"Naf!"
"Naf!"
"Ck, ngeselin banget sih itu cewek."
Tama masih berjalan cepat mengejar Nafisah yang terus melangkah tanpa henti. Tanpa mengindahkan panggilan dari Tama. Gadis itu berjalan menyusuri lorong rumah sakit sesekali menatap jam tangan cantiknya di tangan kiri.
"Naf!" teriak Tama. Satu tangan Tama akhirnya berhasil mencekal tangan Nafisah.
Gadis itu berhenti dan Tama langsung menghadang di depannya. "Tolong bantuannya. Sekali ini aja. Aku enggak bisa jelasin sama mereka karena aku baru saja ditolak sama seseorang."
"Itu urusan Anda. Bukan urusan saya. Anda sengaja menjebak saya, kan?" Nafisah menoleh kanan kiri dengan suara lirih. Ia khawatir ada yang mendengar pembicaraan rahasia itu.
"Aku hanya minta tolong. Mereka memaksaku menikah. Jika hari ini, hari usiaku bertambah tapi belum juga bisa mengenalkan calon istri sama mereka, habis riwayatku."
"Ya cari aja gadis lain. Kenapa harus saya. Kan, sekarang jadinya saya yang susah. Gimana nanti kalau orang tua saya juga kaget? Padahal saya masih 26 tahun."
"Tolonglah, Na."
"Tolong, Na. Tolong, Na. Saya Dokter Nafisah!" ketus gadis itu seraya mendelik.
"Iya-iya. Dokter Nafisah. Kita sama-sama dokter. Saling bantu kenapa, sih."
"Tapi ini enggak mudah. Ini menyangkut kehormatan kedua keluarga besar. Pernikahan bukan untuk main-main."
"Aku tau. Aku enggak mungkin juga bakal menyentuh kamu. Aku janji, setelah beberapa bulan, terserah kamu maunya berapa bulan. Habis itu kita pura-pura aja bertengkar. Terus pisah."
"Enak aja. Saya yang rugi. Masih muda udah jadi janda. Orang mikirnya pasti macem-macem. Udahlah, saya ada pasien lagi sekarang." Nafisah tetap meninggalkan Tama tanpa peduli lagi.
Pundak lelaki gagah itu luruh. Usahanya sudah gagal. Siapa lagi yang bisa membantunya saat ini. Tidak ada. Namun, kedua orang tuanya sudah tahu kalau gadis yang selama ini mereka kira calon istri Tama adalah Nafisah, tak mungkin digantikan oleh gadis lain.
Tama kembali menyeberang ke gedung utama. Ia berjalan melewati banyak orang dengan urusan masing-masing. Begitu menghela napas panjang, ia disambut oleh salah seorang suster yang mengatakan bahwa ada pasien yang membutuhkan penanganannya. Kemungkinan, Tama bakal sampai malam di sana nanti.
"Maaf, Dok. Dokter Arif tidak bisa datang. Kebetulan tidak ada dokter pengganti."
"Ya sudah, biar saya saja. Tolong siapkan keperluannya. Saya akan periksa dulu pasien di kamar 73."
"Baik, Dok."
Seharian itu, Tama banyak sekali menangani pasien. Hingga tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Dilihatnya jam tangan sambil berjalan cepat menuju ruangan pasien gawat darurat, pukul lima sore.
Tama disambut oleh keadaan menegangkan di dalam ruangan. Ia mencoba menyelamatkan nyawa pasiennya lansia yang mengalami kejang. Monitor terus berbunyi semakin lemah, detak jantung pasien mengalami penurunan. Tama meminta alat kejut jantung pada rekan dokternya di sebelah. Lalu melakukan tindakan seperti biasanya.
Setelah suara monitor terdengar rata dan terlihat garis hijau berjalan lurus, batin dalam hatinya begitu menyesal. Ia tak bisa menyelamatkan nyawa lelaki tua yang sudah tak bernapas itu lagi. Setiap kejadian yang ada dihadapannya, Tama selalu teringat sosok Hamzah.
Bagaimana jika kelak, lelaki tua yang setiap hari mengomel memintanya segera menikah itu mengalami hal yang sama dengan pasien-pasiennya. Tama menggeleng pada mereka yang berdiri mencoba menyelamatkan pasien.
"Inalillahi wa innailaihi rooji'un. Tolong, Sus, kabari keluarganya. Pasien sudah menemui ajalnya." Tama mundur dan keluar dari ruangan itu.
Ia berjalan lagi menuju ruangan ganti lalu mencuci tangannya setelah itu goun medis yang ia kenakan dilepaskan. Tama menghela napas panjang sambil menatap cermin. Setelah puas menatap dirinya, Tama keluar lagi. Masih ada jadwal sampai malam nanti. Sudah tak terpikirkan lagi perintah-perintah dari mamanya tadi siang.
***
Di lorong menuju lobi, Nafisah berjalan bersama salah seorang sahabatnya yang juga bekerja di bidang spesialis mata. Mereka sudah tak ada jadwal lagi. Sebentar lagi Maghrib dan mereka akan pulang.
"Na, lu tadi sama siapa sih?"
"Siapa?" Nafisah menjawab dengan santai setelah melepas kacamatanya.
"Yang tadi siang. Gue liat lu keluar resto sama Profesor Hamzah. Sama ...." Sahabat Nafisah itu lantas menghentikan ucapannya ketika mereka sampai di dekat parkiran. Gadis berdagu lancip itu menatap ke depan.
"Kok berhenti?" tanya Nafisah lalu menatap sahabatnya itu. "El. Elfa!"
Begitu Nafisah mengikuti tatapan lurus Elfa, gadis itu pun tak kalah terkejut. Mereka melihat Tama tengah menyandar pada badan mobilnya dengan kedua tangan bersedekap di depan d**a.
"Kayaknya ada yang nungguin elu, tuh. Dia yang sama elu di resto tadi, kan? Buruan samperin sono, Naf." Elfa, gadis manis dengan wajah oval itu menyenggol lengan Nafisah.
"Ogah. Nyebelin banget dia orangnya. Lagian gue cuman jadi korban doang." Nafisah membalik badan lalu mengajak Elfa melangkah ke arah lobil lagi.
"Naf! Dokter Nafisah!" Suara panggilan keras itu membuat Nafisah geram. Namun, ia tak mau berhenti. Hingga Tama terus mengejarnya.
"Dok, tunggu dulu! Saya ingin bicara." Tama menarik tas selempang Nafisah.
"Duh, jangan narik-narik dong, Dok," protes Nafisah dengan wajah cemberut.
"Iya, maaf. Makanya berhenti dulu. Saya mau bicara. Bisa sebentar aja?" Tama mengiba dengan wajah memelas.
Nafisah berdecak seraya menimbang. Elfa yang paham akan keadaan itu pun lantas meminta izin untuk pulang lebih dulu. Meskipun ia tahu, Nafisah pasti keberatan, tetapi Elfa tetap berjalan meninggalkan mereka berdua.
Kini, Tama mengajak Nafisah untuk duduk di kursi tunggu dalam lobi. Nafisah terlihat tak tenang, selalu memperhatikan keadaan di sekitar sana. Lalu ia meraih masker untuk dipakai ketika Tama mulai berbicara.
"Aku minta tolong aja sama kamu. Aku dalam keadaan terdesak. Oke deh, sebagai imbalannya, apa pun yang kamu minta akan aku usahakan. Akan aku kabulkan."
"Yang bener, nih. Pikir baik-baik, Dok. Nanti nyesel loh."
"Saya serius. Tolonglah, ini hari ulang tahun saya. Mereka sangat berharap saya mengajak mereka ke rumah kamu."
Nafisah menghela napa panjang. Kepalanya mendadak berdenyut nyeri. Dalam beberapa menit lagi menjelang Maghrib, Nafisah masih memikirkan permintaan Tama.
"Kita ini cocoknya adek kakak, Dok. Atau junior sama senior. Bukan suami istri."
"Ck, biarin aja orang mau bilang apa. Ini kan hanya pura-pura saja. Oke, kasih aku waktu enam bulan. Setelah itu, kita selesai. Mungkin kamu berat karena punya pacar? Ya udah, kita ketemu sama pacar kamu. Aku yang akan jelasin sama dia."
"Ish, saya enggak pacaran. Dosa itu, Dok. Cuman ...." Gadis itu terlihat bimbang. Tatapannya menembus kegamangan.
"Nah, itu lebih mudah. Ya sudah, saya minta nomor ponsel kamu."
Dengan lemas, akhirnya gadis itu meraih ponsel dalam tasnya dan membuka ponselnya. Mereka saling bertukar nomor ponsel setelah menyepakati sebuah perjanjian bersama.
"Fix, kita temenan sekarang." Tama tersenyum.
"Temen doang, kan?"
"Iyaaa."
Lega sudah hati sang dokter merasa rencananya ke depan bakal berhasil. Ia tak pernah berpikir akan resiko rencana tersebut.