Aku Sayang Kamu

2219 Kata
Malam gelap yang melingkup bumi tak urung membuat Rilly mengantuk. Padahal, jam sudah menunjukkan angka satu. Matanya seolah tak merasa lelah sama sekali, bahkan yang ada hanya senyuman lebar penuh kasmaran. Kasmaran. Yap! Sesuai dengan lagu yang sedang Rilly dengarkan saat ini. "Pun aku merasakan getaranmu, mencintaiku seperti kumencintaimu, sungguh kasmaran aku kepadamu...." Drrrttt!!! Drrttt!!! Hati Rilly menjerit untuk ke-sekian kalinya ketika pesan w******p datang lagi dari orang yang membuat Rilly menjadi tak mengantuk. Ali, iya anaknya Ustadz Subhan yang kata Rilly bibirnya cipok-able banget dan ternyata emang benar. By Sumo. Disuruh tidur susah banget kamu. Tidur Rilly! R : Yaudah sana Aa tidur. Rilly nggak ngantuk. Maksa ih:( Bukan maksa, Rilly. Aku cuma nggak mau kamu sakit. Kalau kamu sakit besok batal. "Terangkanlah ... Terangkanlah ... Hati Rilly baperannya minta ampun," senandung Rilly main seenaknya ganti lirik. R : Aa serius buat besok? Rilly kaget ih:( jangan becanda dong. Rilly nggak suka di php-in. Sakid rasanya. Masih nggak percaya? Ya Allah. Demi Allah aku berniat melamar kamu besok dengan minta kamu ke orangtua kamu untuk dijadikan istriku. "Aaaaaa!!! Emang bisa nih makhluk Allah paling semok bikin hati gue cenat-cenut!" R : Tapi kan kita baru kenal, A. Masa secepat itu. Itulah gunanya khitbah, Sayang. Khitbah itu adalah fase perkenalan lebih dalam yang dijadikan dasar untuk mengarah pada pernikahan. Kamu minta Aa ceramahin ya? "Adududu pake Sayang-sayangan lagi. Hati gue lumer kayak keju yang dipanasin. O my god o my god, 'A Aliiiiii!!! Temenin Rilly bobok sini hahaha!" R : Btw, bisa juga sayang-sayangan? R : Tapi aku belum siap, A. Aku mau nyelesai-in kuliah dulu rencananya, dan jujur... Aku juga masih ragu Iya. Jujur Rilly masih kaget dan pikirannya masih terombang-ambing mempertimbangkan semuanya. Rilly sadar, tepat Oktober nanti, umurnya menginjak 23 tahun. Angka usia yang menjadi cita-cita Rilly memulai bahtera Rumah Tangga. Tapi, banyak ketapian lain di benaknya. Ragu? Iya, sedikit. Takut salah langkah? Yo pasti. Ya pikir saja sendiri, disaat orang yang baru kamu kenal beberapa minggu --bahkan belum satu bulan-- berniat meminangmu. Banyak yang akan kamu pertimbangkan, bukan? Setertarik apapun kamu pada pasangan yang mengkhitbahmu itu. Karena sejatinya, pernikahan itu amat sangat sakral gitu lho, bukan cuma menyatukan dua insan saja tapi dua keluarga pula. Bukan main-main kan? Harus dipertimbangkan semaksimal mungkin. "Lah malah telepon." "Halo, Assalamu'alaikum." "Wa'alaikum salam. Apa yang bikin kamu ragu?" Aelah ini orang to the point banget. "Rilly." "Eum ... Gini lho, 'A. Ragu pasti ada dong di benak cewek yang dilamar sama cowok yang baru dia kenal. Aku ... Aku sebenarnya masih takut salah langkah. Mau terima Aa, hati Rilly belum yakin. Nggak diterima, sayang orang ganteng disia-siain hihihi." "Apa yang bikin kamu nggak yakinnya? Aku harus ngapain biar kamu yakin?" "Rilly ini kan belum selesai kuliah dan Rilly mau__." "Aku bisa tunggu. Dengerin. Rillya Adistya Agitsni, Aku berniat mengkhitbah kamu bukan untuk menambah pelik di otak kamu. Semua bisa disejajarkan. Itulah gunanya khitbah, berlatih mensejajarkan langkah, prinsip, hati, dan jiwa. Kalau yang bikin kamu ragu karena kamu belum selesai kuliah, itu jelas bukan alasan yang susah. Waktu bisa ditunggu. Terus kalau alasan kamu ragu karena baru kenal, justru itu aku lamar kamu biar kita bisa saling mengenali luar dalam. Selama menunggu akad nikah, kita sudah ada ikatan di mana hubungan kita sudah terikat satu langkah di bawah pernikahan walaupun tetap masih belum mahram. Setidaknya, aku udah ikat kamu supaya nggak ada yang bisa deketin kamu. Sebatas kesepakatan berkomitmen, yang menunjukkan pada orang jika kita on the way ke pelaminan. Jadi ikatan ini memperkuat agar kita saling jaga hati." "Kalau faktor cinta?" Akhirnya satu alasan besar yang mengganjal di hati Rilly terucap sudah. O, ayolaaaah! Semua perempuan itu bermain dengan perasaan. Yang dia perlu tahu dari lelaki yang meminangnya adalah perihal Cinta. Ali terdiam lama di seberang sana. Membiarkan Rilly tenggelam sendiri dalam kegundahan. Dalam resah dan mata yang perih menahan bulir bening yang mendesak keluar, Rilly memutuskan sambungan tanpa bersusah payah basa-basi untuk berpamitan. "Apa gue bilang? Diam kan dia?" Rilly menenggelamkan wajah mungilnya pada bantal Keroppi yang menguarkan aroma lavender favoritnya. Terisak kecil mengisi waktu yang semakin lama menenggelamkannya ke alam mimpi. Sedangkan di seberang sana, setelah melaksanakan Salat Tahajud, Ali kembali menaiki ranjangnya. Memikirkan satu faktor yang Rilly tanyakan padanya beberapa saat lalu. "Cinta? Rill, bukannya aku nggak cinta, tapi aku masih bingung mau namain rasa ini sebagai apa," gumam Ali dalam kesendiriannya. "Bismillah, besok aja gue jelasin ke dia secara langsung." . . . "Lah, Aa pagi-pagi udah galau aja. Yang semangat dong! Ntar malam kan mau lamar doinya," goda Zahra menambah kepelikan di kepala Ali. Tak berniat mendebati adiknya itu, Ali bangkit dan melenggang pergi meninggalkan Zahra yang cemberut karena tak direspons oleh Kakaknya si Mahatega itu. Lelaki itu berjalan ke halaman, menilik mobilnya yang sedang dipanasi. Dirasa cukup, Ali menghampiri mobilnya dan menaikinya. Sebelum kakinya menginjak pedal gas, dia mengetikkan pesan untuk seseorang di seberang sana. A : Jangan marah. Sekarang aku tunggu di depan rumah. Dia juga mengetikkan pesan untuk satu orang lainnya. A : Lo siap, bro? Gue otw. Yoi. Cepek se-jam ngawasin kalian. A : Gilaaaaaaa!!! Gue sama Sumo juga ya. Nggak enak jadi sapi congek. A : Sip. Empat roda berputar perlahan, menantang matahari yang bersinar di ufuk timur sana. Pikiran Ali kacau sedari semalam. Dia bukan bermaksud membuat Rilly bertanya-tanya, tapi masalah itu ada waktunya. "Aku udah janji mengucapkan cinta hanya untuk Istriku nanti. Tunggu saatnya, Rilly." Tak butuh waktu lama menuju rumah gadis itu. Terbukti, hanya dua menit saja Ali mengerahkan setirnya, kini dia sudah sampai. Tak lama kemudian, Ali melihat Rilly dengan busana Islami yang rapi dan kekinian memasang wajah bingung, karena Fahri dan Alwa dengan kompak mengapit tangan Rilly, membawa Rilly ke arah mobilnya. Hatinya mencelos melihat mata bawah Rilly yang tampak bengkak. "Belum apa-apa, gue udah bikin dia nangis. Cowok payah lo, Li!" "Silakan, Tuan Putri!" Terdengar suara Fahri berkata seraya membukakan pintu penumpang depan untuk Rilly. "Hah?" Mulut gadis itu terbuka seperkian detik ketika melihat siapa orang di balik jok kemudi. Sekaligus terkesima ketika senyuman lembut dari pria itu ia terima. "Bang? Kok?" Rilly membalikkan tubuhnya ke arah jendela dan menghentikan ucapannya --menahan segala pertanyaan yang menyerang kepalanya-- ketika dilihatnya -- Fahri, Abangnya, sudah menaiki motor sport pribadinya bersama Alwa. "Apa maksudnya sih ini?" gumam Rilly pelan. Ali melajukan mobilnya santai, tak mengacuhkan pandangan Rilly yang meminta penjelasan. Rilly pasrah setelahnya. Sejujurnya dia penasaran maksud Ali apa, tapi hatinya berkata lihat saja nanti. Keheningan mengudara, tak ada yang mau mengalah memulai obrolan. Sampai akhirnya Rilly merasa bosan dan berceletuk, "Katanya nggak boleh berdua-duaan!" Ali terkekeh dan menjawab, "Berenam kok. Sama malaikat Roqib dan Atid." "Katanya cowok dan cewek berduaan, nanti yang ketiganya setan." "Iya setan rindu." Rilly memutar bola matanya jengah. Rindu-rindu dari Hongkong! "Masih marah ya?" "Buat apa marah? Nggak ada yang bikin kesel." "Masa sih? Terus kenapa pesan aku cuma di-read aja?" "Males ngetik." "Voice note." "Males ngomong." "Ini ngomong." "Kepaksa." Ali menyengir geli. Ingin rasanya mendaratkan tangan di kepala Rilly yang tertutupi hijab bermotifkan bunga-bunga itu. "Kok cantik?" "Apaan sih?" "Kok apaan?" "Nggak jelas tahu nggak." "Ketus banget. Mana nih Rilly yang bawel dan bikin gemes semua orang?" "Ditelan bumi." "Hahaha jadi pengin ikut nelan kamu. Udah ah, udah ketus-ketusannya__." "Ya abis kamunya," rengek Rilly hampir menangis. "Akunya kenapa?" "Nyebeliiiiin. Kang php dasar!" . . . "Mau ke mana sih ini?" Ali menaikkan kedua alisnya ketika Rilly meminta jawaban. "Kamu mau culik aku ya?" "Kalau iya kenapa?" Ali melirik wajah mungil Rilly yang memerah dan terlihat gadis itu sedang mengulum senyum. "Ya mauuuu...." Tawa Ali mengudara. Ali bersyukur Rilly ini tak bakat marah lama. Sudah diciptakan menjadi orang yang ceria. Ketus sedikit, ceria lagi. "Ngantuk." "Bobok gih! Nanti aku bangunin kalau udah sampai," kata Ali memberikan ultimatum. "Nggak ah, nanti diperkosa kamu." See ... Rilly dan mulut frontalnya. Ckck. "Mau nanya, perkosa tuh apa? Kamu tahu artinya perkosa?" Rilly gelagapan ketika pria di sampingnya menanggapi demikian. Tak menyangka jika Ali ikut membahas hal yang unfaedah ala-ala Rilly. "Eum eum perkosa itu ... Apa ya? Tumpuk-tumpukan__." Ali berusaha menawan tawanya dan menatap Rilly jahil. "__bikin anak mungkin? Eum...." Rilly balik menatap Ali yang menunggu lanjutannya. "Nyalurin kecebong berhelm biar berenang." Sekian. Tawa keras Ali mengalun membelah keheningan yang semula melingkup. Rilly hanya mengerucutkan bibirnya tanda dia malu. Malu mengakui jika ceplosannya itu tidak berfaedah sama sekali. "Hahahaha." "Udah ketawanya, 'A!" "Ya Allah ... Hahaha." "Aa ih nyebelin ya! Rilly ngambek nih. Emangnya ada yang salah sama kecebong berhelm berenang?" Ali memegangi perutnya dan berusaha menghentikan tawanya. Traffic lamp sudah memperlihatkan cahaya hijau, berpasang-pasang roda melaju bersamaan, dengan kecepatan laju masing-masing. "Kecebong berhelm tuh apa?" Kenapa nih laki jadi keppoan gini? Kentara centilnya sekarang. "Kecebong yang pake helm! Puas! Jangan lupa helm SNI untuk mereguk keamanan dan kenyamanan!" Tawa Ali kian menggelegar lagi dan lagi. Awet muda jika dia bersama Rilly terus. "Kita mau ke mana sih, 'A?" "Mau ke curug Cimahi." "Hah? Ngapain?" "Aku pengin kamu teriak di sana. Lepasin semua sesak yang kamu rasa. Aku nggak bisa ngebiarin sesak itu terus menggerogoti hati kamu, apalagi si sesak datang karena aku." Rilly terdiam beberapa saat dan berkata, "Tahu aja Rilly kurang piknik. Tapi Rilly nggak bawa baju ganti. Rilly mau basah-basahan di sana. Bilang-bilang kek, kalau ngajak ke curug!" "Ada kok baju ganti. Udah dibawain Sumo." "YANG BENER?! YEAAYUHUUU HAHAHA!" . . . "Siap ngelewatin ribuan anak tangga untuk ke bawah??!" pekik Fahri dengan alaynya. "Hah! Abang alay Abang alay Abang alay!" Rilly menyusup ke celah antara Fahri dan Alwa, lalu melenggang turun mendahului ketiganya. "Eh, bro! Sana nyusul!" kata Fahri sambil menepuk bahu Ali. Dengan cepat Ali menyusul Rilly yang sudah berbeda beberapa anak tangga dari anak tangga tempat dia berdiri. "Tunggu dong, cantik!" rayu Ali membuat rona di kedua pipi Rilly. Bisa juga tuh cowok gombal! Halah, ternyata semua cowok sama aja! "Sepi ya, 'A?" "Ini kan bukan weekend. Jadi yang datang juga jarang. Biarin, biar kamu bebas teriaknya." "AAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!" Hampir saja Ali melompat saking kagetnya. Tak menyangka Rilly akan teriak sekarang juga. Ali kira nanti saat mereka sudah dekat dengan curug. Nih cewek. Unik sih unik, tapi sablengnya nggak usah dengan cara ngagetin juga. "Rilly wedan! Bikin kaget aja lu. Lu ngebangunin adek kecil gue hanya karena teriakan!" protes Fahri tak terima. "Tahu, bikin kaget aja!" Alwa menimpali. "Bede emet keleen mee ngemeng epe!" Ali terkikik kecil mendengar ucapan Rilly. Sampailah mereka di bawah. Hawa dingin menancap sampai ke ubun-ubun. Ali, Fahra, dan Alwa meregangkan ototnya meretas lelah yang ada setelah melewati ribuan anak tangga. Berbeda dengan Rilly yang macam bebek langsung berkucipek-kucipek. "Calon lo, Li!" "Unik, Ri. Awet muda gue kalau sama dia." "Sono! Bilang baik-baik semua penjelasan yang lo udah siapin. Adek gue bukan tipe cewek ribet, dia pasti ngertiin prinsip lo!" Alwa memberikan kedua jempolnya ketika Fahri menyarankan Ali