah baiknya kita panjatkan puji serta syukur kehadirat Illahi Robbi dan juga sholawat serta salam semoga terlimpahkan kepada jungjunan kita Nabi besar Muhammad__." "Shollallahu Alaihi Wassalam." "Kedatangan Ali sekeluarga kesini, dengan tekad hati yang kuat serta merta secercah ketulusan, berniat meminta restu --dari Haji Abrar dan Hajjah Farisa selaku orangtua Rilly, dan juga dari Fahri selaku Kakak Rilly-- untuk bisa mengkhitbah Putri dan Adik kesayangannya menjadi makhthubah untuk Ali. Ali ingin mengkhitbah Rilly sebagai pondasi menuju ajang pernikahan yang sah. Mengajaknya untuk lebih saling mengenal tentu dengan batasan mahram, guna berlatih mensejajarkan jiwa, raga, pikiran, hati, dan prinsip untuk kedepannya ketika mengarungi bahtera rumah tangga dan mereguk susah senang bersama. Ali datang kesini nggak bisa menjanjikan sesuatu apapun itu, karena nggak ada daya dan upaya selain kekuatan Allah Swt.-- yang Ali bisa lakukan hanya berusaha sekuat mungkin --In Sya Allah-- untuk membahagiakan Putri Bapak, menuntunnya menuju jalan yang diridhoi Allah," ucap Ali dengan lantang dan tegas. Tatapan matanya yang penuh keyakinan menghipnotis kedua orangtua Rilly yang dalam diam menyimpan rasa kagum. "'A Ali apakabar?" tanya Haji Abrar memecahkan kecanggungan. Dia ingin menciptakan suasana akrab yang hangat. Ali yang mengerti maksud pengalihan dari Haji Abrar tersenyum dan menjawab, "Baik alhamdullillah, Pak Haji. Sebaliknya, Pak Haji dan keluarga apakabar?" "Saya, Istri saya, dan Fahri mungkin baik. Tapi Rilly lagi nggak baik kayaknya." "Hah? Apa sih Papa?" Rilly yang merasa disebut namanya kian menyelah. "Iya jantung kamu lagi nggak baik kan detaknya? Degdegan gitu kan?" goda Haji Abrar mengundang tawa untuk kesekian kalinya. "Aaah Papa tahu aja. Bukan cuma jantung yang nggak baik, hati Rilly juga udah lumer meleleh kemana-kemana. Gawat ini! Panggil ambulan!" sahut Rilly tak kalah humoris. "Iya gawat. Makanya dipercepat ya pernikahannya," kata Ali mendapat cibiran dari adiknya --Zahra. "Bilang aja Aa kebelet nikah! Whuuu dasar!" "Eum kalau Saya, tergantung Rillynya. Kalau dilihat-lihat sih Rilly mau," ujar Haji Abrar sambil menatap Rilly dengan tampang menyelidik. "Mau banget," gumam Rilly pelan. Lagi-lagi mengundang tawa. "Tuh. Kalau Allah maunya Rilly sama Ali atau sebaliknya, kita bisa apa?" "Jadi?" Ali berusaha meminta penjelasan. "Kamu pake tanya lagi. Selamat datang calon mantu!" Haji Abrar bangkit dari duduknya, melentangkan tangannya, mengundang Ali untuk dipeluknya. Dengan iringan tawa bahagia, Ali jelas membalas pelukan calon mertuanya. "Terimakasih, Pak Haji." "Papa! Ini calon Papa lho, biasain dari sekarang." "Oiya, Pa." "Begini Pak Haji, rencananya Ali nggak mau nunda-nunda lagi__." "Eh, Umi tunggu. Aa terserah Rillynya aja. Rilly bilang Rilly mau nyelesai-in kul__," kata Ali memotong perkataan Umi Zainab. Namun bagaikan boomerang, perkataan Alipun terhenti karena ucapan Rilly. "Enggak kok nggak. Apa sih, 'A. Lebih cepat lebih baik kok ditunda-tunda," kata Rilly mengundang kerutan di dahi Ali. Setelahnya, Ali tersenyum seraya menatap Rilly dengan manik penuh ancaman. "Apa?" "Katanya kamu belum siap!" "Kata siapa ih ngarang," jawab Rilly tak acuh. "Udah lah udah. Jadi, setelah kami melakukan Salat Istikharah bersama, tepat bulan Muharram tanggal 12 atau empat bulan lebih sebelas hari dari sekarang, itu adalah tanggal bagus pernikahan untuk Ali dan Rilly. Bagaimana?" "Masalah perhitungan Aku serahkan saja sama kamu, Han! Kalau itu yang terbaik kenapa nggak?" "Bagaimana nih dua calon mempelai?" "Kalau Rilly gimana baiknya aja," sahut Rilly. "Kalau Ali sih maunya besok aja!" "Hahahaha, udah kebelet kayaknya nih si Aa. Tenang, 'A. Umur dua lima dedek kecilnya masih perkasa." Jangan salahkan Rilly yang humoris dan cenderung nyablak, lihatlah Papanya! Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya kan? "Nih, 'A." Umi Zainab memberikan kotak beludru berwarna biru pada Ali. "Ini bukan sebagai mahar atau pun apalah namanya, nggak ada maksud apa-apa, Ali mau kita pake cincin ini sampai pernikahan diselenggarakan. Cincin ini hanya sebagai simbol perikatan dan kepemilikan. Hak paten!" "Caelah si Aa posesif amat sih!" kata Zahra menimpali. Ali berjalan menghampiri Rilly, diiringi dengan godaan-godaan dari sekelilingnya. "Kiw kiw awas ahh kelewatan." "Ciyeee ciyeee..." "Bukan muhrim jangan deket-deket!" "Awas kelepasan, 'A." "Pegangnya dikit aja, jangan plus plus-an." "Ekhem cikiwiiiir...." Ali tersenyum manis pada Rilly dan menempati dirinya berlutut di hadapan Rilly yang duduk di atas sofa. Ali membuka kotak beludru itu dan terlihat sepasang cincin emas putih dengan simbol setengah love. Jika cincin didekatkan makan simbol love akan terbentuk dengan sempurna, ini melambangkan kesatuan hati sang pasangan. Dengan perlahan Ali memasangkan salah satu cincin itu ke jari manis Rilly yang cantik. Semakin cantik ketika cincin tersebut terpasang dengan pas di jarinya. Sempurna. "Abi, boleh sun tangan nggak?" tanya Ali jahil. "Eeeeh enak aja kamu. Tunggu halal! Ayok sekarang Rilly pasangin buat Ali. Bahaya nih mereka kalau didekatin terus." "Ihh kita nggak pernah macam-macam kok, Abi. Cuma satu macam aja," kata Rilly santai. Rillypun melakukan apa yang Ali lakukan barusan pada jarinya. Setelah terpasang dengan sempurna, mereka saling melemparkan senyum penuh arti yang orang lain takkan bisa mengerti makna senyum dan tatapan keduanya. Selanjutnya Rilly berkata, "Papa, boleh sun bibil nggak?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN