Bakso Cinta

1159 Kata
"Tam," panggil seseorang dari belakang sana. Tama pun berhenti lalu menoleh. "Apa?" "Nanti malem bisa, kan? Anak-anak pada berharap elu dateng." Yuda tampak tersengal-sengal ketika sampai di dekat Tama. "Ke mana emang? Nanti malam ada acara sendiri, gua." Mereka berdua melanjutkan langkah sambil mengobrol. "Kita kan ada acara di Kafe Merdeka." "Gua enggak bisa kayaknya. Ada acara sendiri." "Acara apaan? Tumben. Sama si Alea? Gue liat dia tadi dateng sama Dean." "Mereka memang mau tunangan. Udahlah, enggak usah dibahas." Baru saja ingin melangkah lagi, di depan sana mereka melihat dua orang yang baru saja disebut oleh Yuda. Alea dan Dean terlihat berjalan dengan senyuman yang tiada hentinya. Mereka terlihat sangat bahagia. Belum sempat melihat Tama, mereka membelok ke lorong lain. Ada yang berdesir nyeri di dalam hati. Namun, Tama berusaha meredamnya. Yuda yang bertanya tentang mereka lagi pun tak mendapat jawaban yang pasti dari Tama. Lelaki itu tetap berjalan dengan mulut diam seribu bahasa. Seharian itu, Tama menyibukkan diri dengan pasien-pasiennya. Ia tak mau lagi teringat masa lalunya. Namun, semakin ia berusaha melupakan, kenangan itu malah semakin terlihat nyata. Ketika tengah memeriksa pasiennya, Tama teringat senyuman Alea. Mereka pernah satu ruangan menangani pasien yang menginginkan mereka bersatu. Seorang wanita lansia yang mendoakan mereka bisa menikah kelak. Tama menggeleng kepalanya seraya mengedipkan kedua mata dengan cepat. Lalu kembali fokus memberikan penjelasan pada dokter-dokter koas yang masih memperhatikannya. Lelaki dengan baju scrub warna biru itu telah usai menjalani aktivitas bersama mereka para dokter muda. Setelah itu, Tama kembali ke ruangannya lagi. Suara ketukan pada pintu membuat Tama menoleh segera. Pria itu membukanya dan terlihat seorang gadis manis dengan senyuman di bibir ingin masuk. "Boleh aku masuk?" Meski berat, Tama tetap tak melarang Alea masuk. "Boleh." "Oke. Makasih, Mas." Gadis dengan wajah beeseri itu segera masuk. Lalu duduk di depan meja Tama. "Ada apa, Al? Tumben." Tama meneguk air putih dalam gelas yang ada di atas mejanya. "Loh, bukannya kemarin-kemarin aku tiap hari ke sini? Mas Tama tumben bilang begitu." "Oh, enggak. Enggak apa-apa. Maaf, ya. Lagi banyak pikiran soalnya." Tama gelagapan. Sungguh, ia tak bisa membenci gadis itu meskipun ia telah memilih lelaki lain. "Mikirin apa, Mas? Mas Tama mau kan nanti datang di acara pertunangan aku sama Mas Dean?" Tama bingung. Dia tak bisa menjawab lagi. Hingga pertanyaan dari Alea itu terulang dua kali, Tama masih terdiam. "Mas." "Mas Tama kenapa?" "Eh, enggak. Insyaallah aku akan datang. Pekan depan kan, ya?" "Iya, Mas. Oiya, kemarin Mas Tama belum sempat bilang. Katanya mau menyampaikan sesuatu. Tapi, keburu mau hujan kan. Terus Mas langsung pergi aja." "Maaf ya, Al. Aku ... ada pasien lagi. Nanti kalau bisa, aku pasti datang." Tama langsung berdiri dan keluar mendahului. Sementara Alea masih bingung dengan sikap Tama yang tiba-tiba berubah. Sesungguhnya, luka itu masih terasa begitu perih Tama belum siap menyaksikan Alea bertunangan dengan sahabatnya sendiri. Tama menyandarkan punggungnya di balik dinding Meninggalkan gadis itu di ruangannya sendirian rasanya begitu jahat. Semakin terpejam, semakin terlihat wajah Alea, semakin susah ia melupakannya. Tama kembali melangkah untuk memeriksa salah satu pasien di ruangan lain. *** Tama berjalan menyeberang ke gedung depan rumah sakit utama. Ia berniat mencari Nafisah. Baru saja masuk ke lobi, pria tampan itu langsung menemukannya. Nafisah terlihat tengah berbicara dengan Elfa sambil berjalan. "Jadi enggak nih?" Tama langsung menyerobot dengan pertanyaan yang ambigu menurut Nafisah. Dua gadis itu berhenti tepat di depan Tama. Mereka saling melempar tatapan. Elfa yang sejak tadi melihat dokter tampan itu pun tak bisa menyembunyikan senyumannya. Gadis itu menyenggol lengan Nafisah. "Gue duluan ya, Naf. Happy deh buat elu." "Ish, jangan ngeledek dong. Cuman temenan gue sama dia," bisik Nafisah. "Halah. Temenan kok tiap hari ngapel. Dah ah, pulang dulu gue. Bai." Elfa mengangguk sopan pada Tama sebagai tanda menghormati yang lebih senior. Apalagi mereka masih berada di lingkup rumah sakit Lalu, saat ini hanya tinggal mereka berdua saja. "Gimana?" "Apanya?" Nafisah membalas santai. "Jadi enggak?" "Ke mana?" "Ck, pake pura-pura lupa lagi. Ya jalan. Mama udah nelpon tadi. Suruh buru-buru cari cincin juga buat kamu." "Hem." Raut wajah Nafisah terlihat lesu. Ia berdecak sambil menggigit bibir bawahnya. "Kok malah bingung. Jadi enggak? Duh, kelamaan." Tama langsung menggeret tangan gadis itu dan mengajaknya berjalan lebih cepat ke arah parkiran mobilnya. Sampai di sana, Tama membukakan pintunya untuk Nafisah dan gadis itu pun segera masuk ke dalam. "Loh, sepeda motor saya gimana nanti?" "Biar aku telpon temen nanti buat bawa motor kamu di tengah jalan. Terus setelah kita selesai, baru kamu naik sepeda motormu sendiri. Mau kuantar sampai rumah nanti kamu protes lagi." "Hem." Gadis itu menghela napas panjang. Ia pasrah dengan keadaan. Tama pun mulai menyalakan mesin mobilnya. Namun, beberapakali dicoba, mobil tak mau menyala juga. Pria dewasa itu bingung. "Perasaan enggak kenapa-napa ini mobil. Tadi pagi aman-aman aja." "Lah, mogok? Yah, gimana sih, Bang." "Dibilangin jangan manggil aku abang-abang lagi. Masih aja diulang. Panggil aku 'Mas'!" Masih dengan hati kesal, Tama membuka seat belt lagi dan hendak turun. "Iya-iya, Mas Bujang Lap ...." Nafisah lantas menutup mulutnya rapat-rapat karena mendapat lirikan tajam dari Tama. "Jangan godain! Jangan buat kesabaranku habis. Oke? Atau kita enggak akan pulang." Nafisah mengangguk saja. Ia menatap Tama yang mulai turun dan membuka bagian mesin mobilnya. Lelaki itu mengecek keadaan mobil ketika azan Maghrib sudah mulai berkumandang. Gadis itu pun ikut turun untuk melihat Tama yang masih bergumam sendiri sambil membenahi apa yang bermasalah. "Jadi enggak nih? Udah Maghrib." "Enggak bisa ini. Harus dibawa ke bengkel. Gimana kalau pake sepeda kamu aja?" Nafisah mendelik dengan bibir ternganga. Selesai mereka salat di musholla dekat rumah sakit, Tama langsung menghampiri Nafisah yang masih memakai sepatunya. Mereka berjalan kembali ke parkiran rumah sakit dan memutuskan untuk menaiki sepeda motor matic dengan warna hitam milik gadis itu. "Bisa enggak?" Nafisah menahan tawanya ketika Tama mulai menaiki kendaraan roda dua itu. Postur tubuh yang tinggi tegap tak cocok mengendarai kendaraan khas orang asia itu. "Bisa lah. Gampang aja. Ya udah, naik!" Tama sudah siap. Dengan ragu, akhirnya Nafisah pun mulai naik di belakang Tama. Mereka berdua mendapat tatapan dari beberapa dokter dan perawat serta pengunjung lain. Sempat merasa malu, tetapi gadis itu berusaha menyembunyikan wajahnya ke samping kanan kiri sampai kebingungan. "Awas, di depan ada polisi tidur. Pegangan dong," ucap Tama yang memang khawatir terjadi apa-apa karena ia tak biasa mengendarai kendaraan yang menurutnya pendek itu. "Udah. Udah pegang baju, Dokter." "Panggil aku Mas kalau di luar rumah sakit. Pegangan yang kenceng. Pinggang aku." "Iya-iya, bawel amat. Eh, bukan mahram lah. Mana mungkin pegangan pinggang." Sepanjang jalan mereka masih saja meributkan hal sepele. Tama pun hanya mengendarai dengan pelan karena khawatir Nafisah terjatuh. "Kita mau ke mana?" tanya Nafisah lagi. "Ke mol. Ke mana lagi. Katanya kamu mau bakso." "Enggak ah. Enggak bagus buat tubuh kalau keseringan. Kemarin habis makan bakso juga." "Terus maunya apa? Padahal aku mau ajak kamu ke tempat makan langganan aku. Namanya gerai bakso cinta." "Halah." Nafisah diam-diam tersenyum. "Kok halah sih? Beneran. Jangan dikira bercanda." "Dasar laki-laki." "Ck." Tama berdecak dan sepeda motor semakin kencang melaju.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN