Hujan terus membasahi tubuh yang terlihat menggigil. Kekecewaan yang mendalam akhirnya ia rasakan juga. Setelah hampir empat tahun menanti, akhirnya pupus juga harapan di depan mata tadi. Lisan yang selalu ia rindukan mengucap kalimat manis telah menjatuhkan sebuah keputusan besar. Berhenti di depan jembatan kecil yang terpasang pagar besi itu, Nafisah meluapkan segala beban dalam d**a. Sakit sekali rasanya. Perih seperti luka yang dialiri oleh cuka. Tak ada yang mengerti tentang dirinya. Hanya angin yang selalu menemaninya sepanjang penantian. Sebuah payung dari jas hitam kini telah menaunginya. Kedua tangannya yang semula selalu menggosok lengan kini berhenti sudah. Nafisah mendongak, memastikan keadaan langit yang ia kira telah reda. "Mas Tama ...." Bibir pucat itu bergetar menyeb

