12 - Cieee

1314 Kata
(exclam.) diucapkan bertujuan menggoda atau menertawakan. Kadang karena lucu, kadang mengandung cemburu. -(at)commaditya *** Melody masih tinggal di ruang meeting, berdua dengan Damar. Melody kembali menarik salah satu kursi dan mendudukinya, berbeda dengan Damar yang sibuk berbicara dengan orang diseberang sana dan berdiri agak menjauh dari Melody. Kedua matanya memicing, berusaha menangkap obrolan Damar dari gerak bibirnya. Sampai-sampai, berkas yang ia letakkan kembali diatas meja, tergeletak begitu saja. Cup. "Liatin apa sih Dy, hm?" Mata Melody mengerjap karena tahu-tahu Damar sudah berada di depannya. Apalagi wajahnya sejajar dengan wajah Melody. Jangan lupakan senyum tengil Damar. "E-eh? Ya? Kenapa?" Melody seakan tersadar saat tangan kiri Damar merapikan rambut Melody yang menjuntai. Akibat wajah cengo Melody, tidak mampu menahan kekehan Damar. "Kamu yang kenapa, sayang. Ngeliatin aku sampai nggak kedip," Damar menatap wajah cengo Melody yang menurutnya menggemaskan. "Aku sadar kok kalo ganteng plus suamiable," Damar menyombongkan diri dan berakhir dengan kedipan mata, membuat Melody memutar bola matanya. "Pede sekali Pak Damar," Melody mencibir kenarsisan Damar, membuat kekehan Damar belum berhenti sepenuhnya. Cup. "Pak Damar, hm?" Salah satu alis Damar terangkat seolah mengingatkan Melody tentang kesepakatan mereka, setelah meninggalkan kecupan singkat dibibir perempuan yang ada dihadapannya. "Udah, ah. Aku balik kerja," Melody beranjak dari kursinya dan tak lupa mendekap berkas yang ia bawa sebelumnya. Melirik Damar dengan tatapan sinis. Tumben banget dia nggak nahan gue, batin Melody selama berjalan menuju pintu keluar. Ceklek. "Loh?" Melody mencoba menarik kenop pintu, namun nihil. Pintu masih terkunci seperti sebelumnya. Ceklek. Ceklek. "Ini gimana sih," Melody menggerutu disela-sela usahanya membuka pintu. Tapi tetap saja, pintu masih terkunci rapat. Seketika ia membalik badan dan menatap Damar yang sedari tadi memandanginya dari belakang. "Buka!" Melody berucap tegas pada Damar, tersirat nada perintah didalamnya. "Bukan aku," Damar menggelengkan kepala dan menolak dengan tegas perintah Melody. Karena pada kenyataannya, memang bukan dirinya yang mengunci ruangan tersebut. "Jangan main-main," Melody kembali berucap, namun kali ini tersirat nada kesal dalam ucapannya. "Coba aja cari sendiri kuncinya di baju aku," Damar melangkah mendekati Melody dan memasrahkan dirinya untuk diperiksa Melody. "Dam, gu- aku mau balik kerja. Tolong bukain dong," Melody mencoba merayu Damar dengan nada selembut mungkin, padahal dalam hati ia merasa jijik dengan dirinya sendiri. "Oke, aku bukain," Damar akhirnya menyetujui permintaan Melody. "Maka-" "Tapi dengan satu syarat," "-sih," ucapan Melody terpotong begitu saja oleh Damar. "Syarat?" Raut wajah Melody yang awalnya berbinar kembali redup setelah mendengar ucapan Damar. "Hari ini kamu ikut 'aturanku'. Tanpa bantahan," Damar mengajukan penawaran pada Melody sebagai bentuk balasan pertolongannya. "Gimana, sayang?" Damar yang berdiri tepat di depan Melody, dengan santainya membawa tangan kirinya membelai pipi kanan Melody, disaat sang pemilik tengah berpikir. Jika tangan kirinya ia gunakan untuk membelai pipi Melody, tangan kanannya justru merangkul pinggang Melody agar merapat dengan tubuhnya, hingga membuat Melody sedikit terpekik dan memelototi Damar. Kepala Damar bergerak ke sisi kepala Melody, mengendus aroma shampoo rambutnya. Melody menggeliat saat merasakan hembusan nafas Damar di area telinganya membuat bulu kuduknya merinding. Sungguh, Damar dengan 1001 akal bulusnya. Gerakan kepalanya berpindah ke area tengkuk Melody, memberi kecupan demi kecupan di area yang sering kali menjadi titik sensitif sebagian orang. Tubuh Melody menggeliat, begitu juga dengan rangkulan Damar di pinggangnya yang turut mengerat. Kecupan Damar berpindah dari tengkuk menuju area bawah telinga. Melody semakin menggeliat tatkala merasakan hembusan nafas dan kecupan secara bersamaan. Tangannya yang bebas, refleks merangkul bahu Damar demi menopang tubuhnya yang sudah tidak mampu berdiri. Rasanya kakinya lemas seperti jelly. "Setuju, nggak? Hm?" Damar berbicara disela-sela aksinya mengeksplorasi rahang Melody. Berulang kali Melody menahan nafas agar tidak mengeluarkan suara 'sialan' yang akan membuat Damar semakin bersemangat. "Ok-okeh. Ak-kuh setuju," Melody mencoba berbicara meskipun terbata dan hal itu berhasil menghentikan aksi Damar yang mulai bergerak di area lehernya. Cup. "Wait a moment," Damar mengambil ponselnya dan mengirim pesan entah kepada siapa. Senyum jumawa kembali tersungging setelah mengecup singkat bibir Melody. Damar kembali mengecek ponselnya setelah berdenting. Melody mencoba melirik ponsel Damar, tapi naas. Damar kembali mengantongi ponselnya. Ck. Melepas rangkulan di pinggang Melody dan beralih meraih kenop pintu. Otomatis Melody menyingkir. Ceklek. "Thanks, God," Melody bergumam namun masih terdengar oleh Damar yang berdiri di depannya. "Terima kasih ya Pa- ekhem Dam," Melody hampir saja menyebut Damar dengan sapaan formal. Untung saja ia cepat meralat ucapannya. "Kalau begitu, aku duluan," lanjutnya. Kakinya siap melangkah dan ia berdoa dalam hati semoga saja Damar melupakan soal 'penawaran' sebelumnya. Tak lupa senyum manis ia sunggingkan agar Damar terkecoh. Tap. Grep. "Mau kabur lagi, hm?" Baru saja melangkah, tubuh Melody terhuyung ke belakang akibat tarikan Damar yang membuatnya jatuh dalam pelukan pria tersebut. "Ha? K-kabur kemana?" Melody mencoba berbicara meski tengah mati-matian meredakan degup jantungnya yang berdetak kencang. Bagaimana tidak? Saat ini dirinya tengah dalam pelukan Damar. Damar Eka Wiratama. Siapa sih yang tak kenal Damar? Wajahnya yang rupawan, body goals plus pesona tiada tara mampu memikat banyak perempuan di luar sana. Apalagi mereka (para perempuan tersebut) sangat berharap bisa berdekatan dengan Damar. Seperti Melody saat ini yang tengah dipeluk. Bukan saja dipeluk, bahkan bibir Melody sudah beberapa kali dijamah oleh Damar. Bukan bibir saja, masih ada area lain yang menjadi sasaran Damar. Bagaimana respon perempuan di luar sana jika tahu Melody 'sangat dekat' dengan Damar? Bahkan sering kali skinship dengan pria tersebut? Ah, membayangkan saja, Melody enggan, meski ia tergolong perempuan yang cuek. Melody yang tengah dalam pelukan Damar berusaha mengatur nafasnya. Tingginya yang hanya sebatas dagu Damar membuatnya puas memandangi pahatan Tuhan tersebut dari bawah. Kenapa setelah menjadi mantan, seseorang terlihat berkali-kali lipat menarik, batin Melody. Kedua matanya begitu mengagumi pesona Damar sampai ia tak sadar jika Damar menunduk dan mendekatkan wajahnya dengan Melody. Cup. "Udah, yuk. Lanjut nanti lagi lihatin akunya," Damar terkekeh setelah mengecup bibir Melody, sedangkan pemilik bibir tersebut mendengus. Saat Melody membalikkan badan, sesaat menegang. Ia merasakan sebuah lengan kekar melingkari pinggangnya. Seketika, ia menoleh ke samping dan mendapati Damar tersenyum manis padanya. Cup. "Yuk," Damar membawa Melody melangkah keluar setelah mencium kening 'perempuannya' cukup lama hingga keduan matanya turut terpejam. "Tapi aku belum izin loh. Tasku juga ada di ruangan," Melody mencoba menggagalkan rencana Damar yang ingin membawanya pergi. "Udah, kamu nggak perlu mikirin itu. Tenang aja," Damar begitu santai menjawab ucapan Melody, tanpa tahu banyak pasang mata memandang kedekatan mereka. "Ya udah. Oke," Melody hanya mampu menghela nafas dan mengangguk. "Good girl," Damar memuji Melody. Tak lupa tangannya yang bertengger di pinggang Melody turut memberi usapan lembut. Aksi Damar tersebut membuat kaum hawa penghuni kantor milik Bara tersebut menjerit tertahan. Ditambah kecupan di pelipis berulang kali oleh Damar semakin membuktikan jika mereka bukan hanya sekedar dekat sebagai teman, tapi terlibat dalam sebuah hubungan. In relationship atau lebih tepatnya taken. Tak perlu membutuhkan waktu lama bagi keduanya untuk sampai di ruangan Melody. Damar melepaskan rangkulannya dan membiarkan Melody membereskan meja kerjanya. Selesai dengan berkas dan hal-hal yang bersangkutan dengan kantor, Melody meraih tasnya setelah memasukkan barang-barang yang mungkin ia butuhkan nantinya. Grep. Lagi dan lagi, Damar merangkul pinggang Melody begitu posesif. Menunjukkan kepemilikan pada semua orang, terutama laki-laki di luaran sana. "Bisa nggak sih, nggak usah ngerangkul-ngerangkul gini?" Melody berbisik ditengah langkah keduanya menuju basement membuat Damar menoleh dengan dahi mengernyit. "Ya, biarin dong. Atau kamu mau aku gendong sekalian?" Damar menoleh dan memainkan kedua alisnya berniat menggoda Melody. "Jangan rese, deh. Ck," Melody memutar bola matanya, merasa jengah dengan sikap Damar. Ia melepaskan rangkulan Damar di pinggangnya dan berjalan cepat mendahuluinya, tak mengindahkan tatapan setiap pegawai yang berlalu lalang. "Sayang, tunggu!" Damar sengaja berteriak memanggil Melody dengan sebutan 'sayang' hingga membuat langkah Melody berhenti. Lelaki itu pun terkekeh karena merasa berhasil dengan aksinya. "Kenapa sih, cepet-cepet? Hm?" Damar yang telah berdiri sejajar dengan Melody kembali meraih pinggangnya dan melingkarkan lengannya dengan posesif. "Ish, kamu tuh. Malu tahu," Melody menggerutu tapi masih terdengar oleh Damar. "Hahaha," Damar tertawa kencang dan semakin membuat Melody malu. Melihat perempuannya tertunduk malu, seketika ia membawa kepala Melody bersembunyi di d**a bidang miliknya dan kembali melanjutkan langkahnya menuju basement.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN