11 - :)

1627 Kata
(emot.) sebuah emoticon dengan jutaan probabilitas arti. Hati-hati bila ini muncul di layar chat anda. -(at)commaditya *** Dua hari berlalu sejak Melody melihat Damar dengan perempuan lain hingga terjadi kesalapahaman diantara mereka. Itu menurut Damar. Lain halnya menurut pandangan Melody yang menganggap Damar mempermainkan kesempatan yang diberikannya. Melody menjalani rutinitasnya seperti biasa, berbeda dengan Damar yang uring-uringan di kantor. Sejak kejadian dua hari yang lalu, Melody susah ditemui. Nomor teleponnya pun dialihkan hingga akhirnya Melody block. Pesan-pesan yang Damar kirim berisi permohonan maaf dan bertemu pun sampai saat sebelum nomornya terblokir, hanya ceklis satu alias belum dibaca. Jika kalian bertanya, "kenapa nggak datengin aja kantornya?" Jawabannya adalah sudah. Damar sudah mendatangi Melody ke kantornya, namun nihil. Melody begitu lihai untuk bersembunyi. Tapi tidak untuk hari ini. Sebelum menjadi genap 3 hari, Damar akan menjelaskan yang sebenarnya kepada Melody agar Melody tidak lagi membangun dinding pembatas tak kasat mata diantara mereka berdua. Ting! Satu pesan muncul di pop up ponsel Damar. Kedua matanya membola. Terkejut dengan nama si pengirim pesan. Ody❤ Ya :) 13.00 Ya plus emot senyum? Dari semua pesan gue, dia hanya menjawab dengan satu kata? Dan kenapa harus emot senyum? Nggak mungkin kan dia baik-baik saja, batin Damar bertanya-tanya. "Gue nggak bisa gini terus," Damar mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang bisa memberinya jalan untuk bertemu Melody. Bang Bara Calling "Halo," "Halo, Bang. Sibuk nggak?" "To the point aja," "Hehe, tau aja lo. Bantuin gue ketemu Melody," "Dateng aja ke kantor," "Gue udah ke kantor lo, tapi Melody berhasil kabur," "Ya udah," Gitu doang? Dasar duda sompret, gerutu Damar dalam hati. "Bantuin gue ketemu sama dia tapi pake cara lo. Ya, pura-pura meeting berdua kek, lo suruh lembur, atau apalah. Biar nanti gue yang samperin," "Oke," "Sekalian gue pinj-" Tut. "Wah, bener-bener nih abangnya Andra. Irit banget ngomongnya, ngalahin pesan hp es*a hidayah," Damar memandangi ponselnya yang kembali ke tampilan utama setelah panggilannya diputus oleh satu pihak. Bang Bara yang dimaksud Damar adalah bos besar tempat Melody bekerja. Ya, Narendra Bara Prayudha. "Pas banget, kerjaan gue udah beres. Sekalian ajak Melody lunch. Ya, walaupun udah jam kerja lagi sih," Damar melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya sembari membereskan dokumen-dokumen yang telah ia selesaikan. Mengambil jas yang tersampir di kursi dan memakainya. Dompet ✔ Kunci mobil ✔ Ponsel ✔ Ganteng ✔✔ Haha. Begitulah Damar dengan segala kenarsisannya. "Suamimu datang Ody," Damar bersemangat, terlihat dari wajahnya yang berseri dan kedua mata yang berbinar. Langkah kakinya mulai meninggalkan ruangan untuk menuju kantor tempat kekasih hatinya bekerja. Tak perlu membutuhkan waktu lama, Damar sudah berada di parkiran basement. Beruntung jalanan tidak terlalu macet. Bahkan selama perjalanan, Damar memutar radio musik dengan bibir yang tidak berhenti bersuara mengikuti alunan musik. Sungguh. Ia amat senang karena rindunya selama dua hari akan segera terbayarkan. Dirinya bahkan tidak memikirkan tentang segala resiko apa yang terjadi nantinya. Entahlah. Hatinya tengah berbunga-bunga. Meskipun nantinya Melody akan kembali kabur, Damar yakin ia bisa menaklukkannya. Otaknya yang cerdas memiliki 1001 cara, baik itu benar atau licik sekalipun. Setelah mematikan mesin mobilnya, Damar segera beranjak keluar dan menuju ruangan Melody. Ting! Sesaat langkah Damar terhenti saat mendapati pesan yang muncul di pop up ponsel digenggamannya. Bang Bara Melody di ruang meeting. 13.20 Senyuman Damar mengembang mengetahui targetnya telah diamankan. Me Thanks ma Bro ;) 13.21✔ Setelah membalas pesan Bang Bara, Damar kembali melangkahkan kakinya menuju ruang meeting sesuai pesan yang ia dapatkan. Tak ada lagi senyum di wajahnya, hanya tampang datar dan tatapan dingin saja. Beberapa karyawan yang sering kali melihat Damar wara-wiri di kantor Melody menyapanya. Mereka mengenal Damar sebagai teman bos besarnya sebelum insiden Melody yang diantar-jemput olehnya. Tak perlu waktu lama bagi Damar untuk sampai di ruang meeting. Kebetulan lift yang ia tumpangi sedang kosong karena memang para karyawan sudah kembali berkutat dengan tugas mereka masing-masing. Damar merasa beruntung berkali-kali lipat hari ini karena letak ruang meeting yang jauh dari kubikel karyawan. Sehingga jika negosiasi tidak berjalan mulus, suara bising mereka minim terdengar. Damar telah berdiri di depan pintu ruangan yang dimaksud. Tangannya bergerak merapikan penampilannya dan mengatur nafas untuk menormalkan detak jantungnya. Ceklek. Sedari awal Melody fokus dengan berkas yang ia bawa dengan posisi menunduk, seketika mengangkat wajahnya untuk menengok siapa gerangan yang membuka pintu. Ia mengira jika itu adalah Pak Bara, bos besarnya. Karena dirinya mendapat pesan jika beliau ingin bertemu untuk rapat di ruang meeting. "Selamat siang-" "Hai Melody," sapaan Melody terputus karena ia terkejut mendapati jika bukan Baralah yang masuk, melainkan Damar. Namun, dirinya bersikap profesional. "Loh? Bapak mau ketemu Pak Bara juga?" Melody kembali berbicara formal sebagai bawahan meski mereka hanya sedang berdua saja seperti saat ini. "Bukan. Aku mau ketemu kamu," bukannya membalas dengan bahasa formal, Damar justru ber-aku kamu dengan Melody sampai-sampai Melody mengernyit keheranan. "Maaf, aku sibuk. Ada meeting sama pak bos," Melody menjeda pekerjaannya dan fokus memberi penjelasan pada Damar. "Kalau gitu, aku duluan ya," Melody beranjak dari tempat duduknya dan membawa semua berkasnya disusul langkah kakinya yang bergerak cepat, sampai Damar tak sempat berucap. Tap. Tap. Tap. Tangan Melody memegang kenop pintu dan siap membukanya. Namun, nihil. Pintu tidak bisa dibuka alias terkunci. Ia pun membalikkan badan dan menatap tajam Damar. "Tolong buka pintunya," Melody berucap tegas dan tak lupa sorot matanya yang tajam. "Loh? Bukan aku kok," Damar membantah tegas tuduhan Melody padanya. "Jika bukan kamu, terus siapa? Aku?" terdengar Melody tengah menahan kesal dari nada bicaranya. "Jangan nuduh sembarangan. Tapi, baguslah," Damar yang awalnya juga kesal atas tuduhan Melody berbalik menjadi tersenyum smirk. Melody memutar bola matanya jengah. Ia kembali balik badan dan salah satu tangannya yang tidak membawa berkas mengambil ponsel. Niatnya ingin meminta bantuan pada OB/security untuk membukakan pintu. "Halo, Mas Dadang. Bisa minta to-" Sret! Click. "Mau An-" Grep. "I'm sorry, Hon. So sorry," Damar menarik Melody dalam dekapannya sebelum Melody semakin meradang dan berbisik lirih tepat disamping telinganya. Tangan kanannya bergerak ke atas-bawah, memberi usapan pada punggung Melody. Sedang tangan kirinya melingkari pinggang. "Kembalikan ponsel saya," sangat jelas dari nada bicaranya jika Melody tengah geram. Bahkan tangannya yang bebas mulai memukuli lengan atau d**a Damar agar ia keluar dari kungkungannya. "Saya? Kamu masih ingat kan aturan mainnya?" Damar melonggarkan dekapannya, tapi kedua tangannya masih setia menahan tubuh Melody. "Saya hanya memint-" Cup. Ucapan Melody terpotong akibat 'serangan'  Damar. Matanya mengerjap dan bibirnya terkatup. Jangan tanyakan keadaan jantungnya, hanya Melody dan Tuhan yang tahu. Sedangkan Damar yang berada dihadapannya tersenyum puas. "Saya mohon-" Cup. "Saya mohon kem-" Cup. Cup. "Saya mohon kembalikan-" Cup. Cup. Cup. "Mau kamu itu apa sih?" Melody berteriak tepat di depan wajah Damar. Menyerah. Melody menyerah dengan sikap Damar yang seenaknya. "Hahaha," bukannya menjawab, Damar justru tertawa kencang. Wajah Melody memerah, entah karena malu karena 'serangan' Damar atau sedang menahan emosi. "Aku minta ponselku," tangan Melody menengadah pada Damar. Damar berusaha menormalkan nafasnya setelah tertawa. Ia yang mengerti maksud tangan Melody pun, segera memberikan apa yang diminta. Setelah menerima ponselnya, Melody mengecek ponselnya takut jika ada pesan penting yang masuk. "Sebelum aku jelasin, kamu harus 'dihukum' lebih dulu," Damar merapatkan  Melody ke tubuhnya hingga membuat Melody terpekik. Berkas yang ia bawa, terjatuh begitu saja saat Damar menggendongnya seperti anak koala. "Tu-tunggu ddu-dulu," Cup. "I can't wait again, honey," suara Damar mulai terdengar serak seperti menahan sesuatu. Sorot matanya pun sayu, membuat Melody pasrah dan mau tak mau mengalungkan tangannya ke leher Damar. Damar kembali melakukan 'serangan' dibibir Melody yang telah menjadi candunya. Melody hanyut dalan suasana. Posisi mereka berpindah ke meja meeting. Beruntung pintu terkunci dan kaca yang hanya bisa dilihat dari satu sisi, sehingga nampak luar gelap. Berterima kasihlah Damar pada jasa Bara. Cumbuan Damar bergerak turun menelusuri leher jenjang Melody. Tangan Melody pun ikut meremas rambut Damar. Begitu juga salah satu tangan Damar yang mulai bergerak nakal membuka kancing pakaian Melody. "Damh- mar," Melody sekuat tenaga berbicara meski terbata-bata. "Mmm," hanya gumaman Damar yang terdengar. "Ber- hen- tih," Melody kembali berucap agar Damar menghentikan aksinya. "Mm," lagi-lagi Damar hanya bergumam. Tiga kancing atas telah terlepas dan cumbuannya kini berjalan semakin ke bawah. "Jeh- las- kan seh- ka- rang," Melody mencoba menarik kepala Damar agar ia menghentikan aksinya. Karena tak mendapat respon, dengan terpaksa Melody menarik rambut Damar hingga membuatnya terpekik. "Argh!" "Kok dijambak sih, Dy?" Damar berbicara sambil mengusap-usap rambutnya yang ditarik oleh Melody. Tak lupa bibirnya ikut mengerucut. "Je.la.sin se.ka.rang!" Melody yang sudah merapikan penampilannya dan mengaitkan kembali kancing yang terbuka, kini bersidekap dan menatap tajam Damar. "Nggak harus dijambak juga dong," lagi-lagi Damar menggerutu dan tangannya masih tetap mengusap-usap rambutnya. "Mau jelasin atau aku tinggal!" Melody akhirnya mengancam Damar hingga membuat Damar gelagapan. "O-oke. Jadi, perempuan yang kamu lihat duduk berdua sama aku itu adalah istri laki-laki yang nabrak kamu di toilet," Damar menjelaskan yang sebenarnya pada Melody. Disisi lain, Melody mengernyit, mengingat kejadian di toilet sesuai penjelasan Damar. Pikirannya yang sibuk memikir, membuat Damar puas memandangi pahatan indah ciptaan Tuhan itu. "Gimana? Inget?" ucapan Damar membuyarkan fokus Melody. Walau sempat berdecak sebal dan melirik sinis Damar, tapi Melody sudah mengingat kejadian yang dimaksud Damar. Anggukan Melody menjawab pertanyaan Damar. "So, we are totally fine?" Damar memastikan kembali jika tidak ada kesalahpahaman diantara mereka. "Oke. Aku juga harus balik kerja. Bye," Melody berusaha kabur dari kungkungan Damar dengan alasan pekerjaan. Kakinya mulai melangkah hingga sampai ia merasa tarikan dibelakangnya. Damar kembali mendekap tubuh Melody dari belakang. Grep. "Siapa yang suruh kamu kerja, hm?" Damar berbisik dengan sensual, sesekali meniup telinga kanan milik Melody. Sedangkan Melody merasakan bulu kuduknya berdiri dan tubuhnya bergerak tidak nyaman. "Hukumanmu belum selesai, Honey," Damar kembali berbisik dan kali ini ia bukan meniup, tapi menjilat bahkan menggigit kecil daun telinga Melody. Melody semakin bergerak tak nyaman dan merasa darahnya mengalir cukup deras. "Pervert!" Melody memutar badannya hingga kini ia kembali berhadapan dengan Damar. Terlihat jika Damar tersenyum penuh kemenangan. Cup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN