Disinilah Fahri duduk dihadapan banyak orang. Keringat seukuran jagung membasahi dahinya. Tangannya gemetar hebat. ‘Ya allah lindungi hamba,’ pintanya dalam hati. Fahri tak berani melirik Baskoro—Daddy Naja. matanya menyorot tajam kearah Fahri. ‘Matilah aku,’ “Apa yang kau lakukan di kamar putri ku?!” tanya Baskoro dengan intonasi yang tinggi. “Anu… saya—“ “Anu kamu kenapa? Kejepit resleting?” “Bukan!” jawab Fahri cepat, “Bu-bukan itu maksud saya, Om.” “Lalu?” “Niat saya kemari untuk meminang Naja, Om. Boleh kan?” Ingin sekali Fahri menabok mulutnya. Kenapa harus pertanyaan itu yang ia lontarkan. Sekarang ini dia sepeti bocah bodoh yang baru saja kena bully. Baskoro memincingkan matanya heran, ‘Ini anak udah ngumpul belum sih nyawanya?’ “Pertanyaan macam apa itu?!” ‘Nah kan, ke
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


