06

1071 Kata
Purwokerto Di rumah mbah Sakiman, Di kamar Titah.. "Istirahat lah, capek, besok saja deh kasih tau bapak, Irfandi ganteng juga ya, astaghfirullahalazim Titah kok malah mikir itu sih, astaghfirullahalazim, tidur saja deh", kata Titah. Dan jam setengah enam sore gue, Arfani, dan Renaldi (kakak Titah) memutuskan untuk pulang, sebelum pulang ke rumah gue dan Arfani mengantarkan Renaldi pulang ke rumah mbah Sakiman lagi. Setelah mengantarkan Renaldi, gue dan Arfani pulang ke rumah, sesampainya di rumah gue dan Arfani melihat mbah Sakiman bersama orang tuanya Titah melihat rumah baru yang akan di tempati oleh Titah dan keluarganya, rupanya Titah dan keluarganya akan tinggal di dekat rumah gue. Di kamar gue juga tidak berhenti untuk memikirkan Titah, begitu juga dengan Arfani, ternyata Arfani suka pada Titah juga. Keesokan harinya gue dan Arfani melihat Titah di sekolah, ternyata Titah memilih sekolah di sekolah gue, tentunya berkat saran dari Arfani (kakak gue), dan orang yang pertama senang melihat Titah satu sekolah juga dengan gue adalah Arfani. Di rumah Titah, Di depan rumah Titah.. "Yang mana mbah rumahnya ?", tanya bu Rusmini. "Yang ini nduk, gimana bagus kan, gak kalah sama rumahmu di jakarta, tingkat juga loh nduk", jawab mbah Sakiman. "Iya mbah, alhamdulillah", kata bu Rusmini. Di rumah mbah Sakiman, Di kamar Titah.. "Haduh kok saya tiba-tiba gak bisa tidur, dia ganteng juga ya, namanya Irfandi", kata Titah yang sedang memikirkan Irfandi. Di rumah Irfandi, Di kamar Irfandi dan Arfani.. "Kowe Lagi apa Fandi ?" (Kamu sedang apa Fandi ?), tanya Arfani. "Biyasa, ruas harian inyong, ngapa ?" (Biasa, buku harian saya, kenapa ?), tanya Irfandi. "Oh, ra Fandi, cuma bertanya wae, oh ya Fandi" (Oh.., tidak Fandi, hanya bertanya saja, oh ya Fandi), jawab Arfani. "Iya ana apa Arfani ?" (Iya ada apa Arfani ?), tanya Irfandi lagi. "Titah ayu ya, huh.., adem mikirin dia" (Titah cantik ya, huh.., adem mikirin dia), jawab Arfani lagi. "Iya Arfani, kowe demen karo dia ?" (Iya Arfani, kamu suka dengan dia ?), tanya Irfandi lagi. "Iya Fandi, inyong menyukainya" (Iya Fandi, saya menyukainya), jawab Arfani lagi. "Oh ya Fandi.." (Oh ya Fandi..), kata Arfani. "Apa meneh Arfani ?" (Apa lagi Arfani ?), tanya Irfandi lagi. "Inyong butuh bantuan kowe" (Saya butuh bantuan kamu), jawab Arfani lagi. "Bantuan apa ?", tanya Irfandi lagi. "Inyong adreng kowe mbantu inyong nggo mendengkatkan inyong karo Titah, sakwise cedhak anyar deh.." (Saya ingin kamu bantu saya untuk mendekatkan saya dengan Titah, setelah dekat baru deh..), jawab Arfani lagi. "Anyar apa Arfani ?" (Baru apa Arfani ?), tanya Irfandi lagi. "Anyar menjadikan Titah, menjadi milik inyong" (Baru menjadikan Titah, menjadi milikku), jawab Arfani lagi. "Maksud kowe, pacar kowe ngono ?" (Maksudmu pacarmu gitu ?), tanya Irfandi lagi. "Iya kuwi maksud inyong, Fandi, kepriwe arep ya kowe mbantu inyong ?" (Iya itu maksudku, Fandi, bagaimana mau ya kamu bantu saya ?), tanya Arfani yang memohon pada Irfandi. "Iya, iya, inyong mbantu, kowe kan kakak inyong, wis ayem bae ya" (Iya, iya, saya bantu, kamu kan kakak , sudah tenang saja ya), jawab Irfandi. "Bener ya Fandi, kowe karep mbantu inyong ?" (Benar ya Fandi, kamu mau bantu saya ?), tanya Arfani lagi. "Iya, apa sih sing ra nggo kakak inyong sekaligus kanca inyong" (Iya, apa sih yang tidak untuk kakakku sekaligus sahabatku), jawab Irfandi lagi. "Oke, ya wis yen ngono mangga awake turun, ngesuk keawanan" (Oke, ya sudah kalau begitu yuk kita tidur, besok kesiangan), kata Arfani. "Iya Arfani, Arfani suka sama Titah, lalu saya bagaimana ?", tanya Irfandi didalam hati. Keesokan harinya.. Di sekolah Irfandi, Titah, dan Arfani.. Di depan kelas.. "Alhamdulillah kelas XII", kata Iwan. "Anyar mlebu wan" (Baru masuk wan), sambung Dea. "Ya kan mengucap syukur apa salahnya sih Dea", kata Iwan lagi. "Oh iya ya, hehe, si kembar mana tumben belum ada dikelas, biasanya sudah ada di sekolah sebelum saya dan kamu datang ke sekolah, si kembar telepon atau wa kamu tidak wan ?", tanya Dea. "Enggak", jawab Iwan. Di depan sekolah.. "Iwan sudah datang, tumben", kata Irfandi. "Itu kan..", kata Arfani di dalam hati. "Arfani, kowe ngapa ?" (Arfani, kamu kenapa ?), tanya Irfandi. "Fandi coba kamu injak saya, ini mimpi atau tidak sih", pinta Arfani. "Haaaa, maksudnya ?", tanya Irfandi lagi. "Sudah injak saja dan jangan banyak tanya", jawab Arfani. "Emm iya, emmm nih rasain..", kata Irfandi yang menginjak kaki Arfani. "Awwwww.., sakit Fandi", kata Arfani yang kesakitan, karena kakinya di injak oleh Irfandi. "Lah kepriwe sih kan kowe sing njaluk kok malah inyong sing di seneni" (Lah bagaimana sih kan kamu yang minta kok malah saya yang di marahi), sambung Irfandi. "Oh iya ya, inyong kelalen hehe" (Oh iya ya, saya lupa hehe), kata Arfani lagi. "Hemm.., haduh Arfani", keluh Irfandi. "Assalamu'alaikum", Titah memberikan salah pada Irfandi dan Arfani. "Wa'alaikumussalam", Irfandi dan Arfani menjawab salam dari Titah. "Fandi, Fandi", kata Arfani lagi. "Iya Arfani, saya tau", sambung Irfandi. "Tah, kamu sekolah disini juga ?", tanya Irfandi lagi. "Iya dong, hehe..", jawab Titah. "Ya sudah yuk masuk yuk", kata Irfandi lagi. "Yuk, oh iya saya minta tolong ya nanti antarkan saya ya", sambung Titah. "Antar kemana ?", tanya Irfandi lagi. "Antar ke kantor kepala sekolah", jawab Titah. "Oh oke..", kata Irfandi lagi. "Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu, Titah dan Irfandi kok akrab banget sih, kaya sudah lama kenal", kata Arfani heran melihat Titah dan Irfandi akrab. "Oh ya Fandi, Arfani mana ?", tanya Titah. "Ada kok dibelakang", jawab Irfandi. "Ada, mana, tidak ada gitu loh Fandi", kata Titah. "Loh iya kemana ya dia, tunggu sebentar ya", sambung Irfandi. "Iya Fandi", kata Titah lagi. "Tapi kan bukannya malah bagus ya kalau Titah dan Irfandi dekat, bukannya Irfandi bisa dengan cepat untuk membuat aku dan Titah juga dekat dan cepat juga aku untuk menyatakan cinta padanya", kata Arfani lagi. "Emm disini rupanya, Arfani yuk masuk ke kelas", sambung Irfandi. "Iya Fandi, yuk masuk yuk ke kelas", kata Arfani lagi. Di depan kantor kepala sekolah.. "Nah tah ini kantor kepala sekolahnya, kita tinggal ya, saya ke kelas duluan ya tah", kata Irfandi. "Iya Fandi, terimakasih ya sudah mengantar saya ke kantor kepala sekolah", sambung Titah. "Iya sama-sama tah", kata Irfandi lagi. "Assalamu'alaikum", Arfani dan Irfandi memberikan salam pada Titah. "Wa'alaikumussalam", Titah menjawab salam dari Arfani dan Irfandi. Di kelas Irfandi, Arfani, dan Titah.. "Itu dia si kembar, baru juga di omongin, eh nongol orangnya", kata Iwan. "Berarti panjang umur wan", sambung Dea. "Hehe..", Iwan hanya tertawa. "Kira-kira nanti Titah di kelas mana ya AP atau AK ya ?", Irfandi bertanya-tanya didalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN