14 - Kangen

1445 Kata
(n.) hanya dirasakan, kadang tidak (berani) disampaikan. -(at)commaditya *** Damar dan Melody sudah turun dari mobil yang mereka tumpangi. Melody berdecak dan melirik sinis Damar. Ia merasa dijebak. Karena saat ini keduanya tengah berada di apartemen Damar. Akibat aksi 'tembak' lewat radio tadi, seakan menghipnotis Melody untuk mau dibawa kemana saja oleh Damar. Jadilah, sekarang ia sudah menatap gedung bertingkat tersebut. Huft. Apartemen Damar = kandang singa. Perumpamaan yang tepat menurut Melody. Nggak perlu apartemen, Damar tetaplah Damar, batinnya. Grep. Melody melotot ketika merasakan sebuah tangan melingkari pinggangnya. Ia menoleh ke samping dan mendapati Damar yang tersenyum manis. Cup. "Yuk," ajakan Damar membuyarkan lamunan Melody akibat satu kecupan yang mendarat di bibirnya. Disisi lain, Melody mencoba mangatur nafas karena 'serangan' Damar di tempat umum. Keduanya pun berjalan beriringan menuju unit Damar plus dengan status yang baru. Sepasang kekasih. Lebih tepatnya, sepasang kekasih clbk. Apartemen Damar berbeda dengan apartemen yang Melody tempati. Lebih mewah dan elit. Tidak sembarang orang bisa masuk seperti di apartemen Melody. Mereka harus terdaftar dalam buku tamu. Atau jika tidak terdaftar, mereka bisa masuk setelah mendapat izin dari pemilik unit yang akan dikunjungi. Dan Melody sudah terdaftar sebagai tamu VIP Damar Eka Wiratama. "Mari, Pak Dudung," Damar menyapa dengan ramah security apartemen yang tengah berpapasan dengannya. Disampingnya, Melody juga turut tersenyum ramah. "Silahkan, Pak Damar, Bu Melody," Pak Dudung menyapa balik Damar dan Melody. Satu hal yang terlintas dalam pikiran Melody. Kenapa Pak Dudung bisa mengenal dirinya yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di apartemen Damar. Otak kecil Melody terus berpikir, kenapa bisa Pak Dudung dan resepsionis ber-name tag Rindu itu yang sebelumnya juga ia sapa, mengenal dirinya. Seolah-olah mereka bisa dibilang 'akrab' dengan Melody yang baru pertama kali mengunjungi apartemen Damar. Catat! Pertama kali. Melody terus saja termenung sepanjang jalan. Tanpa tahu, jika ia dan Damar sudah berada di dalam lift yang membawa mereka menuju unit Damar. Cup. "Kenapa, hon? Diem aja dari tadi," satu kecupan dari Damar yang mendarat sempurna di pipi kiri Melody berhasil menyadarkannya. Tangan kirinya yang bebas turut membelai pipi Melody. Bukannya menjawab, Melody kembali terdiam. "Honey," panggilan Damar membuat Melody sadar 100%. Kedua matanya turut mengerjap karena merasakan belaian di pipinya. Cup. "Damar," Melody menggeram karena Damar yang berhasil mencuri satu kecupan di bibirnya. Sedangkan si pelaku tertawa. "m***m banget," gerutu Melody yang masih terdengar jelas oleh telinga Damar. Damar pun mengatur nafasnya setelah tertawa cukup puas. Grep. Belitan Damar di pinggang Melody mengerat. Sempat membuat sang pemilik pinggang memekik dan memelototi Damar. Namun, yang didapatinya bukan senyum tengil atau manis ala Damar seperti biasanya, melainkan tatapan tajam yang berkabut. Radar Melody seketika bekerja. Siaga. Ia tahu arti tatapan itu. Tatapan bak singa lapar dan menemukan mangsa di depannya. Tamatlah riwayatmu Mel, batinnya. "Ekhem. Bis-sa lle-pas-sin ta-ngan kam-mu?" Melody berusaha berbicara meskipun terbata dan menutupi ketakutannya. Tangan kanannya perlahan bergerak mencoba melepas belitan Damar. Ia lepaskan dahulu kelima jari yang menempel di perutnya. Terlepas. Tapi kembali lagi menempel. Begitu seterusnya sampai membuat Melody kesal. Alhasil, kedua tangan Melody bergerak melepaskan belitan tersebut. Susah payah sampai segala umpatan keluar dari mulut Melody. Damar tetap seperti posisi awal. Dan Melody tidak berani mangangkat wajahnya.  Ting! Denting lift membuat gerakan tangan Melody terhenti. Damar yang melihat kelengahan Melody tersebut segera menggendongnya ala bridal style. "Aaa, Damar turunin gue. Turunin gue," Melody spontan mengalungkan tangannya ke leher Damar sekaligus memukuli punggung Damar. Namun, Damar bergeming. Ia tetap berjalan menuju unitnya yang terletak di lantai 15. "Turunin gue, please," hilang sudah kalimat 'aku-kamu' sesuai kesepakatan mereka. Bahkan Melody tidak lagi memikirkan hukuman apa yang akan ia dapat nantinya. "Damar," suara sendu Melody mengalun begitu saja bagai angin lalu. Sesampainya di depan pintu unitnya, Damar menurunkan Melody sebentar karena ia harus menempelkan key card. Click. "Fiuh, akhirnya," Melody menghela nafas setelah kakinya berpijak dan pintu unit milik Damar terbuka. "E-eh," Melody terkejut tatkala tubuhnya terangkat. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Damar. Kali ini, dirinya digendong bak anak koala. Tangan dan kakinya melingkar dengan sempurna di tubuh Damar. "Turunin Dam," Melody kembali memohon, tak lupa wajah melasnya ia tunjukkan. "Damar," panggilan pertama, tak ada jawaban dari Damar. "Sayang," kali ini, Melody mencoba memanggil namanya dengan sebutan yang romantis. Masih saja tak ada sahutan. "Mas Damar," panggilan terakhir yang tergolong sebutan sakral bagi Melody. Tak lupa, ia menggigit bibir bawahnya karena tengah menahan gugup. Tatapannya juga mengarah ke bawah, tidak ada keberanian menatap Damar. Sesaat kemudian, dagunya terangkat. Siapa lagi kalau bukan Damar pelakunya. Belaian lembut ia rasakan di pipi sebelah kirinya dan Melody sungguh menikmati itu, sampai beberapa kali ia memejamkan mata juga menggigit bibir bawahnya lebih keras. Selain menahan kegugupannya, juga agar tidak mengeluarkan suara sialan seperti saat itu. Cup. Damar mendaratkan kecupan singkat di bibir Melody dan menunggu reaksinya. Karena biasanya Melody akan berdecak, menggerutu dan menatapnya sinis. Namun, kali ini tidak. Damar juga dapat melihat tatapan Melody yang juga menginginkan hal yang sama seperti dirinya. Karena tidak ada reaksi, Damar kembali 'menyerang' bibir Melody yang telah menjadi candunya. Ia mulai mencium bibir disertai lumatan. Kali ini, Melody dengan mudah turut membuka mulutnya dan memberikan akses bagi Damar untuk mengeksplorasi lebih dalam. Tentunya, Damar tak melewatkan kesempatan itu begitu saja. Damar dengan begitu semangat mengulum bibir Melody. Kepalanya bergerak pelan ke kanan dan kiri. Tangan kirinya menahan punggung sang kekasih, sedangkan tangan kanannya menahan rahang Melody. Begitu juga Melody, tangan kanannya ikut meremas rambut Damar dan tangan kirinya berpegangan pada leher Damar. Langkah kaki Damar mulai berjalan menuju sofa karena letak ruang tamu yang terbilang dekat dengan pintu masuk. Jadilah sekarang posisi Melody duduk dipangkuan Damar. Erangan tertahan keluar begitu saja dari mulut Melody tatkala Damar mulai bergerak ke bawah dan meninggalkan kissmark di leher kekasihnya. Kegiatan mereka cukup lama sampai akhirnya Damar melepaskan pagutannya lebih dulu setelah ia merasa pasokan oksigen disekitarnya berkurang, begitu pun dengan Melody. Nafas Melody terengah-engah saat ibu jari Damar mengusap bibir kekasihnya yang bengkak akibat ulahnya. Cup. Melody melotot karena sekali lagi Damar yang mencium sekilas bibirnya. Sedangkan si pelaku, tertawa terbahak-bahak. "Minggir. Aku haus," Melody beranjak dari pangkuan Damar dan segera menuju dapur untuk membasahi kerongkongannya. Meski ini baru pertama kali dan tentunya Melody tidak tahu dimana letak dapurny, Melody tetap berjalan dengan mengandalkan instingnya saja. Mau bertanya pada Damar pun, bukannya mendapat jawaban yang ia inginkan, melainkan kembali mengulang keja- Ah, sudahlah. Melody terus berjalan dengan sepasang mata yang turut serta room tour ala dirinya. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat-lihat isi unit kekasihnya tersebut. Dan sampailah ia di dapur dengan peralatan dan isi dapur seperti bumbu masakan, kopi, dan teh yang terbilang lengkap untuk ukuran lelaki single seperti Damar. Diambilnya gelas yang akan ia isi dengan air dingin. Ya, Melody membutuhkan air dingin untuk mendinginkan pikirannya. Sebelumnya, ia sudah melepaskan blazer yang melekat di tubuhnya dan diletakkan di kursi bar. Konsep yang diusung Damar untuk dapurnya adalah area memasak dengan mini bar sebagai tempat menikmati hidangan. Saat membuka lemari es, Melody lagi-lagi dibuat takjub karena tidak ada ruang kosong didalamnya. Semuanya terisi penuh dengan berbagai sayuran, buah, cemilan, air mineral, jus, s**u, makanan siap saji jika sedang malas memasak dan cukup dipanaskan menggunakan microwave. Berhubung tadi ia dan Damar belum sempat makan, tercetuslah ide untuk memasak menggunakan bahan-bahan yang ada. Perutnya juga meronta-ronta ingin segera diisi. Jadilah, ia akan memasak hidangan simple, cepat, dan mengenyangkan. Dan mulailah Melody menjalankan aksinya. Disisi lain, Damar tengah memeriksa pekerjaan di ponselnya. Setelah tidak ada hal yang penting dan mendesak, ia meletakkan ponselnya diatas meja. Dan tersadar jika Melody cukup lama untuk ukuran orang yang sedang minum. Akhirnya, ia menyusulnya ke dapur untuk memastikan kekasihnya. Grep. "Pantesan lama. Ternyata lagi masak. Masak apa, sayang?" Damar memeluk Melody dari belakang hingga membuat Melody sempat terpekik dan hampir saja menjatuhkan spatula. "Ck, kebiasaan banget ngagetin," gerutu Melody ditengah kegiatannya yang tengah memasak spagetti. Sedangkan Damar tengah mengendus dan mengecup tengkuk Melody secara berulang-ulang. "Maaf ya, aku lancang pakai dapur kamu. Tiba-tiba laper gitu aja," lanjutnya yang diakhiri dengan kekehan. "Pakai aja, sayang. Nggak perlu izin segala," ucapan Damar teredam karena ia tidak berhenti mengeksplorasi tengkuk Melody. "Mau kan spagetti?" Melody memastikan jika Damar akan ikut memakannya karena porsi yang ia masak untuk dua orang. "Makan kamu aja, boleh?" kali ini ucapan Damar sangat jelas terdengar di telinga Melody. Meski pelan karena ia tengah menjelajahi tengkuk kekasihnya. Melody membalikkan badan setelah memastikan masakannya matang dan mematikan kompor. Pelukan Damar sama sekali tidak mengendur. "Boleh," Melody menatap Damar dan tersenyum tulus. Tangan kanannya turut membelai rahang Damar. Sedangkan Damar, matanya berbinar karena ia mendapatkan izin kekasihnya. "Tapi nanti setelah ijab," Melody berbisik di telinga Damar dan setelahnya ia meninggalkan kekasihnya begitu saja. Jangan luapakan wajahnya yang cengo karena keinginannya berhasil dihempaskan begitu saja oleh Melody.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN