"Kenapa dia jadi seperti itu? Apa mungkin gara-gara sakit, lantas membuatnya jadi selebay ini?" batin Nafisah. Gadis itu masih bingung dengan sikap Tama. Pria itu dulu begitu galak dan kaku, sekarang mendadak berubah. "Ya udah deh, naik. Tapi jangan pegangan saya. Pegangan belakang sepeda motornya." "Oke." Tama menunjukkan dua jari yang melingkar sebagai tanda persetujuan. Pria itu mulai membonceng di belakang. Saat ia hendak menyentuh dua pundak gadis itu, sontak Nafisah langsung berteriak. Panjang lebar gadis itu menceramahi Tama, ia belum siap. Apalagi masih merasa malu ketika ada yang melihat. Satu sisi mereka memang sudah menjadi pusat perhatian beberapa rekan dokter yang hendak keluar untuk pulang. Mereka menjadi bahan obrolan hangat di sore itu. Sepeda motor melaju keluar da

