Tolonglah, Na

1045 Kata
Keluar dari ruangan operasi, Tama langsung berjalan cepat sambil menatap arloji brandednya. Sarung tangan steril ia lepas beserta pakaian biru khusus operasi. Tama langsung masuk ke dalam ruangannya sendiri dan mengganti pakaian itu dengan jas putihnya. Sejenak ia mengistirahatkan punggung yang sejak dua jam berdiri dengan serius terfokus pada pasien gagal jantung. Tama menatap ponselnya, ia melihat pesan dari beberapa teman yang iseng meledek. Ia lupa, hari ini usianya sudah menginjak 35 tahun. Jika lima tahun lagi genap kepala empat, itu artinya pupus sudah harapan menjadi penerus keluarga Hamzah. Tak berapa lama, ponsel dalam genggaman berdering. Kedua mata Tama mendelik melihat mamanya menelpon. Pasti akan menagih janji. Pria dengan tubuh kekar itu menggaruk belakang kepalanya. Ia bingung harus mencari alasan apa lagi. Bukan sekali dua kali, ini ke sekian kali ia gagal membawa calon menantu mereka. Setelah menghela napas panjang akhirnya Tama mengangkat panggilan itu juga karena sudah pasrah. "Iya, Ma." "Tam, bisa ke ruangan Mama sebentar enggak?" "Buat apa, Ma? Bentar lagi Tama harus periksa pasien." "Jangan lupa nanti setelah Dzuhur, Tam. Mama ada sesuatu buat kamu. Oh iya, lusa adik kamu datang dari Jerman. Dia sedang pengajuan kerja di sini juga." "Si Rayyan?" "Iya. Siapa lagi memang adikmu? Ya sudah, Mama tunggu nanti di tempat kita janjian. Kamu jangan pura-pura lupa atau mencari alasan sibuk lagi." Tama mematikan ponselnya setelah itu. Sekarang, ia memutar otak lagi bagaimana caranya agar ia bisa selamat. Teringat dengan gadis tadi pagi, Tama langsung berdiri. Lelaki itu beranjak dari ruangan pribadinya dan langsung menuju ke bagian informasi. Di sana, Tama bertanya pada salah seorang suster yang berjaga. "Saya mau tanya ruangan Dokter spesialis mata bernama Nafisah." "Dokter mata atas nama Nafisah ada di gedung seberang, Dok," jawab sang suster sambil melihat layar komputer di depannya. "Di gedung sebelah? Oke, makasih, Sus." "Sama-sama, Dok." Dua suster yang sejak tadi senyam-senyum menatap gagahnya Tama pun tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Pria single yang sudah lama bekerja di rumah sakit itu memang selalu memenangkan hati setiap wanita yang memandangnya. Tak jarang sering mendapat tawaran untuk menikah dengan anak rekan dokter, tetapi Tama sudah terikat perasaan dengan Alea. Namun, sekarang gadis itu lebih memilih lelaki lain. Jika diingat lagi, rasanya Tama ingin pergi dari negara ini untuk melupakan Alea. Kanan kiri ia memperhatikan dengan detil, gedung rumah sakit yang terpisah dengan gedung pertama itu lebih tinggi dan luas. Tama bertanya pada suster yang lewat di mana ruangan Dokter Nafisah. Lelaki itu sudah tak sabar. Berkali-kali ia menatap jam tangannya karena waktu sudah hampir habis. Sebentar lagi azan Zuhur. Setelah mendapatkannya, Tama segera berlari. Sampai di sebuah koridor, Tama melihat gadis yang ia cari-cari tengah berbicara dengan dua orang wanita di depan sebuah ruangan. Mereka terlihat saling tertawa, entah menertawakan apa. "Dokter Nafisah!" Tama berjalan mendekat. Lalu, dua wanita yang berjas putih lainnya langsung pergi ketika Nafisah menoleh pada Tama. Nafisah pun tampak melebarkan matanya. Ia membalik badan berpura-pura tak mendengar. Namun, Tama langsung menarik tangannya ketika jarak sudah lebih dekat. "Apaan sih? Kamu lagi kamu lagi. Enggak bisa apa enggak gangguin aku sehari ini aja." "Lah, saya memang baru ketemu kamu hari ini." "Ck." Nafisah berdecak lalu kembali ingin pergi. Akan tetapi, Tama tak mengizinkannya. Pria itu menarik tangan Nafisah dan membawanya bicara di balik dinding agar tidak banyak orang melihat. Gadis cantik dengan lesung di pipi kanan kiri itu mencoba menolak lagi. "Lepaskan dulu!" "Saya mau bicara sama kamu. Tolong, dengarkan sebentar saja. Ini penting sekali dan aku tidak tau lagi harus minta tolong sama siapa. Tolonglah, sekali ini saja. Aku janji akan memberikan apa pun yang kamu mau." Nafisah menghela napas panjang bersama suara azan yang tiba-tiba menggema dari masjid di luar sana. "Ada apa?" "Loh, Tama!" Seseorang melihat mereka berdua. Tama pun langsung kebingungan. Ia tak bisa bicara apa-apa lagi pada Nafisah maupun papanya yang muncul tiba-tiba. "Pah ...." "Udah azan. Ayo kita sholat! Lepas itu, kita makan siang sebentar di kafe seberang. Ada yang perlu kita bahas. Apalagi ini hari ulang tahun kamu. Dan kamu ...." Hamzah menatap Nafisah. "Jangan menolak lagi. Sudah berkali-kali kami meminta Tama untuk mengajak kamu datang ke rumah atau makan malam bersama. Tapi, kata Tama kamu sibuk. Sekarang ikut ya. Jangan nolak terus. Usia kalian sudah matang untuk membicarakan hal ini." Nafisah ternganga. Ia melempar tatapan bingung pada Tama yang juga tak kalah bingung. Hamzah adalah lelaki keras yang pantang menerima alasan tak logis. Lelaki itu berjalan mendahului Tama dan Nafisah menuju ke luar gedung kedua rumah sakit itu. *** Nafisah terdiam saja sejak beberapa menit lalu, ia tak berani menatap mereka semua. Ia tak tahu harus bicara apa ketika mereka baru saja duduk. Suasana canggung baginya itu seperti kembali menghadapi sidang skripsinya. "Kalian pesan apa?" tanya Hamzah sambil menerima buku menu. "Iya, kalian mau apa?" lanjut Anita. Wanita dengan bibir tipis itu menatap Nafisah dengan senyuman. "Terserah deh, Ma," jawab Tama sambil melirik Nafisah yang duduk di sebelahnya. Ketika kedua orang tua Tama sibuk membaca menu di restoran itu, Tama mendekat pada Nafisah seraya membisik. "Tolongin kali ini aja. Jawab iya-iya aja. Jangan bantah. Please." Nafisah masih diam saja. Sampai Tama menyenggol kakinya pun, gadis itu hanya membalas dengan lirikan mata saja. Setelah mereka memesan makanan dan menunggu sejenak, Hamzah membuka percakapan. "Saya sering liat kamu. Spesial mata bareng sama Dokter Fahmi, kan?" "Eem. Iya, Prof. Saya pindahan dari Malang bareng beliau." Nafisah tersenyum manis. "Jadi, kapan kita bisa ketemu orang tua kamu?" tambah Anita. "Kalian sudah lama saling kenal. Enggak baik kalau lama-lama enggak ada kejelasan. Tama harus ketemu orang tua kamu dan melamar pada mereka." Kedua mata Nafisah semakin melebar. Tiba-tiba saja kepalanya mendadak gatal ketika ia sudah tak bisa menjawab apa-apa lagi. Sekali lagi, Tama menyenggol kaki Nafisah hingga gadis itu menjawab dengan spontan. "Iya, Dok. Besok." Nafisah terkejut dengan mulutnya yang mendadak latah. "Baik. Dengan senang hati kami akan menunggu hari itu. Nanti biar Tama yang kabarin kamu jam berapa kami datang ke rumah kamu. Dan kamu, Tama, kamu harus pergi sama Dokter Nafisah mencari cincin yang pas." Anita begitu antusias dan tak sabar lagi ingin melihat putranya meminang seorang gadis. "Astaga, mati aku. Apa yang harus aku katakan sama mama papa nanti?" batin Nafisah penuh kecemasan. Gadis itu melirik tajam pada Tama yang hanya tersenyum kecut saja sejak tadi. Dalam hati Nafisah, ia mengumpat mati-matian pada lelaki itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN