"Udah belum?"
Sebuah pesan singkat pada aplikasi hijau baru saja masuk. Nafisah yang sedang duduk di depan meja kerja sambil memeriksa berkas-berkas langsung melihatnya. Ia menghela napas panjang, tak bisa langsung menjawab.
Barulah beberapa detik berikutnya, gadis itu berdiri lalu melangkah membuka pintu kamar. Ia mendengar percakapan kedua orang tuanya di bawah sana. Sementara kamar saudara kembarnya ada di sebelah terlihat tertutup rapat.
Gadis itu masuk lagi ke kamar dan membalas pesan ketikan. "Aku ragu, nih."
Seseorang yang tengah menyandar dipan ranjang di seberang sana mulai berdecak juga. "Udah, yakin aja. Lagian ingat perjanjian kita. Tolong banget lah."
"Tapi aku takut. Aku kan baru aja jadi dokter. Masa iya langsung ngajuin proposal nikah. Lucu aja. Apalagi selama ini mereka tau kalau aku enggak pacaran. Pasti mereka curiga aku udah ngapa-ngapain duluan."
"Bilang aja sih ada yang mau ta'aruf. Sama-sama enggak pacaran. Tapi mau serius."
"Gitu ya? Dokter yakin ini bakal berhasil? Saya yang deg-degan. Mana baru kali pertama. Gini amat nasibnya."
Tama di seberang sana terpingkal-pingkal. Entah apa yang lucu dalam percakapan lewat tulisan itu hingga sosok dokter tampan itu sudah merasa nyaman saja. Tama tetap tak berhenti meminta tolong.
"Besok aku traktir bakso."
"Dih, bakso doang?"
"Lah terus apa maunya?"
"Apa kek. Yang agak istimewa."
"La iya apa? Kan, saya juga bingung."
"Yang lebih enak daripada bakso."
"Ya udah buruan bilang sama orang tua kamu dulu."
Nafisah menggaruk kepalanya. Gadis dengan piyama tidur itu masih bimbang. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya ia mulai keluar. Ia mengetuk pintu kamar Nasha, sang kakak. Tiga kali pintu diketuk, tak juga dibukakan. Ia pikir pasti Nasha sudah tidur.
Nafisah pun lantas turun dengan perlahan dari lantai atas. Gadis itu menarik napas dalam-dalam lalu mengembusnya dengan kasar. Sampai di dekat mereka, kedua orang tuanya yang sedang duduk menikmati film di layar televisi, Nafisah langsung duduk.
"Mah, Pah, lagi asik nonton apa?"
Mereka berdua menoleh bersamaan. Adam pun segera menjawab, "Ini film nostalgia Mama sama Papa. Dulu kami sering nonton bareng. Tentunya setelah menikah." Lelaki yang masih terlihat gagah meskipun usia sudah tak lagi muda itu tertawa sambil merangkul sang istri.
"Kamu kok belum tidur, Na? Ada banyak kerjaan, ya? Banyak pasien kamu?" Mamanya menanggapi juga. Sebagai wanita, mudah saja membaca raut wajah putrinya yang tampak gelisah.
"Iya, Mah. Banyak banget." Gadis itu meringis.
"Jadi ada apa?" tanya mamanya lagi.
"Jadi ... ada yang mau Na sampaikan, Mah, Pah. Tapi, jangan marah dulu. Na enggak pacaran, kok."
Mendengar kalimat itu, Adam langsung menegakkan punggungnya. Lelaki itu terlihat serius sekali memperhatikan putrinya. Ada tatapan silih berganti dengan sang istri yang mulai mencurigai sesuatu.
"Ada apa, Na? Apa kamu mau menyampaikan sesuatu yang sangat penting?"
"Iya, Pah. Jadi gini ... ada yang ngajakin ta'aruf." Jantung Nafisah terasa berdebar begitu kencang. Ia sudah yakin akan jawaban mereka, yaitu sebuah penolakan.
"Ha!" Kedua mata Bella, sang mama, langsung mendelik. Selama ini anak gadisnya itu tak pernah mengenalkan lelaki manapun pada mereka. Terlebih, Nafisah adalah anak yang kalem. Ia lahir hanya berjarak lima menit saja dengan kakaknya. Berbeda dengan Nasha yang mudah bergaul dengan teman laki-laki dan tak heran sifatnya lebih ketus.
"Apa, Na? Ta'aruf? Kamu kan baru aja jadi dokter. Masa iya udah mau nikah?" Sang mama sangat terkejut mendengarnya. Rasanya baru kemarin ia melahirkan anak itu. Ada perasaan belum rela jika sebentar lagi anak itu akan dibawa suaminya.
"Daripada pacaran, kan." Dengan hati was-was, Nafisah menimpali. Sampai di sini, kaki tangannya mulai dingin melebihi es. Ia sudah yakin ucapannya akan ditolak mentah-mentah oleh mereka.
"Siapa yang mau ta'aruf sama kamu? Dia udah kenal lama sama kamu?" tanya Adam lagi. Ditatapnya jam bandul keemasan di sudut ruangan yang tak jauh dari tempat mereka duduk. Tepat pukul sepuluh malam.
"Belum lama, Pah. Cuman, Nafisah sudah ketemu sama orang tuanya. Mereka sama-sama kerja di rumah sakit tempat Na kerja juga. Papanya seorang profesor ahli jantung. Sementara dia sendiri, spesial kardiologi."
Sang mama menghela napas panjang sambil memegangi d**a yang rasanya semakin kencang berdegup. Lalu menyandar sofa dengan tatapan menerawang jauh.
"Mah, kalau Mama enggak ngijinin ... Na enggak apa-apa kok. Enggak akan marah juga."
Mendengar kalimat itu sekali lagi, d**a rasanya sesak. Sang mama menatap suaminya. "Terserah Abang mau kasih ijin dia atau enggak. Aku mau ke kamar dulu." Wanita itu berdiri lalu pergi dengan wajah yang tak bisa digambarkan.
Sampai di sini, Nafisah sudah bisa menyimpulkan. Mereka belum siap untuk merestui hubungan yang mendadak itu.
"Na, kami pikiran dulu. Kita tidak bisa memutuskan dengan cepat." Adam pun ikut berdiri dan langsung menyusul ke kamar.
"Iya, Pah."
Gadis muda itu menghela napas panjang. Ia dibuat tak bisa tenang. Buru-buru Nafisah pergi ke kamarnya lagi dan meraih ponselnya segera. Ada banyak sekali pesan dan panggilan telepon dari lelaki itu. Bukannya tambah lega, kini malah semakin kesal.
Beruntun pesan pertanyaan itu ia baca satu persatu. Nafisah hanya membalas satu kali saja lalu mematikannya benda pintar itu.
"Besok kita bicara."
Begitu pesan sampai pada Tama, lelaki itu langsung mendelik membacanya. Ia ikut tak tenang hingga malam menjelang sunyi dan senyap.
***
Pagi itu, Tama sudah tak sabar ingin tahu jawaban dari Nafisah. Lelaki gagah dengan kacamata hitam dan setelan kemeja putih dan celana bahan itu menunggu di parkiran. Berulangkali ia menatap arloji mahalnya, Nafisah belum juga datang.
"Mana sih. Lama bener datang." Tama bergumam dalam hati.
Sambil menunggu, ia mengirim pesan juga sampai di mana sekarang gadis itu berjalan. Bahkan Tama pun menawari untuk menjemput juga.
Dari gerbang masuk di ujung sana, Tama tak sengaja melihat Nafisah datang dengan sepeda motornya. Lega udah hati sang dokter jantung melihat yang ditunggu-tunggu telah tiba.
Nafisah mengarahkan sepeda motornya ke bagian parkiran sepeda motor. Lalu ia melepas helm dan mengunci kendaraan ringan itu.
"Naf, gimana?" Tama menghampiri dengan wajah cemas.
Gadis berkerudung putih itu pun menghela napas sejenak. "Bingung saya. Mau menyampaikan gimana ya." Nafisah menjawab sambil berjalan.
"Gimana sih? Boleh enggak? Kedua orang tuaku sudah enggak sabar. Coba nanti kalau kamu ketemu mereka, pasti bakal ditanya. Jadi enggak? Kapan? Orang tuamu sudah mengijinkan kan? Dan masih banyak lagi."
"Ya jelas, soalnya Anda kan sudah terlampau jadi bujang lapuk. Sudah seharusnya berumah tangga. Mau sampai usia berapa. Bukannya gitu? Cari yang seumuran aja deh."
"Hem. Aku bukan butuh jawaban itu, Naf." Lelaki itu berdecak dengan wajah kesal. " Tapi ... jawab dari kedua orang tuamu. Mereka jawab gimana?"
Nafisah berhenti tepat di depan sebuah ruangan. "Mereka syok!" Gadis itu langsung masuk ke dalam ruangannya sendiri.
Tama mulai memijat keningnya sendiri. Untuk mendapatkan jawaban yang akurat, akhirnya pria itu ikut masuk. Lalu duduk di kursi depan meja Nafisah. "Tolonglah, Naf. Aku janji apa pun yang kamu mau. Aku akan usahakan."
"Mereka masih berpikir. Belum mau kasih jawaban. Terus saya mesti gimana?"
Tama terdiam sejenak. Pria itu ikut mencari cara lain. "Ya udah. Kebetulan aku ada operasi sebentar lagi. Sebagai gantinya, nanti pulang sama aku." Tama lantas berdiri ingin pergi.
"Buat apa?"
"Kan semalam aku sudah janji mau traktir kamu. Mau apa aja deh, pilih sendiri nanti."
Kedua mata Nafisah melotot. "Serius, Bang?"
"Aku bukan abang-abang dibilangin jangan manggil gitu lagi."
"Ya maap. Habisnya ...."
"Panggil aku Mas." Tama langsung membuka pintu dan pergi dari sana.
Di dalam ruangan itu, Nafisah menahan senyuman seorang diri. Merasa lucu dengan sikap Tama yang menjengkelkan tetapi bisa membuatnya tertawa juga. Nafisah hanya bisa menggeleng kepalanya saja. Lalu melanjutkan memeriksa berkas pasien di atas meja.