Bab 8. Bimbang

1494 Kata
Ranum kira, seusai perdebatan di depan pintu tadi. Damar memutuskan untuk pergi. Kesal dengan sikapnya yang agak ketus karena tersulut emosi dan beban pikiran yang tengah menggelayuti. Tapi rupanya, Ranum keliru. Tak berselang lama. Sosok Damar kembali muncul. Sewaktu ia bukakan pintu ruang rawat putri bungsunya. Pria itu sudah menjulang tinggi di hadapannya. Ranum kira, sosok yang mengetuk pintu bukan pria itu. Tapi ibu kontrakannya yang cukup sering ikut menjaga anak-anaknya secara bergantian. Meski sudah Ranum larang karena takut merepotkan. Tapi wanita paruh baya itu merasa punya andil atas insiden yang menimpa putri bungsu Ranum. Jadi, demi menebus rasa bersalahnya, Bu Rini berkeras ikut menjaga anak-anak Ranum. Sempat terbersit juga, jika yang mengetuk pintu tadi, mungkin dokter atau suster yang hendak melakukan pemeriksaan. Tak disangka, jika yang datang justru Damar. "Boleh saya masuk?" Mengejap. Ranum tersentak dengan pertanyaan yang baru saja Damar lontarkan. Memberi anggukan, ia segera menepikan diri dari ambang pintu agar Damar bisa melangkah masuk. "Mila mana?" Mengedarkan pandangan, Damar tak menemukan keberadaan anak sulung Ranum di ruang perawatan tersebut. Sementara si bungsu tampak terlelap di ranjang rawatnya. "Ikut pulang ke kontrakan sama Bu Rini. Dan belum kembali lagi ke sini." Mungkin karena cukup sering ditinggal bersama ibu pemilik kontrakan. Kedua putrinya menganggap wanita paruh baya itu layaknya nenek sendiri. Bahkan hubungan mereka tampak lebih dekat dibanding dengan Ratih yang merupakan nenek kandung keduanya. Kadang, hal itu membuat Ranum merasa ironis. Memberi anggukan, Damar kemudian mendudukan diri di salah satu sofa yang berada di ruang rawat VIP tersebut. Ranum jelas memberi penolakan pada awalnya. Saat Damar membantu untuk mengurus pemindahan ruang rawat Safa ke ruang VIP. Usai dibujuk susah payah dan demi kenyamanan kedua putrinya, sekaligus Ranum serta Bu Rini yang kadang bergantian berjaga. Wanita itu pun akhirnya bersedia. "Sini duduk." Menepuk-nepuk sisi kosong pasa sofa yang Damar tempati. Ia meminta Ranum ikut serta duduk bersamanya. Mengendapkan rasa canggungnya, Ranum bergerak pelan. Mengayunkan langkah kearah sofa yang Damar tempati. Sebelum kemudian bergabung bersama pria itu di sana. "Mas bawa apa?" Ranum mengernyit penasaran, mendapati pria itu sibuk mengaduk isi plastik yang berada di pangkuannya. "Tadi saya ke apotek dulu." "Beli obat buat siapa memangnya? Mas Damar sakit?" "Bukan saya. Tapi kamu." "Saya?" Ranum masih dikepung bingung. Tapi pria itu sudah lebih dulu menarik pelan tangannya. "Mas, tidak perlu melakukan ini." "Saya sudah bilang. Jangan mengabaikan luka. Tak peduli sekecil apa pun luka tersebut." Tak mengindahkan protes dari Ranum. Damar tetap mengobati luka wanita itu. "Habis berantem sama siapa? Kalau dia laki-laki, beri tahu saya." "Buat apa?" "Pecundang itu harus mendapat lawan yang sepadan. Jangan hanya berani sama perempuan." "Kalau begitu, lawan mereka memang sepadan." "Mereka? Jadi yang melukai kamu lebih dari satu orang? Ck! Benar-benar pecundang. Beraninya main keroyokan," geram Damar yang telah tersulut emosi. "Mereka berdua—orang yang bertengkar dengan saya. Adalah mantan ibu mertua, serta istri baru mantan suami saya." Menghela napas berat, Ranum mengukir senyum muram. "Tadi pagi, saya mendatangi kediaman mantan suami saya. Untuk memberitahu kondisi Safa. Karena dia sulit sekali dihubungi." "Lalu? Kamu bertemu dengan mantan suamimu itu? Kenapa dia diam saja melihat kamu dianiaya ibu dan istrinya?" "Justru mantan suami saya nggak ada, Mas. Jadi tidak tau pertengkaran itu." "Mau saya bantu?" Ranum mengejap bingung, "b–bantu apa ya, Mas?" "Bantu proses hukum mantan ibu mertua sama istri baru mantan suami kamu. Gimana pun, mereka sudah bertindak kasar sampai kamu luka. Itu sudah termasuk tindak penganiayaan." "J—jangan Mas, tidak usah. Saya nggak mau memperpanjang masalah. Kalau bukan karena Safa, saya juga enggan berurusan sama mereka lagi." Damar tampak mengernyit tak senang. Keputusan yang Ranum ambil menurutnya tak tepat. "Sesekali mereka perlu diberi pelajaran. Supaya tidak memandang rendah kamu lagi. Sekali pun kamu sudah tak lagi menjadi bagian keluarga itu. Tapi ada Mila dan Safa yang akan terikat selamanya dengan mereka. Karena sampai kapan pun tak ada istilah mantan anak atau pun mantan cucu." Mengenai hal itu Ranum setuju. Justru karena alasan tersebut yang kemudian mendorong Ranum memupuk keberanian mendatangi mantan suaminya. Meski hasilnya malah mengecewakan. Tak hanya luka fisik. Ranum juga mendapat luka batin akibat cercaan dua wanita beda usia yang menyeretnya keluar dengan tak berperasaan. "Baiklah." Menghela napas, Damar coba menghargai keputusan yang Ranum ambil, "tapi jika peristiwa ini berulang. Kamu tidak boleh diam saja. Beritau saya kapan pun kamu berubah pikiran untuk memperkarakan mereka ke jalur hukum." Walau Damar sangsi jika Ranum bersedia meminta bantuan padanya. Mengingat sikap wanita itu yang selalu merasa sungkan padanya. "Iya Mas." Menganggukan kepala, Ranum memilih untuk tak mempernjang masalah. "Selesai." Damar mengukir senyum melihat hasil kerjanya. "Terima kasih." Ranum tampak kikuk dengan perhatian yang pria itu tunjukan. Mengingat, walau bagaimana pun, mereka belum lama mengenal. "Biar saya saja yang bereskan. Mas Damar kan sudah bantu obati." "Tidak perlu. Jika hanya begini, saya bisa melakukannya. Gini-gini saya cukup lama tinggal sendiri, jadi terbiasa melakukan apa pun secara mandiri. Termasuk beres-beres rumah dan memasak. Percayalah, hasilnya tak terlalu buruk." "Benarkah?" Ranum cukup tertarik mendengar sepenggal cerita yang Damar bagi padanya. Ia mendengarkan kisah pria itu selama tinggal di luar negeri. Terlebih, Damar menceritakannya dengan raut antusias. Sebelum akhirnya, raut wajah pria itu berubah, ketika cerita tentangnya usai. Dan beralih pada pembahasan lain. "Hm, Num?" "Ya, Mas?" Berdeham-deham untuk meluruhkan rasa gugupnya. Damar yang sudah selesai bercerita, kini teringat sesuatu. Walau pada awalnya sempat digerayangi perasaan ragu. Tapi dia merasa perlu menyampaikan hal yang mengganjal hatinya pada wanita itu. "Anu, begini. Kamu masih ingat kan, kalau kita sempat bertemu dengan kakak saya?" "Kakak Mas Damar?" Mengernyitkan kening, Ranum coba mengorek ingatan yang sudah tertimbun lupa. "Iya, sewaktu kita mengalami insiden untuk yang kedua kalinya. Pas mobil saya nggak sengaja nyerempet kamu." "Ah, yang itu? Maaf Mas, saya baru bisa mengingatnya." Terlalu banyak hal yang berjejal di kepala Ranum. Jadi terkadang ia mudah melupakan sesuatu. Termasuk insiden itu. "Iya benar, yang itu. Dan ... saya tidak menyangka kalau masalahnya akan makin panjang." "Masalah yang mana, Mas? Bukannya kita sepakat sudah menyelesaikannya? Lagipula Mas Damar telah bertanggung jawab dengan membawa saya berobat. Bahkan membantu mengurus pemindahan ruang rawat Safa ke sini hingga bisa lebih nyaman. Padahal untuk yang satu itu sudah jelas di luar tanggung jawab Mas Damar." "Bukan masalah diantara kita, Num. Tapi saya dan kakak perempuan saya. Dia cepu. Ck! Nyebelin banget memang." "Cepu? Maaf Mas, saya kurang paham." Meringis malu, Ranum menggaruk lehernya dengan gerakan kikuk. "Jadi Num, kakak saya bilang soal kamu ke mama. Ya ... memang sih, salah saya juga karena waktu itu seenaknya mengklaim kamu secara sepihak. Kalau kamu itu pacar saya. Abisnya posisi saya sedang terjepit. Dipaksa untuk menerima perjodohan yang tidak saya inginkan. Makanya, saya ngaku-ngaku kalau kita punya hubungan. Siapa tau, kalau mereka kira saya sudah punya pacar. Rencana perjodohan itu akan dibatalkan. Tapi, malah timbul masalah baru." "Apa itu, Mas?" Ranum ikut digerayangi was-was. "Ada yang kirim foto saya ke mama. Di mana, foto itu seolah memperlihatkan saya bemesraan sama seorang pria. Kamu juga ingat kan, kakak saya saat itu mencak-mencak? Ya gara-gara masalah foto itu." "A—apa?" Ranum refleks menutup mulutnya. Berkejap-kejap menatap Damar yang tengah digulung frustrasi. "Tolong jangan salah paham seperti keluarga saya." Mengangkat kedua tangannya. Damar meminta Ranum untuk tak menduga-duga. "Dia teman saya. Dan kami berinteraksi layaknya seperti biasa saja. Tapi foto itu diambil dengan angle yang bisa memicu kesalah pahaman. Saya bahkan tak berlama-lama di sana. Sekadar menghargai undangan teman saya yang tengah berulang tahun dan merayakannya di klub malam." Ranum tak mengenal Damar sepenuhnya. Jadi, semua yang pria itu katakan, kemungkinan jujur atau pun bohong. Ia tak akan tau. Tapi, jika dari hati, Ranum merasa, kalau pria itu berkata yang sebenarnya. "Mama saya sampai drop gara-gara foto itu. Dan saya sudah jelaskan panjang lebar. Sayangnya, mama saya belum bisa percaya. Sampai akhirnya, kakak saya—Mbak Jihan. Nyeletuk tentang kamu. Akibatnya mama saya langsung heboh dan merengek minta dipertemukan sama kamu." "A—apa? Ketemu sama saya, Mas?" Ranum refleks menunjuk dirinya sendiri dan diangguki Damar. "Iya, Num. Mama mau ketemu kamu. Karena mengira, kalau kamu memang benar-benar pacar saya." "Tapi kan itu tidak benar, Mas. Kita tidak punya hubungan. Coba Mas Damar jelaskan lagi pelan-pelan sama Ibu Mas. Kalau semua ini hanya salah paham." "Tidak semudah itu, Num. Saya juga mempertimbangkan kondisi kesehatan mama saya yang akhir-akhir ini sedang tidak stabil. Bisa makin ngamuk kalau tau saya bohong soal kita." Menepikan ragu yang menggelayut, Damar menatap lekat wanita di depannya. "Num? Apa bisa saya meminta bantuan?" "Bantuan apa, Mas? Jika memang saya mampu. Insya Allah akan saya coba bantu." Bagaimana pun, Damar sudah cukup sering membantunya. Maka dari itu, Ranum berpikir, tak ada salahnya melakukan balas budi pada pria itu. "Sungguh?" "Ya." Angguk Ranum, mencoba meyakinkan. Berdeham pelan, Damar menghela napas panjang, sebelum kemudian mengutarakan permintaannya di depan Ranum. "Apa ... kamu mau, menjadi pacar pura-pura saya di depan mama?" T—tunggu dulu. Apa yang dibilang Damar tadi? Pacar pura-pura? Mengejap kaget. Kini Ranum dikerubungi keraguan. Baru saja ia sesumbar bersedia membantu Damar. Tapi kenapa, sekarang nyalinya justru menciut?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN