Bab 9. Kedatangan Saingan

1495 Kata
"Non Jihan," panggilan tersebut membuat langkah sang pemilik nama terinterupsi. Menjatuhkan atensi pada sang asisten rumah tangga, Jihan menyahuti. "Ya, Mbok?" "Maaf, Non. Itu, di luar ada yang cari Nyonya." "Siapa, Mbok?" "Non Nova." "Nova?" Menaikan satu alis mata. Sudut bibir Jihan terangkat membentuk senyuman usai mendengar nama tersebut. "Suruh masuk aja, Mbok." "B—baik Non, akan saya sampaikan." Menganggukan kepala, wanita paruh baya itu segera menjalankan apa yang Jihan perintahkan. Sepeninggal asisten rumah tangganya. Jihan bergegas menuju ke halaman belakang. Di mana Sintia saat ini berada. "Ma! Mama! Ma!" "Apa sih, Ji? Kok ya teriak-teriak begitu?" Berdecak, Sintia yang tengah memberi makan ikan-ikan kesayangannya, melempar teguran pada sang putri sulung. Mengatur napas yang agak memburu karena terburu-buru mendatangi ibunya. Jihan melempar cengiran. "Ma?" "Ya ampun. Iya, apa?" "Ada tamu." "Siapa? Sampe kamu harus seheboh ini. Ada yang datang mau lamar kamu?" Senyum di wajah Jihan seketika surut, mendengar tebakan Sintia. "Ish! Ya bukan, Ma. Lagian siapa yang mau lamar? Orang aku nggak lagi deket sama pria mana pun. Masih menikmati masa-masa single. Setelah dibikin mumet sama laki tukang selingkuh itu." Bersedekap tangan, Jihan mendengkus kesal. Meringis, Sintia berdeham pelan. Segera mengalihkan pembicaraan dan tak lagi menyinggung hal pribadi sang putri. "Siapa tamunya?" Mengurai tangannya yang tadi dalam posisi bersedekap. Jihan kembali tampak antusias. "Mantan calon mantu Mama." "Hah? Siapa? Memang kapan Mama punya mantan calon mantu? Kalo mantan mantu kan memang ada. Mantan suami kamu itu." "Bukan, Ma. Beda kasus. Yang ini baru calon, tapi udah mau jadi mantan." Memejam sejenak. Berusaha memunguti kesabarannya, Sintia mulai pening karena Jihan terus mengajaknya bermain teka-teki. "Siapa sih? Mama beneran nggak tau yang kamu maksud." "Itu loh Ma, yang tadinya mau Mama jodohin sama Damar. Tapi nggak jadi, karena Damar udah punya calon sendiri." "Ya ampun, maksud kamu Nova?" Menjentikan jari, Jihan mengangguk membenarkan. "Ck! Tinggal bilang Nova aja ribet banget sih, Ji? Harus muter-muter dulu pembahasannya." "Loh, kan dari awal aku udah kasih clue ke Mama. Kalo yang datang mantan calon mantu Mama." Tak lagi menyanggah agar tak memperpanjang perdebatan. Sintia segera menyambut kedatangan tamu tak terduganya. "Mama ke depan dulu temui Nova." Menyerahkan tempat makan ikan pada Jihan. Sintia segera meninggalkan halaman belakang. "Ih, Ma! Aku ikut!" Mana mungkin Jihan melewatkan kedatangan mantan calon iparnya itu? Segera meletakan tempat makan ikan yang tadi Sintia titipkan padanya. Ia bergegas mengekori wanita paruh baya itu. Setibanya di dalam. Seorang gadis dengan dress merah menatap sumringah kearah Sintia. Berderap cepat agar bisa memangkas jarak yang membentang diantara mereka. "Tante." "Nova?" Jihan hanya memerhatikan dua wanita beda usia itu yang tengah saling sapa. Sebelum kembali mengekori ketika Sintia menggiring Nova menuju ruang tamu. Mendudukan diri di sofa yang berseberangan dengan Sintia dan Nova. Jihan merasa sedikit terasingkan. "Saya kaget pas dengar, kalau Tante masuk rumah sakit." Memasang ekspresi khawatir, Nova menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. "Maaf ya Tante. Saya baru bisa jengukin sekarang." Mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah, Sintia memecah tawa ringan. "Aduh, Nov. Tidak perlu merasa bersalah. Lagipula Tante nggak kenapa-napa. Maklumlah, namanya juga sudah lanjut usia. Jadi ada aja yang dirasa." "Tapi tetap saja, saya merasa melewatkan berita penting tentang Tante." "Kamu kan sibuk. Jadi wajar saja kalau tidak sempat." "Sesibuk apa pun. Andai saya tau lebih awal. Pasti akan langsung jengukin, Tante. Mas Damar nggak ada bilang apa pun tentang sakitnya Tante selama kami berkomunikasi. Saya baru tau pas dikabari Mama semalam." "Mungkin karena sakitnya Tante cuma kelelahan—" "Sama banyak pikiran." Sambar Jihan yang kemudian mendapat pelototan dari Sintia. Melempar cengiran, Jihan mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V. Kembali menjatuhkan atensi pada gadis yang duduk di sampingnya, Sintia mengelus lembut lengan Nova. "Kamu sendiri gimana kabarnya, Nov?" "Aku baik, Tante." Berdeham pelan, Nova mengulum senyum malu-malu. "Mas Damar sibuk nggak ya, Tan?" "Loh, kenapa nggak tanyain langsung sama orangnya?" "Nggak enak, Tan. Takut ganggu juga." "Ngapain malu? Nggak apa-apa, tanyain aja. Lagian, Damar paling cuma sibuk sama kerjaannya. Abis itu ya leha-leha di apartemennya. Damar kan jarang kelayapan kalau nggak ada hal penting yang harus bikin dia pergi keluar. Kecuali memang lagi suntuk, baru dia nikmati waktu senggang dengan cari hiburan di luar. Anaknya memang agak mageran. Senengnya mendekam di apartemennya." "Oh ... gitu ya, Tan?" "Iya." Angguk Sintia. "Tapi kalau boleh tau, kamu mau ajakin Damar kemana? Sekadar jalan-jalan? Atau ... kencan?" "Kondangan, Tan." Melempar tawa formalitas, Nova kembali menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. "Kebetulan, lusa nanti, sepupu saya ada yang nikahan. Maunya sih, ajakin Mas Damar biar ada temennya. Jadi kan di sana nggak kayak anak hilang yang bingung harus apa? Belum lagi kalau ditanya-tanya kapan nyusul? Paling males sebenarnya. Capek harus jelasin status saya yang belum jadi istri orang." "Memang tuh, ada aja mulut rese. Suka usik-usik privasi cuma buat kebutuhan basa-basi. Anyepin aja. Nggak usah ditanggapi." "Aduh Tan, kalau aku cueki, malah makin jadi nanti. Bisa-bisa jadi bahan gosip gara-gara dianggap sombong nggak mau berbaur." "Memang ya, suka serba salah. Padahal mereka yang udah bersikap nggak sopan. Malah tetap cari pembenaran." "Maka dari itu, Tan. Kalau bukan saudara sendiri yang nikah. Saya sebenarnya suka males harus lama-lama diacara nikahan orang. Kalau datang ke acara temen sih, abis nyapa pengantinnya terus basa-basi bentar, biasanya langsung pulang. Tinggal kasih alasan lagi sibuk jadi buru-buru. Tapi kalau yang punya acara saudara sendiri, kayaknya saya nggak bisa pake cara itu. Nanti diomeli mama. Takut diomongi jelek sama saudara yang lain." "Kamu tenang aja ya, Nov. Biar Tante bantu omongi Damar buat temenin kamu kondangan." "Beneran, Tan?" Nova seketika sumringah. "Loh, ya bener. Tante akan bicara langsung sama Damar. Pokoknya dia nggak boleh nolak." "Tapi Tan, aku jadi nggak enak sama Mas Damar. Kalau dia sebenarnya keberatan gimana?" Sebelum Sintia membalas kegamangan Nova. Jihan sudah lebih dulu angkat bicara. "Paling yang keberatan ceweknya Damar." Sembari memerhatikan kuku-kuku jemarinya, Jihan membalas santai. Berbanding terbalik dengan raut terkejut yang kini tergambar di wajah Nova. "M—maksud Mbak Jihan apa ya?" Memecah tawa hambar, Nova berusaha mengais ketenangan. Menanggapi sang calon kakak ipar yang sedari awal, tampak tak terlalu suka dengannya. Alih-alih menjawab pertanyaan Nova, Jihan justru beralih menatap Sintia, "Ma, kok nggak bilang sih, kalau Damar udah punya calon sendiri?" "Jihan!" Melempar delikan, Sintia mencoba memperingatkan putri sulungnya untuk tak membahas masalah itu di depan Nova. Sayangnya sudah terlambat. Karena Nova sudah dijamah rasa penasaran. "Tante, beneran Mas Damar udah punya calon? T–terus saya gimana? Kan harusnya saya yang dijodohkan sama Mas Damar. Inget loh, Tante sudah bersepakat sama orangtua saya." Tak mengindahkan peringatan ibunya. Jihan kian memanas-manasi. "Loh, kan yang bakal jalanin hubungan itu Damar sendiri. Jadi harusnya yang perlu kamu pastikan itu Damar. Bukan mama saya. Nah, masalahnya, adek saya itu mau nggak dijodohin sama kamu?" Memijat pangkal hidungnya, Sintia mulai dihantam pusing karena berada di posisi serba salah. Dan itu semua berkat putri sulungnya. Memunguti lagi ketenangan yang sempat berserakan. Sintia coba menenangkan Nova yang dikepung resah. "Belum pasti kok, Nov. Siapa tau hanya teman biasa. Tapi Jihan saja yang terlalu melebih-lebihkan. Buktinya, sampai sekarang pun, Damar belum memperkenalkan wanita yang digadang-gadang akan jadi calon istrinya ke Tante." "Mama meragukan aku?" Jihan seketika menyambar pernyataan Sintia. Tak terima diragukan oleh wanita paruh baya itu. "Ma, aku saksi mata pas Damar lagi barengan sama ceweknya. Ya mungkin masih ada banyak pertimbangan. Makanya sampai sekarang Damar belum kenalkan perempuan pilihannya ke Mama." "Justru itu. Berarti kan belum pasti. Bisa jadi mereka cuma temenan. Tapi diklaim sebagai pasangan biar Damar dikira nggak jomlo lagi." Baiklah. Cukup! Nova tak peduli dengan wanita antah berantah yang Damar klaim sebagai calon istri pria itu. Status yang seharusnya disematkan pada dirinya. Jangan sampai, usahanya mencari muka selama ini harus berakhir sia-sia. Dikalahkan oleh wanita tak jelas yang Damar saja ragu mengenalkannya di depan Sintia. Memunguti kembali kepercayaan dirinya yang sempat koyak. Wajah muram Nova seketika berganti dengan ekspresi tenang. Karena berita pacar baru Damar masih simpang siur. Berarti kesempatan untuknya masih terbentang luas. "Saya percaya sama Tante. Tidak mungkin mempermainkan saya serta keluarga saya." "Mempermainkan?" Jihan mengernyit tak senang dengan pemilihan kata yang Nova ambil, seakan-akan ibunya adalah seseorang yang suka membual. "Saya tekankan sekali lagi ya sama kamu. Perihal perjodohan itu, statusnya masih sebatas wacana. Belum resmi. Jadi jangan bersikap seakan-akan kamu dikhianati sama Damar. Dia masih sangat berhak memilih wanita mana pun yang mau dijadikan sebagai calon istrinya. Harapan yang telanjur kamu gantung tinggi. Itu bukan tanggung jawab adik saya." "Jihan, kamu kok gitu sih ngomongnya? Jangan kasar ah, sama Nova. Seperti yang tadi Mama bilang. Sebelum Damar bawa langsung perempuan itu ke rumah ini, Mama nggak akan perca—" "Assalamualaikum, Ma?!" Ketiga wanita itu sontak menoleh secara bersamaan. Usai mendengar suara salam dari seseorang. Di sana. Tampak sosok yang tengah mereka bicarakan. "Oh, sedang ada tamu?" ucap Damar mendapati keberadaan Nova. Tak lagi menjadi pusat perhatian. Ketiga wanita itu menatap lekat, pada sosok yang berdiri kikuk di samping Damar. "Ma, aku bawakan calon mantu." Gurauan Damar membuat Nova bak diguyur air es. Gadis itu membeku dengan sorot penuh amarah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN