(v.) lakukan. Sebelum orang lain yang melakukannya dan bikin kamu menyesal.
(galau kalau ditolak tanggung sendiri)
-(at)commaditya
***
Sesampainya di basement, Damar segera menggiring Melody menuju mobilnya. Membukakan pintu, melindungi kepala saat Melody masuk mobil dan memastikan jika Melody sudah benar-benar duduk dengan nyaman.
Baper, nggak? Baper, jelas :))
Melody?
Jangan ditanya, pasti dirinya seperti perempuan pada umumnya. Baper dan merasa tersanjung. Tapi ia tutupi dengan sikap cueknya.
Gengsi lah cyiiin :3
Selesai memastikan Melody, Damar berlari menuju kursi kemudi. Tak lama, mobil pun meninggalkan basement Nar.B Corp.
"Mau kemana?" Melody membuka obrolan dengan Damar diiringi suara radio.
"Kamu maunya kemana?" Bukannya menjawab, Damar justru balik bertanya pada Melody, membuat perempuan disampingnya mengerutkan kening.
"Loh? Kok aku? Kan kamu yang paksa aku," Melody menjawab dengan sengaja menekan kata 'paksa' yang justru membuat Damar terkekeh.
"Kamu sendiri juga nggak nolak kan?" Damar melirik sekilas dengan bibir yang ikut terkekeh, sedangkan Melody memutar bola matanya.
"Aku nolak pun, tetep dipaksa," gerutu Melody yang masih terdengar oleh telinga Damar.
"Makanya, jangan sampai nolak," Damar menjawab gerutuan Melody, yang dibalas dengan tatapan sinis dan bibir berdecak oleh Melody.
Tangan kanan Melody mengulur ke arah radio, berniat untuk mencari siaran lain. Setelah mendapatkan yang pas, tangannya berpindah ke tombol volume.
Daripada dengerin playboy kampret ini, mending penyiar radio kemana-mana, pikir Melody.
Melody menikmati perjalanan dengan tubuh yang bersandar nyaman, sedangkan Damar fokus dengan kemudinya.
Oke, kembali lagi sama gue, Cika Markica Hei-Hei di 94.5 FM.
Suara penyiar radio mengalihkan pendengaran Melody. Menurutnya, nama panggung penyiar itu terkesan lucu.
Siang ini, Cika mau bacain tweet dari salah satu penggemar setia, eh, maksudnya pendengar setia 94.5 FM. Hehe
Jadi, spesial hari ini, Cika udah umumin sebelumnya di awal siaran, kalau kalian bisa ungkapin isi hati buat doi, alias nyatain perasaan, alias tembak. Bedanya nggak pake pistol dan peluru, tapi pake cinta.
So, buat kalian-kalian yang nggak ada keberanian buat nyatain langsung di depan doi, gunain kesempatan ini. Kirim pernyataan kalian dengan mention ke twitter radio kami, metropopfm (pake @).
Sambil nemenin makan siangmu, Cika bakal bacain salah satu dari 100 tweets yang masuk. Wow, antusias banget ya mereka :D
Dari calonimammu (pake @)
Duileeeh, usernamenya bikin Cika mau ganti profil juga. Jadi, bakalmakmummu :))
Melody yang serius memasang telinganya, ikut terkekeh. Meski pandangannya mengarah ke jalanan.
Oke, back to topic.
Kata calonimammu, "Selama apapun kita berpisah, sejauh apapun jarak memisahkan kita, nyatanya Tuhan masih baik padaku. Mempertemukanku kembali denganmu, dengan rasa yang sama dan cinta yang semakin bertambah. Semesta sebercanda itu. Dan asal kamu tahu, saat ini, aku tegaskan jika kamu memang takdirku, jodohku, dan selamanya milikku. You're mine. I love you,"
Duh, padahal bukan buat Cika, kenapa Cika malah melting?
Melody yang mendengar dengan seksama ucapan Cika, menganggap bahwa si pemilik akun adalah pria romantis.
Cika jadi penasaran, seperti apa sih suaranya? Kalian juga pasti. Oke, kalau gitu, Cika bakal telepon pemilik akun calonimammu sekarang.
Sedang asyik-asyiknya mengemudi, ponsel Damar berdering. Tanpa melihat siapa yang menelepon, Damar langsung menyambungkan dengan earphone miliknya.
"Halo," Melody menoleh ke samping, setelah mendengar suara mirip Damar terdengar di radio.
"Halo, mas. Benar pemilik akun calonimammu?" Itu adalah suara Cika, penyiar radio Metropop.
"Ya," jawaban Damar membuat Melody terkejut. Sepasang matanya bolak-balik mengarah ke radio dan Damar.
"Akhirnya, Cika bisa ngobrol langsung sama mas calon imam :)) Duh, suaranya seksi sekali, amboiiii," terdengar disana Cika sedang terkekeh.
"Jadi, Cika panggil mas siapa? Nggak mungkin dong, panggil calon imammu. Nanti Cika jawab, saya makmummu :D," lagi, Cika tertawa di ruang siaran.
"Panggil saja Damar. Bang Damar,"
"Oh, kirain panggil 'sayang'," lagi-lagi, Cika menggoda Damar dan cekikikan disana.
"Jangan dong, nanti yang punya 'sayang' marah," sahut Damar sambil menolehkan kepala ke samping dan mengedipkan mata.
"Jadi, tweet Bang Damar buat yang manggil 'sayang' nih?" Cika mulai melempar umpan pada Damar.
"Ya, gitu deh,"
"Kalau boleh tahu, siapa perempuan yang beruntung itu?"
"Perempuan itu,"
Hening seketika. Baik di dalam mobil, maupun di ruang siaran.
"Seseorang yang tengah duduk disamping saya," Damar menoleh ke arah Melody dan berucap dengan lancar.
Deg.
Melody yang sedari tadi serius mendengarkan radio, turut menolehkan kepalanya ke samping. Kedua matanya bertubrukan langsung dengan manik milik Damar.
Suasana dalam mobil tampak sunyi setelah pengakuan Damar. Beda halnya dengan jantung Melody yang berdegup kencang. Ia bahkan tidak sadar jika mobil Damar telah berhenti.
"Oh, wow. Jadi, Bang Damar sekarang lagi bareng doi nih ceritanya?"
Damar masih diam. Ia begitu menikmati ciptaan Tuhan di depannya.
"Krek. Denger nggak kalian? Ada yang patah, tapi bukan ranting,"
"Duh, mbaknya pasti merona nih pipinya? Ya gimana enggak, Bang Damar langsung nembak gitu," Cika kembali menggoda dua insan yang masih setia bertatapan.
"Kalau boleh tahu, doi yang beruntung taklukin Bang Damar siapa sih?" Kembali Cika mengorek informasi pada Damar.
"Ody. Melody Anjani. Honey," Damar menjawab sangat lancar tanpa melepas tatapannya pada Melody. Tak lupa senyum manis yang membuat Melody goyah.
Deg. Deg. Deg.
Jantung Melody semakin berdegup kencang. Bahkan ia berulang kali menahan nafas akibat aksi Damar.
"So? Apa yang bakal Bang Damar lakuin saat ini?" Suara Cika membuat Damar berani malangkah ke tahap selanjutnya.
"Ody, will you be my girlfriend, again?" Damar berucap dengan tatapan tulus dan Melody tahu itu. Tidak ada kebohongan di matanya.
"What? Again? Jadi, ceritanya Bang Damar clbk?"
"Ya, clbk. Cinta lama belum kelar,"
"Oh, damn! Gila sih ini,"
"Thank you Cika sudah membantu saya,"
Tut.
"Jadi?" Damar masih setia menunggu mulut Melody terbuka dan menjawab 'Ya' padanya.
"Ah, hmm, b-boleh bb-beri ak-aku wak-tu?" Melody memberanikan diri berbicara dengan Damar meski terbata. Ia sendiri masih shock akan aksi Damar tadi.
"Oke," Melody bernafas lega namun hanya sesaat. Ia kembali shock setelah mendengar ucapan Damar berikutnya.
"Sekarang!" Putus Damar.
"Tapi ingat, sekeras apapun kamu menolak, itu bakal sia-sia," Damar memperingati Melody hingga membuat perempuan itu mendengus.
"Mana bisa git-"
Cup.
Belum selesai berucap, Damar justru menyerang Melody. Andai saja Melody tahu jika sejak tadi Damar sudah gelisah, terlebih melihat bibir yang telah menjadi candunya. Tak mau berlama-lama, Damar mendaratkan ciumannya ke bibir Melody. Tangannya mengangkat Melody hingga duduk di pangkuannya.
Walau sempat memekik, Melody justru ikut terhanyut dalam 'serangan' Damar. Satu tangan Damar menahan tengkuk Melody, sedang satunya lagi menahan punggungnya. Begitu juga dengan Melody yang mengalungkan tangannya ke leher Damar.
Keduanya begitu hanyut dan saling membalas serangan. Melody yang tidak ahli dalam berciuman, entah mengapa dirinya menjadi pro jika bersama Damar. Lumatan mereka semakin menjadi, membuat AC di mobil Damar tidak lagi terasa dingin karena dikalahkan dengan gairah mereka.
Mereka terus memagut dan entah sejak kapan dua kancing teratas milik Melody terlepas dari lubangnya. Jangan tanyakan bagaimana tampilan mereka, yang pasti awut-awutan. Ciuman Damar berpindah ke rahang, terus berjalan menyusuri leher jenjang milik Melody.
Seakan mendapat kesempatan karena Melody justru mendongak, membuat Damar semakin menjadi di leher Melody. Mulut Melody mengeluarkan desisan dan lenguhan karena ulah Damar yang menyesap lehernya layaknya vampir hingga meninggalkan jejak.
Bukan hanya satu kissmark, tapi beberapa yang menyebar disekitaran leher. Damar meninggalkan kissmark yang begitu kentara, bahkan satu-dua di tempat yang terlihat oleh mata telanjang. Damar sengaja membuatnya di tempat terbuka sebagai bukti kepemilikan Melody. Dan tanpa tahu Melody tahu, Damar juga meninggalkan kissmark di bagian atas dadanya.
Cukup lama mereka saling bersilat lidah dan bertukar saliva, Damar menyudahi serangannya setelah mendapati dirinya dan juga Melody kekurangan oksigen.
"So, we're in relationship. Right?" Tanya Damar pada Melody yang masih terengah-engah. Tangan yang ia gunakan untuk menahan tengkuk tadi, beralih merapikan rambut Melody yang terlihat berantakan. Setelah dirasa nafasnya mulai teratur, Melody memberanikan diri menatap manik milik Damar.
"Penolakan bagimu itu sia-sia," jawaban Melody membuat Damar tersenyum puas. Senyuman itu menular pada Melody meski tipis. Setelahnya Damar membawa Melody ke dalam pelukannya.
"Tolong jangan sia-siakan kepercayaanku," Melody berucap lirih yang masih didengar Damar. Damar menganggukan kepalanya.
"Kamu cukup diam. Biar aku yang berjuang. Trust me," Damar berucap penuh keyakinan dan dibalas deheman oleh Melody.
Semoga tidak ada patah hati kedua kalinya, batin Melody.