Sepeninggal Nova. Ranum kian dikepung canggung. Ada perasaan tak enak hati yang menggelayuti. Meski Damar mengklaim tak terikat hubungan dengan wanita itu. Tapi tetap saja, wacana perjodohan yang memantik harapan bagi Nova, membuat Ranum merasa jika dirinya bak orang ketiga.
Ranum tidak mau merusak hubungan siapa pun. Mengingat, dia sendiri tau rasanya, seperti apa ketika hubungan yang dimiliki, dihancurkan pihak lain.
"Tidak perlu dipikirkan." Suara yang menjamah pendengarannya membuat atensi Ranum beralih pada sosok Jihan. Wanita itu seolah tau apa yang kini tengah membebani pikirannya. Situasi tadi memang cukup memojokan Ranum. Keberadaannya secara tak langsung sudah memusnahkan rencana perjodohan yang telah digadang-gadang sedari lama oleh Sintia.
"Jangan merasa bersalah. Damar memang tidak punya hubungan apa-apa dengan Nova. Cuma sekadar wacana mama saja, untuk dijodohkan dengannya. Tapi kan keputusan akhir tetap berada di tangan Damar. Kalau yang dia pilih kamu, tidak ada yang bisa memaksa. Termasuk Mama, iya kan, Ma?" Melempar senyum penuh arti, Jihan menatap Sintia yang baru saja kembali seusai mengantar Nova.
Mendudukan diri, wanita paruh baya itu menghela napas gusar. "Benar. Ya kalau memang Damar maunya sama kamu. Saya mana bisa memaksa? Daripada nanti menjalani pernikahannya cuma setengah hati. Terus ujung-ujungnya berantakan. Yang penting, Damar akhirnya serius untuk menjejaki pernikahan."
Tak masalah sekali pun sang putra memiliki pilihan sendiri. Asal sosok itu bukan pria yang berada dalam foto-foto yang sempat dilihatnya hingga membuat kondisinya drop.
"Mantan mantu Mama yang gagal itu pasti ngadu ke orangtuanya," ucap Jihan menyindir Nova.
"Ya biar saja. Memang sudah jadi konsekuensi Mama karena berani sesumbar soal perjodohan itu. Biar nanti Mama obrolkan lagi sama orangtuanya Nova."
Mendengar hal tersebut, Damar mengulum senyum. Berusaha tak menampakan secara gamblang ekspresi girangnya, karena rencana perjodohannya resmi dibatalkan. Tidak sia-sia dia menjadikan Ranum sebagai pacar palsunya. Akhirnya, Damar tak lagi dirongrong sang mama untuk menikah dengan wanita yang tak ia cinta.
Apa yang dirasakan Damar, berbanding terbalik dengan Ranum yang masih dikerubungi kegugupan. Apa tugasnya sudah selesai? Bukankah Damar tak lagi dijodohkan dengan wanita tadi. Jika benar. Syukurlah. Itu berarti, setidaknya ia sudah membalas hutang budi yang Damar beri. Walau masih tak sepadan dengan semua bantuan yang telah pria itu lakukan untuknya dan kedua putrinya.
"Terus, kapan saya bisa bertemu orangtua kamu, Ranum?" pertanyaan Sintia berhasil membuat sejoli itu dihantam kaget.
Jadi belum berakhir? Kenapa Sintia justru meminta pertemuan dengan orangtua Ranum? Hal yang cukup mustahil untuk dikabulkan.
"Ma, pelan-pelan dong. Jangan langsung tancap gas kayak gitu. Baru juga aku kenalin Ranum hari ini. Masa udah mau di datangi orangtuanya?" Damar berusaha membujuk Sintia. Bisa gawat kalau diminta untuk mendatangi kediaman Ranum dan melamarnya. Itu di luar kesepakatan awal mereka.
"Loh, ya harus cepat-cepat dong, Dam. Mau nunggu apalagi? Kamu itu udah bangkotan. Bukan lagi remaja yang sibuk pacar-pacaran. Kalau tujuannya bukan untuk menjalin hubungan yang serius. Mending tidak usah sekalian. Mama sampe rela bakal kena semprot orangtuanya Nova demi mendukung perempuan pilihan kamu. Semisal masih mau main-main, mending Mama paksa kamu nikah sama Nova aja yang jelas-jelas berniat serius." Sintia seketika memuntahkan kekesalannya, pada sang putra yang masih enggan serius dengan hubungan yang saat ini dijajakinya bersama Ranum.
Damar meringis, usai dicecar Sintia yang tampak tak menutupi kekesalannya. "Iya Ma, tapi, tolong beri kami waktu. Setidaknya beberapa bulan ke depan untuk lebih saling mengenal satu sama lain."
"Ck! Aduh, Dam, dengerin Mama. Asal kamu tau, proses saling kenal yang sesungguhnya untuk pasangan itu, justru sehabis nikah. Kamu bakal tau, seperti apa karakter perempuan pilihanmu itu. Begitu pun sebaliknya. Pasangan kamu baru bisa tau sepenuhnya karakter kamu, saat sudah resmi jadi suami-istri. Maka dari itu, bagusnya memang menjajaki hubungan setelah menikah saja. Contoh kakak kamu. Kurang lama apalagi dia pacaran sama mantan suaminya itu? Ternyata apa? Sifat buruknya baru kebongkar pas udah nikah. Justru pernikahannya lebih singkat dibanding masa pacarannya dulu."
Berdeham dengan raut masam. Jihan tak bisa mendebat apa yang Sintia katakan. Walau terdengar pedas dan menohok sampai ulu hati. Tapi semua yang wanita paruh baya itu sampaikan memang benar adanya.
"S—saya, sebatang kara, Tante."
"Gimana?" Mengejap, Sintia seketika meletakan atensinya pada Ranum yang baru saja membuat pengakuan yang cukup mengejutkan.
"Saya ... dititipkan di panti asuhan sejak usia lima tahun. Tak ada yang mengadopsi karena ibu panti melarang. Takut jika nantinya orangtua saya datang untuk menjemput. Tapi, hingga saya beranjak dewasa. Mereka tidak pernah muncul." Mengulas senyum getir. Ranum mencoba untuk tak terusik dengan sorot iba yang kini menghujaninya, dari tiga sosok yang tampak terdiam usai mendengar pengakuannya.
Berdeham-deham, Sintia seketika bingung harus menanggapi bagaimana ucapan Ranum tadi. "I—itu, mungkin sebuah takdir yang digariskan untuk kamu."
"Benar." Sambar Jihan yang sempat membeku. "Justru kamu hebat. Bisa melewati semua itu. Kalau saya, belum tentu mampu menghadapinya."
Balasan dari dua wanita beda usia itu cukup di luar dugaan. Ranum kira, mereka akan langsung memberi penolakan keras padanya. Meminta Damar mengakhiri hubungan—yang memang sejak awal hanya sebuah kesepakatan.
Ranum tersentak. Menundukan pandangan, ia mendapati tangannya sudah berada dalam genggaman Damar. Pria itu tak mengatakan apa pun, tapi sorot matanya menunjukan dukungan tersirat untuknya.
Membalas dengan seulas senyum tipis. Ranum mencoba untuk menepikan sedih yang ikut merayapi. Setiap kali ingatan di masa lalu kembali muncul ke permukaan.
Bukan tanpa alasan Ranum membagi perihal kehidupan pribadinya. Bisa jadi, Sintia akan enggan memberi restu. Sama halnya dengan yang pernah Ratih lakukan dulu. Walau akhirnya menyetujui karena Seno berkeras meminangnya.
Meski kadang, kondisinya yang telah menjadi sebatang kara, cukup sering diungkit Ratih saat mereka terlibat selisih paham. Wanita paruh baya itu menyesalkan keputusan putra semata wayangnya yang menikahi Ranum yang dianggap tak jelas asal-usulnya.
Lalu kenapa hal serupa tak dilakukan keluarga Damar? Kenapa mereka masih saja mau menerimanya? Jika begini, harus alasan seperti apalagi agar Ranum tak mendapat restu?
Bahkan. Hingga sekarang pun. Ada kalanya ucapan pedas Ratih masih sesekali bergentayangan di pikirannya.
"Orangtuanya saja ngebuang dia, Seno. Kamu kok ya malah mungut sih?" Itu adalah salah satu ucapan Ratih yang berhasil mengoyak perasaan Ranum. Terlebih, suaminya tak memberi pembelaan. Justru meminta Ranum memberi pemakluman atas sikap Ratih.
"Setelah kamu jadi istrinya Damar. Kami adalah keluarga kamu. Iya kan, Ma?"
Apa yang Jihan katakan membuat Ranum terhenyak. Bukan seperti ini yang ia harap.
Baiklah, meski Jihan menerimanya. Tapi hal serupa belum tentu dilakukan Sintia. Apalagi wanita paruh baya itu sudah memiliki pilihan sendiri.
Dibandingkan dengan Nova. Ranum jelas kalah dalam segala hal sebagai calon mantu idaman Sintia.
Ketika semua mata kini tertumbuk kearahnya. Sintia menghela napas panjang. "Benar. Akan terlihat jahat jika saya melarang Damar untuk menikahi kamu, hanya karena masa lalu. Lagipula, kamu pun tidak bisa memilih jalan hidup seperti itu."
Jika situasinya bukan berperan sebagai pacar pura-pura. Ranum pasti sudah menangis haru. Masalahnya, ia tak menginginkan restu itu.
Kenapa jadi begini? Harusnya Sintia menolaknya. Bukannya berbesar hati tetap menerimanya. Kalau seperti ini, Ranum kian dipecut rasa bersalah karena telah mempermainkan perasaan wanita paruh baya itu.
Padahal, demi dirinya, Sintia sampai merelakan Nova—calon mantu idamannya, tak bersanding dengan Damar di pelaminan. Karena kebahagiaan sang putra adalah prioritasnya.
Menoleh pada Damar, Ranum melempar tatapan penuh arti. Meminta pria itu untuk membantunya terbebas dari situasi pelik saat ini.
Menangkap maksud Ranum, Damar segera berdeham. Mencoba mengambil alih pembicaraan. "Ma, kami memang serius, tapi bukan berarti menjalani segala sesuatunya dengan tergesa-gesa. Kami sudah dewasa, tentu ada banyak hal yang menjadi pertimbangan."
"Ck! Mama nggak mau tau. Kalian harus menikah secepatnya. Sudah Mama beri restu, artinya menerima semua hal tentang calon istri kamu."
"Tapi Ma, Ranum—"
"Saya janda anak tiga. Apa Tante masih bisa menerima?"
Senyap. Selang pengakuan Ranum, wajah-wajah terkejut itu kini terbelalak menatapnya.
Baiklah. Anggap saja, hal itu adalah amunisi terakhir yang Ranum keluarkan untuk mempengaruhi Sintia mencabut restunya.