(n.) hal yang sering diberikan kepada orang tersayang, namun sayang, lebih disalahgunakan.
-(at)commaditya
***
Tiga hari berlalu semenjak insiden pergulatan dua bibir di depan pintu unit Melody. Kali ini, Melody benar-benar memberikan kesempatan bagi Damar untuk memperjuangkan dirinya dan cintanya setelah melihat tekad bulatnya selama ini. Dari tatapan matanya pun, Melody lihat tidak ada keraguan sedikit pun.
Masih ingat kan, kalau mata tidak bisa bohong?
Dan semenjak insiden itu pula, komunikasi keduanya berjalan dua arah. Tidak seperti sebelumnya, Damar yang aktif dan Melody yang pasif. Melody juga tidak melarang Damar memanggil dirinya dengan panggilan kesayangan seperti dulu dan membiarkannya bertingkah selayaknya seorang kekasih. Justru Melody sangat menikmatinya, asal tetap tidak melewati batas.
Setiap hari jika Damar tidak sedang sibuk atau hectic, dirinya meluangkan waktu untuk mengantar dan menjemput Melody. Melody tidak meminta, Damarlah yang memaksa. Ya, Melody pun menyetujui.
Saat mengantar atau menjemput Melody, Damar sudah pasti menjadi pusat perhatian. Banyak kasak-kusuk yang ia dengar tentang Melody, baik itu pro ataupun kontra. Padahal, jika di depan orang banyak, Damar memasang tampang datar dan dingin tak tersentuh. Lain halnya jika ia sedang bersama Melody atau circle-nya, dirinya akan ramah dan humoris.
Melody juga tak menampik bermacam pesan yang Damar kirim padanya, termasuk pesan-pesan yang berisi gombalan receh atau basa-basi. Melody juga tidak setiap saat membalasnya, tapi selalu membacanya.
Disisi lain, Damar pun juga paham jika terkadang pesannya tak berbalas. Selain karena tuntutan pekerjaan, ia yakin jika Melody tengah menata kembali kepercayaannya pada Damar.
Siang ini, Melody mengajak Wulan untuk lunch di luar. Rio tidak bisa bergabung karena sedang meeting, sedangkan Reta izin tidak masuk kantor. Alhasil, mereka hanya berdua saja siang ini. Mengingat jika pekerjaan mereka yang longgar, Melody memutuskan untuk makan siang di mall yang terdekat dengan kantor mereka.
Tak membutuhkan waktu lama, Melody dan Wulan sampai di mall terdekat. Mereka menggunakan taksi online daripada membawa mobil milik Wulan. Sedari awal, Wulan menawarkan untuk menggunakan mobilnya, tapi Melody menolak. Ia malas wasting time di parkiran jika membawa mobil pribadi. Dan Melody meyakinkan jika dirinya yang akan menanggung biaya transport mereka.
Baik Melody dan Wulan memilih resto nusantara yang ada di foodcourt mall tersebut. Jika Melody menginginkan masakan pedas, lain halnya dengan Wulan yang bosan dengan junk food.
Hari ini terasa berbeda bagi Melody. Seperti ada yang kurang, tapi apa?
Ya, dia ingat.
Seharian ini tidak ada pesan dari Damar. Tidak ada Damar yang menyapanya di pagi hari, mengingatkannya untuk sarapan, berangkat kerja ataupun makan siang. Terakhir kali, ia bertukar pesan dengan Damar kemarin sore. Malam pun tidak ada ucapan selamat malam. Tidak ada gombalan receh yang berujung garing.
Melody tetap positive thinking, mengingat Damar adalah seorang pemimpin perusahaan, pastinya memiliki kesibukan yang berbeda dengan dirinya. Hampir seharian ini dirinya menengok benda persegi panjang yang selalu ia bawa kemana-mana.
Huft.
Kecewa? Sedikit. Merasa kehilangan? Abu-abu. Itulah yang Melody rasakan saat ini. Dan demi menikmati makan siangnya, ia dengan sengaja mengubah ponselnya ke mode diam.
"Lan, gue ke toilet bentar," pamitnya pada Wulan setelah mereka mendapatkan meja dan menunggu pesanan.
"Oke," Wulan menganggukan kepala. Melody pun melangkahkan kakinya dan meninggalkan Wulan.
Di waktu yang sama, Damar juga tengah menikmati makan siang dengan sahabatnya semasa kuliah di luar negeri, yang kini tengah menikmati momen sebagai pengantin baru.
Roy, sahabatnya dan Vita istrinya kerap kali mengumbar kemesraan di depan Damar. Entah itu memang sengaja Roy lakukan untuk memanas-manasi Damar yang setia dengan status "jomblonya" atau hanya Damar saja yang memang merasa iri.
Ck.
"Yang, aku tinggal ke toilet ya," Roy berapmitan pada istrinya disusul kecupan di kening.
"Bro, gue tinggal bentar ya. Jagain bini gue," Roy beranjak dari duduknya sambil menatap tajam Damar. Setelahnya, ia melangkah pergi meninggalkan keduanya.
Setelah menuntaskan keperluannya, Melody keluar dari bilik dan berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangan. Disana ia terdiam cukup lama. Meraba-raba apa yang ia rasakan saat berinteraksi dengan Damar selama ini. Tak lama, ia kembali ke dunia nyata meski belum menemukan jawaban yang pasti. Langkah kakinya mulai meninggalkan toilet.
Bruk!
"Eh, sorry, sorry, nggak sengaja mbak," badan Melody terhuyung ke belakang. Untungnya dia sigap menahan dirinya ke dinding dengan tangannya. Tapi punggungnya sedikit sakit akibat benturan dengan dinding.
"Nggak apa-apa mas," Melody tersenyum tipis untuk menenangkan kekhawatiran lelaki yang menubruknya. Karena terlihat jelas raut bersalah dari lelaki tersebut.
"Eh? Kayak nggak asing," lelaki tersebut bergumam saat meneliti wajah Melody.
"Kalau gitu, saya permisi mas," Melody berlalu setelah merapikan pakaiannya.
Melody melangkah menuju mejanya dengan Wulan. Saat berjalan, matanya melihat seluruh stand resto di foodcourt tersebut. Sampai saat kedua irisnya menemukan tubuh yang begitu sangat ia kenali. Meski tampak belakang, tapi Melody yakin jika memang ia orangnya.
Melody menghentikan langkahnya untuk memastikan kebenarannya. Di ujung sana, terlihat lelaki yang seharian ini tidak mengiriminya pesan, lelaki yang meyakinkan dirinya jika akan memperjuangkannya, sedang duduk berdua dengan seorang perempuan. Terlihat dari gerak-geriknya, mereka cukup akrab.
Huft.
Melody menghela napas. Mungkin dia udah bosan sama gue yang begini aja, pikirnya. Setelah meyakinkan diri, Melody kembali melangkahkan kakinya menuju mejanya.
Disisi lain, Roy sudah kembali dari toilet dan kini ia kembali bergabung dengan istri dan sahabatnya.
"Eh, gue tadi ketemu cewek yang familiar di toilet," Roy membuka obrolan diantara mereka.
"Siapa?" Damar mulai tertarik dengan sosok tersebut.
"Entah, gue juga lupa. Tapi mukanya familiar banget gitu," Roy menceritakannya dengan menggebu-gebu.
"Temen sekolah Mas dulu kali," Vita menimpali ucapan Roy.
"Iya kali ya. Tapi gue yakin kalo tuh cewek bukan temen gue," Roy kembali meyakinkan dirinya dan mencoba mengingat wajah yang ia temui.
"Oh ya Mar, gimana rencana lo yang 'clbk' sama mantan?" Roy kembali berbicara disela kunyahannya.
"Sejauh ini sih, lancar-lancar aja. Dia juga nggak lagi bikin batasan. Tapi ya gitu, cueknya masih," Damar menjawabnya dengan tampang dimabuk cinta.
"Dasar bucin," cibir Roy.
"Jadi, ceritanya Damar ini salah satu sahabatku yang gagal move on dari mantannya Yang," Roy menjelaskan pada Vita yang terlihat bingung dengan obrolan mereka.
"Ya nggak apa-apa sih. Nggak ada larangan juga balikan sama mantan," Vita menimpali pendapat suaminya.
"Btw, siapa nama mantan lo Mar? Gue lupa-lupa inget mukanya yang mana," Roy terlihat berpikir membuat Damar mencari foto Melody di ponselnya.
"Nih, mantan plus masa depan gue," Damar mengarahkan ponselnya pada dua sejoli tersebut yang menampilkan foto Melody. Tak lupa senyum pongah Damar setia menghiasi wajahnya.
"s**t!" Roy terkejut setelah melihat wujud Melody, berbeda dengan istrinya yang memuji kecantikannya.
"I-ini b-bener Melody?" Ryo memastikan kebenaran pada Damar. Anggukan Damar sebagai jawabannya.
"Ini yang ketemu gue di toilet tadi," lanjutnya.
Ya, lelaki yang tidak sengaja menubruk Melody adalah Roy.
Damar terkejut. Seketika ia berdiri dan kedua matanya mengelilingi area foodcourt tersebut untuk memastikan keberadaan pujaan hatinya. Tangannya pun dengan sigap menekan nomor ponsel Melody.
Tut,
Tut,
Tut,
Tidak ada jawaban.
"Sial," Damar mengacak kasar rambutnya.
"Mar, tadi gue juga lihat dia ngeliatin lo sama bini gue lagi ngobrol pas keluar dari toilet," Ryo berbicara pelan karena takut melihat reaksi Damar.
Damar semakin mengacak rambutnya frustasi. Tangannya kembali menekan nomor ponsel Melody.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif-
"Maaf Mel," Damar berkata lirih, begitu pula rautnya sendu.
"Sorry Roy, Vit, gue duluan," Damar pamit pada kedua sahabatnya. Langkahnya juga tergesa-gesa.
"It's okay, Bro. Kabarin gue kalau lo butuh bantuan," Roy menyemangati Damar dengan menepuk pundaknya.
"Thanks Bro," Damar mulai melangkah pergi meninggalkan keduanya.