untuk mulai berbicara. Pun Ali hanya mengangguk lalu melenggang menghampiri Rilly yang asyik di atas batu besar di sana. Ali menatap takjub wajah cantik ciptaan Allah yang kini sedang terpejam menerima percikan kecil air curug dengan pasrah. Senyuman tetap ia sunggingkan walau bibirnya kian memias karena kedinginan. "Nih pake jaketnya," kata Ali mengagetkan Rilly. Rilly menerima jaket kulit hitam yang Ali ulurkan dan memakainya. "Harusnya sih dipakein. Cut! Cut! Diulang-diulang!" Kekehan Ali terdengar kembali. Rilly tahu Ali tipe cowok yang sangat menghormati makna mahram, sehingga walaupun dia berkata begitu, jaket kulit Ali tetap didekapnya. "Duduk, 'A. Brrr dingin airnya." Ali mengikuti saran Rilly. Menempatkan tubuhnya di samping Rilly dengan jarak sekitar dua jengkal. Rasanya tak tahan lagi untuk menghalali Rilly jika begini terus. Bawaannya mau peluk terus. "Cinta." Rilly tersentak ketika Ali mengucapkan satu kata yang amat berpengaruh untuk kesehatan hatinya dengan nada datar tanpa intonasi. "Cinta aku hanya milik Allah, keluarga, dan istriku kelak." Ali menghela napas sejenak dan melanjutkan ucapannya. "Jika ditanya cinta, aku bingung mau jawab apa. Karena aku sendiri belum bisa menyimpulkan rasa apa yang sedang aku rasakan kalau dekat kamu." "Heumm..." Rilly menanggapinya dengan dehaman. "Aku berjanji pada diriku sendiri, akan mengucapkan kata cinta hanya untuk istriku nanti. Jika memang kamu adalah jodohku, suatu saat kamu pasti dengar pernyataan cinta dari mulut aku." "Heummm..." Lagi-lagi Rilly hanya bergumam. "Aku boleh tanya sesuatu sama kamu?" "Boleh." "Aku nggak berani nyimpulin tapi menurut kamu kalau rasa takut kehilangan, selalu ngerasa bahagia kalau ketemu, punya tekad buat bahagiain pasangannya, ikut sakit kalau lihat pasangannya sedih, itu rasa apa? Soalnya itu yang lagi aku rasain sama kamu." Rilly yang semula menunduk, seketika mendongak menjatuhkan manik matanya pada mata hitam yang sedang menatapnya lekat. Merasa belum layak bertatapan lama, Ali mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Walaupun hatinya ingin sekali berlama-lama menyelami manik coklat madu itu. "Hihihi ... Oke Rilly tunggu kesiapan Aa ucapin kata cinta. Rilly hormatin prinsip hidup Aa. Dengan hanya tahu perasaan Aa lain sama Rilly, itu udah cukup kok." "Makasih ya, semuanya emang harus dibicarakan, bukan? Selesai kan? Satu yang mesti kamu tahu, aku cuma berani bilang, aku sayang kamu!" Rilly terkikik kecil seraya menggigiti bibir bawahnya gemas. "AAAAAAA!!!!! YA AMPUN 'A ALI SWEET BANGET DEH, BIKIN RILLY PENGIN DITUMPUKIN MACAM BEBEK YANG RILLY LIHAT DI JALAN KEMARIN HAHAHAH!" Rilly refleks merangkul leher Ali, membawa kepala Ali ke dadanya. "Rilly Rilly jangan gini dong, astaghfirullah!" "Bodo amat! Aaaa Rilly juga sayang sama Aa!" Bukannya melepaskan, dekapannya malah semakin erat. Mereka tergelak bersama ketika Ali menyahut, "Astaghfirullah Ya Allah ... Dosa nggak kalau suka sama posisinya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN