"Kalau lo penasaran siapa Ibu kandung anak lo, buka paket yang gue kirim beberapa hari yang lalu. Di sana, lo bakal dapet petunjuk siapa Ibu kandung Ganesha sebenernya..."
Bisikkan Danela sewaktu menemuinya di rumah sakit berhasil mengusik Gino. Padahal sebelumnya ia tidak mempedulikan apa pun mengenai Ibu kandung putranya. Persetan dengan perempuan. Persetan siapa perempuan itu. Memangnya perempuan itu sudah memberikan apa selain meninggalkan seorang putra yang susah diatur? Tidak ada.
Beberapa hari yang lalu seseorang mengiriminya sebuah paket. Paket tersebut diantar ke rumah sakit tempatnya bekerja. Seorang penjaga resepsionis mengatakan bahwa ia menerima sebuah paket, namun tanpa nama. Gino pikir itu hanya sebuah paket biasa, bukannya sombong, seringkali Gino mendapatkan hadiah dari seorang perempuan tanpa meninggalkan nama. Jadi Gino tidak menghiraukannya. Ia membiarkan paket tersebut berada di kamarnya, meletakkannya sembarangan tanpa minat ingin membukanya.
Lelaki itu sampai di rumah dan pergi ke kamarnya. Sesampainya di kamar, ia teringat kembali dengan paket—yang mungkin saja pengirimnya adalah Danela. Gino menimbang sebentar, berpikir selama lima detik penuh. Ia meletakkan tas kerjanya ke atas kasur, kemudian sibuk mencari benda itu. Ke mana ia meletakkannya? Ia yakin ia menyimpannya di kamar. Tapi... kenapa sekarang tidak ada?
Gino berjongkok di samping kaki ranjang, mengintip ke dalam kolong berharap paket tersebut ia temukan. Dan benar saja, benda itu ada di sana. Bisa jadi ia sendiri yang mendorong benda itu hingga masuk ke dalam kolong. Saat itu Gino kelelahan akibat berjam-jam berada di ruang operasi. Ia pulang karena ingin beristirahat. Jadi ia meletakkan benda itu sembarangan dan tidak sadar mendorongnya hingga masuk ke dalam kolong kemudian melupakannya.
Paket yang dikemas dalam sebuah kardus cokelat tersebut diletakkannya ke atas kasur. Gino membuka jaket dan membiarkan kaus cokelat kopi membungkus tubuhnya. Ia duduk di pinggiran ranjang, antara ragu atau justru dibukanya saja isi kardus di depannya ini. Sejenak, Gino diam, bagaimana kalau isi paket ini malah berisi sesuatu yang berbahaya? Gino meringis. Tiba-tiba saja teringat sosok Danela waktu itu.
Gino mengangguk, seolah sangat yakin keputusan yang diambilnya. Ya, ia akan membuka isi kardus di depannya. Ia penasaran sebenarnya apa yang dikirimkan Danela. Petunjuk macam apa. Kenapa keberadaan Ibu kandung Ganesha seolah menjadi sangat misterius, seakan keberadaan Ibu kandung bocah itu adalah sesuatu yang perlu dirahasiakan. Jika Danela tahu siapa perempuan itu, kenapa tidak bicara saja, sebut saja namanya, seperti apa fotonya. Danela justru seperti mempermainkan dirinya.
Saat kardus cokelat itu telah ia buka, ia mendekatkan kepalanya, mengintip isi kardus dengan perasaan hati-hati. Siapa tahu saja Danela mengisinya dengan ular atau semacamnya. Kalau dilihat-lihat, Danela seperti perempuan kurang waras.
Gino membuka kedua tutup kardus lebih lebar dan menemukan secarik kertas di dalam sana. Sepasang mata Gino menyipit, bibir Gino terkatup rapat. Apa ini.... Gino bergumam sendiri. Ia mengambil secarik kertas itu dan membacanya tanpa suara.
Sebuah alamat. Tidak jelas alamat siapa yang dimaksud. Entah alamat Ibu kandung Ganesha, atau justru alamat Danela sendiri. Tidak jelas. Perempuan itu sungguh tidak waras karena sudah mempermainkannya!
Gino mengambil ponselnya dari atas ponselnya. Ia menghubungi seseorang. Setelah panggilan pertama mendapat respons, Gino bergumam di telepon. "Cari tahu siapa Danela. Apa pun yang berhubungan sama perempuan itu..."
***
Kesalahan di masa lalu memang tidak bisa dihapus begitu saja. Gino mengingat semua apa yang ia lakukan semasa muda. Merokok, mabuk, bermain perempuan, berganti-ganti perempuan hampir setiap hari. Gino selalu mengakui apa saja yang ia lakukan bersama perempuan-perempuan bayaran itu, dan juga perempuan yang sedang ia pacari.
