Tamu Tak Diundang

1066 Kata
Gino benar-benar tidak balik menghubunginya sama sekali. Padahal alasan Ario menelpon lelaki itu ingin mengabarkan bahwa putranya mendapatkan masalah di sekolah. Menghajar teman sekolahnya hingga babak belur. Dua di antaranya masih terbilang baik-baik saja. Hanya mendapatkan perawatan ringan dari Dokter. Namun ada satu anak yang mengalami luka-luka parah sampai orang tuanya datang ke sekolah dan marah pada Ganesha. Ario duduk setengah membungkuk di sofa rumahnya. Kata Sachi, istrinya, kemarin siang Ganesha datang ke rumah mereka meminta makan. Kedatangan Ganesha bahkan mengejutkan Sachi karena kemari hanya mengenakan kaus dan celana boxer. Ario menggeleng kebingungan, heran sendiri, harus melakukan apa agar bocah itu bisa dituntun ke jalan yang benar dan baik? Semalaman Ario dan Kasa saling bertukar informasi mengenai Ganesha. Lelaki jangkung yang juga mantan aktor terkenal itu mengatakan bahwa nomor ponsel Ganesha tidak bisa dihubungi seharian. Kasa sempat datang ke rumah Gino untuk memeriksa keadaan di sana, siapa tahu Ganesha pulang dan diam menyendiri di rumah. Namun, sesampainya di sana, Kasa tidak mendapatkan apa-apa, tidak menemukan siapa-siapa termasuk Gino si pemilik rumah. "Terus gimana, Bang?" tanya Kasa ikut khawatir. Semenjak kecil, Ganesha terbiasa diasuh oleh Ario dan teman-teman Gino lainnya. Ario, Kasa, Anjas serta Gibran bergantian mengawasi bocah itu. Gino? Mana pernah peduli. Yang dipedulikan lelaki itu hanyalah dunianya sendiri. Mau Ganesha begini, Ganesha begitu, mau Ganesha jatuh tengkurap di bawah kakinya saja Gino tidak akan menoleh. Mungkin yang akan dilakukan lelaki itu hanya menunduk, menatap Ganesha tanpa perasaan khawatir. Sebagai teman Gino, apalagi yang paling tua, Ario seringkali merasa serbasalah. Ario tidak ingin dianggap cerewet, sok tahu, sok mengatur kehidupan Gino dan Ganesha. Ario hanya ingin Gino sadar betapa pentingnya seorang anak di kehidupan orang tuanya. Kalau pun hubungan Gino dan Ganesha dulu buruk, masih diperbaiki kan, masih bisa kalau memang dua-duanya mau. "Pihak sekolah bilang apa aja kemaren, Bang? Gaga nggak akan dikeluarin, kan?" tanya Kasa lagi. Lelaki jangkung itu mengempaskan bokongnya ke sofa lantas menarik napas panjang. Kasa jadi ikut kepikiran walaupun ia bukan ayahnya Ganesha. Bagaimana ya, ia ikut andil dalam melihat perkembangan Ganesha dari umur empat tahun sampai ke usianya yang ketiga belas. Kasa seringkali sedih, ikut sakit hati, Gino memang Ayah berengsek! Ayah tidak bertanggungjawab! "Gue belum tahu, Sa. Tapi kecil kemungkinannya Gaga masih bisa diterima di sekolahnya," gumam Ario menarik napas sesak. "Hari ini pihak sekolah dan semua orang tua murid mau rapat, membahas soal ini." Kasa berakhir menyandarkan punggung ke sandaran sofa. Kepalanya terangkat memandangi langit-langit rumah Ario yang dicat biru muda. Ini bukan pertama kalinya Ganesha membuat masalah dan dikeluarkan dari sekolah. Entah apa tujuan bocah itu. Entah sengaja atau memang ada yang memancing amarah Ganesha. "Kalau Gaga dikeluarin lagi. Kita harus apa? Cari sekolah baru?" Kasa menengok ke Ario. "Harus." Ario balas menengok. "Perjalanan Gaga masih panjang. Gue nggak mau dia makin terpuruk, Sa. Gue nggak bisa lihat dia hancur karena ayahnya nggak pernah peduli." Kasa menepuk-nepuk bahu Ario penuh bangga. Ario adalah contoh seseorang yang benar-benar dewasa. Entah bagaimana akhirnya jika tidak ada Ario di samping mereka. Ario paling sabar dan pengertian. Ario orang yang selalu ada di saat mereka butuh seseorang bercerita, mengungkapkan keluh-kesah. Seharusnya Gino banyak berterima kasih. Bukannya malah menghindar. *** "Dokter Gino..." Punggung Gino berbalik dan menghadap seseorang yang memanggilnya. "Ya?" "Dokter ada tamu," beritahunya. "Sekarang orangnya lagi nunggu di ruangan Dokter Gino." Dahi Gino berkerut, bingung. Pasalnya ia tidak memiliki janji dengan siapa pun hari ini. Tidak dengan keluarga pasien, mau pun pasien itu sendiri. Atau... bisa jadi salah satu temannya? Gino berdecak, tanpa kentara lelaki itu menarik napas jengkel. "Dok—" Gino berbalik memunggungi seseorang itu. Tiga detik setelahnya lelaki berprofesi sebagai Dokter bedah tersebut mempercepat langkahnya meninggalkan lorong menuju ke ruangannya sendiri. Ia penasaran siapa yang datang menemuinya tanpa membuat janji terlebih dahulu. Jika itu pasien, pasti akan membuat jadwal dulu sebelum berkunjung. Tidak mungkin tahu-tahu datang tanpa menelpon atau mengiriminya pesan singkat. Gino memperlambat langkahnya ketika pintu ruangannya terlihat tidak jauh dari tempatnya berdiri. Gino meletakkan sebelah tangannya ke pinggang kemudian menarik napas panjang. Lelaki itu memperingan langkahnya, menebak-nebak siapa yang sedang berada di ruangannya sekarang. Ario atau Gibran? Atau justru Anjas? Gino mendengkus kasar. Jika itu Anjas, Gino yakin sekarang wajahnya sudah biru-biru karena dihajar lelaki itu. Anjas tidak akan datang baik-baik setelah mendengar putranya mendapatkan masalah. Kenapa? Apa pun yang berhubungan dengan Ganesha, apalagi itu hal buruk, maka Gino adalah orang pertama yang dicari Anjas. Haha, lucu, sungguh. Padahal Gino-lah ayahnya Ganesha, tetapi Anjas bersikap lebih garang darinya. Kalau begitu, kenapa tidak Anjas adopsi saja putranya? Dengan begitu, Gino akan merasa lebih tenang dan damai. Ia sudah muak mendengar hal-hal buruk mengenai Ganesha. Mempermalukan dirinya saja bisanya! "Halo, Dokter Gino," sapa seorang perempuan berada di kursi putarnya. Sepasang alis tebal Gino terangkat, menatap si perempuan dengan dahi berkerut-kerut kebingungan. Ternyata bukan salah satu temannya. Seseorang yang sedang berada di ruangannya, duduk di kursi putarnya tanpa sopan adalah perempuan asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya. "Anda siapa?" tanya Gino tanpa basa-basi. Perempuan itu menyibakkan rambut bergelombangnya. Senyumnya manis dan aroma wangi dari parfum yang digunakan agak mengganggu indera penciuman Gino. Sangat norak. Gino nyaris muntah. "Ah..." Tubuh sintal perempuan bergaun kuning terang itu bergerak mengelilingi Gino. "Danela... mamanya Ganesha..." Detik itu, Gino mengubah raut wajahnya. Sepasang matanya mengerjap beberapa kali. Mamanya Ganesha? Mama kandung putranya? Orang yang suka memorak-porandakan hidupnya dengan mengantarkan Ganesha berusia empat tahun ke rumahnya lantas membuat semua daftar yang telah dirancangnya jadi berantakan? Jadi... dia orangnya? Wah. Hebat. Bahkan tanpa Gino cari, sekarang orang ada di depan mata Gino. "Pasti kamu kaget, ya. Ah, maaf," ujarnya sambil tertawa tanpa beban. Dalam hati Gino menahan geram. Karena perempuan ini... Gino harus mengalami hari-hari yang tidak menyenangkan. Gino dianggap orang-orang sengaja melupakan Ibu kandung putranya. Padahal, Gino bersumpah, Gino tidak mengingat sungguhan bagaimana rupa Ibu kandungnya Ganesha. Siapa namanya, di mana tempat tinggalnya. Apa pun yang berhubungan dengan ibunya Ganesha, Gino tidak mengingatnya sama sekali. "Sebenarnya aku nggak mau nemuin kamu kayak gini sih. Aku lebih suka kamu cari aku sendiri. Aku pengin kamu ingat semuanya satu per satu." Perempuan itu masih memerlihatnya senyum menawannya. Walaupun gayanya agak norak di mata Gino, tetapi ia tidak mengelak jika perempuan itu berwajah cantik dengan tubuh menawan. "Sekarang aku ada di sini. Apa kamu masih belum ingat apa pun? Semuanya? Sungguh?" tanyanya, menggebu, begitu penasaran. Gino terdiam, mengingat sesaat. Apa benar perempuan ini adalah Ibu kandungnya Ganesha? Benarkah? Kenapa ia tidak merasakan apa-apa?  To be continue--- 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN