Sachi dibuat terheran-heran dengan penampilan nyeleneh Ganesha. Pemuda itu datang di siang hari, saat jam sekolah masih berlangsung. Bukan itu saja yang membingungkan dirinya. Tetapi juga pakaian yang dikenakan pemuda itu. Saat Sachi menanyakan kenapa Ganesha hanya mengenakan kaus dan boxer ke rumahnya, pemuda itu malah memberikan jawaban yang tidak ada hubungannya. "Aku laper. Ada makanan nggak?"
Di meja makan, Ganesha melahap makanannya dengan tergesa sampai tersedak. Sachi menuangkan air ke dalam gelas lalu menyodorkannya kepada pemuda itu. "Pelan, Ga. Kalau masih kurang, Tante bisa masakin lagi."
Ganesha meletakkan gelasnya ke meja setelah meneguk hampir setengahnya. Tanpa peduli kata-kata Sachi, pemuda itu melanjutkan memakan makanannya.
Sachi menghela napas panjang tanpa kentara. Dia tahu bahwa Ganesha tidak suka dikasihani. Baginya, kata 'kasihan' sama sekali tidak membantu. Justru semakin membuat seseorang itu merasa semakin menyedihkan. Dan Ganesha bukan salah satu dari orang-orang menyedihkan itu.
"Kamu dari mana? Kenapa cuma pake kaus sama boxer dateng ke sini?" Untuk kedua kalinya Sachi bertanya kepada Ganesha. Perempuan itu melirik jam di dinding kemudian melempar pertanyaan lagi. "Kamu bolos lagi, Ga?"
Kalau bukan bolos. Apa? Jam pelajaran pasti masih berlangsung. Sementara itu Ganesha malah ada di rumahnya dan meminta makan seolah habis dari perjalanan jauh.
"Aku udah nggak sekolah," jawab Ganesha lugas. Dia menyuapkan nasi kembali ke dalam mulutnya yang hampir penuh.
Dahi Sachi mengernyit bingung. "Nggak sekolah gimana?"
"Udah keluar."
Sudah. Sampai di sini Sachi mulai bisa menebaknya. Dari cerita Ario, dia tahu permasalahan Ganesha selama ini. Kadangkala Sachi ingin menemui Gino dan memaki lelaki itu karena sudah sering merepotkan suaminya. Gino yang ayahnya Ganesha, kenapa harus suaminya yang selalu repot mengurusi Ganesha?
Sachi menarik kedua tangannya dari atas meja lalu menarik napas jengkel. Kejengkelan Sachi tidak ditujukan kepada Ganesha. Karena yang patut disalahkan adalah Gino. Ayolah. Gino pasti bisa menjadi Ayah yang baik jika memang ada keinginan. Sampai kapan lelaki itu akan melemparkan tanggung jawabnya sebagai Ayah kepada teman-temannya? Saat Ganesha butuh seseorang agar bisa mendengarnya, pemuda itu akan datang kemari mencari Ario atau pergi ke tempat tiga teman ayahnya yang lain. Di mana otak Gino? Apa tertinggal di ruang operasi? Atau tidak sengaja jatuh ketika membedah pasien kemudian jatuh dan melupakannya?
"Masalah apa lagi yang kamu buat, Ga?" tanya Sachi.
Seketika sendok di tangan Ganesha diletakkan ke atas piring. Pertanyaan Sachi barusan terlalu terus terang.
Ganesha meraih sendoknya kembali dan melanjutkan menyendok makanannya. "Aku mukul temen di sekolah."
"Parah?" tanya Sachi, khawatir.
Ganesha menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Gerakkannya santai. Begitu juga dengan jawaban yang keluar. "Patah tulang. Kemungkinan bisa gegar otak juga."
Refleks, Sachi menarik punggungnya dari sandaran kursi makan dan mencondongkan tubuhnya. "Ayah kamu tahu?"
"Emang peduli?" sahut Ganesha. Mimik wajahnya menunjukkan kemarahan. "Aku bunuh orang sekali pun kayaknya tetep nggak peduli."
Tolong beritahu Sachi bagaimana dia harus menyikapinya. Jujur saja dirinya merasa miris. Anak seusia Ganesha sudah akrab dengan berbagai kekerasan. Bahkan ketika pemuda itu menjawab pertanyaannya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Justru tatapan penuh kebencian sekaligus kemarahan yang Sachi temukan dari sepasang mata hitam pemuda itu.
"Kamu bener," gumam Sachi, mengangguk. "Ayah kamu nggak akan peduli. Yang peduli cuma temen-temennya selama ini." Ganesha mendengus mendengarnya. Karena memang fakta. Ganesha tidak bisa menyangkalnya walaupun ingin.
***
"Dokter Gino." Seorang penjaga resepsionis berdiri dari kursi lalu memanggil Gino dari meja kerjanya.
Gino berbalik, kemudian mundur mendekati meja resepsionis dan bertanya. "Kenapa?"
Perempuan berusia tiga puluhan yang bekerja di balik meja resepsionis mengeluarkan kotak dan meletakkannya ke atas meja. "Ada kiriman buat Dokter Gino tadi siang," katanya seraya mendorong kotak tersebut ke dekat Gino.
"Dari siapa?" tanya Gino.
"Nggak tahu, Dok. Kurirnya cuma ngasih ini aja."
Dia jarang membeli barang secara online. Dia lebih suka pergi memilih sendiri ke toko agar tahu kualitas barang yang dibelinya. Biarpun harga barang online jauh lebih murah, Gino sama sekali tidak tergiur.
"Oke. Makasih," ujar Gino, mengangkat kotak dari meja resepsionis.
Jam di arlojinya menunjukkan pukul sebelas malam lewat. Dia baru saja menyelesaikan shift-nya dan bergegas akan pulang. Tapi saat Gino mendekati meja resepsionis, dia malah diberitahu jika seseorang mengiriminya sebuah paket, yang entah apa isi di dalamnya.
Gino meletakkan kotak tersebut ke dalam mobil dan bergegas meninggalkan tempat parkir. Gino sudah memutar kunci dan menghidupkan mesin. Akan tetapi ada dua orang yang tahu-tahu muncul lantas berdiri di depan mobilnya persis sambil saling menarik tangan bak adegan di sebuah drama.
Lelaki itu membunyikan klakson memberi tanda agar dua orang tersebut minggir. Namun tidak dihiraukannya sampai membuat Gino kesal sendiri. Diturunkannya kaca pintu mobilnya kemudian menyembulkan kepalanya di sana siap membentak dua orang itu. Tapi ditelannya kembali ke dalam kerongkongannya dan berakhir bengong.
"Kak Gino," gumam si perempuan ikut bengong. Adegan tarik-tarikkan sempat terhenti saat dirinya menyadari bahwa pemilik mobil yang terus membunyikan klakson adalah Gino, teman kakaknya sedari masa kuliah.
"Bisa minggir nggak lo?!" teriak Gino dengan sebelah tangan menekan klakson hingga berubah bising. "Lo kalau mau main opera jangan ngalangin jalan! Minggir buruan sana!"
Perempuan itu mengentakkan pegangan tangan si lelaki kemudian bergegas lari ke arah mobil Gino. Tanpa meminta izin kepada si pemilik, perempuan itu membuka pintu mobil Gino lantas duduk di kursi penumpang sambil menunjuk seseorang yang bersamanya sejak tadi.
"Tabrak aja nggak apa-apa, Kak!" serunya terus menunjuk lelaki di depan mobil Gino.
"Yang ngasih lo izin masuk mobil gue, siapa?!" Gino memelototi si perempuan. "Turun. Turun sekarang."
"Nggak mau." Perempuan itu menggeleng kekeuh. "Bawa gue pergi dari sini. Nggak perlu anter gue sampai depan rumah."
"Siapa juga yang mau anter lo pulang!"
"Kak," rengek si perempuan sambil menangkup kedua tangan di d**a. "Buruan! Sekali ini doang gue minta tolong sama lo."
Gino melihat gelagat lelaki di depan mobilnya cukup aneh. Mereka saling kenal? Tapi kenapa Natusha seakan tidak ingin didekati lelaki itu?
Natusha menggoyangkan lengan Gino cukup kasar sampai lelaki itu mendengus karena merasa risi. Gino berakhir membawa Natusha pergi dari sana dengan mobilnya, meninggalkan lelaki tadi penuh tanda tanya.
***
Sampai di rumah, Gino tidak menemukan siapa pun. Entah ke mana perginya Ganesha. Menyebut namanya saja sudah membuat kepala Gino pusing.
Gino mengempaskan bokongnya ke atas sofa lalu mendongakkan kepalanya ke atas memandangi lampu hias di rumahnya. Jujur saja Gino seringkali iri melihat teman-temannya sudah berkeluarga. Pulang tidak sepi, selalu disambut oleh anak dan istri.
Apa menikah ada dalam daftar pencapaian Gino? Jawabannya tentu tidak. Perasaan ini sesekali datang, lalu keesokkan harinya akan pergi dan membuat Gino lupa sampai perasaan itu datang lagi dan mengganggu.
Gino mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana. Ia teringat ponselnya terus berdering sepanjang hari. Gino membuka sepasang matanya paksa. Ia akan memeriksanya lebih dulu sebelum pergi beristirahat.
Gibran: Lo ke mana, Gi?
Ario: Lo ada jadwal operasi? Kalau udah senggang, balas chat gue, Gi...
Kasa: Balas buruan, setan! Lo nggak tahu kalau Gaga bikin ulah di sekolah?!
Gino mendengus kasar. Dilemparkan ponselnya ke ujung sofa kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Ganesha... kenapa bocah itu tidak berhenti membuat masalah, sih? Maunya apa?! Tidak cukup membuat hidupnya kacau selama ini?!
Ini bukan pertama kalinya Ganesha membuat masalah di sekolah. Ganesha dengan segala tingkah laku buruk seperti sudah melekat pada diri bocah itu. Entah apa yang membuat putranya seringkali menggila dengan mengganggu teman sampai gurunya di sekolah. Otak bocah itu sedangkan digadaikan, hah?
Gino menarik punggungnya sampai ia duduk dengan tegak. Persetan dengan Ganesha! Terserah bocah itu maunya apa. Toh, Gino bicara pun tidak akan dianggapnya.
Memanggilnya Ayah saja tidak sudi...
Selama ini, selama Ganesha membuat masalah, teman-temannya selalu menyalahkan dirinya. Mereka menganggap ia kurang perhatian, kurang peka terhadap anaknya sendiri. Padahal memang Ganesha-nya saja yang suka mencari masalah. Kenapa harus ia yang disalahkan? Memangnya, Gino yang menyuruh bocah itu menganggu sampai memukuli teman-teman sekolahnya? Kan, tidak!
Gino berdiri agak sempoyongan. Meninggalkan tas dan ponselnya di atas ranjang. Gino ingin pergi istirahat di kamarnya. Sudah dua hari ia tidak pulang ke rumah karena sibuk dengan pasien di ruang bedah.
Setidaknya, biarkan hari ini Gino tenang sekali saja....