Gino mengingat beberapa nama perempuan yang pernah ia pacari dan ia tiduri. Bahkan, salah satu dari mereka masih sibuk mengejarnya. Sebut saja, Jasmine. Perempuan yang sekarang ini berprofesi sebagai seorang dokter anak itu tidak berhenti meneror Gino dengan banyaknya chat dan telepon hingga ratusan kali. Gino tidak berminat. Baginya, mereka hanyalah rekan kenakalannya di masa lalu. b******n, kan?
Lewat seorang informan yang dibayarnya mahal, Gino mendapat informasi tentang Danela. Dari informasi yang didapatkannya, Danela dulunya adalah seorang perempuan panggilan. Beberapa tahun lalu, sebelum Danela resmi dinikahi oleh seorang pengusaha kaya raya, Danela diketahui memiliki seorang anak lelaki. Tidak jelas siapa ayahnya. Karena informasi yang didapatkan Gino, anak lelaki itu adalah Ganesha. Namun ada yang aneh. Ganesha diketahui bukanlah putra kandung Danela. Melainkan putra dari teman baiknya bernama Alizeh.
Gino baru mengetahui kalau Danela adalah teman Alizeh sejak masa SMA. Baik Danela mau pun Alizeh saling menyayangi dan menjaga satu sama lain. Entah apa yang membuat Alizeh memberikan Ganesha kepada Danela. Kalau Alizeh memang ibu kandung Ganesha, dan masih hidup, kenapa harus menyerahkan bayinya kepada orang lain? Apalagi Danela adalah seorang perempuan malam. Apa Alizeh tidak khawatir?
Gino tertawa mendengkus. Danela melemparkan selembar kertas di depannya dan menyuruhnya segera pergi sebelum suami perempuan itu datang dan menuduh Gino sebagai selingkuhan Danela.
Gino menerimanya, ia menunjuk Danela kemudian pergi dengan terburu-buru. Dalam hati ia berdoa, semoga ini petunjuk terakhir ia bisa menemukan Alizeh. Ia akan menanyakan banyak pertanyaan kepada perempuan itu saat mereka bertatap muka nanti.
Tapi, nihil. Gino menghela napas kecewa mendengar penuturan seorang perempuan yang mungkin saja masih seusia Gino. Perempuan itu cantik, punya tubuh langsing seperti di iklan-iklan dan berambut keriting. Tapi bukan itu yang mengganggu pikiran Gino. Tapi, tempat ini... tempat perempuan yang ia datangi.
“Danela yang ngasih alamat gue ke lo?” Perempuan itu mengisap rokoknya lalu ia embuskan ke depan wajah Gino. “Ah... Danela memang jalang." Perempuan itu terkekeh. “Bahkan setelah nikah pun, dia punya koleksi sebagus lo."
Gino mengernyitkan dahi tidak memahami maksud perempuan itu. Gino mengeluarkan sebuah kertas lalu ia sodorkan di atas meja. “Ini bener alamat lo?”
“Hm...” Perempuan itu mengangguk.
“Lo kenal Alizeh? Di mana dia?” Gino melayangkan dua pertanyaan sekaligus.
“Alizeh?” Mata perempuan itu menyipit. Gino harap-harap cemas menunggu jawaban perempuan di depannya. “Cewek polos yang pernah nawarin dirinya ke sini?” Sepasang matanya mengerjab menatap Gino.
“Nawarin diri?” Gino bergumam.
“Iya,” Perempuan itu manggut-manggut. “Tapi itu udah lama,” katanya setengah bergumam. Ia mendesis mengingatnya. “Dua belas tahun yang lalu, mungkin,” gumamnya agak ragu.
“Dia kerja di sini? Di tempat ini?” tanya Gino tidak percaya.
Perempuan itu mematikan rokok dan membuangnya di atas asbak. Kepala perempuan itu menggeleng bersama jari telunjuknya. “Hampir,” bisik perempuan itu. “Dia cewek baik-baik, jadi mana bisa kerja kayak gue sama Danela?” katanya sambil terkekeh.
“Maksud lo?”
“Lo nggak ngerti maksud gue?” Mata perempuan itu memicing menatap Gino tidak percaya. “Alizeh, dia hampir aja jual diri. Tapi nggak jadi. Dia malah kabur!”
Mata Gino terbelalak lebar mendengar kalimat terakhir perempuan di depannya. Alizeh... hampir menjual dirinya di tempat ini?
“Lo harus tahu alasan Alizeh mau jual dirinya."
“Apa?” Gino meneguk ludahnya susah payah.
“Untuk anaknya, dia cewek yang malang,” gumam perempuan itu menghidupkan rokoknya yang kedua.
To be continue---