Bab 7. Mendapat Tekanan

1397 Kata
"Aku normal, Ma!" "Kalau begitu buktikan." "Caranya?" "Menikah." Menyugar rambut dengan helaan napas memberat dan raut frustrasi. Damar berusaha menyabarkan diri. Menghadapi wanita paruh baya yang kini terbaring di tempat tidur. Sintia—ibu Damar, menolak dirawat di rumah sakit. Walau kondisinya sudah membaik. Tapi wanita paruh baya itu masih terguncang usai mendapat foto-foto Damar yang tampak mesra dengan seorang pria. "Ma—" "Terima perjodohan itu. Baru Mama percaya, kalau kamu memang suka dengan wanita." "Ya ampun, Ma. Masa lebih percaya foto-foto yang pengirimnya aja nggak jelas. Ketimbang anak sendiri sih?" "Tiga tahun, Dam. Selama tiga tahun kamu memilih tinggal di luar negeri untuk mengasingkan diri. Segala cara kami lakukan supaya kamu bersedia kembali pulang ke sini, tapi tidak pernah berhasil. Setelah Mama drop, baru kamu mau untuk pulang. Tapi apa? Mama justru mendapat banyak kabar miring tentang kamu yang masih betah melajang. Gimana Mama nggak ketar-ketir? Siapa tau, akibat patah hati berat, kamu beneran keluar jalur." "Nggak, Ma. Sungguh! Orang yang mengirimkan foto-foto itu, siapa pun dia. Pasti hanya ingin menjelekan nama baikku aja." Meski Damar sudah berusaha keras menjelaskan. Sayangnya wanita paruh baya itu tampak tak peduli pada keluhan putra bungsunya. "Mama butuh pembuktian." Jihan yang sedari tadi mendengar perdebatan adik dan ibunya, mulai tak tahan untuk ikut menimpali. "Udah sih, Dam. Turutin aja yang Mama mau, apa susahnya? Menikah tidak seburuk itu." Memecah tawa geli, seolah sang kakak baru saja membagi sebuah lelucon konyol padanya. Atensi Damar kini beralih pada Jihan. "Tidak seburuk itu? Benarkah? Apa aku harus percaya dengan ucapan seseorang yang pernikahannya saja, hanya bertahan kurang dari setahun?" Jihan mendelik. Merasa tersinggung karena Damar melempar sindiran telak padanya. "Heh! Jangan sembarangan ngomong!" "Kok sembarangan? Kan itu fakta. Udah deh, Mbak. Nggak usah nyenggol-nyenggol perkara nikah. Kalau Mbak aja nggak bisa bertahan sama pernikahan Mbak yang dulu." "Beda kasus ya, Dam. Siapa juga yang tahan punya laki tukang kibul dan doyan selingkuh?" "Salah siapa kelilipan cinta sampe susah dibilangin? Aku kan udah minta buat pikir ulang sewaktu Mbak mau nikah sama laki-laki itu. Tapi apa? Mbak yang bebal. Dan sekarang berakhir menyesal." Mendengkus, Jihan menatap adiknya dengan raut sebal. "Ya dulu kan Mbak belum sadar. Yang penting sekarang udah lepas sama benalu itu. Anggap aja pengalaman hidup yang harus Mbak rasakan." "Kenapa Mama nggak minta Mbak Jihan buat nikah lagi? Siapa tau nanti bisa kasih cucu." "Heh! Kok jadi Mbak? Yang Mama todong soal pernikahan itu kamu. Kalo Mbak—walau gagal, setidaknya udah pernah nikah. Dan Mama juga paham, Mbak nggak mau buru-buru cari calon suami lagi. Jangan sampai salah pilih kayak yang dulu." "Jadi karena itu, yang ditodong soal pernikahan cuma aku?" "Mama tidak ada maksud nodong kamu buat segera nikah biar bisa kasih cucu. Mama mau kamu menjalin hubungan serius dengan seorang perempuan." Damar memijat pelipis. Berusaha meredam denyutan di kepalanya. Pusing mencari cara untuk melarikan diri dari cecaran ibu dan kakaknya perihal pernikahan. "Kamu 'kan udah punya calon, Dam. Bawa ke sini kek. Jangan diumpetin terus." Suara Jihan yang kembali menjamah pendengarannya membuat Damar menjatuhkan atensi pada kakak perempuannya itu. "Tadinya sih, Mbak kira kamu cuma ngarang pas sesumbar di depan Mama udah punya calon sendiri. Biar nggak dijodoh-jodohin lagi. Tapi, pas ketemu langsung sama pacarmu waktu itu. Mbak mulai percaya. Kalau kamu nggak lagi ngibul. Pacar cakep kok nggak pernah dikenalin. Kalo ngasih tau lebih dulu kan, mama mau dikasih foto-foto aneh kayak waktu itu pun, nggak bakal percaya." "Jadi benar, kamu sudah punya pacar?!" tanya Sintia dengan raut wajah sumringah. Damar sudah membuka mulut. Bersiap menjelaskan. Tapi Jihan sudah lebih dulu menyambar. "Benar Ma! Aku pernah kok ketemu Damar sama pacarnya. Tapi kayaknya mereka waktu itu lagi berantem deh. Sampe ceweknya Damar luka-luka gitu." "Kamu apain anak orang, Dam?! Nggak boleh kasar sama perempuan!" tegur Sintia keras pada putra bungsunya. "Mbak, jangan suka ngasih info setengah-setengah, dan menimbulkan kesalah pahaman. Aku kan udah jelasin, kenapa Ranum luka-luka waktu itu." "Namanya Ranum? Cantik sekali. Pasti orangnya juga." "Memang cantik kok, Ma. Terus kayaknya, tipe yang nggak neko-neko." "Jangan sok tau ya, Mbak." Jihan mengedikan bahu tak acuh. Menanggapi santai kekalutan Damar karena membahas perihal Ranum di depan ibu mereka. Jika sudah begini, sudah pasti Sintia tak akan melepasnya tentang Ranum. "Tuh, kan. Mama jadi makin nggak sabar mau ketemu sama Ranum." Menepuk tangan dengan raut gemas. Sintia segera mengajukan permintaan pada putranya. "Dam, pokoknya nggak mau tau. Bawa Ranum ke sini. Kenalin sama Mama." "Tapi, Ma. Dia—" "Cukup. Mama tidak menerima alasan apa pun." Usai memberi ultimatum. Sintia segera merubah posisi berbaringnya menjadi memunggungi sang putra. Menarik selimut hingga menutupi kepala. Wanita paruh baya itu mengaktifkan mode merajuk. Menghela napas gusar. Perhatian Damar beralih pada Jihan. Melempar tatapan sengit pada kakak perempuannya yang terkikik tanpa suara. "Aku pamit pulang ya, Ma." Tak ingin mengusik Sintia—terlebih suasana hati wanita paruh baya itu tengah memburuk. Damar memilih berpamitan. "Salim dulu, Ma." Sintia mengeluarkan tangan kanannya dari dalam selimut tanpa menampakan wajah. Mempertebal sabar, Damar memilih untuk tak melayangkan protes. Usai mencium punggung tangan sang ibu dan mengucap salam yang di balas dengan suara teredam selimut oleh Sintia. Damar segera meninggalkan kamar tersebut. Tanpa menyadari, ada seseorang yang mengikuti. "Jangan lupa sama apa yang Mama minta. Bawa pacar kamu ke sini." Suara dari belakang punggungnya membuat Damar segera berbalik badan. Dan mendapati sosok Jihan yang kini berdiri di depan pintu kamar Sintia yang tertutup. Rupanya wanita itu ikut melangkah keluar saat Damar beranjak pergi dari sana. "Ngapain sih Mbak bahas soal Ranum?" "Loh? Memangnya kenapa? Katanya dia calon kamu. Kalian udah putus?" "Ya bukan," elak Damar bingung. Gimana mau putus, jika menjalin hubungan saja tidak pernah? Mereka hanya bertemu beberapa kali tanpa disengaja. Gara-gara insiden yang kemudian membuat keduanya bersinggungan satu sama lain. "Kalau begitu, harusnya tidak ada masalah, kan? Ingat ya, Dam. Pilihan kamu hanya ada dua. Bawa calon sendiri, atau terima perjodohan yang mama usulkan?" Damar mencebik. Keduanya terasa memberatkan untuknya. Karena sejujurnya, saat ini belum ada bayangan soal pernikahan. "Liat nanti deh, Mbak." Melambai singkat dengan raut muram. Damar melenggang pergi meninggalkan kediaman orangtuanya. Berkendara menuju apartemen yang selama ini di tinggali. Damar tiba-tiba berubah pikiran sewaktu di tengah perjalanan. Membelokan arah ke tempat lain, alih-alih pulang ke kediamannya yang sepi. Ketika sampai di tempat tujuan. Damar segera turun dari mobil. Mengayunkan langkah di koridor rumah sakit. Pria itu menggaruk rambutnya yang tak gatal. Hanya sebagai pengalihan dari rasa bingungnya. Kenapa dia mendatangi ruang rawat yang di tempati anak Ranum? Apa gara-gara pembicaraan di kediaman ibunya tadi, hingga membuatnya tanpa sadar ada di sini? Setibanya di tempat tujuan. Damar menatap gamang pintu ruang rawat Safa. Apa ia harus masuk ke dalam? Tapi, alasan seperti apa yang harus disodorkannya pada Ranum nanti? Bagaimana jika wanita itu merasa terusik dengan keberadaannya di sini? "Mas Damar?" Suara lembut yang menjamah pendengarannya, membuat Damar tersentak. Pria itu berbalik, dan menemukan sosok Ranum di sana. "Loh, Num? Kamu di sini?" Mengernyit heran, Ranum berdeham pelan. "Saya rasa, pertanyaan itu lebih cocok di tujukan buat Mas Damar." "Maksudku, kenapa kamu nggak di dalam jaga Safa?" Meringis kikuk, Damar menggaruk kening. "Saya ... mau jenguk Safa. Boleh?" "Saya tidak punya alasan untuk melarang." "Terima kasih." Menyingkir sejenak agar Ranum bisa masuk lebih dulu. Kening Damar mengernyit, ketika mendapati Ranum yang berjalan dengan tertatih-tatih. "Tunggu." Ranum yang sudah akan melangkah masuk, seketika mengejap heran. "Kenapa, Mas?" "Kamu kenapa?" "Ya?" Mengerutkan kening, Ranum yang belum bisa mencerna sepenuhnya ucapan Damar. Dibuat tersentak saat pria itu memangkas sisa jarak diantara mereka, lalu meneliti keadaannya dengan raut serius. "Kamu luka? Lagi? Kali ini gara-gara siapa?" "Hanya luka kecil." "Tidak ada pembeda. Bagi saya, luka tetap saja luka. Tak ada kriteria besar-kecilnya. Sama-sama bisa menyakiti. Kadang, luka yang tampak kecil dan disepelekan, justru bisa menjadi fatal kalau dibiarkan. Maka dari itu, harus secepatnya ditangani." Damar menarik pelan pergelangan tangan Ranum, berniat mengajak wanita itu untuk mengobati lukanya. Tapi sentuhan yang ia berikan membuat Ranum meringis kesakitan. Hingga Damar tersentak kaget dan langsung memeriksa pergelangan tangan wanita itu yang ternyata memerah. "Siapa yang melakukan ini sama kamu, Num?" Ranum bungkam. Enggan memberitau Damar. Jika itu hasil perbuatan istri baru mantan suaminya. "Saya jatuh." "Kamu kira saya tidak bisa membedakan luka dan penyebabnya?" Meneguk ludah susah payah, Ranum tetap mencoba mengelak, "saya ke dalam dulu, Mas. Takut anak-anak mencari saya." Tak menunggu balasan dari Damar yang membatu di depan pintu. Ranum segera menjauhkan diri dari pria itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN