Selama mencari Alizeh, Gino menemukan banyak fakta tentang perempuan itu. Gino mengusap dadanya menghalau rasa sesak yang tiba-tiba saja menyerang. Alizeh mengalami banyak kesulitan karena dirinya, karena bayinya, demi melangsungkan hidup dan membangun sebuah masa depan, Alizeh melakukan banyak hal. Bekerja serabutan, sampai, nyaris saja... perempuan itu menjual diri.
Gino mengusap wajahnya dengan kasar. Ia duduk di kursi makan sembari memandangi meja makan yang diisi banyak hidangan, tapi tidak ada satu pun orang yang menempati kursi makan ini kecuali dirinya.
Gino merasa geram pada dirinya. Ia tahu-tahu memukuli kepalanya berkali-kali berusaha mengingat siapa Alizeh. Perempuan itu mengalami banyak hal yang menyakitkan demi mempertahankan bayinya, tapi ia tidak mengingat apa pun. Gino mendesis, kepalanya tiba-tiba saja sakit. Oh, mungkin sebentar lagi ia akan mengingat siapa Alizeh kalau ia memukul kepalanya dengan keras, kalau perlu sampai berdarah.
Apa ia akan terus melakukan pencarian? Apa ia sanggup mendengar penderitaan perempuan itu dari mulut orang-orang yang ia datangi? Apa ia sanggup mendengarnya? Apa ia bisa?
***
Setelah diadakan rapat antara guru dan para orang tua murid, pihak sekolah memutuskan untuk mengeluarkan Ganesha dari sekolah. Terlalu banyak masalah yang dibuat bocah lelaki itu. Bukan hanya membuat huru-hara di sekolah, tetapi sudah membuat para orang tua resah dengan adanya Ganesha di sana.
Ario berjalan lesu keluar dari ruang rapat. Ario sudah melakukan banyak hal. Bahkan ia meyakinkan para guru dan orang tua murid kalau ini adalah masalah terakhir yang Ganesha buat. Tapi, pihak sekolah sudah final. Ganesha terpaksa di keluarkan dari sekolah.
Ganesha secara mengejutkan muncul di dekat mobilnya. Ario mendesah panjang. Kalau Ganesha mendengar berita ini, apa Ganesha akan menyesal dan memohon untuk tidak dikeluarkan dari sekolah? Kalau itu sampai terjadi, Ario akan menggendong bocah itu dari sekolah sampai ke rumahnya.
Ganesha menolehkan kepalanya ke samping menatap Ario sekilas. Ia membuka kaca mobil lalu membuang rokoknya ke sembarangan jalan. Ario mendengkus tanpa kentara. Anak ini, biarpun bandel, tapi masih mau menghormati Ario yang tidak merokok.
“Gimana?” tanya Ganesha datar.
“Tebak aja sendiri,” sahut Ario bersiap menghidupkan mesin mobilnya.
“Di keluarin, eh?” Ganesha setengah mendengkus, kemudian tertawa masam.
“Kamu tenang aja, Om bakal bantu cari sekolah baru buat kamu.”
Ganesha melirik Ario sekilas. “Buat apa, Om?” Ganesha menoleh ke samping. “Om Ario nggak usah repot-repot. Aku nggak sekolah juga nggak masalah kok.”
“Nanti Ayah kamu marah, Ga,” sahut Ario.
“Emang aku punya Ayah?” Pandangan mata Ganesha menajam. Wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan keramahan.
Ario malas berdebat dengan bocah ingusan di sampingnya ini. Tidak akan menang juga, yang ada dia malah naik darah.
***
“Kalau udah nggak ada pertanyaan lagi, silakan pergi...” usir pria paruh baya itu.
Gino didorong agak kasar oleh pria itu hanya karena menanyakan apakah benar Alizeh pernah bekerja dengan orang itu. Mendengar Gino menyebut nama 'Alizeh', sontak pria itu melotot dan bersikap sinis. Gino melihat gelagat aneh dari pria paruh baya itu. Kenapa setelah mendengar nama Alizeh, orang itu jadi takut?
Ia mendapatkan petunjuk baru lagi. Informan itu mengatakan kalau Alizeh pernah bekerja di sebuah rumah sebagai asisten rumah tangga. Tidak diketahui tahun berapa, dan berapa lama perempuan itu bekerja. Informasi yang ia dapat hanya mengatakan kalau Alizeh pernah bekerja di sana.
Gino menghela napas kecewa. Harapannya agar bisa bertemu dengan Alizeh musnahlah sudah. Alizeh pergi meninggalkan jejak, serta petunjuk yang menjadi misteri. Selama ia mencari perempuan itu, tidak sekali pun orang terdekatnya, atau mantan-mantan rekan kerja Alizeh memiliki foto perempuan itu. Gino semakin penasaran, sebenarnya, perempuan seperti apa Alizeh ini...
“Mas,” panggil seseorang di belakang Gino.
Gino menghentikan langkahnya dan menoleh. Seorang wanita berusia lima puluhan berlari tergesa-gesa menghampirinya sambil menenteng sebuah buku. Gino mengernyitkan dahi, bukannya wanita ini adalah pembantu di rumah pria tadi?
Gino melihat wanita tua itu menyebrangi jalan mendekati Gino yang memicingkan matanya sekaligus bertanya heran. Sepertinya, wanita tua itu ingin menceritakan sesuatu. Terlihat dari raut wajah dan langkah tergesa-gesanya.
“Mas cari Alizeh, kan?” tanya wanita itu. Ia buru-buru menyodorkan sebuah buku agenda usang dan juga plastik bening kecil kepada Gino. “Ini, Mas,” Wanita tua itu meletakkan kedua benda itu ke tangan Gino. “Dari agenda ini, Mas tahu Alizeh kenapa... tapi jangan bilang kalau saya yang ngasih ke Mas, ya." Setelah mengatakan itu, wanita tua tersebut buru-buru pergi tanpa mengatakan apa pun lagi.
Gino memandangi buku agenda di tangan beserta plastik kecil yang berisi sebuah kalung. Mata Gino menyipit memandangi aksesoris di dalam plastik. Sepertinya tidak asing, ia mengenal benda itu dengan baik.
“Ini..., ini, kan?” Gino menggenggam kalung itu. Ia membalikkan badan lantas segera masuk ke dalam mobil lalu menghidupkan mesin mobilnya.
***
Hari ini Gino pulang ke rumah orang tuanya. Langkahnya terburu-buru, sampai sapaan beberapa pelayan dan adik perempuannya pun tidak ia dengarkan.
Gino menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa. Sampai di depan pintu kamar, ia mendorong pintu kasar lantas masuk ke dalam dan membuka seluruh isi laci. Ia sedang mencari sesuatu. Mungkin saja, dari benda itu, Gino menemukan kunci terakhir untuk menemukan Alizeh.
Gino berjongkok membuka deretan laci yang berjejer. Lelaki itu menunduk, membuka laci agak kasar. Ia membongkar semua isi dari dalam dan ia lempar ke lantai. Surat-surat penting, barang-barang yang tak terpakai pun berserakkan ke mana-mana. Gino tidak menemukan barangnya. Ia duduk di lantai sambil menghela napas berat. Tidak. Ia tidak boleh menyerah begitu saja. Barang ini, satu-satunya benda yang mungkin saja bisa membuatnya ingat sosok Alizeh.
Adik perempuan Gino menyusul masuk ke dalam kamar. Ia melihat kakaknya berjongkok mencari sesuatu. Kamar kakaknya yang semula rapih, sekarang berantakan layaknya kapal pecah. Adik Gino berdecak, lalu memukul lengan kakaknya sebal. “Mas Gino lagi ngapain, sih? Kenapa diberantakin!?” Adik perempuan Gino meletakkan kedua tangannya di pinggang. “Mas Gino!” serunya kesal karena kakaknya tidak merespons juga.
“Kamu lihat kalung Mas, nggak?” sahut Gino tanpa menoleh, dan sibuk mengacak semua isi laci.
Adik perempuan Gino mengerutkan dahi. “Kalung?” gumamnya menatap sang Kakak. “Kalung yang mana?” tanya adik Gino.
Tanpa menjawab, Gino mengangkat kalung yang digenggamnya, kemudian berseru, “Kayak ini!” Gino mengangkat kalung di tangannya tinggi-tinggi.
Adik Gino setengah membungkuk memerhatikan kalung di tangan Gino. Matanya menyipit, dahinya mengernyit. Bibirnya terkatup rapat kemudian mendesis. “Kayak kenal,” gumam adik Gino. “Sebentar." Satu tangannya terulur ke depan menghentikan bibir Gino yang bergerak hendak bertanya. “Ah!” Gadis itu menjentikkan kedua jarinya bersamaan dengan matanya yang melebar. “Ini kan kalung lama Mas Gino! Bener, bener!” katanya dengan yakin sambil mengangguk-angguk.
Gino segera berdiri mencengkram lengan adik perempuannya. “Sekarang mana kalungnya!?” Dengan kasar Gino menggoyangkan bahu adiknya.
Adiknya tersentak, ia menunjuk kalung di tangan Gino. “Kalungnya kan, udah Mas pegang,” Ia menunjuk kalung di tangan Gino.
“Bukan!” Gino menggeleng cepat. “Ini bukan punya, Mas,” gumam Gino. “Sekarang, kasih tahu Mas, di mana kalungnya?”
***
Dari penjelasan Maia, adik perempuan Gino, kalung itu sudah ada sejak kakaknya sekolah. Kira-kira, saat kakaknya duduk di bangku SMA. Gino benar-benar menjaga kalung itu. Bahkan tidak ada orang yang boleh memakaianya, selain ia sendiri. Entah pemberian dari siapa, Gino terlihat senang setiap kali memandangi kalung itu sebelum tidur.
“Kaia...” gumam Gino membaca nama di balik bandul kalung tersebut. Kalung yang ia pegang saat ini adalah miliknya. Sedangkan kalung yang diperkirakan milik Alizeh terdapat sebuah nama. Nama dirinya sendiri. Gino. Apa kalung ini sepasang? Atau hanya kebetulan saja? Tapi... kalau memang kalung ini milik Alizeh, kenapa nama yang di belakang bandul ini nama orang lain? Bukan nama Alizeh?
“Mas Gino nggak ingat sama kalung ini?” tanya Maia yang sejak tadi memandangi kakaknya. “Dulu Mas Gino kayaknya sayang banget sama itu kalung. Nggak pernah Mas lepas sekali aja. Kayak takut kehilangan,” Setengah tertawa, Maia meledek kakaknya. “Aku penasaran, sih, sebenernya, kalung ini Mas beli sendiri, apa hadiah dari orang spesial Mas?” tanya Maia penasaran. Seperti yang ia katakan, ia sangat penasaran dengan kalung itu. Serta nama yang ada di belakang bandul tersebut. Kaia... Gadis itu mendesis, mengingat nama perempuan yang namanya hampir mirip dengan namanya. “Mas Gino,” Maia mendekat, menyentuh bahu Gino lembut.
Gino tersentak, mundur ke belakang. Tiba-tiba saja kepalanya sakit. Kaia... Kaia... nama itu tidak asing. Sepertinya, Gino sering menyebut nama itu. Tapi, kapan?
“Kepala Mas Gino sakit lagi?” Maia menatap kakaknya khawatir. “Mas Gino nggak apa-apa?” tanya Maia cemas.
Gino termenung. Otaknya seolah memaksa mengingat nama itu. Alizeh, beserta Kaia. Saat menyebut nama Alizeh, Gino tidak merasakan apa pun. Tapi, ketika nama Kaia disebut, hingga berulang-ulang, kepala Gino mendadak nyeri. Dadanya sesak luar biasa. Seperti ada bongkahan keras yang sulit ia hancurkan.
Gino meremas dadanya. Matanya terpejam beberapa detik. Setelahnya, tubuh besar Gino ambruk menimpa kaki Maia.
Gadis itu tersentak. Sontak ia menjerit memanggil nama kakaknya. “Mas Gino! Mas, Mas Gino? Mas Gino, kenapa!?” Maia berlutut, menggoyang-goyangkan bahu Gino.
To be continue---