Entah kemana perginya keyakinan Ranum? Mungkin tersapu ragu yang merayu? Ketika di hadapkan pada keluarga Damar. Nyalinya langsung menciut. Terlebih, candaan yang baru saja pria itu layangkan. Membuatnya kian gentar. Meski tau, yang dilakukan Damar saat ini sebatas memerankan peran sesuai kesepakatan.
Mengeratkan pelukan pada lengan Damar. Ranum punguti lagi ketenangannya yang berserakan terkoyak gugup.
Demi meyakinkan sang target, Ranum paksa menerbitkan senyumnya. Walau masih tampak kaku.
"Oh, ya ampun, akhirnya!" Jihan bangkit dari duduknya. Berderap tak sabaran kearah wanita yang dibawa adiknya. "Hai, apa kabar?" Mengulurkan tangan, Jihan sapa Ranum yang berdiri kikuk di samping Damar.
Melepas tangannya dari lengan Damar. Ranum membalas uluran tangan Jihan. "B—baik. Mbak apa kabar?"
"Oh, tentunya baik. Apalagi hari ini. Kabar Mbak makin baik, soalnya bisa ketemu sama calon adik ipar." Memecah tawa, Jihan mencuri pandang kearah Nova yang tampak menekuk wajah masam. "Ma? Kok diem aja sih? Sebelumnya ribut, minta Damar bawa calonnya ke rumah. Ini sekarang udah dikabulin loh sama dia."
Provokasi yang Jihan lakukan berhasil. Sintia ikut bangkit dari duduknya. Mengayunkan langkah kearah wanita yang digadang-gadang sebagai calon istri pilihan putra semata wayangnya. Padahal sebelumnya, Sintia tengah berbincang santai bersama calon menantunya yang lain.
Ketika Sintia telah berada di depannya. Ranum segera menyalami wanita paruh baya itu. Bak terlempar di masa lalu. Ia kembali mengingat masa-masa mendebarkan saat dikenalkan oleh orangtua kekasihnya. Yang membedakan, status hubungannya dengan Damar hanya pura-pura. Demi menyenangkan Sintia yang drop akibat kabar buruk yang berseliweran tentang putra bungsunya.
Ya. Memang yang mereka lakukan itu salah. Bukankah secara tak langsung, Ranum ikut berkomplot dengan Damar untuk menipu wanita paruh baya itu?
Tapi mau bagaimana lagi? Ranum yang merasa memiliki hutang budi. Akhirnya mengabulkan permintaan Damar untuk memerankan pacar palsu pria itu.
Pemandangan yang kini tersuguh di depan matanya membuat Nova dihantam perasaan dongkol.
Yang benar saja?!
Gara-gara kedatangan wanita itu. Keberadaannya bak makhluk tak kasat mata sekarang!
Meredam paksa kekesalannya. Nova akhirnya ikut bergabung bersama mereka. Tak ingin terabaikan begitu saja.
"Halo," sapanya dengan senyum formalitas. "Saya Nova."
Ranum membalas sapaan wanita asing yang baru dilihatnya. Apa mungkin saudara Damar yang lain? Sebelumnya, baru sosok Jihan yang Ranum kenal.
"Saya Ranum." Mengejap bingung, Ranum memandang tangannya yang masih menggantung di udara. Usai bersalaman yang hanya persekian detik, bahkan sepertinya, yang tadi bersentuhan dengan telapak tangannya adalah angin. Karena Nova begitu cepat menarik kembali tangannya.
"Kok jadi berdiri kayak gini? Ngobrolnya sambil duduk aja," ucap Jihan, yang kemudian mengajak Sintia kembali kearah sofa.
"Iya bener, nanti Mama capek." Angguk Damar yang menyetujui ucapan kakaknya. Sebelum kemudian beralih pada Ranum yang lebih banyak diam di sampingnya. "Ayo, Num."
"I—iya, Mas."
Nova mencebik, kenapa dia tak diajak juga? Tak ingin terlihat menyedihkan, ketika semua orang mulai mendudukan diri. Nova ikut mengambil tempat walau harus puas duduk di sofa tunggal.
Harusnya yang duduk di samping Damar adalah dirinya. Bukan wanita yang—uh, coba lihat? Penampilannya tampak membosankan. Dari atas kepala sampai bawah kaki. Nova tak mengendus adanya barang-barang mewah yang melekat di tubuh wanita itu.
Damar pasti sedang iritasi mata. Bagaimana mungkin, lebih memilih wanita itu dibanding Nova yang lebih dari segala-galanya?
Jangan bilang, kalau pria itu tengah diguna-guna?
"Jadi, ini yang namanya Ranum?"
"Iya benar, Ma. Aku menepati janji bawa Ranum berkunjung ke sini. Sekaligus menjenguk Mama."
"Kenapa dadakan sih, Dam?"
"Loh, kan Mama yang mau cepat-cepat. Siapa yang kemarin-kemarin ribut terus minta aku bawa Ranum ke rumah?"
Baiklah. Sintia tak bisa mengelak. Dia memang sempat merecoki putra bungsunya, karena tak sabar ingin bertemu langsung dengan wanita yang membuat Damar enggan menerima perjodohan yang telah direncanakannya.
Tapi yang menjadi masalah bagi Sintia. Kenapa Damar membawa Ranum di saat Nova—tengah datang berkunjung juga? Kan jadi bentrok. Calon mantu pilihannya dan sang putra.
"M–mohon maaf Tante, saya tidak membawa apa-apa ke sini."
"Aku yang larang, Ma. Sepanjang jalan pas menuju ke sini. Ranum udah cerewetin aku buat bawa sesuatu. Tapi aku udah bilang itu nggak perlu. Soalnya yang Mama mau cuma calon mantu. Jadi, bawa kamu aja cukup, Sayang."
Tak hanya Ranum yang nyaris jantungan. Tiga wanita lainnya pun dibuat terkejut dengan sikap romantis yang tengah Damar pamerkan.
"Kiw! Adek Mbak lagi kasmaran," memecah tawa puas, Jihan tak mau ketinggalan untuk ikut memprovokasi. "Tuh, Ma. Putra semata wayangnya udah siap menggelar hajatan."
Andai tak terjebak situasi pelik. Sintia sudah pasti kegirangan. Yang menjadi masalah, ada harapan yang telanjur ia berikan pada gadis lain yang sedari tadi diam memerhatikan.
"Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan? Kenapa nggak pernah bilang kalau sudah punya pacar sih, Dam? Sampe bikin Mama inisiatif cariin calon istri. Kan harusnya ngomong lebih awal, mana udah telanjur mau jodohin kamu sama Nova."
Mendengar nama tersebut membuat perhatian Ranum tertuju pada sosok wanita yang pada awalnya ia kira bagian dari keluarga Damar. Tapi rupanya, Nova bukan saudara pria itu.
Lalu, jika memang Damar sudah dijodohkan. Kenapa pria itu meminta Ranum menjadi pacar pura-pura?
"Ya kan dari awal aku memang udah keberatan sama rencana Mama. Tapi nggak ditanggapi kan? Padahal itu hak aku mau menerima atau tidak perjodohan tersebut. Terus, kalau soal hubunganku sama Ranum. Ya memang belum lama. Tolong jangan libatkan Ranum karena dia nggak tau apa-apa. Aku berani ambil sikap ini, soalnya tidak pernah merasa menyetujui perjodohan yang Mama rencanakan. Jadi, statusku sebelum sama Ranum memang masih single. Maka dari itu, aku harap nggak ada drama seolah-olah aku berselingkuh."
Nova yang sedari tadi bungkam. Akhirnya memuntahkan kejengkelannya. "Mas Damar mungkin bisa mengklaim tidak melakukan perselingkuhan karena kita belum terikat secara resmi. Tapi, saya tetap merasa dipermainkan! Seolah-olah diberi harapan palsu. Jadi posisi saya tetap dirugikan."
Jihan ikut menimpali, tak senang dengan sikap Nova yang terkesan menyudutkan Damar dan menyalahkan Sintia yang dianggap sudah mengumbar harapan palsu pada wanita itu.
"Kamu lupa dengan yang saya bilang sebelumnya?" Todong Jihan langsung. "Saya sudah peringatkan. Jangan mengharapkan apa pun, pada Damar yang sudah memiliki pilihan sendiri."
"Tapi kan Tante Sintia—"
"Ya. Mama saya memang salah. Terlalu terburu-buru membahas perjodohan yang Damar sendiri belum menyetujui. Mungkin tindakan Mama di dorong ke khawatiran berlebihan, saat putra satu-satunya di usia yang sudah matang. Belum juga memiliki hubungan serius dengan seorang perempuan menuju kearah pernikahan."
"Ya terus saya gimana dong?!"
"Ya nggak gimana-gimana. Kamu mau mengharapkan apa? Itu calonnya Damar udah ada di depan mata. Masih belum paham juga, kalau kamu sama adik saya udah nggak ada harapan buat dijodohkan? Walau pahit. Harus terima kenyataan. Damar udah bawa jodoh sendiri."
"Jihan. Hentikan. Sudah, cukup! Jangan kasar begitu sama Nova." Peringat Sintia pada sang putri.
"Mama kok masih bela dia sih?" Jihan dipecut rasa kesal. "Aku kan cuma bantu meluruskan. Abisnya mantan calon mantu Mama itu nggak paham-paham. Masih aja maksa mau lanjutin perjodohan sama Damar. Padahal udah liat sendiri Damar bawa calon istrinya."
Memunguti sisa harga diri. Nova segera bangkit, menaikan dagu, ia tatap sengit wanita yang duduk di samping Damar. Sebelum kemudian melunakan wajahnya yang sempat mengetat saat beralih kearah Sintia. "Tante. Saya lupa ada urusan. Kalau begitu, saya pulang dulu ya." Memaksakan senyuman. Nova coba tak menyemburkan kejengkelannya di hadapan wanita paruh baya itu.
"Loh, Nov, kok buru-buru?"
Tertawa hambar, Nova membenahi poni rambutnya sembari berdeham-deham. "Saya ada kesibukan lain, Tan. Maklumlah, saya bukan orang yang nantinya cuma mengandalkan kekayaan pasangan. Lebih suka mencari uang dari hasil keringat sendiri. Biar nggak jadi benalu."
"Maksudnya apa ya?" Jihan mengernyit tak senang. Ocehan Nova kembali memantik emosinya. "Maksud kamu, yang nanti jadi istrinya Damar bakal dianggap benalu? Tolong jangan merasa paling bisa cari uang sendiri. Lagian memang sudah jadi tanggung jawab Damar buat membiayai kebutuhan istrinya."
"Loh, kok Mbak Jihan marah? Saya nggak ada maksud menyinggung siapa pun loh. Itu kan prinsip pribadi saya saja."
"Ya tapi arah omongan kamu itu menjurus ke adik saya. Tanpa menyebut nama pun, saya tau, kamu sedang menyindir Ranum, yang kemungkinan besar bakal jadi istri Damar."
Sintia segera menengahi. Tak ingin perdebatan putri sulungnya dan calon mantunya yang terancam gagal itu, kian panjang dan runyam.
"Aduh, sudah, kok jadi ribut-ribut gini?" Memecah tawa canggung, Sintia meraih lengan Nova dan mengelusnya pelan, "ayo Tante antar ke depan."
Meredam gebukan amarah yang menyerbu hatinya. Nova tak membantah saat digandeng Sintia menuju pintu keluar.
Ranum yang sedari tadi diam. Tampak gelisah di tempat duduknya. Merasa tak enak hati, karena secara tak langsung, sudah memicu pertengkaran antara Jihan dan Nova barusan.
Tau begini, mungkin harusnya Ranum tak usah menyanggupi permintaan Damar.
Mau bagaimana lagi? Sesal memang selalu menempatkan diri di bagian akhir.