Anak yang Mengerikan

1041 Kata
Danela menyeringai dengan posisi memunggungi Gino. Sementara lelaki itu duduk di kursinya, raut wajahnya menunjukkan kebingungan. Danela terus menyeringai. Sampai kedua kakinya yang dibungkus sepatu hak tinggi berwarna abu-abu muda tersebut meninggalkan ruangan Dokter Giorgino Thaufan. Sepeninggal Danela, Gino mematung di tempat duduknya. Sepertinya, ia sedang dipermainkan oleh perempuan itu. Apa maksudnya? Bukankah tadi Danela mengaku sebagai ibunya Ganesha? Tapi... sebelum pergi, saat Gino hampir percaya, Danela justru mengatakan hal yang membingungkan Gino. "Coba lihat baik-baik dan ingat." Danela mengangkat dagunya dengan gerakkan s*****l. "Kamu sama sekali nggak ingat siapa aku?" Selanjutnya, Danela tertawa, jenis tawa masam. Gino mulai menyadari jika ada yang aneh dengan perempuan di depannya ini. Selain penampilan norak, parfum yang mengeluarkan bau wangi memuakkan, Danela jelas sedang mengejeknya. Perempuan itu mengulang pertanyaannya hingga beberapa kali. "Kamu nggak ingat? Coba lihat baik-baik lagi. Percaya kalau aku mamanya Gaga, nggak?" Persetan perempuan ini Ibu kandungnya atau bukan. Kalau memang sungguhan, tinggal katakan apa yang diingkan Danela dari Gino. Melihat penampilannya saja ia sudah menebak apa yang diinginkan perempuan seperti Danela. Gino mendengkus, balas mengamati Danela dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gino sungguhan pernah meniduri perempuan ini? Kapan? Kenapa Gino tidak mengingat apa-apa? Oh, s**t. Gino menyugar rambutnya kasar. Ia lupa. Perempuan yang ia tidur lebih dari satu orang. Masa-masa mudanya telah ia habiskan dengan meniduri dari satu perempuan ke perempuan lainnya hampir setiap malam. Gino menahan geram, merutuki ingatannya yang berubah buruk jika sudah berhubungan dengan Ganesha dan ibunya. "Ternyata lo beneran lupa," sungut Danela sebelum pergi dari ruangan Gino. Bayangan Gino jadi melayang ke mana-mana. Kesadarannya berkurang dalam beberapa detik kemudian kembali lagi dan membuat Gino membatu. "Cepat atau lambat, lo harus tahu siapa Ibu kandung anak lo." Danela berujar memunggungi Gino. "Gue nggak tahu lo emang pandai akting, atau emang ingatan lo aja yang buruk?" Sesaat, lidah Gino kelu. Sulit untuk digerakkan. Kedatangan Danela, kata-kata yang keluar dari mulutnya, dan senyum perempuan itu.... kenapa sangat menjengkelkan. *** Rapat yang dimaksud Ario kemarin pada Kasa dilakukan hari ini. Tepat pukul dua siang. Sebagai perwakilan dari Gino, dikarenakan lelaki itu tidak akan hadir dalam rapat hari ini, padahal sudah Ario beritahu sebelumnya, mau tidak mau Ario datang ke sekolah Ganesha. Seumur hidup Ario, baru kali ini ia harus bolak-balik dipanggil ke sekolah karena Ganesha selalu membuat keributan. Kalau bukan bertengkar, pasti ketahuan merokok, bahkan lebih parah ikut tawuran dengan segerombolan anak SMA. Entah kenal dari mana, kenapa bisa Ganesha bisa berada di antara dua kubu sekolah yang anak didiknya saling bermusuhan. Ketika Ganesha berhasil diringkus bersama anak-anak itu, Ganesha mengakui jika ikut tawuran memang keinginannya sendiri. Tidak ada paksaan. Apalagi tidak sengaja terjebak di antara anak SMA itu. Mendengar jawaban Ganesha yang lurus, serius, tidak terdeteksi sedang bercanda, membuat pihak sekolah jadi kebingungan. Untuk apa anak seusia Ganesha ikut tawuran? Apalagi dengan sekumpulan anak-anak SMA. Tubuh kurus bocah itu terdapat lebam, biru-biru di sudut bibir hingga keningnya. Sama sekali tidak mengeluh sakit, tetap tenang. Justru orang lain yang merasa ngeri. Sebenarnya, Ganesha ini apa? Kenapa kelihatan kuat sekali padahal badannya sudah babak-belur akibat tawuran? "Bapak... orang tuanya Ganesha?" tanya Kepala Sekolah menunjuk Ario. Ario datang sendiri ke sekolah. Tanpa si nakal Ganesha. "Bukan, Pak. Saya masih kerabatnya." Salah satu orang tua murid menyahut, sangat sinis, "Orang tuanya Ganesha ke mana memangnya? Kenapa malah kerabatnya yang datang? Takut di demo sama orang tua murid lainnya?" Ario menunduk secara refleks. Tanpa sadar ia tersenyum. Orang-orang ini sedang meremehkan Gino, eh? Gino yang dikenal Ario sama sekali tidak kenal takut. Apa itu takut? Tidak ada dalam kamus seorang Giorgino Thaufan. Alasan terbesar Gino tidak datang kemari ya memang murni tidak peduli. Biarkan saja Gino, Ario tidak peduli. Mau datang atau tidak sekali pun, itu hak Gino. Yang terpenting sekarang adalah Ganesha. Jika bukan Ario dan teman-teman Gino, siapa lagi yang akan peduli? Menunggu Gino sadar? Mungkin sampai kiamat pun tidak akan pernah. "Ayahnya Ganesha sedang sibuk," ujar Ario memberikan alasan. "Kerjaannya apa emang? Sok sibuk banget! Memangnya orang tua di sini nggak ada yang kerja? Cuma ayahnya Ganesha aja yang kerja?" timpal orang tua murid yang lain. "Dokter bedah di salah satu rumah sakit," jawab Ario, tenang. Tidak terpengaruh dengan mulut-mulut nyinyir di hadapannya. "Oh... cuma Dokter bedah." Seorang ibu-ibu, berpakaian layaknya sosialita kelas atas melirik Ario, ketus. Sesi pertanyaan mengenai ayahnya Ganesha telah disudahi setelah Kepala Sekolah meminta semua orang mulai fokus ke permasalahan utama. Mengenai Ganesha yang telah menghajar teman-teman sekolahnya sampai dirawat di rumah sakit. Kalau soal yang ini, Ario dan Gibran sudah membereskannya. Ario dan orang tua murid tersebut telah membuat kesepakatan. Ario telah membuat kompensasi dengan membiayai semua perawatan murid tersebut. Baik perawatan medis sampai pergi menemui seorang psikiater karena diperkirakan mengalami trauma setelah dipukuli Ganesha dengan membabi buta. "Saya nggak mau Ganesha tetap di sekolah ini," seru seorang Ibu dari orang tua murid. "Ini bukan pertama kalinya Ganesha bikin masalah di sekolah." "Bener!" sahut Ibu di sebelahnya. Raut wajahnya terlihat meradang, ikut marah, "Bayangin aja Ganesha tetap di sekolah ini, apa anak-anak kita nggak ketakutan setiap harinya? Dia bukan cuma pemberontak. Bahkan nggak takut sama guru. Sekarang mukulin teman-temannya pula!" Kepala Ario rasanya berdenyut-denyut. Ia memiringkan letak duduknya. Diam-diam lelaki itu memijat kepalanya sembari mendengar protes di sana-sini. Kalau begini caranya, semakin kecil kemungkinan Ganesha bisa bertahan di sekolah ini. "Tawuran sama anak SMA, suka bolos, merokok di belakang sekolah. Dia anak sekolahan apa preman sebenernya? Sekolahan yakin mau mempertahankan anak kayak Ganesha? Kalau Ganesha nggak keluar dari sekolah ini, saya mau pindahin anak saya ke sekolah lain aja!" "Betul! Saya juga!" seru semuanya kompak. Ario makin pusing. Ia berada di antara banyaknya ibu-ibu. Kalau sudah berurusan dengan ibu-ibu, kecil kemungkinan bisa menang. Apalagi ini... satu lawan... Ario dengan bodohnya menghitung perempuan di ruang tersebut dengan mengedarkan pandangannya. Sepasang matanya pergi ke sana kemari sesekali menghitung berapa banyak manudia berjenis kelamin perempuan. Apa Ario mengalah saja? Ia bisa mencari sekolah baru untuk Ganesha. Ia bisa mengawasi bocah itu lebih ketat di sekolah barunya agar tidak membuat masalah seperti ini lagi. Atau, Ario kirim saja Ganesha ke sebuah Pondok Pesantren? Ah, tidak. Ario menggeleng cepat. Ia takut Ganesha akan membuat ulah lebih parah di sana. Hah... harus diapakan anak itu, Ya Tuhan. "Pokoknya Ganesha harus keluar dari sekolah ini!" teriak ibu-ibu dengan kompak.  To be continue--- 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN